Keindahan Bukit Wairinding, Surga Savana di Pulau Sumba

SEPUCUKJAMBI.ID – Di Pulau Sumba, tepatnya di wilayah Sumba, terdapat sebuah lanskap alam yang begitu khas dan memikat, yaitu Bukit Wairinding.

Destinasi ini terkenal dengan hamparan savana luas yang membentuk perbukitan bergelombang menyerupai ombak raksasa.

Lokasinya tidak jauh dari Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur.

Keindahan panorama yang terbentang luas menjadikan bukit ini salah satu tempat favorit wisatawan untuk menikmati pesona alam khas Sumba.

Lanskap Savana yang Dramatis

Bukit Wairinding memiliki karakter lanskap yang unik. Deretan bukitnya tidak terlalu tinggi, namun membentuk pola garis yang lembut dan indah ketika dilihat dari kejauhan.

Hamparan savana yang luas menutupi hampir seluruh permukaan bukit, menciptakan pemandangan alami yang terasa tenang dan menyejukkan.

Saat angin bertiup, rumput savana akan bergoyang mengikuti arah angin, menghadirkan pemandangan yang seolah hidup.

Pergerakan rumput yang berombak memberikan kesan seperti gelombang di lautan yang mengalir perlahan di atas perbukitan.

Keindahan yang Berubah Sesuai Musim

Pesona Bukit Wairinding juga dipengaruhi oleh perubahan musim. Pada musim hujan, seluruh kawasan bukit berubah menjadi hijau cerah karena rumput tumbuh subur menutupi savana.

Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba, warna rumput berubah menjadi kuning keemasan. Lanskap ini menciptakan suasana dramatis yang sangat khas dari alam Sumba.

Perubahan warna tersebut membuat pemandangan bukit selalu terlihat berbeda sepanjang tahun.

Semakin Populer Berkat Film dan Iklan Pariwisata

Nama Bukit Wairinding semakin dikenal luas setelah dijadikan lokasi pengambilan gambar berbagai film dan promosi wisata.

Salah satu yang paling terkenal adalah film Indonesia berjudul Pendekar Tongkat Emas.

Film tersebut menampilkan panorama perbukitan Sumba sebagai latar cerita yang menawan.

Sejak saat itu, Bukit Wairinding semakin populer dan kerap menjadi tujuan wisata sekaligus spot fotografi favorit bagi wisatawan dan fotografer.

Lokasi Mudah Diakses Wisatawan

Salah satu keunggulan destinasi ini adalah akses yang cukup mudah.

Bukit Wairinding berada di tepi jalan utama sehingga wisatawan dapat dengan mudah berhenti untuk menikmati pemandangan.

Banyak pengunjung yang naik hingga ke puncak bukit untuk menyaksikan panorama luas yang terbentang ke segala arah.

Waktu terbaik untuk berkunjung biasanya saat matahari terbit maupun menjelang matahari terbenam, ketika cahaya matahari menciptakan warna keemasan yang memukau di atas savana.

Suasana Alam yang Masih Alami

Di sekitar kawasan bukit, wisatawan juga dapat menyaksikan aktivitas masyarakat lokal yang menggembalakan ternak mereka di padang savana.

Kuda-kuda yang berjalan bebas di tengah perbukitan menambah nuansa eksotis khas Pulau Sumba.

Keindahan sederhana inilah yang membuat Bukit Wairinding begitu istimewa.

Tanpa perlu gunung tinggi atau pantai ramai, hamparan savana bergelombang mampu menghadirkan panorama alam yang memikat dan menjadi salah satu lanskap paling ikonik di Indonesia.(*)




Jejak Hidup Vidi Aldiano Semasa Hidup, Melawan Kanker Sejak 2019

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Dunia hiburan Indonesia berduka atas kepergian penyanyi Vidi Aldiano yang meninggal dunia pada Sabtu (7/3/2026) sore di usia 35 tahun.

Pelantun lagu Nuansa Bening tersebut wafat setelah beberapa tahun terakhir berjuang melawan penyakit Kanker Ginjal.

Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh ayah Vidi, Harry Kiss, kepada kerabat dan rekan dekat keluarga.

