Wisata Sejarah di Cirebon, Jelajahi Keunikan Keraton Kasepuhan

SEPUCUKJAMBI.ID – Keraton Kasepuhan, salah satu keraton tertua di Jawa Barat, masih berdiri kokoh hingga kini dan tetap berfungsi sebagai pusat tradisi Kesultanan Cirebon.

Didirikan pada abad ke-16, keraton ini menjadi simbol harmonisasi budaya Jawa, Sunda, Islam, Tiongkok, dan Eropa, sekaligus saksi sejarah panjang Cirebon sebagai pelabuhan penting di pesisir utara Pulau Jawa.

Saat memasuki kompleks, pengunjung disambut gerbang merah bata yang megah.

Ornamen keramik khas Tiongkok menghiasi dinding, sementara tata ruang bangunan mengikuti filosofi keraton Jawa, menciptakan perpaduan unik yang sulit ditemukan di keraton lain.

Di dalam kompleks, museum menyimpan berbagai benda pusaka, termasuk Kereta Singa Barong, kereta kerajaan dengan desain gabungan naga, singa, dan burung.

Simbol ini mencerminkan hubungan diplomatik Cirebon dengan budaya Tiongkok, India, dan Timur Tengah pada masa lalu.

Suasana keraton terasa tenang dan sakral. Halaman luas, pendopo megah, serta ruang-ruang tua yang masih terawat menghadirkan pengalaman seolah waktu berjalan lebih lambat.

Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk berfoto, tapi juga untuk menelusuri sejarah panjang Cirebon dan memahami akar budayanya.

Keraton Kasepuhan juga aktif sebagai pusat tradisi. Berbagai upacara adat dan peringatan hari besar masih dijalankan secara rutin, membuat keraton tetap hidup sebagai ruang budaya yang dinamis, bukan sekadar museum.

Letaknya yang strategis di tengah kota memudahkan akses pengunjung.

Banyak wisatawan bahkan mengombinasikan kunjungan dengan wisata kuliner khas Cirebon.

Seperti empal gentong dan nasi jamblang, yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari keraton.

Dengan pesona sejarah dan budaya yang kental, Keraton Kasepuhan menawarkan pengalaman wisata edukatif yang mendalam.

Setiap sudutnya bercerita tentang kejayaan Cirebon sebagai kota pelabuhan dan titik pertemuan berbagai peradaban yang membentuk identitasnya hingga kini.(*)




Bukit Kelam, Destinasi Pendakian Ekstrem dengan Keindahan Alam yang Masih Liar

SEPUCUKJAMBI.ID – Bukit Kelam menjadi salah satu lanskap alam paling ikonik di Kalimantan Barat.

Terletak di Kabupaten Sintang, bukit batu raksasa ini dikenal luas sebagai salah satu monolit terbesar di dunia.

Dari kejauhan, wujudnya tampak mencolok sebuah dinding batu gelap yang berdiri kokoh di tengah hamparan hutan tropis Kalimantan.

Dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut, Bukit Kelam didominasi batu granit keras yang membentuk tebing-tebing curam hampir tegak lurus.

Karakter inilah yang membedakannya dari gunung pada umumnya.

Minim vegetasi di permukaan batu membuat Bukit Kelam terlihat monumental, seolah sebuah benteng alam yang menjulang dari bumi.

Aktivitas pendakian menjadi daya tarik utama kawasan ini.

Meski tergolong menantang, jalur menuju puncak masih memungkinkan dilalui pendaki pemula dengan kondisi fisik dan perlengkapan yang memadai.

Sepanjang perjalanan, pendaki akan melewati hutan lembap, akar-akar pohon besar, hingga permukaan batu terbuka yang licin saat hujan.

Beberapa titik telah dilengkapi tali pengaman untuk membantu pendakian.

Sesampainya di puncak, pemandangan terbuka luas tanpa halangan.

Aliran Sungai Kapuas terlihat berkelok di kejauhan, berpadu dengan hamparan hutan hijau yang nyaris tak berujung.

