Sandaran Ternyaman

Cerpen karya: Lilyana Agnesia. S

Karina dan Veron sudah lima tahun menjalin hubungan kekasih, keduanya telah memiliki kemistry yang cocok dan sangat mencintai satu sama lain.

Suatu hari Veron sudah berjanji akan melamar Karina di waktu yang tepat dan akan menjalani masa-masa hidupnya bersama dengan Karina.

Di langit yang cerah dengan hembusan angin menerpa dedaunan pohon yang jatuh, mereka memberikan hasrat dan perasaan saat berjalan bersama di tengah musim gugur.

“Karina, nanti jika kita hidup bersama selamanya. Aku ingin kau tetap melakukan apapun mimpi yang masih ingin kau capai. Jangan sampai di antara kita menjadi tertekan dan tidak bahagia,” kata Veron menatap Karina sambil tetap berjalan.

“Jadi, kapan kau akan melamarku? Lihatlah umur kita sudah 30 tahun. Aku sudah ditinggalkan teman-temanku menikah.”

“Pastinya aku akan melamarmu, tapi aku butuh persiapan yang matang, sabar ya sayang,” bujuk Veron agar tidak terburu-buru untuk menikah.

“Kau tahu aku akan melanjutkan pendidikan spesialisasi kedokteranku. Aku takut tidak akan ada waktu lagi untuk kita berdua,” ungkap Karina yang khawatir.

“Kau tidak perlu berpikir seperti itu sayang, sesibuk apapun itu. Kita harus tetap menyediakan waktu bersama walaupun sesedikit ini.”

Ucap Veron dan berhenti melangkah untuk mengusap pipi Karina.

“Tapi berjanjilah, setelah kau pulang dari New York nanti, kau sudah mempersiapkan semuanya untuk kita,” kata Karina serius dengan matanya yang berbinar.

“Tentu saja, aku tidak akan berlama-lama lagi untuk itu,” ucap Veron lalu memeluk lembut tubuh Karina.

“Aku akan menunggumu, jadi jangan kecewakan aku,” balas Karina dengan pelukan erat.

Di tengah kesibukannya Karina mengambil pendidikan spesialis anak.

Sudah sebulan ia merenung karena ditinggalkan Veron ke luar negeri karena pekerjaannya.

Kini Karina hanya mengandalkan teman-teman dekatnya untuk menjadi tempat sandaran ketika Veron pergi.

“Karina, sudahlah tidak usah merenung seperti itu terus. Dia pasti akan kembali dengan janjinya itu padamu.”

Kata Serin teman lamanya sejak Sekolah Menengah Pertama itu mengampiri Karina yang sedari tadi terus merenung.

“Aku hanya cemas dia akan tiba-tiba meninggalkanku setelah kembali ke sini,” ungkap Karina menatap Serin.

“Hei, kenapa kau berpikiran seperti itu? Setahuku dia pria dewasa yang tidak akan berpikiran labil seperti itu, meninggalkanmu setelah lima tahun bersama? Tidak mungkinlah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu,” ucap Serin untuk menenangkan pikiran Karina yang mulai tidak terkendali.

“Lalu mengapa dia meninggalkanku begitu lama? Aku begitu merindukannya sekarang.”

“Jika dia berencana pergi untuk meninggalkanmu, dia tidak perlu memberikan janjinya. Langsung saja tinggalkan tanpa basa-basi kalau memang begitu,” ucap Serin yang semakin membuat Karina gelisah.

“Serin! Tidak, dia tidak akan meninggalkanku seperti itu!” ucap Karina kesal.

“Nah, itu kau tahu. Lagi pula dia pergi untuk melanjutkan usaha-usaha ayahnya itu kan. Kau seharusnya bersabar, nanti ketika dia pulang, kau akan bersama dengan pria yang sudah matang akan segalanya. Jadi, tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun,” ungkap Serin lebih menenangkan pikiran Karina sekarang.

“Baiklah kalau begitu. Aku mengerti,” ucap Karina dengan mulut manyun dan alis mengerut.

Tiga bulan telah berlalu, belum ada kabar mengenai kabar Veron akan kembali pulang.

Ini semakin membuat Karina cemas dan khawatir, karena janjinya pergi hanya tiga bulan namun saat ini belum kembali tanpa kabar apapun.

Sembari itu, teman-teman kerabnya mengajak Karina liburan untuk menghibur diri dan terakhir mereka pergi ke De’ Tines sebuah tempat untuk karaoke bersama.

Semua temannya bernyanyi lagu-lagu gembira dan menyenangkan.

Namun, ketika Karina diajak untuk bergiliran dengannya, ia sama sekali tidak niat melakukan apapun.

Namun, teman-temannya berusaha untuk membujuknya agar ikut bernyanyi.

“Ayolah, Karina, ini giliranmu sekarang. Nyanyi lah lagu yang girang dan ceria dulu, agar kau lebih lega,” kata Risa membujuk Karina dan memberikan mic dari tangannya.

“Iya, Karina. Dulu ini tempat kita sama-sama bersenang-senang saat penat kerja. Sekarang kau harus menghibur dirimu, jangan seperti orang yang kehilangan arah hidup.” Cetus Serin sangat tajam.

“Aku memang kehilangan arah hidup sekarang. Aku tidak ingin melakukan apapun saat ini,” kata Karina semakin membuat teman-temannya juga ikut bersedih.

“Kenapa kau berkata seperti itu? Jika tidak ada Veron, masih ada kami di sisimu Karina. Ayolah, kita buang pikiran jelek itu sekarang.” Kata Lina membujuk agar Karina ikut bernyanyi sekarang.

“Baiklah, aku akan bernyanyi satu lagu saja. Lalu kita pulang ya, aku lelah hari ini,” ucap Karina lalu mengambil mic dari tangan Risa.

