Menelusuri Lasem, Kota Tionghoa Kuno di Pesisir Jawa Tengah

SEPUCUKJAMBI.ID – Terletak di jalur Pantura antara Semarang dan Surabaya, Lasem tampak sebagai kota kecil pesisir yang tenang dan sederhana.

Namun, di balik suasana yang damai, kota ini menyimpan sejarah panjang komunitas Tionghoa di Indonesia, menjadikannya salah satu “Tiongkok kecil” di Nusantara.

Sejak abad ke-15, Lasem telah menjadi pelabuhan penting bagi perdagangan.

Para perantau Tionghoa datang, menetap, dan membangun komunitas yang kemudian berbaur dengan masyarakat lokal.

Jejak sejarah tersebut masih terlihat dalam arsitektur kota: rumah-rumah tua dengan halaman dalam khas Tiongkok, gang sempit yang menyimpan cerita keluarga, hingga kelenteng-kelenteng kuno seperti Cu An Kiong dan Gie Yong Bio yang tetap aktif sebagai pusat spiritual.

Budaya Tionghoa juga menembus tradisi lokal, salah satunya melalui batik Lasem.

Kota ini dikenal dengan motif batik pesisir yang khas berwarna merah menyala, terinspirasi dari teknik pewarnaan Tiongkok.

Motif batik Lasem menjadi simbol akulturasi budaya antara Jawa dan Tionghoa yang telah berlangsung ratusan tahun.

Berjalan kaki di Lasem seperti menyusuri arsip hidup sejarah. Tidak ada gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan modern.

Yang ada hanyalah ritme kota kecil: warung kopi sederhana, sepeda yang melintas perlahan, dan warga yang hidup berdampingan dengan bangunan berusia ratusan tahun.

Sejarah bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Lasem membuktikan bahwa diaspora Tionghoa di Indonesia bukan hanya bagian masa lalu.

Kota ini menjadi saksi hidup pertemuan budaya yang terus terasa nyata, sekaligus pengingat bahwa identitas Indonesia terbentuk dari perjalanan panjang komunitas yang saling bertemu dan hidup berdampingan.(*)




Liburan ke Berau? Jangan Lewatkan Danau Labuan Cermin yang Super Jernih

SEPUCUKJAMBI.ID – Kalimantan Timur menyimpan sebuah destinasi wisata alam yang keunikannya sulit ditemukan di tempat lain.

Danau Labuan Cermin, yang terletak di kawasan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, dikenal sebagai danau dengan air sejernih kaca dan memiliki dua lapisan berbeda: tawar di permukaan dan asin di bagian bawah.

Kejernihan airnya membuat dasar danau terlihat jelas dari atas perahu.

Pantulan langit biru dan rimbunnya pepohonan di sekeliling danau tampak seperti cermin raksasa.

Inilah yang kemudian melahirkan nama “Labuan Cermin”.

Fenomena Langka: Air Tawar dan Asin dalam Satu Danau

Keistimewaan Labuan Cermin bukan hanya soal visualnya yang memukau.

Secara ilmiah, danau ini memiliki stratifikasi air, di mana lapisan atas berisi air tawar, sedangkan lapisan bawah mengandung air asin.

Fenomena ini terjadi karena adanya jalur bawah tanah yang menghubungkan danau dengan laut.

Saat berenang, pengunjung bisa merasakan sensasi berbeda.

Di permukaan, air terasa ringan dan segar. Namun ketika menyelam sedikit lebih dalam, terdapat lapisan air asin yang lebih tenang.

Perpaduan ini menciptakan pengalaman unik yang jarang ditemukan di destinasi wisata lain di Indonesia.

Akses dan Suasana yang Masih Alami

Untuk mencapai Danau Labuan Cermin, wisatawan harus menempuh perjalanan darat menuju Kecamatan Biduk-Biduk.

Jalanan yang melewati kawasan hutan menghadirkan suasana sunyi dan alami, seolah membawa pengunjung ke tempat tersembunyi yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Setibanya di lokasi, suasana tenang langsung terasa.

Dermaga kayu sederhana menyambut pengunjung, sementara air berwarna biru kehijauan tampak begitu jernih.

Hutan tropis yang mengelilingi danau menjadi latar alami yang memperkuat kesan eksotis.

Aktivitas Favorit Wisatawan

Sebagian besar wisatawan memilih menjelajahi danau menggunakan perahu kecil. Snorkeling dan berenang menjadi aktivitas paling diminati karena visibilitas airnya sangat tinggi.

Ikan-ikan kecil dapat terlihat jelas tanpa harus menyelam terlalu dalam.

Tidak ada gelombang besar atau kebisingan mesin wisata massal. Yang terdengar hanya riak air pelan dan suara alam.

Kesederhanaan fasilitas justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari ketenangan.

Destinasi untuk Menepi Sejenak

Labuan Cermin bukan destinasi dengan wahana modern atau bangunan megah. Keindahannya terletak pada alam yang masih terjaga.

Tempat ini cocok bagi mereka yang ingin sejenak menjauh dari rutinitas dan menikmati suasana damai.