“Telah wafat anak saya, Vidi Aldiano. Vidi wafat didampingi seluruh keluarga besar,” ujar Harry Kiss dalam pesan yang beredar.

Perjuangan Melawan Kanker Sejak 2019

Sebelum meninggal dunia, Vidi diketahui telah berjuang melawan kanker ginjal sejak 2019.

Saat itu ia didiagnosis mengidap kanker ginjal stadium tiga dan harus menjalani operasi pengangkatan salah satu ginjal.

Setelah operasi tersebut, kondisi kesehatannya sempat membaik.

Namun, Vidi tetap menjalani berbagai pengobatan serta pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk memantau perkembangan penyakitnya.

Meski menghadapi kondisi kesehatan yang berat, Vidi tetap aktif berkarya di industri musik.

Ia bahkan sering membagikan perjalanan pengobatannya melalui media sosial sebagai bentuk motivasi bagi para pejuang kanker lainnya.

Dimakamkan di Tanah Kusir

Jenazah Vidi Aldiano dimakamkan pada Minggu (8/3/2026) pagi di TPU Tanah Kusir. Prosesi pemakaman berlangsung sekitar pukul 08.15 WIB dalam suasana penuh duka.

Hujan yang turun sejak pagi turut mengiringi prosesi pemakaman sang penyanyi. Sebelum dimakamkan, jenazah terlebih dahulu disalatkan di Masjid Jami’ Ath-Thoyyibah yang berada tidak jauh dari rumah duka.

Sejumlah Selebritas Hadiri Pemakaman

Selain keluarga besar, sejumlah rekan dari kalangan selebritas juga hadir memberikan penghormatan terakhir. Di antaranya terlihat Anya Geraldine, Aqsa Aswar, dan Rachel Theresia.

Kehadiran mereka menunjukkan besarnya kehilangan yang dirasakan oleh sahabat dan rekan sesama artis di industri hiburan Indonesia.

Ucapan Duka dari Rekan Selebritas

Kabar wafatnya Vidi Aldiano langsung memicu gelombang ucapan duka dari berbagai kalangan. Banyak musisi dan selebritas menyampaikan rasa kehilangan mereka melalui media sosial.

Salah satunya datang dari aktor dan presenter Denny Sumargo, yang mengungkapkan kesedihannya atas kepergian sahabatnya tersebut.

“Hatiku hancur. Sangat hancur. Kau pergi terlalu cepat,” tulis Denny Sumargo dalam unggahannya.

Karier Musik yang Dikenang Penggemar

Vidi Aldiano dikenal sebagai salah satu penyanyi pop Indonesia yang memulai kariernya sejak akhir 2000-an. Namanya mulai dikenal luas setelah merilis album debut Pelangi di Malam Hari pada 2008.

Album tersebut melahirkan sejumlah lagu populer yang hingga kini masih sering diputar, termasuk Nuansa Bening dan Status Palsu.

Kepergian Vidi Aldiano menjadi kehilangan besar bagi industri musik Indonesia. Meski telah tiada, karya-karya yang ia tinggalkan diyakini akan terus dikenang oleh para penggemar dan pecinta musik Tanah Air.(*)




Keunikan Jam Gadang, Landmark Kota Bukittinggi yang Menjadi Magnet Wisata

BUKITTINGGI, SEPUCUKJAMBI.ID – Jam Gadang, ikon kota Bukittinggi, Sumatra Barat, tetap menjadi magnet wisata dan simbol sejarah yang memikat pengunjung dari dalam maupun luar negeri.

Menara jam ini tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tetapi juga menjadi pusat aktivitas masyarakat dan lambang identitas Minangkabau.

Dibangun pada tahun 1926 oleh pemerintahan Hindia Belanda sebagai hadiah untuk sekretaris kota, Jam Gadang memiliki tinggi sekitar 26 meter dan empat jam besar yang menghadap ke setiap arah mata angin.

Keempat jam ini memungkinkan warga melihat waktu dari berbagai sudut kota, menjadikannya titik penting pada masa lalu.

Keunikan Jam Gadang terlihat dari perubahan arsitektur menara yang mengikuti perjalanan sejarah Indonesia.

Atap awal bergaya Eropa, kemudian diubah menyerupai pagoda Jepang saat masa pendudukan Jepang, dan kini menggunakan atap gonjong khas rumah adat Minangkabau.