Serin memilih lagu gembira dengan beat yang asyik.

Namun, Karina langsung menggantinya menjadi lagu Sampaikan Rindu milik Lyodra.

Melihat itu, teman-teman Karina yang mendegarkannya bernyanyi serius dengan nada yang dalam membuat mereka kembali bersedih melihat luka Karina yang masih menunggu Veron kembali.

Setelah selesai satu lagu, Karina benar-benar ingin langsung pulang dan teman-temannya hanya pasrah dan mengantarkannya untuk pulang ke rumahnya.

Setelah kembali, Karina langsung berbaring di kasurnya untuk tidur dan melupakan sejenak rindunya itu.

Sehari telah berlalu, Karina tetap menunggu kabarnya yang masih menghilang itu.

Siang hari, ia menjalankan sebuah kegiatan praktik di Universitasnya.

Dalam keheningan dan tenggelam dalam pikirannnya, tiba-tiba ada seseorang yang mencarinya di luar ruangan.

Karina hanya melangkah lemas tidak penasaran dengan orang yang mencarinya itu.

Serin yang melihat Karina keluar ruangan mengikuti langkahnya dari belakang, penasaran akan ke mana Karina itu pergi.

Tiba sampai di luar, ia melihat seorang laki-laki yang gagah tegap memegang bunga membelakanginya.

Sepertinya Karina mengenal siapa yang mencarinya itu.

Untuk memastikan, Karina memegang tangan pria itu lalu ia menoleh menghadap Karina.

Dan benar saja itu adalah Veron yang ia tunggu-tunggu, sekarang ada di depannya.

Serin yang melihatnnya dari jauh terkejut sampai menutup mulut dengan kedua tangannya.

“Veron? Kau kembali?” Karina yang melihat itu mulai meneteskan air mata karena orang yang dirindukannya telah kembali.

“Karina, maafkan aku telat untuk kembali.”

Singkatnya Veron sambil memeluk erat Karina, namun ia hanya bisa menangis saat ini.

“Kenapa kau tidak ada kabar selama tiga hari lalu? Aku mengkhawtirkanmu, seharusnya kau tahu itu!” ucap Karina sambil memukul pelan dada Veron dalam pelukannya.

“Maaf ya, ponselku rusak di sana, jadi aku harus memperbaikinya. Aku menghampirimu tadi di rumah tapi kau tidak ada. Aku langsung menelponmu tapi ponselmu tidak aktif. Jadi, aku langsung ke sini menghampirimu.” Ungkap Veron setelah melepaskan pelukannya, lalu memberikan buket bunga mawar kepada Karina.

“Jika kau sudah kembali, tidak apa kalau begitu,” ucap Karina mengambil buket yang diberikan Veron.

“Jam berapa kau selesai nanti, apakah kau sibuk? Aku ingin mengajakmu makan malam,” ucap Veron sambil menyeka air mata di pipi Karina.

“Jam lima sore nanti aku sudah selesai, aku akan kabarimu nanti,” kata Karina menundukkan kepalanya karena tersipu.

“Baiklah, nanti aku akan jemput ke rumah ya,” ajak Veron dengan senyumannya.

Setelah bertemu, Karina kembali masuk dan melihat Serin yang memperhatikannya dari kejauhan sedari tadi.

Serin menggoda Karina dengan wajahnya karena Karina terlihat senyum lebar begitu masuk kembali.

Begitu selesai, Veron menjemput Karina untuk makan malam di sebuah restoran mewah.

Suasanannya begitu romantis di penuhi dengan bunga-bunga dan lilin dengan cahaya yang persik hangat.

Hanya mereka yang menjadi pelanggan di tempat itu karena Veron telah mereservasi tempat itu khusus untuk mereka berdua saja.

“Kau tahu aku begitu merindukanmu? Tiba-tiba kau tidak ada kabar, aku kira kau akan meninggalkanku,” ungkap Karina tentang perasaannya akhir-akhir ini.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu Karina sayang. Jika begitu, akulah yang bodoh karena meninggalkan berlian yang langka ini,” balas Veron membuat Karina merona.

“Kau tahukan, dirimu saja yang bisa menjadi tempat sandaran ternyamanku, aku tidak akan bisa tanpamu. Berlian ini akan berkarat jika pangerannya tidak ada.”

“Kau bisa saja. Lagi pula aku sudah berjanji akan melamarmu. Jadi, setelah aku kembali, aku ingin langsung memberikanmu ini,” ucap Veron mengeluarkan sebuah cincin berlian dari kotaknya yang berwarna merah.

Karina sangat terkejut dan begitu terharu melihat tindakan kekasihnya itu.

“Karina, sudah lama aku berniat untuk melamarmu. Tapi karena masih banyak kekurangan dariku, aku harus mepersiapkan segalanya terlebih dahulu dan mungkin inilah waktu yang tepat itu. Aku ingin mendampingimu sampai akhir sisa hidupku, menjagamu, menyayangimu dan mengikat kasih cinta. Apakah kau mau Karina?” ucapan Veron membuat Karina kembali meneteskan air matanya.

“Tentu saja, Veron! Ini yang ku tunggu darimu. Terima kasih Veron.”

Karina memeluk Veron yang sedari tadi berlutut dengan satu lutut sambil memegangi cincinnya.

“Terima kasih, Karina. Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu setiap waktu. Karena dirimu juga adalah sandaran terkuat untuk diriku,” ucap Veron membalas pelukannya dengan erat.

Mereka akhirnya sampai ke tahap pernikahan.

Ini bukanlah akhir tapi awal dari mereka memulai kehidupan bersama dengan kasih dan ketulusan cinta.

Tempat yang menjadi sandaran ketika dunia tidak berjalan sesuai kehendaknya, hanya satu orang itulah yang bisa mengerti dan tahu akan kesedihan serta kebahagiaannya karena telah menjadi satu dalam ikatan kasih.