Danau ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki banyak surga tersembunyi yang belum sepenuhnya tersentuh modernisasi.

Labuan Cermin menawarkan lebih dari sekadar panorama indah ia menghadirkan ruang untuk bernapas dan merasakan ketenangan yang autentik.(*)




Antara Pekatnya Warna Lumpur Kehinaan dan Kemilau Sinar Kemuliaan

Oleh: Jamhuri-Direktur Eksekutive LSM Sembilan

Filosofi permata secara umum, permata bukan sekadar hiasan, tetapi manifestasi dari nilai emosional, perlindungan, dan aura positif bagi pemakainya. Berakar pada keindahan, daya tahan, dan makna simbolis mendalam yang mewakili kualitas manusia seperti cinta, keberanian, dan kemurnian.

Terbentuk di bawah tekanan ekstrem, permata melambangkan kekuatan untuk bangkit dari kesulitan, keabadian, serta nilai diri yang unik. Setiap batu memiliki filosofi warna dan energi, seperti berlian (kesetiaan), rubi (passion), dan zamrud (kecerdasan batin).

Merupakan simbol kemurnian, kelembutan, dan kerendahan hati. Mutiara melambangkan keindahan yang dihasilkan dari proses panjang menutupi rasa sakit (iritan) menjadi sesuatu yang berharga.

Ungkapan tersebut bukan hanya sekedar idiom kosong belaka dari sebuah pemikiran yang berisikan sejumlah ilustrasi tentang sebuah keinginan menuju istana kebutuhan, dimana batu permata tidak hanya diyakini memiliki kemampuan memikat mata, akan tetapi juga dipercaya menyimpan suatu kekuatan simbolik dan energi yang mempengaruhi stratifikasi kehidupan sosial manusia.

Salah satu alasan utama mengapa batu permata begitu diminati adalah karena keindahannya yang amat sangat luar biasa. Setiap batu memiliki karakteristik unik dengan warna, kejernihan, potongan, dan kilauan yang menjadikannya istimewa.

Suatu keadaan yang mampu menjadikan kemilau cahaya permata tidak hanya sebatas mampu mengesampingkan pekat dan kelam serta tebalnya tumpukan lumpur kekotoran dan kehinaan yang akan menempatkan permata sebagai sebongkah kotoran hina dina yang tidak memiliki nilai dan harga estetika dan penghargaan terhadap mutu sesuatu yang bernilai.

Sepenggal kalimat yang berbunyi “Sekalipun berada di dalam lumpur Permata tetap bersinar”, tidak dapat dikatakan hanya seuntai pemeo dan idiom dengan untaian kalimat bersifat retorika apalagi untuk dinilai sebagai suatu tindakan pengkultusan dari sesuatu pemikiran akan harga dan nilai serta harkat dan martabat sebuah benda alam yang dianggap mewakili sesuatu kehormatan sebagai makhluk Tuhan yang dikatakan sebagai makhluk mulia.

Dilihat dari berbagai perspective gaya bahasa (majas), baik itu Personifikasi, Metafora, Simile atau Asosiasi, perbandingan eksplisit, Hiperbolik, Litotes, bukan pula ungkapan gaya Bahasa pertentangan, Ironi, Paradoks, Antitesis, antonym, gaya Bahasa sindiran baik sarkas maupun sinisme, perulangan suatu ungkapan baik berupa metonimia, Repetisi (pengulangan kata untuk menegaskan).

Idiom tersebut merupakan suatu wujud nyata hasil dari manusia mampu menggunakan salah satu bagian unsur kemulyaan yang ada pada dirinya dan/atau dimiliki sebagai penyandang status sosial makhluk manusia atau insan terhormat. Karena walau bagaimana manusia tetaplah manusia begitu juga dengan permata yang tidak akan pernah menjadi manusia.

Hasil dari suatu pemikiran dalam rangka menunjukan adanya upaya menghidupkan karya nyata hasil kerja syaraf-syaraf otak manusia yang dilengkapi dengan peradaban dan etika moral yang akan menimbulkan konotasi tertentu dan efek estetika, dan membantu otak-otak lainnya dalam memahami makna tersirat guna menekankan point tertentu.

Bukanlah merupakan hal yang berlebihan jika idiom ataupun ungkan sebagaimana diatas diilustrasikan sebagai ungkapan terhadap penilaian penempatan status hierarki atau tunduk takluknya atau status hukum Kepolisian, yang menjadi trending tofict issue sosial saat ini.

Logika atau pikiran dengan tanpa cacat nalar dan tanpa sesat pikiran tentunya tidak akan berpikir tentang dimana Polisi berada akan tetapi bagaimana Polisi bersinar dengan kemilau cahaya kemanfaatan dan serta terangnya sinar-sinar tujuan hukum.

Perbedaan pandangan tidak harus menjadi sebuah gav phsykologi sosial antar sesame manusia dan/atau sesama warga negara, serta tidak menjadikan perbedaan tersebut menjadi lahan subur tumbuh kembangnya prinsif-prinsif kolonialisme yang salah satunya dengan pola devide it ampera.

