Jelajah Kampung Arab Ampel: Masjid Sunan Ampel & Kuliner Autentik Surabaya

SEPUCUKJAMBI.ID – Kampung Arab Ampel adalah salah satu kawasan bersejarah paling ikonik di Surabaya.

Terletak di sekitar Masjid Sunan Ampel, kawasan ini bukan hanya pusat wisata religi, tapi juga permukiman yang telah ada ratusan tahun.

Suasana khas, ramai, dan penuh aktivitas membuat siapa pun yang datang langsung merasakan denyut kehidupan kota tua Surabaya.

Masjid Sunan Ampel: Pusat Ziarah dan Sejarah Islam

Daya tarik utama kawasan ini tentu Masjid Sunan Ampel, salah satu masjid tertua di Indonesia sekaligus bagian dari sejarah Wali Songo.

Masjid ini menjadi tujuan ziarah dari berbagai daerah, dan jalan-jalan di sekitarnya selalu dipenuhi peziarah, pedagang, serta warga lokal yang berbaur dalam kesibukan sehari-hari.

Lorong Budaya Timur Tengah di Surabaya

Berjalan di Kampung Arab Ampel serasa berada di lorong kota Timur Tengah.

Toko-toko menjual perlengkapan ibadah, parfum khas Arab, kurma, jubah, dan sorban.

Aroma rempah dan wewangian berpadu dengan suara percakapan dalam berbagai bahasa Indonesia, Arab, bahkan logat Surabaya.

Pengalaman ini menarik, bahkan bagi pengunjung yang datang sekadar ingin jalan-jalan tanpa tujuan ziarah.

Wisata Kuliner Khas Arab

Selain wisata religi, kuliner Ampel jadi daya tarik tersendiri. Di sini mudah ditemukan hidangan khas Timur Tengah, seperti:

  • Nasi kebuli

  • Nasi mandhi

  • Roti maryam

  • Aneka olahan daging kambing

Banyak pengunjung sengaja datang untuk menikmati cita rasa autentik ini, menjadikan Ampel sebagai destinasi wisata rasa selain wisata sejarah.

Nilai Sejarah dan Keberagaman

Kampung Arab Ampel juga penting secara sejarah sebagai pusat penyebaran Islam di Jawa. Kawasan ini sejak dulu menjadi titik pertemuan pedagang, ulama, dan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Semangat keberagaman dan toleransi hingga kini masih terasa kuat, membuat Ampel lebih dari sekadar destinasi wisata biasa.

Tips Berkunjung ke Kampung Arab Ampel

  • Waktu terbaik: pagi atau sore, saat cuaca lebih sejuk dan aktivitas warga masih ramai tapi nyaman.

  • Hari besar keagamaan: kawasan bisa sangat padat, jadi siapkan waktu ekstra.

  • Suasana: Ampel bukan tempat wisata tenang; keramaian adalah bagian dari pesonanya.

Bagi siapa pun yang ingin merasakan sisi religius, sejarah, dan kehidupan kota yang otentik, Kampung Arab Ampel menawarkan pengalaman yang kuat dan berkesan.(*)




Benteng Rotterdam, Saksi Bisnis Rempah dan Sejarah Panjang Makassar

SEPUCUKJAMBI.ID – Benteng Rotterdam berdiri megah di kawasan pesisir Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu ikon sejarah paling berharga di Indonesia bagian timur.

Bangunan bersejarah ini tidak hanya merepresentasikan masa lalu, tetapi juga menegaskan peran Makassar sebagai pusat perdagangan dan persilangan budaya sejak ratusan tahun silam.

Benteng ini awalnya dibangun oleh Kerajaan Gowa pada abad ke-17 dan dikenal dengan nama Benteng Ujung Pandang.

Pada masa itu, bentuk pertahanannya masih mengadopsi gaya arsitektur Nusantara yang fungsional dan kokoh.

Setelah Makassar berada di bawah kekuasaan VOC Belanda, benteng tersebut direnovasi dan diberi nama Fort Rotterdam.

Keunikan Benteng Rotterdam terletak pada desainnya yang menyerupai seekor penyu.

Bentuk ini diyakini melambangkan kekuatan Kerajaan Gowa yang mampu berjaya di daratan maupun lautan.

Dari sudut pandang udara, siluet penyu tersebut masih dapat dikenali hingga saat ini.

Kawasan Benteng Rotterdam memiliki area yang luas dan tertata rapi.

Dinding-dinding tebal berwarna cokelat kemerahan mengelilingi bangunan bergaya kolonial yang masih terawat dengan baik.

Meski berada di pusat kota, suasana di dalam benteng terasa tenang dan sejuk, menjadikannya tempat favorit bagi wisatawan dan warga lokal untuk berjalan santai atau sekadar menikmati suasana.