Membantu Toko Ibu

Cerpen karya: Lilyana Agnesia. S

Rami yang berusia sebelas tahun berlari ke toko kecil milik orangtuanya di pinggir jalan.

Toko itu penuh dengan aroma nasi goreng dan ayam bakar.

Ayahnya sedang memasak di dapur, ibunya melayani pelanggan.

“Rami, tolong bantu ibu ya,” kata ibunya sambil tersenyum lelah.

Rami mengangguk cepat.

Ia tahu ia harus membantu, karena orangtuanya sibuk sekali hari ini karena memiliki banyak pelanggan.

Rami mulai mencuci piring di wastafel cuci piring.

Ia memutar keran, air mengalir deras, piring-piring kotor dari pelanggan sebelumnya menumpuk tinggi.

Rami menggosok kuat-kuat dengan sabun, air sabun berbuih putih.

Ia merasakan tangannya basah dan dingin, tapi ia terus bekerja.

“Aku bisa lakukan ini,” pikirnya.

Itu kesadaran dirinya sendiri, Rami tahu kekuatannya dan tidak akan merasa lelah segera.

Tiba-tiba, pintu toko terbuka lebar.

Masuklah teman-temannya yaitu Lina, Budi, Sari, dan Toni.

“Hai, Rami! Kami lapar nih,” kata Lina sambil melambaikan tangan.

Rami tersenyum lebar.

“Ayo, duduk dulu, aku lagi bantu ibu.”

Mereka duduk di meja kayu, memesan nasi goreng dan jus jeruk dengan uang jajan yang diberikan orangtua mereka masing-masing.

Ibunya sibuk melayani pelanggan lain.

Rami cepat membersihkan meja kosong dengan lap basah.

Ia menyeka kuat-kuat, debu dan remah-remah terbang.

“Meja ini harus bersih,” gumamnya.

Ia mengontrol emosinya, tidak marah meski tangannya pegal.

Itu pengendalian diri Rami tetap tenang dan fokus.

Lina yang melihat Rami bekerja merasa iba.

“Kami bantu ya, Rami,” katanya.

Mereka ikut membersihkan meja.

Budi menyapu lantai, Sari membereskan kursi-kursi, dan Toni mengambil sampah.

Rami merasakan hati hangat.

Ia terharu, bisa merasakan kelelahan ibunya dan kebaikan teman-temannya.

“Terima kasih, teman-teman. Ini membantu sekali,” kata Rami sambil tersenyum.

Ayahnya keluar dari dapur, membawa piring nasi goreng panas.

“Wah, banyak bantuan hari ini!” serunya.

Rami dan teman-temannya tertawa. Mereka makan bersama di meja yang sudah bersih.

Rami mengunyah nasi gorengnya, rasa pedas dan gurih.

Ia memotivasi untuk membantu lebih banyak, karena melihat teman-temannya bahagia.

Setelah makan, Lina dan yang lain membantu lagi.

Mereka mencuci gelas bekas jus. Rami memegang spons, menggosok gelas hingga berkilau.

“Ini seru, seperti main air!” kata Toni sambil menyemprot air.

Rami ikut tertawa.

Ia menggunakan keterampilan sosialnya berbagi tugas dan bekerja sama dengan teman-temannya.

Toko mulai sepi.

Ibunya duduk sebentar, minum air.

“Rami, kamu hebat sekali. Dan teman-temanmu juga,” katanya sambil memeluk Rami.

Rami merasa bangga.

“Aku senang bisa membantu, Bu. Dan teman-teman datang untuk makan, jadi lebih ramai.”

Mereka bermain sebentar di depan toko. Lina melempar bola kecil, Budi menangkapnya.

“Ayo, main lagi besok!” seru Sari.

Rami mengangguk.

Ia belajar bahwa membantu orangtua membuat hari lebih menyenangkan, dan teman-teman bisa jadi bagian dari itu.

Sore hari, Rami pulang sambil bergandengan dengan teman-temannya.

Ia tahu, kepedulian dan kebaikan itu membuat segalanya lebih baik.




Pukul Terpukul

Puisi oleh: Ibnu Nur Adim Fadilah

Bisa jadi reruntuhan daun masih menyimpan kuasa

dan sukma masih terbuai cakrawala pemikat rasa

namun, sayangnya semua itu hanya bayang datang

untuk mengubur rasa manis yang telah lama hilang.

 

Kini senja menulis duka di batas tepian segara

segala rona tersusun, seakan dekat dengan sastra

sedangkan ini kali pertama menyentuh untaian kata

lantas, kenapa kau teguh cipta cinta ini amerta?

 

Pernahkah kau menanti pesan dari pukul sebelas

dan menanti kata terapung di layar bagian atas?

Meski pada akhirnya tiada balas sebab ruang baru

telah menyambutnya terlebih dahulu daripada aku.




Cahaya dari Pintu Musala

Cerpen oleh: Salsabiilatul Fitri

 

Langit sore di sekitar kampus itu tampak kelabu.

Hujan baru saja reda, tapi genangan masih menutupi jalan setapak menuju gerbang.

Rafi berjalan pelan, menunduk, menatap bayangan wajahnya di air.

Di tangannya tergenggam selembar kertas pengumuman beasiswa, namanya tidak ada di sana.

Lagi-lagi gagal.

“Ya Allah… kenapa harus aku lagi?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar di tengah suara gerimis.

Sudah tiga kali Rafi mencoba mengajukan beasiswa prestasi, dan tiga kali pula ia harus menelan kecewa.

Padahal ia sudah belajar keras, berdoa tiap malam, dan menahan diri dari semua kesenangan duniawi.

Tapi hasilnya tetap sama. Ia merasa doanya tak sampai ke langit.

Di kamar kos kecilnya, Rafi duduk lama di depan meja belajar.