Walau sekedar dengan pemikiran sesat budaya pada ruang lingkup gaya hidup koruptif yang menilai sesuatu keberpihakan terbelenggu adanya penerimaan suap berupa sesuatu barang atau uang yang diberikan simbolisasi “Cair”.

Alangkah terhormat dan mulyanya jika yang diberi label “cair” tersebut adalah konsep pikiran yang mengandung cacat logika dan cacat nalar serta sesat pikiran menyangkut stratifikasi sosial baik personal maupun struktur kelembagaan, mencair menjadi suatu untaian dan rangkaian symphoni indah kebersamaan tanpa dibelenggu kepentingan sesat sesaat sebuah egosinteris kekuasaan.

Pemikiran yang mencair dengan suatu kesadaran akan indahnya gemerlapnya warna sinar-sinar panggung-panggung politik kekuasaan tanpa dilengkapi dengan tudingan kepentingan birahi tak beradab yang menilai sesuatu pemikiran dengan tolak ukur budaya koruptif, yang secara symbolis merupakan suatu pengakuan bahwa pemilik pikiran sebagaimana diatas tidak akan pernah bisa menyadari tentang bagaimana Mutiara menjadi suatu ungkapan berharga mahal dan bernilai tinggi.(*)




Pulau Bawean, Surga Tenang di Laut Jawa yang Masih Luput dari Keramaian Wisata

SEPUCUKJAMBI.ID – Pulau Bawean merupakan pulau kecil di Laut Jawa yang secara administratif berada di bawah Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Meski belum setenar destinasi wisata lain di Indonesia, pulau ini justru menyimpan pesona yang kuat lewat alamnya yang hijau, suasananya yang tenang, dan jaraknya yang masih aman dari hiruk pikuk pariwisata massal.

Pantai-pantai di Pulau Bawean dikenal bersih dan relatif sepi pengunjung.

Air lautnya jernih dengan gradasi biru yang menenangkan, sementara garis pantainya dipenuhi pasir halus.

Banyak sudut pantai yang terasa privat, cocok bagi wisatawan yang mencari ketenangan dan pengalaman lebih personal dengan alam.

Salah satu daya tarik utama Bawean adalah Danau Kastoba, sebuah danau alami yang berada di tengah kawasan hutan.

Untuk mencapainya, pengunjung perlu melakukan trekking ringan, namun perjalanan tersebut terbayar lunas dengan suasana danau yang sunyi, teduh, dan jauh dari kebisingan.

Keheningan Danau Kastoba menjadi kontras menarik dengan karakter pesisir Bawean yang terbuka dan hangat.

Pulau Bawean juga memiliki identitas ekologis yang kuat sebagai habitat rusa Bawean, satwa endemik langka yang hanya dapat ditemukan di pulau ini.

Keberadaan rusa tersebut menjadikan Bawean memiliki nilai konservasi tinggi sekaligus pembeda dari destinasi wisata pulau lainnya di Indonesia.

Dari sisi budaya, masyarakat Bawean memiliki karakter unik yang terbentuk dari sejarah panjang pelayaran dan migrasi.

Kehidupan desa terasa akrab, ritme hidup berjalan lebih lambat, dan laut selalu menjadi bagian penting dari keseharian warga.

Akses menuju Pulau Bawean memang membutuhkan usaha lebih, umumnya melalui jalur laut dari Pelabuhan Gresik.

Namun, keterbatasan akses inilah yang secara tidak langsung menjaga keaslian alam dan atmosfer pulau tetap terjaga.

Pulau Bawean menawarkan jenis pengalaman wisata yang sederhana namun bermakna: menjelajah dengan santai, berhenti di pantai tanpa agenda, dan menikmati waktu tanpa tekanan.

Sebuah potongan Indonesia yang masih memberi ruang untuk diam, menikmati alam, dan benar-benar berjarak dari keramaian.(*)




Bukan Bali, Ini Sumba: Pulau Eksotis dengan Alam dan Tradisi Kuat

SEPUCUKJAMBI.ID – Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur kerap disebut sebagai salah satu destinasi paling autentik di Indonesia.

Pulau ini menawarkan lanskap yang jauh berbeda dari Bali atau Lombok. Hamparan savana luas, perbukitan terbuka, dan pantai-pantai liar berpadu menciptakan suasana yang terasa mentah, sunyi, namun memikat.

Daya tarik utama Sumba terletak pada kontras alamnya. Di satu sisi, savana membentang sejauh mata memandang, berubah warna mengikuti musim hijau segar saat hujan dan keemasan saat kemarau.

Di sisi lain, garis pantai panjang berpasir putih langsung berhadapan dengan ganasnya Samudra Hindia, menghadirkan panorama yang dramatis dan nyaris tak tersentuh.

Pantai-pantai di Sumba dikenal masih sepi dan alami. Ombaknya yang besar menjadikan wilayah ini surga bagi peselancar dunia.

Pantai Nihiwatu, misalnya, pernah masuk daftar pantai terbaik dunia karena keindahan alamnya yang masih terjaga. Namun Sumba bukan hanya tentang laut dan ombak.

Pulau ini juga menyimpan kekayaan budaya yang kuat dan hidup berdampingan dengan alam.