Transformasi ini membuat Jam Gadang menjadi saksi sejarah berbagai fase bangsa Indonesia.

Selain arsitekturnya, Jam Gadang memiliki angka Romawi unik pada jamnya, menuliskan angka empat sebagai “IIII” daripada “IV”, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Di sekeliling menara terdapat taman kota yang luas dan menjadi ruang publik favorit.

Warga dan pengunjung sering berjalan santai, berfoto, atau menikmati udara sejuk Bukittinggi.

Lokasinya yang strategis juga membuat Jam Gadang dekat dengan Pasar Atas dan berbagai destinasi wisata kota.

Saat malam tiba, Jam Gadang semakin memikat dengan pencahayaan lampu yang dramatis.

Banyak wisatawan kembali pada malam hari untuk menikmati atmosfer berbeda dan keindahan ikon kota ini.

Sebagai landmark paling terkenal di Sumatra Barat, Jam Gadang bukan hanya sekadar menara jam.

Ia menjadi simbol perjalanan sejarah, pusat aktivitas masyarakat, dan pengingat kekayaan budaya Minangkabau yang tetap lestari hingga kini.(*)




Mengenal Desa Penglipuran di Bali, Desa Adat Terbersih yang Mendunia

SEPUUCKJAMBI.ID – Desa Penglipuran dikenal sebagai salah satu desa adat paling terkenal di Bali.

Desa yang berada di wilayah Kabupaten Bangli ini menjadi destinasi wisata budaya yang populer karena tata ruangnya yang tertata rapi, kebersihan lingkungannya, serta tradisi masyarakat yang masih terjaga hingga kini.

Desa Penglipuran bahkan kerap disebut sebagai salah satu desa terbersih di dunia.

Keunikan tersebut menjadikannya tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin melihat sisi lain dari Bali selain pantai dan kawasan wisata modern.

Tata Ruang Desa yang Unik dan Simetris

Saat memasuki kawasan desa, pengunjung akan langsung merasakan suasana yang berbeda.

Jalan utama desa membentang lurus dari pintu masuk hingga ke bagian dalam, dengan rumah-rumah warga tersusun rapi dan simetris di kedua sisi jalan.

Hampir setiap rumah memiliki bentuk yang seragam dengan gerbang khas Bali yang disebut angkul-angkul.

 Tata ruang ini mengikuti filosofi tradisional masyarakat Bali yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan unsur spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi Adat yang Masih Dijaga

Selain keindahan arsitekturnya, Desa Penglipuran juga dikenal karena kuatnya aturan adat yang dijalankan masyarakat setempat.

Berbagai peraturan tradisional masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tata letak rumah hingga hubungan sosial antarwarga.

Aturan adat tersebut diwariskan secara turun-temurun sehingga identitas budaya desa tetap terjaga meskipun perkembangan zaman terus berlangsung.

Desa yang Terkenal karena Kebersihannya

Salah satu hal yang paling mencolok dari Desa Penglipuran adalah kebersihan lingkungannya.

Kendaraan bermotor tidak diperbolehkan melintas di jalan utama desa sehingga suasana menjadi lebih tenang dan bebas polusi.

Masyarakat secara bersama-sama menjaga kebersihan desa, baik di halaman rumah maupun area publik.

Sistem pengelolaan sampah juga diterapkan dengan disiplin sehingga desa selalu terlihat rapi dan nyaman bagi pengunjung.

Hutan Bambu yang Menjadi Ikon Desa

Di bagian belakang desa terdapat kawasan hutan bambu yang cukup luas.

Hutan ini tidak hanya berfungsi sebagai area hijau yang menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai spiritual bagi masyarakat setempat.

Selain itu, bambu dari kawasan tersebut sering dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan adat maupun bahan bangunan tradisional.

Masuk Daftar Desa Terindah di Dunia

Berbagai pengakuan internasional pernah menempatkan Desa Penglipuran dalam daftar desa terindah dan terbersih di dunia.

Hal ini tidak hanya karena keindahan visualnya, tetapi juga karena keberhasilan masyarakat mempertahankan tradisi dan harmoni sosial selama ratusan tahun.