Foto almarhum ayahnya terpajang di dinding, senyumnya menenangkan tapi sekaligus menyesakkan.

Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, ibunya bekerja sebagai penjahit di kampung.

Harapan mereka hanya satu: Rafi bisa lulus kuliah dan jadi guru.

Tapi kini semangatnya menurun.

Ia merasa letih menjadi “baik” tanpa hasil.

Pukul lima sore, adzan maghrib berkumandang dari mushala kecil di ujung gang kos.

Suaranya lembut, tapi entah kenapa terasa jauh.

Rafi menatap ke arah jendela, lalu memutuskan untuk tidak berangkat.

“Shalat nanti saja,” gumamnya.

Namun, semakin lama, hatinya justru semakin gelisah.

Hujan berhenti, dan dari balik kaca, ia melihat cahaya kuning dari pintu mushala yang terbuka.

Hanya ada satu orang di sana, seorang pria tua yang sedang menyapu lantai, sesekali berhenti dan tersenyum sendiri.

Ada ketenangan aneh dari pemandangan itu.

Pertemuan di Mushala Esok harinya, setelah kuliah selesai, Rafi akhirnya melangkah ke mushala itu.

Ia berniat shalat Zuhur, meski dengan hati yang masih berat.

Ketika membuka sandal, suara lembut menyapanya.

“Assalamu’alaikum, Nak. Jarang lihat kamu ke sini,” kata pria tua itu sambil tersenyum.

“Wa’alaikumussalam, Pak. Iya, biasanya saya shalat di kampus.”

Pria itu mengangguk.

“Bagus. Tapi jangan lupa, kadang mushala kecil seperti ini juga bisa menenangkan.

Di sini tak ada suara ramai, hanya kamu dan Allah.”

Ucapan itu singkat, tapi seolah mengetuk pintu hati Rafi. Setelah shalat, mereka duduk di teras mushala.

Angin sore membawa aroma tanah basah.

“Namamu siapa, Nak?” tanya sang pria.

“Rafi, Pak. Mahasiswa semester lima.”

“Oh, mahasiswa ya. Dulu saya juga pernah jadi penjaga kampus,” katanya sambil tertawa kecil.

“Sampai akhirnya saya sadar, rezeki yang paling besar bukan dari gaji atau jabatan, tapi dari ketenangan hati.”

Rafi menatapnya heran.

“Ketenangan hati?”

“Iya,” jawab pria itu.

“Kalau kamu sibuk mengejar sesuatu tapi hatimu kosong dari rasa syukur, kamu akan terus merasa gagal, meskipun berhasil sekalipun.”

Ucapan itu terus terngiang hingga malam tiba.

Ujian yang Menyadarkan Beberapa hari kemudian, ibunya menelepon.

Suaranya bergetar, terdengar letih.

“Fi, uang jahitan ibu belum dibayar pelanggan. Mungkin kiriman bulan ini agak terlambat ya, Nak.”

Rafi diam, menatap dompetnya yang hampir kosong. Ia hanya menjawab pelan,

“Iya, Bu… tidak apa-apa.”

Setelah telepon ditutup, ia terisak pelan. Ini bukan hanya soal uang.

Ia merasa gagal menjadi anak yang bisa meringankan beban ibunya.

Malam itu, tanpa sadar, ia berjalan ke mushala. Pintu masih terbuka, cahaya kuningnya sama seperti malam pertama ia melihatnya.

Pria tua itu masih di sana, sedang menata sajadah.

“Datang lagi, Nak Rafi?”

“Iya, Pak. Entah kenapa saya ingin ke sini saja malam ini.”

Pria itu tersenyum.

“Mungkin karena hatimu sedang dipanggil. Kadang Allah tidak memberi apa yang kita minta, tapi memberi yang kita butuh.”

Rafi tertegun. Ia duduk di saf belakang, menunduk lama.

Dalam sujudnya malam itu, ia menangis sejadi-jadinya, bukan lagi karena kecewa, tapi karena sadar selama ini ia berdoa hanya untuk mendapatkan hasil, bukan untuk mendekat pada Allah.

Hari-hari berikutnya terasa lebih damai. Setiap sore, Rafi datang ke mushala kecil itu, membantu Pak Rahman membersihkan sajadah, mengisi air wudhu, atau sekadar duduk berbincang tentang kehidupan.

Di antara percakapan sederhana mereka, Rafi mulai belajar arti sabar dari cara Pak Rahman menjalani hidup.

“Pak Rahman, kenapa Bapak tetap semangat datang ke mushala setiap hari? Padahal tidak ada yang mengharuskan, kan?”

Pak Rahman tersenyum, garis keriput di wajahnya semakin jelas diterpa sinar matahari senja.

“Karena aku tahu, Nak, manusia itu sering lupa. Kalau tidak dipanggil adzan, mungkin kita tak akan ingat pada Pencipta kita. Maka aku datang agar hatiku selalu diingatkan.”

Rafi mengangguk pelan. Ia merasa seperti sedang diajari sesuatu yang jauh lebih dalam daripada teori-teori kuliah yang biasa ia pelajari.

Setiap kata dari Pak Rahman seperti nasihat seorang ayah yang lama dirindukan.

Suatu sore, hujan turun deras.

Petir menyambar, dan listrik padam. Mushala kecil itu gelap gulita, hanya diterangi cahaya lilin kecil di dekat mimbar.

Rafi membantu Pak Rahman menutup jendela dan mengeringkan lantai yang tergenang air.

“Bapak, tidak takut mushalanya bocor atau rusak?” tanya Rafi sambil memegangi ember air.

Pak Rahman tertawa lirih.

“Yang penting hatinya jangan bocor, Nak. Kalau hati bocor, iman cepat hanyut.”

Rafi tertegun, kalimat itu menancap di dadanya.