Tradisi megalitik masih dijalankan hingga kini, terlihat dari kubur-kubur batu besar yang berdiri di tengah kampung adat.

Rumah adat beratap tinggi menjulang menciptakan siluet ikonik, terutama saat senja mulai turun.

Salah satu ritual paling terkenal adalah Festival Pasola, sebuah tradisi perang berkuda yang sarat makna spiritual.

Ritual ini menjadi bukti bahwa adat istiadat di Sumba bukan sekadar atraksi wisata, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Keindahan Sumba juga tersembunyi di daratannya. Air terjun alami, laguna tersembunyi, hingga desa adat tersebar di berbagai penjuru pulau.

Danau Weekuri, laguna air asin dengan kejernihan luar biasa, menjadi salah satu ikon wisata yang sering memikat wisatawan.

Perjalanan di Sumba memang membutuhkan waktu dan kesiapan. Jarak antar destinasi cukup jauh dan infrastruktur masih berkembang.

Namun justru di situlah letak pesonanya. Setiap perjalanan terasa seperti eksplorasi, bukan sekadar kunjungan singkat.

Sumba menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata populer lainnya. Tidak ramai, tidak berlebihan, dan tidak dipoles secara berlebihan.

Alamnya terasa luas, budayanya terasa dekat, dan langit malamnya masih dipenuhi bintang.

Bagi banyak orang, Sumba adalah tempat untuk melihat Indonesia dari sudut yang lebih jujur dan liar sebuah pulau yang membuktikan bahwa keindahan sejati tak selalu perlu keramaian untuk terasa luar biasa.(*)




Yusnaini: Kemerdekaan Jurnalis Masih Terbelenggu Tekanan Ekonomi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Meski kemerdekaan pers dijamin secara konstitusional, realita di lapangan menunjukkan bahwa kebebasan jurnalis masih menghadapi banyak tantangan.

Tekanan ekonomi, dominasi industri periklanan, serta komodifikasi profesi jurnalis, menjadi faktor utama yang membatasi ruang gerak media untuk bersuara bebas dan kritis.

Yusnaini, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nurdin Hamzah dan mahasiswa program doktoral Ilmu Komunikasi di Universitas Sahid, Jakarta, menyebut bahwa kemerdekaan jurnalis saat ini belum sepenuhnya terwujud.

“Secara teori, jurnalis punya kebebasan untuk menyampaikan informasi, mengawasi kekuasaan, dan menjalankan fungsi kontrol sosial. Tapi kenyataannya, media terutama media tradisional masih terjebak dalam tekanan ekonomi yang berat,” ujarnya.

Media konvensional seperti surat kabar, radio, dan televisi, saat ini kesulitan menjaga keberlangsungan hidup di tengah krisis finansial.

Ketergantungan terhadap pendapatan iklan, baik dari pemerintah maupun korporasi besar, membuat media harus menyesuaikan isi pemberitaannya demi menjaga hubungan dengan pengiklan.

“Ketika media bergantung penuh pada iklan, kritik terhadap pemerintah atau kelompok berkuasa menjadi sulit. Bahkan ada kasus di mana jurnalis dimutasi atau diberhentikan karena menulis berita yang dianggap mengganggu kepentingan pemilik modal,” tambah Yusnaini.

Tak hanya soal kebijakan redaksional, Yusnaini juga menyoroti kondisi kerja jurnalis yang tidak ideal.

Banyak jurnalis bekerja dengan gaji rendah, tanpa jaminan kesehatan, dan harus memproduksi konten untuk berbagai platform dari media massa hingga media sosial tanpa imbalan tambahan.

Fenomena ini disebut sebagai komodifikasi jurnalis, di mana kerja jurnalistik dilihat semata sebagai produksi konten demi trafik dan keuntungan bisnis.

Ironisnya, karya-karya jurnalistik yang dihasilkan tidak menjadi milik jurnalis, melainkan perusahaan media.

“Ini memperparah ketimpangan dalam dunia jurnalistik. Nilai-nilai kemerdekaan semakin luntur karena jurnalis tidak punya kendali atas hasil karyanya sendiri,” jelasnya.

Yusnaini juga menyoroti dominasi platform digital asing seperti Google, Facebook, dan YouTube yang menyerap sebagian besar pendapatan iklan.

Hal ini membuat media lokal kesulitan bertahan dan kehilangan daya untuk mendanai jurnalisme berkualitas.

“Tanpa dukungan ekonomi yang kuat, mustahil media bisa bertahan sebagai kekuatan kontrol sosial. Kita butuh ekosistem media yang lebih adil agar jurnalis bisa bekerja secara merdeka, tanpa tekanan ekonomi dan kepentingan politik,” tegas Yusnaini.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa kebebasan pers bukan sekadar hak, tapi prasyarat utama dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia.(*)




Sandaran Ternyaman

Cerpen karya: Lilyana Agnesia. S

Karina dan Veron sudah lima tahun menjalin hubungan kekasih, keduanya telah memiliki kemistry yang cocok dan sangat mencintai satu sama lain.

Suatu hari Veron sudah berjanji akan melamar Karina di waktu yang tepat dan akan menjalani masa-masa hidupnya bersama dengan Karina.

