Malam Ini! Rock Rise Vol VI Satukan Enam Band Rock Lokal di Kesiko Sosial Space Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Komunitas musik rock di Kota Jambi kembali bersiap menggelar panggung independen melalui Rock Rise Vol VI yang akan berlangsung di Kesiko Sosial Space, kawasan Simpang Kebun Kopi, Selasa 14 Juli 2026 malam.

Ajang ini menjadi ruang bagi band-band lokal untuk menunjukkan karya sekaligus memperkuat eksistensi musik independen yang terus tumbuh di Jambi.

Panitia memastikan seluruh persiapan telah memasuki tahap akhir.

Mulai dari penataan panggung, pengujian sistem tata suara, pencahayaan hingga pengecekan peralatan musik telah dilakukan agar pertunjukan berlangsung lancar.

Sebanyak enam band dipastikan mengisi panggung Rock Rise Vol VI, yakni Sektor Thirteen, Tiga Empat Tiga, Allbezt Reborn, Enjoy Band, Greget, dan Titinaka.

Seluruhnya merupakan grup musik asal Kota Jambi yang aktif tampil dalam berbagai agenda komunitas dan pertunjukan independen.

Selama satu malam penuh, masing-masing band akan tampil bergantian dengan karakter musik yang berbeda, menawarkan warna dan energi tersendiri bagi penonton.

Bagi komunitas musik rock di Jambi, Rock Rise bukan sekadar konser hiburan.

Kegiatan ini telah berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan musisi, kru, pegiat seni, hingga penikmat musik dalam satu panggung yang sama.

Momentum tersebut juga menjadi kesempatan bagi band-band lokal untuk memperluas jaringan, memperkenalkan karya, sekaligus menjaga keberlangsungan ekosistem musik independen di daerah.

Kesiko Sosial Space yang menjadi lokasi penyelenggaraan dikenal sebagai salah satu ruang kreatif yang kerap menjadi tuan rumah berbagai aktivitas komunitas di Kota Jambi, mulai dari diskusi, pameran hingga pertunjukan musik skala kecil dan menengah.

Dengan konsistensi penyelenggaraan hingga edisi keenam, Rock Rise diharapkan terus menjadi wadah bagi lahirnya musisi-musisi baru sekaligus menjaga semangat komunitas musik independen di Jambi agar tetap hidup dan berkembang.(*)




Menurunnya Kualitas Jurnalisme di Tengah Tekanan Ekonomi Media

OLEH : Rizal Zebua

Dunia jurnalistik hari ini sedang tidak baik-baik saja. Di balik jargon independensi dan fungsi kontrol sosial, profesi ini perlahan bergeser menjadi sekadar bagian dari mesin industri yang lebih sibuk mengejar angka ketimbang kebenaran.

Jurnalisme, yang seharusnya menjadi pilar utama demokrasi, kini tampak semakin kehilangan taringnya.

Salah satu akar masalah yang paling nyata adalah persoalan kesejahteraan. Upah jurnalis yang kerap tidak sebanding dengan beban kerja menjadi cerita lama yang terus berulang tanpa solusi nyata.

Di banyak perusahaan media, termasuk yang besar sekalipun, profesi jurnalis masih diperlakukan sebagai kerja keras dengan imbal hasil yang sering kali tidak layak.

Namun persoalan terbesar bukan hanya pada gaji. Tekanan kerja yang tinggi, target yang tidak realistis, serta budaya kerja yang serba cepat telah menggeser orientasi utama jurnalistik itu sendiri.

Jurnalis tidak lagi diberi ruang cukup untuk bekerja secara mendalam, teliti, dan kritis. Yang diutamakan adalah kecepatan, kuantitas, dan kepentingan yang sering kali tidak murni jurnalistik.

Lebih jauh, fungsi media kini semakin terdistorsi oleh kepentingan bisnis. Banyak perusahaan media tidak lagi berdiri semata sebagai institusi pers, melainkan juga sebagai entitas komersial yang harus mengejar omzet, iklan, dan pemasukan lain.

Dalam situasi seperti ini, ruang redaksi perlahan tidak lagi sepenuhnya menentukan arah pemberitaan.

Logika bisnis masuk terlalu jauh ke wilayah yang seharusnya steril dari kepentingan non-jurnalistik.

Tidak sedikit jurnalis yang bekerja di lapangan, termasuk di beberapa media di Jambi, mengakui adanya pergeseran tersebut.

Mereka menyaksikan bagaimana energi yang seharusnya digunakan untuk peliputan justru tersedot pada pekerjaan tambahan yang berbau komersial, mulai dari mengejar pemasukan hingga urusan-urusan administratif yang tidak ada kaitannya dengan kerja redaksi.

Akibatnya, jurnalis tidak lagi sepenuhnya menjadi jurnalis. Mereka berubah menjadi tenaga serba bisa yang dipaksa menanggung beban ganda: di satu sisi harus memproduksi berita, di sisi lain harus ikut menopang keberlangsungan bisnis perusahaan media.

Dalam kondisi seperti ini, sangat sulit berharap kualitas jurnalistik tetap terjaga.