Di dalam kompleks benteng, terdapat Museum La Galigo yang menyimpan berbagai koleksi bersejarah.

Museum ini menampilkan peninggalan Kerajaan Gowa, artefak budaya Bugis-Makassar, hingga dokumentasi kejayaan maritim Sulawesi Selatan.

Melalui koleksi tersebut, pengunjung diajak memahami peran penting Makassar dalam jalur perdagangan dan pelayaran nusantara.

Benteng Rotterdam juga memiliki nilai historis yang kuat sebagai tempat pengasingan Pangeran Diponegoro pada masa penjajahan Belanda.

Salah satu bangunan di dalam kawasan benteng menjadi saksi bisu masa-masa akhir perjuangan pahlawan nasional tersebut, menambah makna emosional bagi pengunjung yang mendalami sejarah perjuangan bangsa.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Benteng Rotterdam adalah pada sore hari.

Saat matahari mulai condong ke barat, cahaya senja menciptakan suasana dramatis di sepanjang tembok benteng.

Udara yang lebih sejuk juga membuat kawasan ini kerap menjadi ruang publik bagi warga untuk berkumpul dan beraktivitas ringan.

Benteng Rotterdam tidak menawarkan hiburan modern atau wahana wisata kekinian.

Daya tarik utamanya justru terletak pada cerita sejarah yang melekat di setiap sudut bangunannya.

Mengunjungi benteng ini serasa menelusuri kembali jejak panjang Makassar sebuah perjalanan yang tenang, penuh wibawa, dan sarat makna sejarah.(*)




Kampung Naga Tasikmalaya, Warisan Budaya Sunda yang Tetap Lestari

SEPUCUKJAMBI.ID – Di tengah derasnya arus modernisasi, Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tetap berdiri sebagai simbol keteguhan masyarakat adat dalam menjaga warisan leluhur.

Desa adat ini menawarkan pengalaman berbeda bagi siapa pun yang berkunjung tenang, sederhana, dan sarat makna.

Perjalanan menuju Kampung Naga menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

Dari jalan utama, pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga yang membelah perbukitan.

Setiap langkah seolah membawa wisatawan menjauh dari kebisingan dunia luar dan mendekat ke kehidupan yang berjalan lebih perlahan.

Sesampainya di bawah, deretan rumah panggung tampak tersusun rapi.

Atap ijuk, dinding anyaman bambu, serta orientasi rumah yang seragam mencerminkan filosofi keteraturan dan kebersamaan yang dipegang masyarakat Kampung Naga sejak turun-temurun.

Masyarakat Kampung Naga masih memegang teguh aturan adat dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan listrik dan berbagai peralatan modern dibatasi secara ketat sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Aktivitas bertani, menenun, hingga mengolah hasil alam dilakukan dengan cara-cara tradisional yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Hal paling mencolok saat berada di Kampung Naga adalah suasananya yang hening. Tidak terdengar deru mesin, kendaraan, atau suara gawai.

Yang hadir hanyalah bunyi alam gemericik air sungai, desir angin, dan aktivitas warga.

Keheningan ini memberi ruang bagi pengunjung untuk benar-benar berhenti sejenak dari ritme hidup modern yang serba cepat.

Sebagai desa adat, Kampung Naga juga menerapkan aturan khusus bagi wisatawan.

Pengunjung diminta berpakaian sopan, menjaga tutur kata, serta menghormati batas-batas adat yang berlaku.

Aturan tersebut bukan untuk membatasi, melainkan menjaga keseimbangan antara manusia, budaya, dan alam.

Meski terbuka untuk umum, Kampung Naga bukanlah destinasi wisata hiburan.

Tidak ada atraksi buatan atau pertunjukan budaya yang dipentaskan secara khusus. Justru keaslian kehidupan sehari-hari masyarakatnya menjadi daya tarik utama.

Kampung Naga menghadirkan pesan kuat bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi.

Di tempat ini, budaya, alam, dan manusia hidup berdampingan secara harmonis.

Bagi pencari ketenangan dan penikmat wisata budaya autentik, Kampung Naga menawarkan pengalaman sederhana yang membekas dalam ingatan.(*)




Liburan Santai di Kota Lama Semarang, Little Netherlands-nya Indonesia

SEMARANG, SEPUCUKJAMBI.ID – Kota Lama Semarang dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah paling ikonik di Indonesia.

Kawasan ini kerap dijuluki sebagai “Little Netherlands” karena deretan bangunan tua bergaya Eropa yang masih terawat dan mendominasi hampir setiap sudut wilayahnya.