Di langit yang cerah dengan hembusan angin menerpa dedaunan pohon yang jatuh, mereka memberikan hasrat dan perasaan saat berjalan bersama di tengah musim gugur.

“Karina, nanti jika kita hidup bersama selamanya. Aku ingin kau tetap melakukan apapun mimpi yang masih ingin kau capai. Jangan sampai di antara kita menjadi tertekan dan tidak bahagia,” kata Veron menatap Karina sambil tetap berjalan.

“Jadi, kapan kau akan melamarku? Lihatlah umur kita sudah 30 tahun. Aku sudah ditinggalkan teman-temanku menikah.”

“Pastinya aku akan melamarmu, tapi aku butuh persiapan yang matang, sabar ya sayang,” bujuk Veron agar tidak terburu-buru untuk menikah.

“Kau tahu aku akan melanjutkan pendidikan spesialisasi kedokteranku. Aku takut tidak akan ada waktu lagi untuk kita berdua,” ungkap Karina yang khawatir.

“Kau tidak perlu berpikir seperti itu sayang, sesibuk apapun itu. Kita harus tetap menyediakan waktu bersama walaupun sesedikit ini.”

Ucap Veron dan berhenti melangkah untuk mengusap pipi Karina.

“Tapi berjanjilah, setelah kau pulang dari New York nanti, kau sudah mempersiapkan semuanya untuk kita,” kata Karina serius dengan matanya yang berbinar.

“Tentu saja, aku tidak akan berlama-lama lagi untuk itu,” ucap Veron lalu memeluk lembut tubuh Karina.

“Aku akan menunggumu, jadi jangan kecewakan aku,” balas Karina dengan pelukan erat.

Di tengah kesibukannya Karina mengambil pendidikan spesialis anak.

Sudah sebulan ia merenung karena ditinggalkan Veron ke luar negeri karena pekerjaannya.

Kini Karina hanya mengandalkan teman-teman dekatnya untuk menjadi tempat sandaran ketika Veron pergi.

“Karina, sudahlah tidak usah merenung seperti itu terus. Dia pasti akan kembali dengan janjinya itu padamu.”

Kata Serin teman lamanya sejak Sekolah Menengah Pertama itu mengampiri Karina yang sedari tadi terus merenung.

“Aku hanya cemas dia akan tiba-tiba meninggalkanku setelah kembali ke sini,” ungkap Karina menatap Serin.

“Hei, kenapa kau berpikiran seperti itu? Setahuku dia pria dewasa yang tidak akan berpikiran labil seperti itu, meninggalkanmu setelah lima tahun bersama? Tidak mungkinlah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu,” ucap Serin untuk menenangkan pikiran Karina yang mulai tidak terkendali.

“Lalu mengapa dia meninggalkanku begitu lama? Aku begitu merindukannya sekarang.”

“Jika dia berencana pergi untuk meninggalkanmu, dia tidak perlu memberikan janjinya. Langsung saja tinggalkan tanpa basa-basi kalau memang begitu,” ucap Serin yang semakin membuat Karina gelisah.

“Serin! Tidak, dia tidak akan meninggalkanku seperti itu!” ucap Karina kesal.

“Nah, itu kau tahu. Lagi pula dia pergi untuk melanjutkan usaha-usaha ayahnya itu kan. Kau seharusnya bersabar, nanti ketika dia pulang, kau akan bersama dengan pria yang sudah matang akan segalanya. Jadi, tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun,” ungkap Serin lebih menenangkan pikiran Karina sekarang.

“Baiklah kalau begitu. Aku mengerti,” ucap Karina dengan mulut manyun dan alis mengerut.

Tiga bulan telah berlalu, belum ada kabar mengenai kabar Veron akan kembali pulang.

Ini semakin membuat Karina cemas dan khawatir, karena janjinya pergi hanya tiga bulan namun saat ini belum kembali tanpa kabar apapun.

Sembari itu, teman-teman kerabnya mengajak Karina liburan untuk menghibur diri dan terakhir mereka pergi ke De’ Tines sebuah tempat untuk karaoke bersama.

Semua temannya bernyanyi lagu-lagu gembira dan menyenangkan.

Namun, ketika Karina diajak untuk bergiliran dengannya, ia sama sekali tidak niat melakukan apapun.

Namun, teman-temannya berusaha untuk membujuknya agar ikut bernyanyi.

“Ayolah, Karina, ini giliranmu sekarang. Nyanyi lah lagu yang girang dan ceria dulu, agar kau lebih lega,” kata Risa membujuk Karina dan memberikan mic dari tangannya.

“Iya, Karina. Dulu ini tempat kita sama-sama bersenang-senang saat penat kerja. Sekarang kau harus menghibur dirimu, jangan seperti orang yang kehilangan arah hidup.” Cetus Serin sangat tajam.

“Aku memang kehilangan arah hidup sekarang. Aku tidak ingin melakukan apapun saat ini,” kata Karina semakin membuat teman-temannya juga ikut bersedih.

“Kenapa kau berkata seperti itu? Jika tidak ada Veron, masih ada kami di sisimu Karina. Ayolah, kita buang pikiran jelek itu sekarang.” Kata Lina membujuk agar Karina ikut bernyanyi sekarang.