Situasi ini juga berdampak langsung pada regenerasi. Dunia jurnalistik tidak lagi menarik bagi banyak anak muda yang melihat kenyataan di lapangan: kerja tinggi, tekanan besar, tetapi apresiasi minim.

Kaderisasi menjadi tersendat, dan profesi ini perlahan kehilangan daya tariknya sebagai ruang pengabdian intelektual dan sosial.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika standar idealisme mulai dianggap sebagai gangguan. Jurnalis yang masih berpegang pada kode etik, independensi, dan prinsip keberimbangan sering kali dicap tidak adaptif, bahkan dianggap tidak loyal.

Padahal, dalam logika jurnalistik yang sehat, loyalitas utama seorang jurnalis bukan kepada perusahaan atau kepentingan bisnis, melainkan kepada publik dan kebenaran informasi.

Ketika ukuran loyalitas mulai dibalik, di situlah masalah besar terjadi. Jurnalisme tidak lagi menjadi ruang kritik, tetapi berubah menjadi ruang kompromi.

Berita tidak lagi lahir dari proses verifikasi dan kehati-hatian, melainkan dari tekanan target dan kepentingan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang perlahan kita saksikan bukan hanya penurunan kualitas media, tetapi juga erosi fungsi jurnalistik itu sendiri.

Media berisiko kehilangan legitimasi publik karena tidak lagi dipandang sebagai sumber informasi yang independen dan dapat dipercaya.

Pada titik ini, pertanyaan mendasarnya bukan lagi sekadar bagaimana jurnalis bertahan, tetapi apakah jurnalisme masih diberi ruang untuk menjalankan fungsinya secara utuh, atau sudah sepenuhnya dikalahkan oleh logika industri yang tidak lagi peduli pada kualitas, melainkan hanya pada keberlanjutan bisnis.
Penulis adalah wartawan aktif di Provinsi Jambi.

Penulis adalah wartawan aktif di Provinsi Jambi(*)




Anime, Remaja dan Asap Rokok di Balik Layar Streaming

Oleh: Maya Zuriati

Baru saja memasuki pekan pertama bulan juni 2026 lini masa digital indonesia dikejutkan oleh lonjakan drastis kata kunci rokok di platform Google trends dengan status breakout.

Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa melainkan dipicu oleh rilisnya serial anime ” Smoking Behind the supermarket with you” di platform Crunchyroll pada Rabu 3 Juni 2026.

Hanya dalam hitungan hari sejak perilisan resminya versi terjemahan bahaa indonesia dari anime tersebut telah beredar luas di puluhan situs streaming ilegal.

Tanpa adanya sistem verifikasi usia, tayangan yang mengemas aktivitas merokok sebagai sebuah estetika yang keren, karismatik, dan menenangkan ini bebas diakses oleh siapa saja termasuk pelajar SMP.

Padahal Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi darurat perokok remaja dengan data Kementerian Kesehatan yang mencatat jumlah perokok aktif kini telah menembus angka fantastis 70 juta orang, dimana mayoritasnya adalah anak muda.

Persoalannya tentu bukan sekadar perkara visualisasi karakter yang secara eksplisit mengajarkan merokok. melainkan ada mekanisme dibaliknya yang bekerja secara halus dan tepat.

Psikolog Albert Bandura melalui teori pembelajaran sosial menyatakan bahwa perilaku manusia sebagian besar dibentuk melalui proses peniruan terhadap lingkungan dan soosk yang dikagumi.

Citra keren dan karismatik dari karakter dalam anime inilah yang ditangkap oleh radar psikologis remaja lalu diimitasi sebagai sebuah pencapaian identitas diri.

Kepulan asap rokok yang digambarkan dengan penuh estetika tanpa efek batuk maupun peringatan kesehatan dalam budaya pop digital ini akhirnya menjadi tamparam keras bagi pemerintah.

Ketika kebijakan pengendalian tembakau yang dirumuskan kementerian kesehatan dan kemeneterian komunikasi dan digital masih bertumpu pada medium konvensional seperti baliho, spanduk dan iklan televisi. dunia digital telah bergerak jauh kedepan.

Kondisi ini memicu kegelisahan mendasar bagaimana negara bisa melindungi generasi muda jika regulasi yang ada sellau kalah cepat dari algoritma budaya pop?

Regulasi

Sebelum era internet yang semakin maju, anime atau sejenisnya beredar terbatas di televisi ataupun bioskop yang tayang di waktu tertentu.

Namun saat ini, algoritma platform seperti Crunchyroll, tiktok, instagram dan youtube sangat mudah diakses kapan pun, tidak ada aturan waktu bahkan menyarankan kepada penonton untuk menonton hal yang serupa.

Algoritmanya bekerja tanpa ada pengawasan pada kelompok belum cukup umur yang mungkin bisa mendorong mereka untuk membeli sebungkus bahkan sebatang rokok di penjual toko kelontong.

Kementerian Komunikasi dan Digital memang telah menyusun regulasi mengenai pengendalian tembakau di Indonesia. Tetapi tidak ada menyangkut mengenai representasi konten animasi di platform digital.