Berada di kawasan ini, suasana terasa berbeda dari pusat kota Semarang yang sibuk. Ritme kehidupan seolah melambat, menciptakan pengalaman wisata yang santai dan menenangkan.

Kota Lama menjadi tempat yang pas untuk berjalan kaki, berburu foto, atau sekadar duduk menikmati atmosfer klasik yang jarang ditemukan di kota modern.

Bangunan-bangunan di Kota Lama merupakan peninggalan masa kolonial Belanda yang dahulu berfungsi sebagai pusat perdagangan.

Ciri arsitekturnya sangat khas, mulai dari pintu-pintu tinggi, jendela besar, hingga detail ornamen klasik yang membuat kawasan ini tampak fotogenik dari berbagai sudut.

Tak heran jika Kota Lama menjadi favorit wisatawan, fotografer, hingga kreator konten.

Salah satu ikon utama Kota Lama adalah Gereja Blenduk. Bangunan bersejarah dengan kubah besar berwarna tembaga ini menjadi landmark yang paling dikenal dan sering muncul dalam foto-foto wisata Semarang. Area di sekitarnya kini tertata rapi dengan jalur pejalan kaki dan ruang terbuka yang nyaman untuk bersantai.

Tak hanya itu, banyak bangunan tua di Kota Lama yang kini dialihfungsikan menjadi kafe, galeri seni, restoran, hingga ruang komunitas.

Kehadiran fungsi-fungsi baru ini membuat kawasan Kota Lama tetap hidup dan relevan, tanpa kehilangan identitas sejarahnya.

Pengunjung bisa menikmati kopi sambil merasakan suasana bangunan klasik, atau melihat pameran seni lokal di ruang-ruang kecil yang artistik.

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Kota Lama Semarang adalah sore hingga malam hari. Saat matahari mulai terbenam, pencahayaan lampu jalan menciptakan kesan hangat dan romantis.

Di malam hari, detail bangunan kolonial terlihat semakin menonjol berkat tata cahaya yang estetik, menciptakan suasana yang nyaman untuk berjalan santai.

Lokasi Kota Lama juga tergolong strategis dan mudah diakses. Kawasan ini bisa dikombinasikan dengan destinasi wisata lain di Semarang seperti Lawang Sewu atau Pecinan Semarang.

Meski areanya tidak terlalu luas, pengunjung tetap bisa menikmati pengalaman wisata yang berkesan tanpa perlu waktu lama.

Kota Lama Semarang memang bukan destinasi dengan wahana atau atraksi besar.

Daya tarik utamanya justru terletak pada suasana: jalanan yang tenang, bangunan tua yang penuh cerita, dan nuansa nostalgia yang perlahan terasa.

Tempat ini cocok bagi siapa saja yang ingin menikmati sisi lain Semarang dengan cara yang lebih santai dan bermakna.(*)




Jalur Trekking Diperbaiki, Danau Kaco Kerinci Tutup Sementara

KERINCI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Desa Manjunto Lempur bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Karang Taruna resmi menutup sementara objek wisata Danau Kaco, Desa Manjunto Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, mulai Minggu, 25 Januari 2026.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah tegas untuk melindungi kelestarian lingkungan, memperbaiki jalur trekking, serta menjaga keselamatan wisatawan yang selama ini mengakses destinasi tersebut.

Danau Kaco dikenal sebagai salah satu ikon wisata alam Kerinci dengan air danau yang jernih dan panorama hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang masih alami.

Namun, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan dinilai mulai memberi tekanan pada ekosistem dan kondisi jalur menuju lokasi.

Ketua Karang Taruna Desa Manjunto Lempur, Ahmad Yani Zakaria, membenarkan penutupan sementara tersebut.

“Iya, mulai 25 Januari Danau Kaco kami tutup sementara. Fokus kami saat ini pemulihan lingkungan dan perbaikan jalur menuju lokasi,” ujarnya.

Selama masa penutupan, pengelola akan melakukan pembersihan sampah, penataan ulang area sekitar danau, serta perbaikan jalur trekking yang selama ini sering tertutup semak dan licin saat musim hujan.

Sejumlah pembenahan infrastruktur ringan juga dilakukan demi meningkatkan faktor keamanan.

Tokoh masyarakat Lempur, Daswarsya, menegaskan bahwa keputusan penutupan ini murni demi keberlangsungan alam Danau Kaco, bukan untuk membatasi minat wisata.

“Ini untuk membersihkan sampah, memperbaiki jalan yang terjal, dan menyegarkan kembali vegetasi di sekitar danau,” katanya.

Ia menambahkan bahwa upaya tersebut juga bertujuan melindungi habitat satwa liar yang kerap melintasi kawasan tersebut.