“Baiklah, aku akan bernyanyi satu lagu saja. Lalu kita pulang ya, aku lelah hari ini,” ucap Karina lalu mengambil mic dari tangan Risa.

Serin memilih lagu gembira dengan beat yang asyik.

Namun, Karina langsung menggantinya menjadi lagu Sampaikan Rindu milik Lyodra.

Melihat itu, teman-teman Karina yang mendegarkannya bernyanyi serius dengan nada yang dalam membuat mereka kembali bersedih melihat luka Karina yang masih menunggu Veron kembali.

Setelah selesai satu lagu, Karina benar-benar ingin langsung pulang dan teman-temannya hanya pasrah dan mengantarkannya untuk pulang ke rumahnya.

Setelah kembali, Karina langsung berbaring di kasurnya untuk tidur dan melupakan sejenak rindunya itu.

Sehari telah berlalu, Karina tetap menunggu kabarnya yang masih menghilang itu.

Siang hari, ia menjalankan sebuah kegiatan praktik di Universitasnya.

Dalam keheningan dan tenggelam dalam pikirannnya, tiba-tiba ada seseorang yang mencarinya di luar ruangan.

Karina hanya melangkah lemas tidak penasaran dengan orang yang mencarinya itu.

Serin yang melihat Karina keluar ruangan mengikuti langkahnya dari belakang, penasaran akan ke mana Karina itu pergi.

Tiba sampai di luar, ia melihat seorang laki-laki yang gagah tegap memegang bunga membelakanginya.

Sepertinya Karina mengenal siapa yang mencarinya itu.

Untuk memastikan, Karina memegang tangan pria itu lalu ia menoleh menghadap Karina.

Dan benar saja itu adalah Veron yang ia tunggu-tunggu, sekarang ada di depannya.

Serin yang melihatnnya dari jauh terkejut sampai menutup mulut dengan kedua tangannya.

“Veron? Kau kembali?” Karina yang melihat itu mulai meneteskan air mata karena orang yang dirindukannya telah kembali.

“Karina, maafkan aku telat untuk kembali.”

Singkatnya Veron sambil memeluk erat Karina, namun ia hanya bisa menangis saat ini.

“Kenapa kau tidak ada kabar selama tiga hari lalu? Aku mengkhawtirkanmu, seharusnya kau tahu itu!” ucap Karina sambil memukul pelan dada Veron dalam pelukannya.

“Maaf ya, ponselku rusak di sana, jadi aku harus memperbaikinya. Aku menghampirimu tadi di rumah tapi kau tidak ada. Aku langsung menelponmu tapi ponselmu tidak aktif. Jadi, aku langsung ke sini menghampirimu.” Ungkap Veron setelah melepaskan pelukannya, lalu memberikan buket bunga mawar kepada Karina.

“Jika kau sudah kembali, tidak apa kalau begitu,” ucap Karina mengambil buket yang diberikan Veron.

“Jam berapa kau selesai nanti, apakah kau sibuk? Aku ingin mengajakmu makan malam,” ucap Veron sambil menyeka air mata di pipi Karina.

“Jam lima sore nanti aku sudah selesai, aku akan kabarimu nanti,” kata Karina menundukkan kepalanya karena tersipu.

“Baiklah, nanti aku akan jemput ke rumah ya,” ajak Veron dengan senyumannya.

Setelah bertemu, Karina kembali masuk dan melihat Serin yang memperhatikannya dari kejauhan sedari tadi.

Serin menggoda Karina dengan wajahnya karena Karina terlihat senyum lebar begitu masuk kembali.

Begitu selesai, Veron menjemput Karina untuk makan malam di sebuah restoran mewah.

Suasanannya begitu romantis di penuhi dengan bunga-bunga dan lilin dengan cahaya yang persik hangat.

Hanya mereka yang menjadi pelanggan di tempat itu karena Veron telah mereservasi tempat itu khusus untuk mereka berdua saja.

“Kau tahu aku begitu merindukanmu? Tiba-tiba kau tidak ada kabar, aku kira kau akan meninggalkanku,” ungkap Karina tentang perasaannya akhir-akhir ini.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu Karina sayang. Jika begitu, akulah yang bodoh karena meninggalkan berlian yang langka ini,” balas Veron membuat Karina merona.

“Kau tahukan, dirimu saja yang bisa menjadi tempat sandaran ternyamanku, aku tidak akan bisa tanpamu. Berlian ini akan berkarat jika pangerannya tidak ada.”

“Kau bisa saja. Lagi pula aku sudah berjanji akan melamarmu. Jadi, setelah aku kembali, aku ingin langsung memberikanmu ini,” ucap Veron mengeluarkan sebuah cincin berlian dari kotaknya yang berwarna merah.

Karina sangat terkejut dan begitu terharu melihat tindakan kekasihnya itu.