Pada cuaca cerah, panorama ini menghadirkan kontras dramatis antara langit biru, hutan tropis, dan batu granit gelap yang menjadi ciri khas Bukit Kelam.

Selain menawarkan keindahan visual, Bukit Kelam juga memiliki nilai ekologis penting. Kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna khas Kalimantan.

Sejumlah tumbuhan endemik mampu tumbuh di celah-celah batu, mencerminkan ketangguhan alam dalam beradaptasi di lingkungan ekstrem.

Bagi masyarakat setempat, Bukit Kelam bukan sekadar objek wisata.

Bukit ini lekat dengan cerita rakyat dan legenda turun-temurun yang memperkaya identitas budaya Sintang.

Kisah-kisah tersebut menjadikan Bukit Kelam tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga sarat makna historis dan kultural.

Tanpa fasilitas wisata massal yang berlebihan, Bukit Kelam justru mempertahankan kesan alaminya.

Destinasi ini cocok bagi pencinta alam dan petualang yang ingin merasakan sisi Kalimantan yang masih asli, sunyi, dan kuat.

Berdiri di puncaknya memberi pengalaman reflektif—manusia terasa kecil di hadapan alam yang tak tergoyahkan.(*)




Hunian Baru Cristiano Ronaldo Bernilai Fantastis, Garasi Bisa Tampung 20 Mobil

SEPUCUKJAMBI.ID – Cristiano Ronaldo kembali mencuri perhatian, kali ini lewat investasi properti supermewah bersama sang pasangan, Georgina Rodriguez.

Pasangan ini dikabarkan menambah koleksi hunian mereka dengan sebuah mansion megah di Cascais, Portugal, tanah kelahiran Ronaldo.

Menurut laporan majalah Spanyol Semana, mansion terbaru ini memiliki nilai fantastis £21,6 juta (lebih dari Rp500 miliar) dengan luas lahan 12 ribu meter persegi dan bangunan utama 5 ribu meter persegi.

Hunian ini dirancang dengan fasilitas kelas dunia, termasuk kolam renang indoor & outdoor, bioskop pribadi, pusat kebugaran berteknologi tinggi, taman luas, dan garasi untuk 20 mobil.

Koleksi mobil mewah Ronaldo sendiri diklaim bernilai lebih tinggi, sekitar £22 juta, dengan permata utama berupa Bugatti Tourbillon senilai £3,2 juta.

Mansion ini dibangun sejak 2020, menampilkan interior marmer Italia, keran emas solid, dan mural Louis Vuitton eksklusif.

Properti di Cascais menjadi bagian dari portofolio mewah Ronaldo dan Georgina yang tersebar di berbagai negara.

Seperti Arab Saudi, Spanyol, Italia, Inggris, dan Uni Emirat Arab, dengan total nilai sekitar £65 juta.

Hunian ini diproyeksikan menjadi rumah keluarga bagi pasangan dengan lima anak mereka.

Selain properti, Ronaldo dan Georgina juga tengah menyiapkan pernikahan.

Ronaldo resmi melamar Georgina pada Agustus lalu dengan cincin tunangan senilai £3,7 juta.

Georgina mengaku terkejut dan membutuhkan waktu untuk mencerna kejutan tersebut.

Dengan mansion baru dan rencana pernikahan yang kian dekat, Cristiano Ronaldo tampak menikmati fase baru kehidupan yang memadukan kemewahan, keluarga, dan cinta.(*)




Mengenal Kota Tua Surabaya, Kawasan Bersejarah yang Menolak Dilupakan Waktu

SURABAYA, SEPUCUKJAMBI.ID – Kota Tua Surabaya menjadi saksi perjalanan panjang salah satu kota terbesar di Indonesia.

Kawasan bersejarah ini membentang dari Jembatan Merah, Kembang Jepun, hingga wilayah Ampel, menyimpan berbagai kisah penting yang membentuk wajah Surabaya hari ini.

Menjelajahi kawasan ini serasa membuka kembali lembaran sejarah yang masih berdampingan dengan denyut kehidupan modern.