“Kami ingin ekosistem tetap seimbang, satwa bisa melintas dengan aman, dan alam tetap lestari,” tambahnya.

Selama penutupan, seluruh aktivitas wisata ke Danau Kaco dihentikan sementara. Pengelola juga telah menyepakati penerapan sanksi bagi pengunjung yang nekat masuk tanpa izin.

Hingga saat ini, belum ada jadwal pasti pembukaan kembali Danau Kaco. Informasi terbaru akan diumumkan setelah seluruh proses pemulihan dan penataan dinyatakan selesai.

“Kalau sudah siap dan aman untuk dikunjungi, tentu akan kami sampaikan ke masyarakat,” tutup Daswarsya.

Penutupan ini diharapkan menjadi momentum penting agar Danau Kaco tetap terjaga sebagai destinasi wisata alam unggulan Kerinci yang aman, lestari, dan berkelanjutan.(*)




Danau Kelimutu, Destinasi Magis di NTT dengan Fenomena Alam Langka

SEPUCUKJAMBI.ID – Danau Kelimutu merupakan salah satu destinasi alam paling ikonik di Indonesia yang terletak di kawasan Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Keunikan danau ini terletak pada keberadaan tiga danau kawah yang berdampingan, namun memiliki warna air yang berbeda-beda, sebuah fenomena alam yang jarang ditemukan di tempat lain.

Tiga danau tersebut masing-masing dikenal sebagai Tiwu Ata Mbupu, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, dan Tiwu Ata Polo.

Warna airnya tidak bersifat permanen dan dapat berubah seiring waktu, mulai dari biru, hijau, cokelat, hingga kehitaman. Perubahan ini dipengaruhi oleh kandungan mineral, aktivitas vulkanik, serta reaksi kimia alami yang terjadi di dalam kawah.

Inilah yang membuat setiap kunjungan ke Danau Kelimutu selalu menghadirkan pemandangan yang berbeda.

Waktu paling ideal untuk menikmati keindahan Danau Kelimutu adalah pagi hari menjelang matahari terbit.

Dari puncak, pengunjung dapat menyaksikan sinar matahari perlahan menyapu permukaan danau, memperjelas gradasi warna yang kontras.

Suhu udara yang sejuk, kabut tipis, serta suasana yang masih sunyi menciptakan pengalaman yang terasa tenang dan magis.

Tak heran jika banyak wisatawan rela datang sejak dini hari demi menikmati momen ini.

Selain keindahan visual, Danau Kelimutu juga memiliki nilai budaya yang kuat. Masyarakat setempat meyakini bahwa ketiga danau tersebut merupakan tempat bersemayamnya arwah manusia.

Tiwu Ata Mbupu dipercaya sebagai tempat arwah orang tua, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai untuk arwah muda, sementara Tiwu Ata Polo diyakini sebagai tempat arwah yang semasa hidupnya memiliki perilaku kurang baik.

Kepercayaan ini menjadikan kawasan Kelimutu sebagai tempat yang sakral dan dihormati.

Akses menuju Danau Kelimutu relatif mudah. Dari Kota Ende, perjalanan darat menuju kawasan taman nasional dapat ditempuh dalam beberapa jam.

Fasilitas menuju puncak juga sudah tertata dengan baik, dilengkapi jalur pejalan kaki dan tangga, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan tanpa memerlukan kemampuan fisik khusus.

Danau Kelimutu bukan destinasi yang menawarkan banyak aktivitas wisata. Daya tarik utamanya justru terletak pada keheningan, keindahan sederhana, dan keajaiban alamnya.

Pengunjung datang untuk melihat, merasakan, dan merenung sejenak di hadapan salah satu fenomena alam paling menakjubkan di Indonesia.

Dengan perpaduan fenomena alam unik, panorama visual yang memukau, serta nilai budaya yang mendalam, Danau Kelimutu menjadi simbol alam Flores yang sulit dilupakan dan selalu meninggalkan kesan bagi siapa pun yang mengunjunginya.(*)




Pukul Terpukul

Puisi oleh: Ibnu Nur Adim Fadilah

Bisa jadi reruntuhan daun masih menyimpan kuasa

dan sukma masih terbuai cakrawala pemikat rasa

namun, sayangnya semua itu hanya bayang datang

untuk mengubur rasa manis yang telah lama hilang.

 

Kini senja menulis duka di batas tepian segara

segala rona tersusun, seakan dekat dengan sastra

sedangkan ini kali pertama menyentuh untaian kata

lantas, kenapa kau teguh cipta cinta ini amerta?

 

Pernahkah kau menanti pesan dari pukul sebelas

dan menanti kata terapung di layar bagian atas?