“Karina, sudah lama aku berniat untuk melamarmu. Tapi karena masih banyak kekurangan dariku, aku harus mepersiapkan segalanya terlebih dahulu dan mungkin inilah waktu yang tepat itu. Aku ingin mendampingimu sampai akhir sisa hidupku, menjagamu, menyayangimu dan mengikat kasih cinta. Apakah kau mau Karina?” ucapan Veron membuat Karina kembali meneteskan air matanya.

“Tentu saja, Veron! Ini yang ku tunggu darimu. Terima kasih Veron.”

Karina memeluk Veron yang sedari tadi berlutut dengan satu lutut sambil memegangi cincinnya.

“Terima kasih, Karina. Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu setiap waktu. Karena dirimu juga adalah sandaran terkuat untuk diriku,” ucap Veron membalas pelukannya dengan erat.

Mereka akhirnya sampai ke tahap pernikahan.

Ini bukanlah akhir tapi awal dari mereka memulai kehidupan bersama dengan kasih dan ketulusan cinta.

Tempat yang menjadi sandaran ketika dunia tidak berjalan sesuai kehendaknya, hanya satu orang itulah yang bisa mengerti dan tahu akan kesedihan serta kebahagiaannya karena telah menjadi satu dalam ikatan kasih.




Dekat Jakarta, Waduk Jatiluhur Tawarkan Panorama Air Bak Lautan

SEPUCUKJAMBI.ID – Waduk Jatiluhur yang terletak di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dikenal sebagai waduk terbesar di Indonesia.

Dibangun sejak era 1950-an, waduk ini awalnya dirancang sebagai infrastruktur vital untuk irigasi pertanian, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta pengendali banjir.

Seiring berjalannya waktu, Waduk Jatiluhur berkembang melampaui fungsi utamanya.

Bentangan air yang sangat luas dengan latar perbukitan hijau menjadikan kawasan ini daya tarik wisata alam yang diminati masyarakat.

Dari tepi waduk, permukaan air tampak membentang seperti lautan, menciptakan kesan lapang dan menenangkan.

Banyak pengunjung datang untuk menikmati suasana tenang, memancing, atau sekadar duduk bersantai sambil menikmati angin.

Tersedia pula perahu wisata yang memungkinkan pengunjung berkeliling waduk dan merasakan langsung skala besarnya dari tengah perairan.

Sebagai kawasan rekreasi, Waduk Jatiluhur ramah bagi wisata keluarga.

Fasilitas seperti taman terbuka, penginapan, serta wahana olahraga air turut melengkapi pengalaman berwisata.

Aktivitas jet ski dan perahu santai menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati waduk dengan cara lebih aktif.

Menjelang sore, pantulan cahaya matahari di permukaan air sering menjadi momen favorit untuk berfoto.

Di balik pesona wisatanya, Waduk Jatiluhur tetap memainkan peran penting bagi kehidupan masyarakat Jawa Barat.

Air dari waduk ini mengaliri area persawahan di berbagai daerah, sekaligus menopang sistem energi nasional melalui PLTA.

Perpaduan antara fungsi utilitas dan ruang publik inilah yang membuat Waduk Jatiluhur memiliki karakter unik.

Letaknya yang relatif dekat dari Jakarta menjadikan Waduk Jatiluhur kerap dipilih sebagai tujuan liburan singkat akhir pekan.

Akses jalan yang baik dan waktu tempuh yang terjangkau membuat kawasan ini mudah dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah.

Waduk Jatiluhur menghadirkan pengalaman melihat keindahan alam yang dipadukan dengan hasil rekayasa manusia berskala besar.

Luas, terbuka, dan menenangkan, waduk ini menjadi tempat untuk sejenak melambat dari ritme kehidupan kota yang padat.(*)




Membantu Toko Ibu

Cerpen karya: Lilyana Agnesia. S

Rami yang berusia sebelas tahun berlari ke toko kecil milik orangtuanya di pinggir jalan.

Toko itu penuh dengan aroma nasi goreng dan ayam bakar.

Ayahnya sedang memasak di dapur, ibunya melayani pelanggan.

“Rami, tolong bantu ibu ya,” kata ibunya sambil tersenyum lelah.

Rami mengangguk cepat.

Ia tahu ia harus membantu, karena orangtuanya sibuk sekali hari ini karena memiliki banyak pelanggan.

Rami mulai mencuci piring di wastafel cuci piring.

Ia memutar keran, air mengalir deras, piring-piring kotor dari pelanggan sebelumnya menumpuk tinggi.

Rami menggosok kuat-kuat dengan sabun, air sabun berbuih putih.

Ia merasakan tangannya basah dan dingin, tapi ia terus bekerja.

“Aku bisa lakukan ini,” pikirnya.

Itu kesadaran dirinya sendiri, Rami tahu kekuatannya dan tidak akan merasa lelah segera.

Tiba-tiba, pintu toko terbuka lebar.

Masuklah teman-temannya yaitu Lina, Budi, Sari, dan Toni.

“Hai, Rami! Kami lapar nih,” kata Lina sambil melambaikan tangan.

Rami tersenyum lebar.

“Ayo, duduk dulu, aku lagi bantu ibu.”

Mereka duduk di meja kayu, memesan nasi goreng dan jus jeruk dengan uang jajan yang diberikan orangtua mereka masing-masing.