Jembatan Merah menjadi titik paling ikonik di kawasan Kota Tua.

Lokasi ini dikenal luas sebagai medan pertempuran besar pada masa perjuangan kemerdekaan.

Meski kini berfungsi sebagai jalur lalu lintas harian, nilai historis Jembatan Merah tetap terasa kuat dan menjadi penanda penting perjalanan kota.

Sejarawan Surabaya, R. Ahmad Zainal, menyebut kawasan ini memiliki posisi strategis dalam sejarah nasional.

“Jembatan Merah dan sekitarnya bukan hanya simbol perlawanan, tapi juga pusat aktivitas ekonomi dan sosial sejak era kolonial. Jejak itu masih bisa dirasakan sampai sekarang,” ujarnya.

Di sekitar Jembatan Merah, deretan bangunan peninggalan kolonial masih berdiri.

Gudang lama, kantor dagang, hingga rumah-rumah bergaya Eropa menjadi bagian dari lanskap sehari-hari.

Sebagian bangunan tampak terawat dan digunakan, sementara lainnya dibiarkan menua, menciptakan kontras visual yang justru memperkuat karakter kawasan Kota Tua Surabaya.

Kawasan Kembang Jepun, yang dikenal sebagai Pecinan Surabaya, turut menjadi denyut penting kawasan ini. Sejak dahulu, wilayah ini merupakan pusat perdagangan.

Hingga kini, aktivitas niaga masih berlangsung, ditandai dengan toko-toko lama, pasar tradisional, serta kuliner legendaris yang bertahan lintas generasi.

Pada malam hari, kawasan ini sering ramai dikunjungi warga dan wisatawan pencinta wisata kuliner.

Berbeda dengan kawasan wisata yang ditata secara khusus, Kota Tua Surabaya berkembang secara alami.

Aktivitas warga berlangsung berdampingan dengan bangunan bersejarah, menciptakan suasana yang otentik.

Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga menyaksikan bagaimana sejarah tetap hidup dalam keseharian masyarakat.

Waktu terbaik mengunjungi Kota Tua Surabaya adalah pagi atau sore hari, ketika cuaca lebih bersahabat.

Banyak pengunjung memilih berjalan kaki, berhenti untuk berfoto, atau sekadar duduk menikmati suasana.

Beberapa titik juga dilengkapi papan informasi yang menjelaskan peristiwa penting yang pernah terjadi di kawasan tersebut.

Kota Tua Surabaya menawarkan pengalaman wisata yang berbeda.

Tanpa atraksi buatan atau wahana modern, kawasan ini menghadirkan cerita, atmosfer, dan memori kolektif yang kuat.

Tempat ini cocok bagi siapa saja yang ingin mengenal Surabaya lebih dalam, sebagai kota yang tumbuh dari sejarah panjang, perdagangan, dan perjuangan.(*)




Danau Sentarum, Surga Tersembunyi Ikan Arwana dan Satwa Liar di Kapuas Hulu

SEPUCUKJAMBI.ID – Danau Sentarum bukan sekadar danau biasa. Terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kawasan ini dikenal sebagai salah satu ekosistem rawa dan danau paling unik di Indonesia.

Keistimewaannya terletak pada siklus musiman yang menakjubkan: saat kemarau, sebagian wilayah mengering dan berubah menjadi padang rumput.

Sementara saat musim hujan, danau ini menjelma menjadi lautan air tawar yang luas.

Keunikan Danau Sentarum membuat setiap kunjungan berbeda.

Air danau bergantung pada curah hujan dan aliran sungai di sekitarnya, sehingga pemandangan bisa berubah drastis: dari danau besar, hutan terendam, hingga savana basah.

Ekosistem Danau Sentarum kaya akan keanekaragaman hayati. Beberapa ikan air tawar endemik, termasuk ikan arwana super red, hidup di sini.

Kawasan ini juga menjadi habitat burung air, reptil, dan berbagai satwa liar lainnya, menjadikan Danau Sentarum surga bagi pecinta alam dan fotografer satwa liar.