Meski pada akhirnya tiada balas sebab ruang baru

telah menyambutnya terlebih dahulu daripada aku.




Jadi Tenaga Ahli DPN, Sabrang Noe Letto: Saya Tidak Membuat Kebijakan

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Musisi sekaligus intelektual publik Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang dikenal luas sebagai Noe Letto, akhirnya angkat bicara menanggapi berbagai kritik dan polemik yang muncul usai pengangkatannya sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN).

Ia menegaskan bahwa posisi tersebut bukan jabatan politis maupun pembuat kebijakan negara.

Penunjukan Sabrang sebagai salah satu dari 12 Tenaga Ahli DPN pada pertengahan Januari 2026 memicu beragam reaksi di ruang publik.

Sebagian pihak mempertanyakan relevansi latar belakangnya sebagai musisi dalam struktur pertahanan negara, sementara yang lain memberikan dukungan atas pendekatan lintas disiplin yang diambil pemerintah.

Menanggapi hal tersebut, Sabrang memberikan klarifikasi melalui sebuah video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, @sabrangmdp_official. Ia mengaku telah membaca hampir seluruh respons publik yang berkembang.

“Saya sudah membaca yang marah, yang kecewa, yang skeptis, juga yang mendukung. Semuanya menarik dan sejujurnya sudah saya perkirakan,” ujar Sabrang dalam pernyataannya.

Ia menilai dinamika pro dan kontra tersebut sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi.

Menurutnya, respons publik baik positif maupun negatif merupakan bentuk partisipasi dan pengawasan masyarakat terhadap pejabat publik.

Lebih lanjut, Sabrang menjelaskan batasan perannya sebagai Tenaga Ahli DPN. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki kewenangan untuk merumuskan atau menetapkan kebijakan negara.

“Tenaga Ahli itu bukan pembuat peraturan. Tugasnya memberi masukan, analisis, dan rekomendasi kepada pemerintah terkait situasi, risiko, dan kemungkinan langkah strategis,” jelasnya.

Sabrang juga menekankan bahwa kritik publik seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman. Baginya, kritik merupakan data penting yang perlu dianalisis secara rasional.

“Kritik itu bukan musuh. Kritik itu data. Rakyat yang marah bukan lawan, mereka hanya ingin didengar,” tegasnya.

Ia menambahkan, tidak semua masyarakat memiliki kemampuan menyampaikan kritik secara sistematis dan terstruktur.

Oleh karena itu, ekspresi emosional yang muncul harus dipahami sebagai sinyal keresahan yang perlu ditangkap substansinya, bukan sekadar dinilai dari bentuk penyampaiannya.

Dalam pernyataan sebelumnya, Sabrang juga menyatakan kesiapannya untuk mengundurkan diri apabila masukan atau rekomendasi yang ia berikan tidak digunakan atau tidak dipertimbangkan oleh DPN.

Sikap tersebut, menurutnya, merupakan bentuk tanggung jawab moral atas peran yang diemban.

Ia bahkan menyebut penunjukan dirinya sebagai sebuah eksperimen sosial dan politik untuk membangun pola relasi baru antara pejabat publik dan masyarakat.

Menurut Sabrang, posisi tenaga ahli memberi ruang independensi yang lebih besar dibandingkan jabatan politik berbasis partai, sehingga memungkinkan penyampaian pandangan kritis secara lebih bebas.(*)




Gunung Rinjani, Perjalanan Panjang Menuju Panorama Terindah Nusantara

SEPUCUKJAMBI.ID – Gunung Rinjani berdiri megah di Pulau Lombok dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut.

Sebagai gunung tertinggi kedua di Indonesia, Rinjani telah lama menjadi magnet bagi para pendaki dari dalam maupun luar negeri.

Namun, daya tarik gunung ini tidak semata terletak pada puncaknya, melainkan pada perjalanan panjang yang menyuguhkan lanskap alam yang terus berubah.

Pendakian Gunung Rinjani membawa pengunjung melintasi savana luas, hutan pegunungan yang rimbun, hingga kaldera raksasa yang menjadi salah satu ikon alam Indonesia.

Setiap jalur menghadirkan karakter berbeda, menciptakan pengalaman mendaki yang kaya akan visual dan tantangan.

Di dalam kaldera Rinjani, terhampar Danau Segara Anak yang terkenal dengan airnya yang berwarna biru kehijauan.

Dikelilingi tebing kaldera yang menjulang tinggi, danau ini kerap disebut sebagai jantung Gunung Rinjani.

Banyak pendaki menjadikan Segara Anak sebagai titik utama peristirahatan, bahkan tak jarang memperpanjang waktu pendakian demi menikmati ketenangan dan keindahan alamnya.