Malam itu mereka shalat berjamaah berdua, di tengah suara hujan dan cahaya lilin.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Rafi merasa benar-benar tenang dalam sujudnya.

Beberapa hari kemudian, Rafi datang lebih awal dan mendapati Pak Rahman duduk di serambi sambil menatap halaman.

Di tangannya ada sebuah kotak kayu kecil.

“Ini apa, Pak?” tanya Rafi penasaran.

“Isinya surat-surat dan catatan lama,” jawab Pak Rahman lembut.

“Dulu aku punya anak laki-laki seumuran kamu. Namanya Arfan. Dia juga kuliah di sini, tapi Allah lebih dulu memanggilnya. Sejak itu, aku memutuskan menjaga mushala ini. Rasanya seperti menjaga sesuatu yang dulu pernah aku cintai.”

Rafi terdiam, tiba-tiba ia merasa semua kebersamaan mereka selama ini lebih bermakna.

Ia seolah menemukan sosok ayah yang hilang.

“Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau Bapak pernah kehilangan anak.”

Pak Rahman tersenyum, matanya basah.

“Tidak apa, Nak. Allah tidak pernah mengambil sesuatu tanpa menggantinya dengan yang lebih baik. Mungkin sekarang gantinya kamu.”

Rafi tak sanggup menjawab. Ia hanya menunduk dan mencium tangan Pak Rahman dengan haru.

Saat Ujian Akhir Semester tiba, Rafi tetap menyempatkan diri datang ke mushala.

Tapi sore itu, ia mendapati mushala sepi, Pak Rahman tidak di sana.

Beberapa hari kemudian, kabar duka datang, Pak Rahman meninggal dunia karena sakit jantung di rumahnya.

Rafi lemas mendengar berita itu.

Ia berlari ke mushala dan duduk lama di lantai tempat biasa mereka berbincang. Udara sore terasa berat, dan cahaya kuning di pintu mushala seolah lebih redup dari biasanya.

Rafi membuka kotak kayu peninggalan Pak Rahman yang diberikan pengurus kampung.

Di dalamnya ada sajadah tua, tasbih, dan sepucuk surat.

“Untuk Rafi,

Jika suatu hari kamu merasa gagal, ingatlah! Kegagalan bukan tanda Allah membencimu, tapi cara-Nya memelukmu lebih erat.

Mushala ini mungkin kecil, tapi semoga bisa jadi saksi bahwa kita pernah sama-sama belajar ikhlas.

Jaga ia, bukan karena aku, tapi karena Allah.” – Pak Rahman

Rafi menangis lama malam itu.

Tapi air mata yang keluar bukan lagi karena kehilangan, melainkan karena rasa syukur.

Ia sadar, Allah telah mengirim seseorang untuk membimbingnya kembali kepada cahaya.

Setahun berlalu. Rafi kini menjadi lulusan terbaik di fakultasnya.

Beasiswa yang dulu gagal kini datang dengan sendirinya, ia bahkan ditawari mengajar di kampus.

Namun di balik kesuksesan itu, hatinya tetap sederhana.

Ia masih rutin datang ke mushala kecil itu setiap sore, mengajar anak-anak mengaji dan membimbing mahasiswa baru yang kadang tersesat arah.

Suatu sore, setelah adzan Maghrib, ia duduk di serambi mushala. Seorang anak kecil mendekat, membawa buku Iqra’.

“Kak Rafi, kenapa kakak tidak pernah marah kalau kami ribut waktu belajar?”

Rafi tersenyum.

“Karena dahulu aku juga belajar dari seseorang yang sangat sabar. Beliau pernah berkata, jika kita ingin mengubah orang lain, kita harus terlebih dahulu menenangkan diri.”

Anak kecil itu mengangguk polos.

Dari kejauhan, cahaya matahari senja menembus pintu mushala, sama seperti cahaya yang dulu dilihat Rafi di hari paling gelap dalam hidupnya.

Epilog: Cahaya yang Tak Pernah Padam

Beberapa bulan kemudian, Rafi pulang ke kampung halamannya.

Ibunya kini sudah memiliki kios kecil hasil usahanya menjahit.

Di halaman belakang rumah, Rafi membangun mushala sederhana dan menamainya “Mushala Ar-Rahman”, sebagai penghormatan untuk sosok yang telah mengubah hidupnya.

Pada malam peresmian mushala itu, Rafi berdiri di depan jamaah dan berkata dengan suara bergetar,

“Dulu saya datang ke mushala karena merasa hidup saya gelap. Tapi Allah menuntun saya dengan cara yang lembut, melalui seseorang yang tidak pernah lelah berbuat baik.

Maka jika hari ini kita berdiri di tempat ini, ingatlah! Tidak ada kebaikan yang kecil di mata Allah.

Bahkan sekadar membuka pintu mushala dan tersenyum bisa jadi cahaya bagi orang lain.”

Hening sejenak.

Lalu semua jamaah mengucap aamiin.

Rafi menatap pintu mushala barunya yang kini terbuka, cahaya lampu temaram memantul di wajahnya.

Dalam hati, ia berbisik,

“Cahaya itu tak lagi hanya dari pintu mushala, tapi dari hati yang belajar ikhlas.”




Manusia

Puisi Oleh: M. Idil Putra

Burung mati, sayapnya berguguran.

Meninggalkan bangkainya yang sangat menyebalkan.

Menyatu dengan tanah.

Mengabur, lalu menghilang. 

 

Semua orang akan bernasib sama.

Menghilang, memudar, lalu pergi. 

Apakah dia dipanggil yang maha kuasa.

Apakah dia menghilang karena sebuah masalah.

 

Manusia akan menghilang.

Meninggalkan sebuah kenangan semanis gula.

Dan seburuk limbah.




Yang Tak Sejalan

Puisi Oleh: Fitriyani

 

Arus sungai memilih jalannya sendiri,

ia tak melawan arah angin

yang tak lagi mengantarnya ke muara.