Pengalaman utama bagi pengunjung adalah menyusuri danau dengan perahu. Perjalanan ini memberikan sensasi ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk kota.

Rumah-rumah terapung warga lokal terlihat menyatu dengan alam, menciptakan pemandangan yang sederhana namun menawan.

Selain aspek alam, nilai budaya Danau Sentarum juga tinggi. Masyarakat Dayak dan Melayu yang tinggal di sekitar danau hidup selaras dengan ritme alam.

Aktivitas mereka seperti menangkap ikan, berpindah mengikuti musim, dan menjaga keseimbangan lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebagai Taman Nasional, akses ke Danau Sentarum tidak mudah.

Perjalanan panjang dan perencanaan matang dibutuhkan, namun justru membuat kawasan ini tetap alami dan tidak terlalu ramai.

Pengunjung yang datang biasanya adalah mereka yang ingin menikmati alam secara mendalam, bukan sekadar wisata singkat.

Danau Sentarum bukan destinasi untuk hiburan instan.

Tempat ini menghadirkan pengalaman sunyi, kontemplatif, dan alami, sekaligus memberikan pelajaran tentang keseimbangan ekosistem.

Bagi pencinta alam yang ingin menjelajahi sisi liar Kalimantan, Danau Sentarum menawarkan pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam.(*)




Jelajah Kampung Arab Ampel: Masjid Sunan Ampel & Kuliner Autentik Surabaya

SEPUCUKJAMBI.ID – Kampung Arab Ampel adalah salah satu kawasan bersejarah paling ikonik di Surabaya.

Terletak di sekitar Masjid Sunan Ampel, kawasan ini bukan hanya pusat wisata religi, tapi juga permukiman yang telah ada ratusan tahun.

Suasana khas, ramai, dan penuh aktivitas membuat siapa pun yang datang langsung merasakan denyut kehidupan kota tua Surabaya.

Masjid Sunan Ampel: Pusat Ziarah dan Sejarah Islam

Daya tarik utama kawasan ini tentu Masjid Sunan Ampel, salah satu masjid tertua di Indonesia sekaligus bagian dari sejarah Wali Songo.

Masjid ini menjadi tujuan ziarah dari berbagai daerah, dan jalan-jalan di sekitarnya selalu dipenuhi peziarah, pedagang, serta warga lokal yang berbaur dalam kesibukan sehari-hari.

Lorong Budaya Timur Tengah di Surabaya

Berjalan di Kampung Arab Ampel serasa berada di lorong kota Timur Tengah.

Toko-toko menjual perlengkapan ibadah, parfum khas Arab, kurma, jubah, dan sorban.

Aroma rempah dan wewangian berpadu dengan suara percakapan dalam berbagai bahasa Indonesia, Arab, bahkan logat Surabaya.

Pengalaman ini menarik, bahkan bagi pengunjung yang datang sekadar ingin jalan-jalan tanpa tujuan ziarah.

Wisata Kuliner Khas Arab

Selain wisata religi, kuliner Ampel jadi daya tarik tersendiri. Di sini mudah ditemukan hidangan khas Timur Tengah, seperti:

  • Nasi kebuli

  • Nasi mandhi

  • Roti maryam

  • Aneka olahan daging kambing

Banyak pengunjung sengaja datang untuk menikmati cita rasa autentik ini, menjadikan Ampel sebagai destinasi wisata rasa selain wisata sejarah.

Nilai Sejarah dan Keberagaman

Kampung Arab Ampel juga penting secara sejarah sebagai pusat penyebaran Islam di Jawa. Kawasan ini sejak dulu menjadi titik pertemuan pedagang, ulama, dan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Semangat keberagaman dan toleransi hingga kini masih terasa kuat, membuat Ampel lebih dari sekadar destinasi wisata biasa.

Tips Berkunjung ke Kampung Arab Ampel

  • Waktu terbaik: pagi atau sore, saat cuaca lebih sejuk dan aktivitas warga masih ramai tapi nyaman.

  • Hari besar keagamaan: kawasan bisa sangat padat, jadi siapkan waktu ekstra.