Tak jauh dari danau, terdapat sumber air panas alami yang menjadi favorit para pendaki. Berendam di air hangat setelah perjalanan panjang dianggap sebagai momen relaksasi yang sangat berkesan.

Pada pagi hari, suasana di sekitar Segara Anak terasa semakin magis ketika kabut tipis menyelimuti permukaan danau.

Tantangan sesungguhnya Gunung Rinjani terasa saat pendakian menuju puncak. Jalur pasir dan kerikil yang mudah bergeser menuntut fisik dan mental yang kuat.

Meski melelahkan, perjuangan tersebut terbayar ketika pendaki tiba di puncak.

Dari ketinggian, panorama Pulau Lombok, siluet Gunung Agung di Bali, hingga garis laut di kejauhan dapat terlihat jelas saat cuaca bersahabat.

Selain keindahan alamnya, Gunung Rinjani juga memiliki nilai spiritual yang kuat bagi masyarakat setempat.

Gunung ini dianggap sakral dan menjadi bagian dari tradisi serta kepercayaan yang diwariskan turun-temurun.

Hingga kini, sejumlah ritual adat masih dilakukan di kawasan sekitar danau dan gunung, menambah kekayaan makna di balik aktivitas pendakian.

Seiring meningkatnya jumlah pengunjung, pengelolaan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani terus diperbaiki.

Sistem kuota pendakian diterapkan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan pendaki.

Setiap pengunjung diwajibkan mengikuti aturan, membawa perlengkapan standar, serta menjaga kebersihan selama berada di kawasan gunung.

Gunung Rinjani bukanlah destinasi yang bisa dinikmati secara singkat. Ia menuntut kesiapan fisik, mental, dan komitmen waktu.

Namun bagi mereka yang berhasil menaklukkannya, Rinjani menawarkan pengalaman menyeluruh perpaduan antara keindahan alam, tantangan ekstrem, dan kepuasan batin yang sulit dilupakan.(*)




Cahaya dari Pintu Musala

Cerpen oleh: Salsabiilatul Fitri

 

Langit sore di sekitar kampus itu tampak kelabu.

Hujan baru saja reda, tapi genangan masih menutupi jalan setapak menuju gerbang.

Rafi berjalan pelan, menunduk, menatap bayangan wajahnya di air.

Di tangannya tergenggam selembar kertas pengumuman beasiswa, namanya tidak ada di sana.

Lagi-lagi gagal.

“Ya Allah… kenapa harus aku lagi?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar di tengah suara gerimis.

Sudah tiga kali Rafi mencoba mengajukan beasiswa prestasi, dan tiga kali pula ia harus menelan kecewa.

Padahal ia sudah belajar keras, berdoa tiap malam, dan menahan diri dari semua kesenangan duniawi.

Tapi hasilnya tetap sama. Ia merasa doanya tak sampai ke langit.

Di kamar kos kecilnya, Rafi duduk lama di depan meja belajar.

Foto almarhum ayahnya terpajang di dinding, senyumnya menenangkan tapi sekaligus menyesakkan.

Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, ibunya bekerja sebagai penjahit di kampung.

Harapan mereka hanya satu: Rafi bisa lulus kuliah dan jadi guru.

Tapi kini semangatnya menurun.

Ia merasa letih menjadi “baik” tanpa hasil.

Pukul lima sore, adzan maghrib berkumandang dari mushala kecil di ujung gang kos.

Suaranya lembut, tapi entah kenapa terasa jauh.

Rafi menatap ke arah jendela, lalu memutuskan untuk tidak berangkat.

“Shalat nanti saja,” gumamnya.

Namun, semakin lama, hatinya justru semakin gelisah.

Hujan berhenti, dan dari balik kaca, ia melihat cahaya kuning dari pintu mushala yang terbuka.

Hanya ada satu orang di sana, seorang pria tua yang sedang menyapu lantai, sesekali berhenti dan tersenyum sendiri.

Ada ketenangan aneh dari pemandangan itu.

Pertemuan di Mushala Esok harinya, setelah kuliah selesai, Rafi akhirnya melangkah ke mushala itu.

Ia berniat shalat Zuhur, meski dengan hati yang masih berat.

Ketika membuka sandal, suara lembut menyapanya.

“Assalamu’alaikum, Nak. Jarang lihat kamu ke sini,” kata pria tua itu sambil tersenyum.

“Wa’alaikumussalam, Pak. Iya, biasanya saya shalat di kampus.”

Pria itu mengangguk.

“Bagus. Tapi jangan lupa, kadang mushala kecil seperti ini juga bisa menenangkan.