 

Ada hal yang sering bertahan bukan karena cinta,

melainkan karena takut pada sunyi

yang menunggu setelah perpisahan.

 

Padahal, memeluk terlalu lama

hal-hal yang tak memberi tenang

hanya mengajarkan lelah,

tanpa pernah mengajarkan pulang.

 

Ada rasa yang perlahan memudar,

bukan oleh jarak,

melainkan oleh ketidakselarasan

yang terus dipaksakan tinggal.

 

Melepaskan bukan selalu tentang kehilangan,

kadang itu hanya soal kejujuran pada diri

tentang berani mengakui

bahwa tidak semua hal

diciptakan untuk dipertahankan.

 

Yang pergi tak selalu salah,

yang ditinggal pun tak selalu lemah.

 

Kadang semesta hanya ingin mengingatkan

bahwa yang sejalan

tak perlu dipertahankan dengan luka.

 

Sebab pada akhirnya,

yang pantas tinggal

tak perlu dipaksa bertahan,

dan yang dilepaskan

hanya sedang dikembalikan

pada tempat yang semestinya.




Cerminan Diri

Puisi oleh: Fitriyani

Butuh bertahun-tahun

hingga aku berani bercermin,

dan menemukan satu kebenaran yang tenang

cara dunia menyentuhku adalah gema dari caraku menyentuh diri sendiri.

 

Aku lelah menyalahkan tangan lain,

padahal akulah yang paling sering

membiarkan lukaku terbuka

di bawah hujan yang sama

 

Maka aku berhenti,

Bukan berhenti berharap

bukan berhenti percaya pada cinta,

melainkan berhenti menukar langitku

dengan atap yang terlalu rendah.

 

Aku memilih berjalan sendiri, bukan karena sepi

melainkan karena, aku ingin menatap langit

tanpa harus menunduk pada siapa pun.

 

Aku belajar menggenggam tanganku sendiri

seperti fajar yang tak menunggu disambut matahari lain

untuk menjadi terang.

 

Aku mengerti kini,

cinta bukan hadiah bagi mereka

yang paling lama menahan badai,

bukan upah bagi yang paling diam

saat petir mematahkan suara.

 

Cinta tidak lahir dari penderitaan

Ia tumbuh seperti langit setelah hujan

luas, jujur, dan tak meminta luka sebagai syarat untuk biru.

 

Sejak aku memahami itu,

segala yang datang padaku

tak lagi meminta aku mengecilkan diri

tak lagi menyuruhku meredup

 

Mereka datang seperti angin

yang tahu caranya singgah, bukan merobohkan.

Dan aku akhirnya pulang

bukan pada seseorang,

melainkan pada diriku sendiri

di bawah langit yang sama,

yang kini kupilih untuk kutinggali.




DOA DALAM DUA RIBUAN

Oleh: Agustina

SEPUCUKJAMBI.ID – Awan mendung berarak mendominasi langit hingga mentari pagi tak sampai menyentuh bumi. Seolah mengetahui hatiku, langit musim hujan menggambarkan kekhawatiran dan kerinduanku pada sosok pria terhebat sepanjang masa Ayah.

Bohong bila mengatakan aku baik-baik saja, namun tersenyum adalah pilihan yang tepat untuk menutupi kegundahan hati. Aku mendudukkan diri di teras setelah memastikan pintu kos terkunci sempurna. Duduk diam, menanti seseorang yang aku harap yaitu Ayah.

Sesuatu bergetar di dalam saku. Mode hening yang aku aktifkan nyaris membuatku tak menyadari sebuah panggilan masuk. Dengan cepat, jemariku merogohnya. Ayah, ya itu panggilan dari Ayah.

“Assalamua`laikum, Ayah…” Sapaku menjawab girang. Kekhawatiran yang sudah mendominasi sedari tadi kini sirna sudah. Sepertinya beliau merasakan apa yang aku rasakan.

“Wa`alaikumussalam, Nak…” Seketika, suara teduhnya menghangatkan hatiku, “…bagaimana persiapannya hari ini?” Tanya Ayah.

Aku melirik koper besar dan beberapa kardus berisi perlengkapan selama masa Kuliah Kerja Nyata –KKN, memastikan semua terkemas dalam keadaan baik sebelum menjawab. Ya, hari ini tepat mengisi kegiatan kuliah di semester 7, aku akan mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Semua–”

Tut … tut … tut …

Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ayah, panggilan itu berakhir. Berkali-kali jemariku menekan tombol panggilan, hasilnya nihil. Nomor Ayah berada pada kondisi tidak aktif.

Kondisi baterai ponsel Ayah memang tak sesehat saat pertama kali dibeli. Hal seperti ini acapkali terjadi, saat sang baterai tiba-tiba tak memberikan daya meskipun kondisinya berdaya penuh.

Tiiiiit!

Suara klakson kencang cukup membuatku terperanjat, Anisa sudah berada disana. Ia melambaikan tangan kanannya dari seberang jalan. Bagian depannya telah penuh dengan koper bawaannya.

Itu berarti, aku harus memangku sendiri barang bawaanku di belakang. Setelah menunggu beberapa kendaraan melintas, aku menyebrang. Dua puluh menit perjalanan menuju kampus harus cepat kami lakukan sebelum pukul 09.00 dimana seluruh mahasiswa peserta KKN akan diberangkatkan menuju daerah terpencil.

Disepanjang jalan, keegoisanku ingin bertemu Ayah menjadi pikiran setelah sambungan telepon tadi tak berhasil aku lakukan. Aku sangat berharap Ayah mengantarkan kepergianku.

Aku menggeleng pelan, menepis ego dan meyakinkan bahwa Ayah telah mengiringiku dengan do’a. Ia pasti selalu mendoakan putri sulungnya yang manja ini agar selalu sukses. Aku tak boleh egois untuk memaksa Ayah datang.