  • Suasana: Ampel bukan tempat wisata tenang; keramaian adalah bagian dari pesonanya.

Bagi siapa pun yang ingin merasakan sisi religius, sejarah, dan kehidupan kota yang otentik, Kampung Arab Ampel menawarkan pengalaman yang kuat dan berkesan.(*)




Benteng Rotterdam, Saksi Bisnis Rempah dan Sejarah Panjang Makassar

SEPUCUKJAMBI.ID – Benteng Rotterdam berdiri megah di kawasan pesisir Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu ikon sejarah paling berharga di Indonesia bagian timur.

Bangunan bersejarah ini tidak hanya merepresentasikan masa lalu, tetapi juga menegaskan peran Makassar sebagai pusat perdagangan dan persilangan budaya sejak ratusan tahun silam.

Benteng ini awalnya dibangun oleh Kerajaan Gowa pada abad ke-17 dan dikenal dengan nama Benteng Ujung Pandang.

Pada masa itu, bentuk pertahanannya masih mengadopsi gaya arsitektur Nusantara yang fungsional dan kokoh.

Setelah Makassar berada di bawah kekuasaan VOC Belanda, benteng tersebut direnovasi dan diberi nama Fort Rotterdam.

Keunikan Benteng Rotterdam terletak pada desainnya yang menyerupai seekor penyu.

Bentuk ini diyakini melambangkan kekuatan Kerajaan Gowa yang mampu berjaya di daratan maupun lautan.

Dari sudut pandang udara, siluet penyu tersebut masih dapat dikenali hingga saat ini.

Kawasan Benteng Rotterdam memiliki area yang luas dan tertata rapi.

Dinding-dinding tebal berwarna cokelat kemerahan mengelilingi bangunan bergaya kolonial yang masih terawat dengan baik.

Meski berada di pusat kota, suasana di dalam benteng terasa tenang dan sejuk, menjadikannya tempat favorit bagi wisatawan dan warga lokal untuk berjalan santai atau sekadar menikmati suasana.

Di dalam kompleks benteng, terdapat Museum La Galigo yang menyimpan berbagai koleksi bersejarah.

Museum ini menampilkan peninggalan Kerajaan Gowa, artefak budaya Bugis-Makassar, hingga dokumentasi kejayaan maritim Sulawesi Selatan.

Melalui koleksi tersebut, pengunjung diajak memahami peran penting Makassar dalam jalur perdagangan dan pelayaran nusantara.

Benteng Rotterdam juga memiliki nilai historis yang kuat sebagai tempat pengasingan Pangeran Diponegoro pada masa penjajahan Belanda.

Salah satu bangunan di dalam kawasan benteng menjadi saksi bisu masa-masa akhir perjuangan pahlawan nasional tersebut, menambah makna emosional bagi pengunjung yang mendalami sejarah perjuangan bangsa.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Benteng Rotterdam adalah pada sore hari.

Saat matahari mulai condong ke barat, cahaya senja menciptakan suasana dramatis di sepanjang tembok benteng.

Udara yang lebih sejuk juga membuat kawasan ini kerap menjadi ruang publik bagi warga untuk berkumpul dan beraktivitas ringan.

Benteng Rotterdam tidak menawarkan hiburan modern atau wahana wisata kekinian.

Daya tarik utamanya justru terletak pada cerita sejarah yang melekat di setiap sudut bangunannya.

Mengunjungi benteng ini serasa menelusuri kembali jejak panjang Makassar sebuah perjalanan yang tenang, penuh wibawa, dan sarat makna sejarah.(*)




Kampung Naga Tasikmalaya, Warisan Budaya Sunda yang Tetap Lestari

SEPUCUKJAMBI.ID – Di tengah derasnya arus modernisasi, Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tetap berdiri sebagai simbol keteguhan masyarakat adat dalam menjaga warisan leluhur.

Desa adat ini menawarkan pengalaman berbeda bagi siapa pun yang berkunjung tenang, sederhana, dan sarat makna.

Perjalanan menuju Kampung Naga menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

Dari jalan utama, pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga yang membelah perbukitan.