Kini Desa Penglipuran menjadi salah satu destinasi wisata budaya penting di Bali.

Wisatawan dapat berjalan menyusuri jalan desa, melihat rumah adat dari dekat, hingga merasakan langsung kehidupan masyarakat yang masih memegang teguh nilai tradisional.

Perpaduan antara kebersihan, arsitektur tradisional, serta kekuatan budaya menjadikan Desa Penglipuran sebagai contoh bagaimana modernisasi dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian tradisi lokal.(*)




Keindahan Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang, Ikon Wisata Religi dengan Payung Raksasa

SEPUCUKJAMBI.ID – Masjid Agung Jawa Tengah menjadi salah satu ikon religi paling terkenal di Semarang.

Masjid megah ini berdiri di kawasan Gayamsari dan dikenal luas sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.

Masjid yang diresmikan pada tahun 2006 tersebut memiliki desain arsitektur yang unik. Bangunan ini memadukan tiga gaya arsitektur sekaligus, yaitu Jawa, Timur Tengah, dan Romawi.

Perpaduan ini membuat tampilan masjid terlihat berbeda dibandingkan masjid-masjid lain di Indonesia.

Sentuhan arsitektur Jawa tampak jelas pada bentuk atap limasan yang menghiasi bangunan utama. Sementara itu, nuansa Timur Tengah terlihat dari kubah besar yang menjadi pusat perhatian di kompleks masjid.

Di bagian pelataran depan, deretan pilar tinggi bergaya Romawi berdiri kokoh dan memberi kesan monumental.

Salah satu daya tarik paling ikonik dari masjid ini adalah keberadaan enam payung hidrolik raksasa di halaman utama.

Payung-payung tersebut dapat membuka dan menutup secara otomatis, terinspirasi dari desain payung yang terdapat di Masjid Nabawi.

Saat terbuka, payung tersebut memberikan keteduhan bagi jamaah sekaligus menciptakan pemandangan yang spektakuler. Tak heran jika area ini sering menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto.

Di dalam kompleks masjid juga berdiri menara setinggi sekitar 99 meter yang dikenal dengan nama Menara Asmaul Husna. Pengunjung dapat naik ke puncak menara menggunakan lift untuk menikmati panorama kota dari ketinggian.

Dari atas menara, pemandangan Kota Semarang hingga garis pantai utara Pulau Jawa dapat terlihat jelas, terutama saat cuaca cerah.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, kompleks masjid ini juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung.

Di antaranya museum perkembangan Islam di Jawa Tengah, perpustakaan, hingga aula serbaguna yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat.

Menjelang waktu salat, suasana di dalam masjid berubah menjadi sangat khidmat. Jamaah dari berbagai daerah berkumpul memenuhi ruang salat utama yang luas.

Ornamen kaligrafi yang menghiasi dinding serta lampu gantung besar di bagian tengah ruangan menambah kesan megah sekaligus menenangkan.

Dengan perpaduan arsitektur yang khas, fasilitas lengkap, serta suasana religius yang kuat, Masjid Agung Jawa Tengah kini menjadi salah satu landmark penting di Semarang

Tempat ini tidak hanya menarik bagi umat Muslim yang ingin beribadah, tetapi juga bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan arsitektur masjid modern di Indonesia.(*)




Pesona Goa Lanto di Baubau, Surga Senja yang Masih Sepi Wisatawan

SEPUCUKJAMBI.ID – Di pesisir Baubau, tepatnya di Pulau Buton, terdapat sebuah destinasi alam yang unik dan belum banyak tersentuh wisata massal: Goa Lanto.

Lokasinya memang tidak jauh dari pusat kota, namun suasananya tetap tenang dan terasa seperti ruang rahasia yang tersembunyi.

Yang membuat Goa Lanto berbeda dari kebanyakan goa wisata adalah posisinya yang berada tepat di bawah permukiman warga.

Rumah-rumah berdiri di atas tebing kapur, sementara di bagian bawahnya terdapat ruang goa alami yang langsung menghadap laut lepas.

Perpaduan ini menciptakan kontras menarik antara aktivitas sehari-hari masyarakat dan keheningan alam di bawahnya.