Di sini tak ada suara ramai, hanya kamu dan Allah.”

Ucapan itu singkat, tapi seolah mengetuk pintu hati Rafi. Setelah shalat, mereka duduk di teras mushala.

Angin sore membawa aroma tanah basah.

“Namamu siapa, Nak?” tanya sang pria.

“Rafi, Pak. Mahasiswa semester lima.”

“Oh, mahasiswa ya. Dulu saya juga pernah jadi penjaga kampus,” katanya sambil tertawa kecil.

“Sampai akhirnya saya sadar, rezeki yang paling besar bukan dari gaji atau jabatan, tapi dari ketenangan hati.”

Rafi menatapnya heran.

“Ketenangan hati?”

“Iya,” jawab pria itu.

“Kalau kamu sibuk mengejar sesuatu tapi hatimu kosong dari rasa syukur, kamu akan terus merasa gagal, meskipun berhasil sekalipun.”

Ucapan itu terus terngiang hingga malam tiba.

Ujian yang Menyadarkan Beberapa hari kemudian, ibunya menelepon.

Suaranya bergetar, terdengar letih.

“Fi, uang jahitan ibu belum dibayar pelanggan. Mungkin kiriman bulan ini agak terlambat ya, Nak.”

Rafi diam, menatap dompetnya yang hampir kosong. Ia hanya menjawab pelan,

“Iya, Bu… tidak apa-apa.”

Setelah telepon ditutup, ia terisak pelan. Ini bukan hanya soal uang.

Ia merasa gagal menjadi anak yang bisa meringankan beban ibunya.

Malam itu, tanpa sadar, ia berjalan ke mushala. Pintu masih terbuka, cahaya kuningnya sama seperti malam pertama ia melihatnya.

Pria tua itu masih di sana, sedang menata sajadah.

“Datang lagi, Nak Rafi?”

“Iya, Pak. Entah kenapa saya ingin ke sini saja malam ini.”

Pria itu tersenyum.

“Mungkin karena hatimu sedang dipanggil. Kadang Allah tidak memberi apa yang kita minta, tapi memberi yang kita butuh.”

Rafi tertegun. Ia duduk di saf belakang, menunduk lama.

Dalam sujudnya malam itu, ia menangis sejadi-jadinya, bukan lagi karena kecewa, tapi karena sadar selama ini ia berdoa hanya untuk mendapatkan hasil, bukan untuk mendekat pada Allah.

Hari-hari berikutnya terasa lebih damai. Setiap sore, Rafi datang ke mushala kecil itu, membantu Pak Rahman membersihkan sajadah, mengisi air wudhu, atau sekadar duduk berbincang tentang kehidupan.

Di antara percakapan sederhana mereka, Rafi mulai belajar arti sabar dari cara Pak Rahman menjalani hidup.

“Pak Rahman, kenapa Bapak tetap semangat datang ke mushala setiap hari? Padahal tidak ada yang mengharuskan, kan?”

Pak Rahman tersenyum, garis keriput di wajahnya semakin jelas diterpa sinar matahari senja.

“Karena aku tahu, Nak, manusia itu sering lupa. Kalau tidak dipanggil adzan, mungkin kita tak akan ingat pada Pencipta kita. Maka aku datang agar hatiku selalu diingatkan.”

Rafi mengangguk pelan. Ia merasa seperti sedang diajari sesuatu yang jauh lebih dalam daripada teori-teori kuliah yang biasa ia pelajari.

Setiap kata dari Pak Rahman seperti nasihat seorang ayah yang lama dirindukan.

Suatu sore, hujan turun deras.

Petir menyambar, dan listrik padam. Mushala kecil itu gelap gulita, hanya diterangi cahaya lilin kecil di dekat mimbar.

Rafi membantu Pak Rahman menutup jendela dan mengeringkan lantai yang tergenang air.

“Bapak, tidak takut mushalanya bocor atau rusak?” tanya Rafi sambil memegangi ember air.

Pak Rahman tertawa lirih.

“Yang penting hatinya jangan bocor, Nak. Kalau hati bocor, iman cepat hanyut.”

Rafi tertegun, kalimat itu menancap di dadanya.

Malam itu mereka shalat berjamaah berdua, di tengah suara hujan dan cahaya lilin.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Rafi merasa benar-benar tenang dalam sujudnya.

Beberapa hari kemudian, Rafi datang lebih awal dan mendapati Pak Rahman duduk di serambi sambil menatap halaman.

Di tangannya ada sebuah kotak kayu kecil.

“Ini apa, Pak?” tanya Rafi penasaran.

“Isinya surat-surat dan catatan lama,” jawab Pak Rahman lembut.