Setiap langkah seolah membawa wisatawan menjauh dari kebisingan dunia luar dan mendekat ke kehidupan yang berjalan lebih perlahan.

Sesampainya di bawah, deretan rumah panggung tampak tersusun rapi.

Atap ijuk, dinding anyaman bambu, serta orientasi rumah yang seragam mencerminkan filosofi keteraturan dan kebersamaan yang dipegang masyarakat Kampung Naga sejak turun-temurun.

Masyarakat Kampung Naga masih memegang teguh aturan adat dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan listrik dan berbagai peralatan modern dibatasi secara ketat sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Aktivitas bertani, menenun, hingga mengolah hasil alam dilakukan dengan cara-cara tradisional yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Hal paling mencolok saat berada di Kampung Naga adalah suasananya yang hening. Tidak terdengar deru mesin, kendaraan, atau suara gawai.

Yang hadir hanyalah bunyi alam gemericik air sungai, desir angin, dan aktivitas warga.

Keheningan ini memberi ruang bagi pengunjung untuk benar-benar berhenti sejenak dari ritme hidup modern yang serba cepat.

Sebagai desa adat, Kampung Naga juga menerapkan aturan khusus bagi wisatawan.

Pengunjung diminta berpakaian sopan, menjaga tutur kata, serta menghormati batas-batas adat yang berlaku.

Aturan tersebut bukan untuk membatasi, melainkan menjaga keseimbangan antara manusia, budaya, dan alam.

Meski terbuka untuk umum, Kampung Naga bukanlah destinasi wisata hiburan.

Tidak ada atraksi buatan atau pertunjukan budaya yang dipentaskan secara khusus. Justru keaslian kehidupan sehari-hari masyarakatnya menjadi daya tarik utama.

Kampung Naga menghadirkan pesan kuat bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi.

Di tempat ini, budaya, alam, dan manusia hidup berdampingan secara harmonis.

Bagi pencari ketenangan dan penikmat wisata budaya autentik, Kampung Naga menawarkan pengalaman sederhana yang membekas dalam ingatan.(*)




Liburan Santai di Kota Lama Semarang, Little Netherlands-nya Indonesia

SEMARANG, SEPUCUKJAMBI.ID – Kota Lama Semarang dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah paling ikonik di Indonesia.

Kawasan ini kerap dijuluki sebagai “Little Netherlands” karena deretan bangunan tua bergaya Eropa yang masih terawat dan mendominasi hampir setiap sudut wilayahnya.

Berada di kawasan ini, suasana terasa berbeda dari pusat kota Semarang yang sibuk. Ritme kehidupan seolah melambat, menciptakan pengalaman wisata yang santai dan menenangkan.

Kota Lama menjadi tempat yang pas untuk berjalan kaki, berburu foto, atau sekadar duduk menikmati atmosfer klasik yang jarang ditemukan di kota modern.

Bangunan-bangunan di Kota Lama merupakan peninggalan masa kolonial Belanda yang dahulu berfungsi sebagai pusat perdagangan.

Ciri arsitekturnya sangat khas, mulai dari pintu-pintu tinggi, jendela besar, hingga detail ornamen klasik yang membuat kawasan ini tampak fotogenik dari berbagai sudut.

Tak heran jika Kota Lama menjadi favorit wisatawan, fotografer, hingga kreator konten.

Salah satu ikon utama Kota Lama adalah Gereja Blenduk. Bangunan bersejarah dengan kubah besar berwarna tembaga ini menjadi landmark yang paling dikenal dan sering muncul dalam foto-foto wisata Semarang. Area di sekitarnya kini tertata rapi dengan jalur pejalan kaki dan ruang terbuka yang nyaman untuk bersantai.

Tak hanya itu, banyak bangunan tua di Kota Lama yang kini dialihfungsikan menjadi kafe, galeri seni, restoran, hingga ruang komunitas.

Kehadiran fungsi-fungsi baru ini membuat kawasan Kota Lama tetap hidup dan relevan, tanpa kehilangan identitas sejarahnya.