Formasi Batu Kapur yang Alami dan Autentik

Goa Lanto merupakan goa alami dengan ruang utama yang cukup luas. Dindingnya terbentuk dari batu kapur yang mengalami proses geologis selama ribuan tahun.

Meski tidak dipenuhi stalaktit dan stalagmit besar, beberapa formasi yang ada tetap memperkuat karakter alami goa ini.

Minimnya sentuhan modern justru menjadi daya tarik tersendiri. Tidak banyak fasilitas wisata di sekitar lokasi, sehingga suasana tetap terjaga dan terasa autentik.

Spot Sunset Favorit Warga Lokal

Daya tarik utama Goa Lanto adalah panorama laut terbuka yang terlihat jelas dari mulut goa.

Cahaya matahari sore masuk dari sisi barat, menciptakan siluet dramatis antara ruang batu yang teduh dan birunya laut di luar.

Saat senja tiba, pantulan cahaya oranye keemasan pada dinding kapur menghadirkan suasana hangat dan menenangkan.

Tak heran jika lokasi ini dikenal sebagai salah satu titik terbaik menikmati matahari terbenam di Baubau.

Banyak warga datang untuk duduk santai, berbincang ringan, atau sekadar menikmati perubahan warna langit.

Dekat dengan Jejak Sejarah Buton

Selain menawarkan panorama alam, kunjungan ke Goa Lanto bisa dikombinasikan dengan wisata sejarah.

Kawasan Baubau memiliki kedekatan dengan peninggalan Kesultanan Buton yang pernah berjaya di wilayah ini.

Wisatawan dapat menjelajahi situs budaya dan sejarah di sekitar kota sebelum atau sesudah menikmati keindahan goa. Kombinasi wisata alam dan sejarah ini membuat perjalanan terasa lebih lengkap.

Akses dan Tips Berkunjung

Akses menuju Goa Lanto relatif mudah karena lokasinya dekat pusat kota.

Namun, jalur menuju mulut goa cukup berbatu sehingga pengunjung disarankan berhati-hati dan menggunakan alas kaki yang nyaman.

Karena belum dikelola sebagai kawasan wisata besar, pengunjung diharapkan menjaga kebersihan dan menghormati lingkungan sekitar, termasuk permukiman warga yang berada tepat di atas goa.

Goa Lanto menjadi contoh bagaimana ruang alam bisa menyatu dengan kehidupan masyarakat.

Di bawah rumah-rumah sederhana, tersembunyi panorama laut dan lengkung batu kapur yang menghadirkan ketenangan sederhana namun membekas di ingatan.(*)




Pesona Masjid Tiban di Turen, Destinasi Wisata Religi Unik di Malang Raya

SEPUCUKJAMBI.ID – Di kawasan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, berdiri sebuah masjid dengan tampilan yang langsung mencuri perhatian.

Berada di lingkungan pesantren yang relatif tenang, bangunan ini tampak megah dengan kubah dan menara yang berbeda dari masjid pada umumnya.

Dari kejauhan, siluet arsitekturnya menyerupai istana dengan detail yang rumit dan bertingkat.

Tak heran jika banyak orang terkesima saat pertama kali melihatnya.

Nama “Tiban” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “muncul tiba-tiba”. Julukan tersebut melekat karena proses pembangunan masjid ini sempat jarang terekspos publik.

Ketika bangunannya mulai terlihat megah, muncul anggapan bahwa masjid tersebut berdiri secara misterius.

Namun faktanya, Masjid Tiban dibangun secara bertahap oleh para santri dan pengelola Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah.

Prosesnya berlangsung dalam waktu panjang dan dilakukan secara kolektif, bukan secara instan seperti cerita yang beredar.

Secara visual, Masjid Tiban menghadirkan kombinasi gaya arsitektur yang kaya. Ornamen khas Timur Tengah berpadu dengan sentuhan Mughal dan nuansa Asia Selatan.

Kubah-kubah kecil menghiasi bagian atas bangunan, sementara lengkungan besar dan pilar tinggi memperkuat kesan monumental.

Kompleks ini terdiri dari beberapa lantai yang saling terhubung melalui tangga dan lorong berkelok. Tata ruangnya unik dan kerap disebut menyerupai labirin.