“Tina, hey!”

Sekali lagi Anisa membuatku tersentak. Pemandangan di hadapanku menjadi alasan kenapa Anisa berteriak menarikku dari lamunan. Kami telah sampai. Lapangan kampus yang kini sudah seperti lautan manusia menyita perhatian kami hingga sebuah mobil dengan kertas tempelan posko 19 di depan kaca menjadi pemberhentian kami memandang.

“Lihat, itu bis kita … ayo kesana.”

Anisa menarik koper lebih dulu dariku. Aku hanya mengekor dibelakang sembari menatap tiap-tiap orang yang kami lewati.

Beberapa dari mereka tengah sibuk menandai barang milik masing-masing, ada pula yang berfoto ria mengabadikan momen mereka yang pasti akan dibagikan ke media sosial. Pemandangan yang hampir sama juga terjadi pada beberapa mahasiswa yang diantarkan keluarganya. Itu cukup membuat dadaku sesak. Aku ingin bertemu Ayah sebelum keberangkatan ini, sungguh ingin.

Percakapan singkat seputar KKN menjadi topik pembicaraan sebelum keberangkatan. Sepertinya trending topik kali ini bukanlah yang aku harapkan. Aku menarik langkah mundur sebelum seseorang mengajakku kedalam pembicaraan.

Benar saja, belum berhasil menyingkir seorang teman melayangkan pertanyaan yang di dalamnya juga diharapkan aku sebagai penjawab.

“Ayahku hanya memberi 2 juta selama 2 bulan masa KKN, mudah-mudahan di Kabupaten kita nanti ada mesin ATM. Jadi, jika ada kekurangan Ayah bisa mentransfer tambahan…, bagaimana dengan kalian?” Kata Asih merusak kepercayaan diriku.

“KKN itu tempatnya sangat berada di daerah terpencil…, bagaimana bisa disana ada ATM. Allhamdulillah orangtuaku sudah membekali persiapan matang, mudah-mudahan uangnya bisa terjaga aman.” Wardah tak menyebutkan nominal yang ia bawa. Puluhan Soekarno pasti mendominasi dompetnya.

“Tidak usah berlebihan! Satu juta saja sudah cukup …” Anisa menunjukkan buku kecil berisi kisaran pengeluaran pribadi dan kelompok selama KKN. Otaknya yang terkenal dengan hemat dan hitung-hitungan itu menjadikannya sebagai koordinator keuangan di posko 19.

Aku melirik deretan tulisan yang Anisa buat. Hingga mataku menangkap nominal paling bawah, hal itu tak juga menyulutkan kegundahanku meskipun nominal itu tak mencapai sembilan ratus ribu. Dikantung hanya terdapat empat ratus ribu sebagai upah mengajar bimbel selama dua bulan.

Sebelumnya, Ayah berjanji akan mengirimkan uang KKN sebelum keberangkatan. Namun sampai saat ini uang itu belum ada, bahkan Ayah tak bisa dihubungi lagi.

Sepintas terbesit pikiran bahwa Ayah tak peduli. Sebisanya perasaan itu aku surutkan dengan tersenyum pada obrolan teman-teman yang telah berganti topik. Namun kegundahan dan keresahan memang musuh bahkan bisa menjadi penyakit hati.

Mati-matian aku menyakinkan hati untuk tak termakan rasa egois. Ayah adalah sosok pria terhebat dalam hidupku. Ya, sangat hebat.

Saat masih duduk di kelas 3 SD, suatu sore Ayah mengajakku pergi ke rumah saudara menyusul ibu dan adikku yang telah berada disana.

Diperempatan jalan, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti mendadak, menyebabkan ban motor Ayah menyenggol bemper belakang mobil tersebut. Tidak ada kerusakan bahkan kelecetan yang menodai. Namun entah terbuat dari apa hati sang pengemudi, ia turun dari mobil dan memaki Ayah.

“Hey tukang ojek! mobil saya ini mahal! Dibeli dari luar, bahkan sorum di daerah ini tidak ada yang menjualnya!” Perawakannya memang terlihat sangat terawat.

Bisa dikatakan wanita salon, dengan baju mewah dan riasan tebal diwajah bak artis masuk kampung menunjukan bahwa ia memang memiliki harta yang banyak.

Beberapa kendaraan mulai menekan klakson kuat, menyadarkan keributan itu hanya membuat jalanan macet, “Hey! Jangan berlebihan … mobil itu tidak mengalami kerusakan!” Seorang pengguna jalan yang berada tak jauh dari kami membela Ayah.

Ayah tertunduk meminta maaf, tak terbesit dari raut wajah Ayah untuk membela diri. Ia menunduk tak peduli bahwa tidak ada yang salah darinya.

“Ck!” wanita itu berdecak marah, “Penghasilan anda seumur hidup tidak akan mampu memperbaiki kelecetan ini.” Tunjuknya pada garis halus yang tampak kasat mata. Matanya menatap jijik pada motor Ayah yang tua.

Aku menangis memeluk erat Ayah dari belakang, khawatir jika wanita kaya itu akan berbuat buruk kepada Ayah. Meskipun usiaku masih sangat kecil untuk mengerti situasi yang terjadi, tapi ucapan wanita itu sangat aku pahami; menyakitkan!

“Maaf, Bu … sekali lagi maaf, saya tidak sengaja.” Ayah tertunduk dan berharap wanita itu tak memperpanjang masalah. Sementara hingar bingar pengemudi lain mulai memekikkan telinga dengan klakson mereka.

“Dasar miskin!” Makinya menendang ban motor depan. Ia berlalu pergi memasuki mobilnya dan beranjak pergi. Sepanjang penglihatanku, sumpah serapah ia keluarkan hingga tak terlihat lagi.