“Dulu aku punya anak laki-laki seumuran kamu. Namanya Arfan. Dia juga kuliah di sini, tapi Allah lebih dulu memanggilnya. Sejak itu, aku memutuskan menjaga mushala ini. Rasanya seperti menjaga sesuatu yang dulu pernah aku cintai.”

Rafi terdiam, tiba-tiba ia merasa semua kebersamaan mereka selama ini lebih bermakna.

Ia seolah menemukan sosok ayah yang hilang.

“Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau Bapak pernah kehilangan anak.”

Pak Rahman tersenyum, matanya basah.

“Tidak apa, Nak. Allah tidak pernah mengambil sesuatu tanpa menggantinya dengan yang lebih baik. Mungkin sekarang gantinya kamu.”

Rafi tak sanggup menjawab. Ia hanya menunduk dan mencium tangan Pak Rahman dengan haru.

Saat Ujian Akhir Semester tiba, Rafi tetap menyempatkan diri datang ke mushala.

Tapi sore itu, ia mendapati mushala sepi, Pak Rahman tidak di sana.

Beberapa hari kemudian, kabar duka datang, Pak Rahman meninggal dunia karena sakit jantung di rumahnya.

Rafi lemas mendengar berita itu.

Ia berlari ke mushala dan duduk lama di lantai tempat biasa mereka berbincang. Udara sore terasa berat, dan cahaya kuning di pintu mushala seolah lebih redup dari biasanya.

Rafi membuka kotak kayu peninggalan Pak Rahman yang diberikan pengurus kampung.

Di dalamnya ada sajadah tua, tasbih, dan sepucuk surat.

“Untuk Rafi,

Jika suatu hari kamu merasa gagal, ingatlah! Kegagalan bukan tanda Allah membencimu, tapi cara-Nya memelukmu lebih erat.

Mushala ini mungkin kecil, tapi semoga bisa jadi saksi bahwa kita pernah sama-sama belajar ikhlas.

Jaga ia, bukan karena aku, tapi karena Allah.” – Pak Rahman

Rafi menangis lama malam itu.

Tapi air mata yang keluar bukan lagi karena kehilangan, melainkan karena rasa syukur.

Ia sadar, Allah telah mengirim seseorang untuk membimbingnya kembali kepada cahaya.

Setahun berlalu. Rafi kini menjadi lulusan terbaik di fakultasnya.

Beasiswa yang dulu gagal kini datang dengan sendirinya, ia bahkan ditawari mengajar di kampus.

Namun di balik kesuksesan itu, hatinya tetap sederhana.

Ia masih rutin datang ke mushala kecil itu setiap sore, mengajar anak-anak mengaji dan membimbing mahasiswa baru yang kadang tersesat arah.

Suatu sore, setelah adzan Maghrib, ia duduk di serambi mushala. Seorang anak kecil mendekat, membawa buku Iqra’.

“Kak Rafi, kenapa kakak tidak pernah marah kalau kami ribut waktu belajar?”

Rafi tersenyum.

“Karena dahulu aku juga belajar dari seseorang yang sangat sabar. Beliau pernah berkata, jika kita ingin mengubah orang lain, kita harus terlebih dahulu menenangkan diri.”

Anak kecil itu mengangguk polos.

Dari kejauhan, cahaya matahari senja menembus pintu mushala, sama seperti cahaya yang dulu dilihat Rafi di hari paling gelap dalam hidupnya.

Epilog: Cahaya yang Tak Pernah Padam

Beberapa bulan kemudian, Rafi pulang ke kampung halamannya.

Ibunya kini sudah memiliki kios kecil hasil usahanya menjahit.

Di halaman belakang rumah, Rafi membangun mushala sederhana dan menamainya “Mushala Ar-Rahman”, sebagai penghormatan untuk sosok yang telah mengubah hidupnya.

Pada malam peresmian mushala itu, Rafi berdiri di depan jamaah dan berkata dengan suara bergetar,

“Dulu saya datang ke mushala karena merasa hidup saya gelap. Tapi Allah menuntun saya dengan cara yang lembut, melalui seseorang yang tidak pernah lelah berbuat baik.

Maka jika hari ini kita berdiri di tempat ini, ingatlah! Tidak ada kebaikan yang kecil di mata Allah.

Bahkan sekadar membuka pintu mushala dan tersenyum bisa jadi cahaya bagi orang lain.”

Hening sejenak.

Lalu semua jamaah mengucap aamiin.

Rafi menatap pintu mushala barunya yang kini terbuka, cahaya lampu temaram memantul di wajahnya.

Dalam hati, ia berbisik,

“Cahaya itu tak lagi hanya dari pintu mushala, tapi dari hati yang belajar ikhlas.”