Selain ruang utama salat, terdapat aula, balkon, serta berbagai ruangan lain yang membuat pengalaman berkunjung terasa eksploratif.

Bagian dalam masjid tak kalah memikat. Dominasi warna biru, putih, dan emas menciptakan suasana megah namun tetap nyaman.

Kaligrafi dan motif geometris menghiasi sudut-sudut ruangan, memperkuat identitas religius sekaligus estetika bangunan.

Detail dekoratifnya menunjukkan pengerjaan yang teliti dan konsisten, mencerminkan dedikasi para santri dalam proses pembangunan.

Kini, Masjid Tiban menjadi salah satu tujuan wisata religi populer di Malang Raya. Banyak pengunjung datang untuk melihat langsung keindahan arsitekturnya sekaligus beribadah.

Meski ramai didatangi wisatawan, suasana pesantren tetap terjaga. Pengunjung diharapkan menghormati aturan yang berlaku selama berada di area kompleks.

Di balik cerita misterius yang beredar, Masjid Tiban sejatinya adalah simbol kerja kolektif dan proses panjang yang konsisten.

Ia tidak hadir secara ajaib, melainkan tumbuh perlahan hingga menjadi salah satu ikon religi di selatan Malang.(*)




Kampung Warna-Warni Jodipan: Ikon Kreatif Kota Malang yang Wajib Dikunjungi

SEPUCUKJAMBI.ID – Dahulu dikenal sebagai permukiman padat di bantaran Sungai Brantas, Kampung Jodipan kini menjelma menjadi salah satu destinasi urban paling fotogenik di Kota Malang, Jawa Timur.

Transformasi ini bermula pada 2016, saat sekelompok mahasiswa menginisiasi program penataan lingkungan dan edukasi kebersihan.

Rumah-rumah dicat dengan warna mencolok seperti merah, kuning, biru, dan hijau, sementara mural kreatif menghiasi dinding lorong-lorong sempit. Hasilnya, kawasan ini tampak seperti mozaik raksasa dari kejauhan.

Tangga-tangga dicat kontras, atap rumah berpadu dalam gradasi warna, dan jembatan kaca yang menghubungkan area sekitar menambah daya tarik visual, membuat setiap sudutnya ideal untuk fotografi.

Perubahan visual Kampung Jodipan tidak hanya menyenangkan mata, tetapi juga berdampak signifikan pada kehidupan sosial warga.

Kesadaran akan kebersihan meningkat, sistem pengelolaan sampah lebih tertata, dan banyak penduduk membuka usaha kecil seperti penjualan makanan, minuman, hingga suvenir.

Keberadaan wisatawan yang berkunjung juga menambah pemasukan bagi warga, sekaligus membangkitkan kebanggaan kolektif masyarakat terhadap kampung mereka.

Jodipan menjadi contoh bagaimana penataan sederhana dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap sebuah kawasan.

Meski konsep kampung warna-warni kini banyak muncul di kota lain, Jodipan tetap menjadi pelopor dan ikon yang paling dikenal.

Transformasi ini membuktikan bahwa pariwisata tidak selalu lahir dari alam megah atau bangunan monumental.

Dengan cat warna-warni dan semangat gotong royong, sebuah permukiman bisa menjadi destinasi kreatif yang menarik pengunjung dari berbagai daerah.

Kampung Warna-Warni Jodipan berdiri sebagai simbol perubahan, kreativitas, dan kekuatan komunitas.

Dari permukiman padat yang terabaikan, kini Jodipan menjadi destinasi wisata urban yang mencerminkan inovasi dan kolaborasi masyarakat Kota Malang.(*)




Menyusuri Pulau Enggano, Keindahan Terpencil di Tepian Samudra Hindia

SEPUCUKJAMBI.ID – Terletak jauh di lepas pantai barat Sumatra, Pulau Enggano masuk wilayah Bengkulu dan menghadap langsung ke Samudra Hindia.

Sebagai salah satu pulau terluar Indonesia, Enggano jarang muncul dalam peta wisata arus utama, namun justru itulah daya tariknya: sepi, alami, dan nyaris tak tersentuh.

Akses dan Alam yang Masih Murni

Perjalanan ke Enggano biasanya dimulai dari Kota Bengkulu menggunakan kapal laut yang menempuh perjalanan berjam-jam, tergantung cuaca.