Ayah menepikan motor memastikan aku baik-baik saja. Beliau mengusap kedua pipiku yang telah basah. Garis wajahnya sungguh menyejukan, “Ayo sayang, kita lanjutkan perjalanan …, anak Ayah yang manis tidak boleh menangis.”

Pasti Ayah sedih, ya! pasti sedih. Namun beliau dengan senyum tulusnya mengajarkan aku bahwa bersabar adalah kunci ketenangan hati. Sejak saat itu Ayah adalah pria terhebat dalam hidupku.

Penyelamat keluarga yang berusaha melawan terik dan dinginnya cuaca, mengantar orang-orang ke tempat tujuan untuk rupiah yang dapat menghidupi bahkan menyekolahkan aku.

Bekerja sebagai tukang ojek pangkalan membuatnya mati-matian bekerja keras sekedar untuk makan yang terkadang terasa sulit.

Dibalik pekerjaan yang acapkali diremehkan orang, ia selalu mengajarkan bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.

Allah selalu bersama orang-orang yang bersabar. Aku harus menjadi anak yang kuat dan sukses untuk mengangkat derajat orang tuaku. Untuk itu, hanya karena tidak diberi uang untuk bekal KKN. Bukan berarti aku boleh berhenti berjuang untuk sebuah pendidikan.

Ayah, ia berjuang lebih besar selama ini. Ayah tercinta, adalah nikmat Allah paling besar yang aku miliki.

Bis kecil berderu memanaskan mobil sebelum keberangkatan menuju lokasi KKN. Aku telah membulatkan hati akan berusaha melakukan yang terbaik di lapangan. Hujan rintik yang makin lama makin deras mengiringi keberangkatan seluruh mahasiswa KKN yang memang masuk di musim hujan.

Tiba-tiba perhatianku tertuju pada pintu gerbang kampus. Sebuah motor tua melaju kencang memecah rintik hujan yang menghalangi. Itu Ayah! aku melangkah turun setelah memastikan masih ada waktu.

Hujan mulai turun, Aku tak memperdulikan lagi genangan air yang terinjak, bahkan hujan telah membasahi bahu serta bagian atas jilbabku. Saat ini, tempat Ayah menghentikan motornya dan berteduh adalah tujuanku.

“Assalamua`laikum Ayah …” Seruku menyembar tangannya. Mencium hormat sembari tersenyum.

“Waa`laikumussalam, Nak …” Ayah memelukku erat, ada rasa bersalah terlukis di raut wajahnya, “Maafkan Ayah terlambat memberi janji ini.” Ujarnya menyodorkan amplop putih. Matanya memerah basah, antara hujan dan air mata yang tidak bisa dibedakan lagi.

“Jumlahnya tidak banyak, tapi nanti Ayah akan berusaha mencari dan mengirimkan untuk tambahan.”

Sudut mataku mulai basah, aku tak boleh menangis. Harus menjadi anak yang kuat adalah alasan aku harus menguatkan hati, “Bahkan jika Ayah tak membawa uang, aku sudah bersyukur bisa melihat Ayah sebelum keberangkatan.” Ujarku memeluk sebelum beranjak pergi.

Klakson bis di belakang sana sudah merusak momen pertemuanku dengan Ayah. Ayah juga mengerti akan hal itu. Aku berlari menuju mobil setelah berpamitan pada Ayah. Tubuh rentanya menunggui hingga mobil kami pergi dan hilang dari pandangannya.

Hiruk pikuk keramaian di dalam bis tak membuatku bergabung kedalamnya. Isi amplop yang Ayah berikan mengundang perhatian sendiri untukku. Sebuah surat diantara banyaknya uang dua ribuan, terselip disana.

Assalamu’alaikum putri Ayah tersayang.

Nak, maafkan Ayah hanya bisa memberikan lembaran uang dua ribuan ini. Maafkan Ayah belum bisa memberikan yang lebih besar lima puluh atau seratus ribuan. Ayah belum bisa menjadi Ayah yang baik.

Mudah-mudahan, Allah memberikan kesempatan untuk Ayah agar bisa bekerja lebih giat. Gunakan uang ini sebaik-baiknya. Semoga uang ini bermanfaat.

Jangan lupa giat belajar, mengabdi pada masyarakat dengan ikhlas dan yang paling penting jangan lupakan shalat!. Allah selalu bersama kita.

Salam sayang, Ayah.

Cairan bening mulai mengisi sudut mataku hingga akhirnya tumpah ruah begitu saja. Aku bangga pada Ayah, kebanggaanku yang telah lama bersemayam di hati semakin menggelora.

Ayah memang pantas dibanggakan. Sejak aku duduk di kelas 3 SD hingga sekarang aku kuliah duduk di semester 7, hampir 14 tahun sudah Ayah menekuni pekerjaannya sebagai tukang ojek pangkalan. Ayah mencintai pekerjaannya dan aku pun bangga pada Ayah.

Aku memandang keluar jendela, berharap tak seorangpun menangkap kesedihanku. Secepat yang aku bisa, aku mengetik pesan sebelum kendaraan kami masuk ke daerah yang tak terjangkau sinyal.

            Assalamu’alaikum Ayah, Terima kasih sudah menjadi Ayah terhebat. Tina bangga memiliki Ayah. Do’akan Tina. Tulisku singkat sebelum menekan tombol kirim.

Tidak ada jutaan rupiah yang datang. Hanya ada puluhan uang dua ribuan dan sepucuk surat bersama Ayah yang hebat. Dengan do’anya, kegundahan hati ini hilang dalam sekejap berganti keceriaan yang kini membuatku mantap menjalani hari.

Ya, Do’a orangtua adalah yang terbaik. Terimakasih ya Allah. Terimakasih telah memberikan seorang Ayah yang begitu sempurna.

_Do’a dalam dua ribuan_