Ibunya sibuk melayani pelanggan lain.

Rami cepat membersihkan meja kosong dengan lap basah.

Ia menyeka kuat-kuat, debu dan remah-remah terbang.

“Meja ini harus bersih,” gumamnya.

Ia mengontrol emosinya, tidak marah meski tangannya pegal.

Itu pengendalian diri Rami tetap tenang dan fokus.

Lina yang melihat Rami bekerja merasa iba.

“Kami bantu ya, Rami,” katanya.

Mereka ikut membersihkan meja.

Budi menyapu lantai, Sari membereskan kursi-kursi, dan Toni mengambil sampah.

Rami merasakan hati hangat.

Ia terharu, bisa merasakan kelelahan ibunya dan kebaikan teman-temannya.

“Terima kasih, teman-teman. Ini membantu sekali,” kata Rami sambil tersenyum.

Ayahnya keluar dari dapur, membawa piring nasi goreng panas.

“Wah, banyak bantuan hari ini!” serunya.

Rami dan teman-temannya tertawa. Mereka makan bersama di meja yang sudah bersih.

Rami mengunyah nasi gorengnya, rasa pedas dan gurih.

Ia memotivasi untuk membantu lebih banyak, karena melihat teman-temannya bahagia.

Setelah makan, Lina dan yang lain membantu lagi.

Mereka mencuci gelas bekas jus. Rami memegang spons, menggosok gelas hingga berkilau.

“Ini seru, seperti main air!” kata Toni sambil menyemprot air.

Rami ikut tertawa.

Ia menggunakan keterampilan sosialnya berbagi tugas dan bekerja sama dengan teman-temannya.

Toko mulai sepi.

Ibunya duduk sebentar, minum air.

“Rami, kamu hebat sekali. Dan teman-temanmu juga,” katanya sambil memeluk Rami.

Rami merasa bangga.

“Aku senang bisa membantu, Bu. Dan teman-teman datang untuk makan, jadi lebih ramai.”

Mereka bermain sebentar di depan toko. Lina melempar bola kecil, Budi menangkapnya.

“Ayo, main lagi besok!” seru Sari.

Rami mengangguk.

Ia belajar bahwa membantu orangtua membuat hari lebih menyenangkan, dan teman-teman bisa jadi bagian dari itu.

Sore hari, Rami pulang sambil bergandengan dengan teman-temannya.

Ia tahu, kepedulian dan kebaikan itu membuat segalanya lebih baik.




Lagu Terbaru eńau ft. Ari Lesmana Mengangkat Kisah Kehilangan dan Kerinduan

SEPUCUKJAMBI.ID – Musisi eńau kembali hadir dengan karya terbaru, kali ini berkolaborasi dengan Ari Lesmana dalam lagu berjudul “Sesi Potret”.

Dirilis pada awal 2026, lagu ini mengangkat tema reflektif tentang perasaan, penerimaan, dan proses berdamai dengan diri sendiri.

Lagu ini menjadi pertemuan musikal dua karakter vokal yang berbeda namun saling melengkapi.

eńau membawa lirik emosional yang jujur dan puitis, sementara Ari Lesmana menambahkan dimensi ekspresif dan kuat, menjadikan “Sesi Potret” sebagai dialog rasa yang intim.

Menurut rilis resmi yang diterima media, lagu ini ditulis pada November 2025 dan terinspirasi dari kisah nyata orang-orang di sekitar eńau.

Tema utama lagu menyentuh duka kehilangan, penyesalan, dan kerinduan terhadap waktu yang tidak bisa diulang.

Pesannya mengingatkan pendengar untuk tidak lalai menghargai momen bersama orang tercinta karena gengsi atau penundaan.

Produksi musik lagu ini dipercayakan kepada Kevin Pangestu, dengan dukungan musisi pengisi gitar, bass, dan drum.

Liriknya juga dibantu oleh Mulia Kennedy, yang merangkai kata menjadi ungkapan puitis dan emosional.

“Sesi Potret” sudah tersedia di berbagai platform musik digital dan menjadi sorotan karena kedalaman cerita dan kombinasi vokal yang harmonis antara eńau dan Ari Lesmana.

Berikut ini merupakan lirik lagu “Sesi Potret” – enau ft. Ari Lesmana.

Tahun lalu berjuta alasanku
Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan

Kali ini sudah lumayan
Berkat doamu di ijabah sang maha kaya

Dan tahun ini, kubisa pulang
Oleh-oleh sudah ditangan

Tapi anehnya, bukan kau yang menyambutku
Ohh ternyata, kau yang lebih dulu pulang

Ku bertamu ke rumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan, wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh,
kalau rindu aku tak mampu

Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Gengsi menyelimutiku, manusia ini kehilanganmu

Sesi potret yang selalu ku benci
Aneh rasanya kau tak di sini
Susunan barisannya tak sama lagi

Ooh… Satu… dua… tiga…
Ini nyata, kau telah pergi…

Reff:

Ku bertamu kerumah barumu,
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu

Mana ocehan, wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu

Sesal hatiku tak sempat temani kamu
Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu

Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Masih sangat amatir

Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu

Kehilanganmu. (*)