Keterbatasan akses membuat jumlah wisatawan tetap rendah, sehingga suasana tetap tenang dan damai.

Setibanya di pulau, pengunjung disambut hamparan pantai berpasir putih dan laut biru jernih.

Ombak Samudra Hindia yang kuat memberi karakter berbeda dibanding perairan timur Indonesia.

Lanskap pulau didominasi hutan tropis, kebun kelapa, dan garis pantai panjang yang jarang tersentuh pembangunan modern.

Budaya Lokal yang Kental

Selain keindahan alam, Enggano juga kaya budaya. Penduduk asli pulau ini memiliki bahasa dan tradisi khas yang tetap terjaga karena interaksi dengan dunia luar relatif terbatas.

Kehidupan di pulau berlangsung dengan ritme sederhana dan bersahaja, memberi pengalaman berbeda bagi pengunjung yang datang dari kota besar.

Nilai Strategis Pulau Terluar

Sebagai pulau terluar, Enggano memiliki arti strategis bagi Indonesia. Ia bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga bagian dari garis depan wilayah negara.

Keberadaannya menjadi pengingat bahwa Indonesia lebih dari kota-kota besar; ada pula pulau-pulau sunyi yang menyimpan keindahan dan identitasnya sendiri.

Tempat untuk Menikmati Kesunyian

Enggano bukan untuk pencari keramaian. Pulau ini lebih cocok bagi mereka yang ingin merasakan jarak—baik secara geografis maupun suasana.

Suara ombak lebih dominan daripada deru kendaraan, dan langit malam terasa lebih dekat karena minim polusi cahaya.

Di tepian Samudra Hindia, Enggano berdiri dalam kesunyian yang memikat. Ia tetap sederhana, setia pada alam dan budaya lokal, menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dari destinasi populer lainnya.(*)




Buka Puasa Gratis dan Program Sosial, Jogokariyan Jadi Pusat Komunitas di Yogyakarta

YOGYAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Masjid Jogokariyan di kawasan Mantrijeron, Yogyakarta, tampil sederhana dan menyatu dengan permukiman sekitar, tapi perannya bagi masyarakat sangat besar.

Sejak berdiri, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga pusat aktivitas sosial yang memberi dampak nyata.

Salah satu kunci keberhasilan Jogokariyan adalah transparansi pengelolaan keuangan.

Dana infak yang masuk tidak dibiarkan mengendap lama; kas masjid cenderung mendekati nol karena dana langsung disalurkan untuk program sosial, pendidikan, layanan kesehatan, dan bantuan bagi warga yang membutuhkan.

Laporan keuangan diumumkan terbuka, sehingga membangun kepercayaan jamaah.

Kampung Ramadan yang Hidup

Setiap Ramadan, kawasan sekitar masjid berubah menjadi Kampung Ramadan Jogokariyan.

Jalanan dipenuhi pedagang takjil dan warga yang datang dari berbagai penjuru kota.

Salah satu kegiatan paling menonjol adalah buka puasa gratis. Sekitar 3.000 porsi makanan dibagikan setiap hari selama Ramadan, mulai dari warga sekitar, mahasiswa, hingga musafir.

Pembagian diatur dengan kupon agar merata dan terorganisir, berjalan rapi berkat koordinasi panitia dan relawan.

Kesederhanaan yang Menguatkan

Dari sisi arsitektur, Jogokariyan mempertahankan karakter masjid kampung yang fungsional. Bangunannya sederhana, tanpa ornamen mewah, dan menyatu dengan rumah-rumah warga.

Kesederhanaan ini memperkuat kedekatan masjid dengan masyarakat, membuatnya tidak terasa eksklusif atau terpisah dari lingkungan sekitar.

Dampak Sosial Lebih Besar dari Bangunan

Kekuatan Jogokariyan bukan pada fisik bangunannya, tetapi pada aktivitas dan dampak sosialnya. Masjid ini menjadi ruang ibadah sekaligus pusat komunitas yang hidup, transparan, dan responsif.

Partisipasi jamaah dan kepedulian terhadap sesama membuat masjid ini bergerak besar, meski tampil sederhana.(*)