Pengunjung bisa menikmati kopi sambil merasakan suasana bangunan klasik, atau melihat pameran seni lokal di ruang-ruang kecil yang artistik.

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Kota Lama Semarang adalah sore hingga malam hari. Saat matahari mulai terbenam, pencahayaan lampu jalan menciptakan kesan hangat dan romantis.

Di malam hari, detail bangunan kolonial terlihat semakin menonjol berkat tata cahaya yang estetik, menciptakan suasana yang nyaman untuk berjalan santai.

Lokasi Kota Lama juga tergolong strategis dan mudah diakses. Kawasan ini bisa dikombinasikan dengan destinasi wisata lain di Semarang seperti Lawang Sewu atau Pecinan Semarang.

Meski areanya tidak terlalu luas, pengunjung tetap bisa menikmati pengalaman wisata yang berkesan tanpa perlu waktu lama.

Kota Lama Semarang memang bukan destinasi dengan wahana atau atraksi besar.

Daya tarik utamanya justru terletak pada suasana: jalanan yang tenang, bangunan tua yang penuh cerita, dan nuansa nostalgia yang perlahan terasa.

Tempat ini cocok bagi siapa saja yang ingin menikmati sisi lain Semarang dengan cara yang lebih santai dan bermakna.(*)




Jalur Trekking Diperbaiki, Danau Kaco Kerinci Tutup Sementara

KERINCI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Desa Manjunto Lempur bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Karang Taruna resmi menutup sementara objek wisata Danau Kaco, Desa Manjunto Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, mulai Minggu, 25 Januari 2026.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah tegas untuk melindungi kelestarian lingkungan, memperbaiki jalur trekking, serta menjaga keselamatan wisatawan yang selama ini mengakses destinasi tersebut.

Danau Kaco dikenal sebagai salah satu ikon wisata alam Kerinci dengan air danau yang jernih dan panorama hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang masih alami.

Namun, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan dinilai mulai memberi tekanan pada ekosistem dan kondisi jalur menuju lokasi.

Ketua Karang Taruna Desa Manjunto Lempur, Ahmad Yani Zakaria, membenarkan penutupan sementara tersebut.

“Iya, mulai 25 Januari Danau Kaco kami tutup sementara. Fokus kami saat ini pemulihan lingkungan dan perbaikan jalur menuju lokasi,” ujarnya.

Selama masa penutupan, pengelola akan melakukan pembersihan sampah, penataan ulang area sekitar danau, serta perbaikan jalur trekking yang selama ini sering tertutup semak dan licin saat musim hujan.

Sejumlah pembenahan infrastruktur ringan juga dilakukan demi meningkatkan faktor keamanan.

Tokoh masyarakat Lempur, Daswarsya, menegaskan bahwa keputusan penutupan ini murni demi keberlangsungan alam Danau Kaco, bukan untuk membatasi minat wisata.

“Ini untuk membersihkan sampah, memperbaiki jalan yang terjal, dan menyegarkan kembali vegetasi di sekitar danau,” katanya.

Ia menambahkan bahwa upaya tersebut juga bertujuan melindungi habitat satwa liar yang kerap melintasi kawasan tersebut.

“Kami ingin ekosistem tetap seimbang, satwa bisa melintas dengan aman, dan alam tetap lestari,” tambahnya.

Selama penutupan, seluruh aktivitas wisata ke Danau Kaco dihentikan sementara. Pengelola juga telah menyepakati penerapan sanksi bagi pengunjung yang nekat masuk tanpa izin.

Hingga saat ini, belum ada jadwal pasti pembukaan kembali Danau Kaco. Informasi terbaru akan diumumkan setelah seluruh proses pemulihan dan penataan dinyatakan selesai.

“Kalau sudah siap dan aman untuk dikunjungi, tentu akan kami sampaikan ke masyarakat,” tutup Daswarsya.

Penutupan ini diharapkan menjadi momentum penting agar Danau Kaco tetap terjaga sebagai destinasi wisata alam unggulan Kerinci yang aman, lestari, dan berkelanjutan.(*)