Bahkan pelaporan pelanggaran  iklan rokok pun harus melalui pelaporan dari penonton terlebih dahulu dan ini tanggapan yang kurang cepat karena konten sudah diakses oleh banyak orang dalam waktu yang bersamaan.

Tanpa adanya regulasi pengendalian tembakau khususnya di ranah ini akan terus menyebabkan kebocoran dari pintu budaya dari platform digital Over The Top (OTT).

Meskipun pemerintah terus berusaha dan tidak diam saja, terlihat dari Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan. Salah satu poin utamanya  adalah larangan promosi rokok di media sosial dan platform digital.

Peraturan tersebut tidak secara eksplisit digunakan untuk hal seperti karakter yang ada dalam anime yang tidak dirancang untuk promosi sehingga peraturan seperti itu tidak bisa mengatasi paparan jenis film remaja.

Indonesia masih membicarakan larangan tentang promosi iklan dan kemasan rokok.

Bukan Soal Sensor tetapi Kecepatan

Merespon hal tersebut, perlu ditegaskan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan untuk melakukan larangan pada anime, memblokir situs platform digital ataupun larangan sebuah konten seni yang menampilkan rokok, karena sebuah karya memiliki hak dalam menggambarkan fakta.

Hal yang dibutuhkan saat ini adalah kecepatan respons negara dalam literasi kebijakan terhadap budaya dan teknologi yang semakin cepat.

Jika seorang remaja Indonesia membuka gawai dan mengetik nama sebuah anime di platform digital, menonton dua karakter dewasa menghembuskan asap rokok di bawah lampu belakang supermarket dengan citra yang tenang, keren dan tidak ada beban.

Tidak ada label satupun, konteks apapun dan tidak ada informasi bahwa perilaku tersebut berbahaya. Keesokan harinya algoritma menyarankan hal yang mungkin anda sukai.

Namun kondisi negara masih memperdebatkan kemasan atau sesuatu yang masih terlihat padahal kemasan atau paparan tersebut sudah masuk ke dalam kamar remaja.

Maka 70 juta perokok hari ini hanya akan menjadi pembuka untuk laporan yang terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Kementerian perlu cepat dan tepat membuat bagian atau divisi tertentu yang secara aktif memantau tren dan pelanggaran yang terdeteksi merancang protokol respons cepat terhadap tren konten, mendorong platform streaming resmi menerapkan label konten tembakau yang jelas dan menegakkan verifikasi usia yang tidak bisa diakali.

Hal yang paling mendesak lagi negara tidak lagi berkomunikasi melalui iklan layanan masyarakat tengah malam di televisi tetapi menyesuaikan medan yang sama dengan remajanya.

Sasaki bisa saja terus menghembuskan asap rokoknya di bawah lampu supermarket, tetapi kita tidak punya alasan lagi untuk pura-pura tidak melihat.(*)

Penulis adalah mahasiswa Bidang Kesehatan masyarakat, dengan minat perilaku dan promosi kesehatan




Profesionalisme Pers di Tengah Banjir Konten Digital

Oleh: Rizal Zebua

PERKEMBAGAN teknologi digital telah mengubah wajah jurnalistik secara drastis.

Jika dahulu produksi berita membutuhkan proses panjang, mulai dari peliputan, penulisan, penyuntingan hingga publikasi melalui media yang terverifikasi, kini hampir setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi hanya melalui telepon genggam yang ada di genggaman tangan.

Fenomena ini membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, demokratisasi informasi memberi ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk menyampaikan fakta dan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.

Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga memunculkan persoalan baru berupa membanjirnya informasi yang belum tentu akurat, tidak terverifikasi, bahkan berpotensi menyesatkan publik.

Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan mengenai profesionalisme wartawan kembali mengemuka.

Apakah seorang wartawan harus mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk dapat disebut profesional? Ataukah profesionalisme cukup dibentuk melalui pengalaman dan proses kerja yang dijalani selama bertahun-tahun di lapangan?

Perdebatan ini sebenarnya bukan hal baru. Tidak sedikit wartawan senior yang lahir dan tumbuh sebelum adanya UKW.

Mereka mampu menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, disegani, bahkan menjadi rujukan publik. Pengalaman panjang, integritas, dan kedekatan dengan kode etik menjadi modal utama mereka dalam menjalankan profesi.

Namun kondisi hari ini tentu berbeda dengan dua atau tiga dekade lalu. Arus informasi bergerak jauh lebih cepat.

Persaingan antarplatform semakin ketat. Belum lagi kehadiran media sosial yang sering kali mengaburkan batas antara informasi, opini, propaganda, dan hiburan.

Di tengah situasi tersebut, keberadaan UKW menjadi semakin relevan. Uji Kompetensi Wartawan bukan semata-mata soal mendapatkan sertifikat atau pengakuan administratif.

Lebih dari itu, UKW merupakan instrumen untuk memastikan bahwa seorang wartawan memahami standar dasar profesinya.

Melalui UKW, wartawan diuji pemahamannya mengenai hukum pers, kode etik jurnalistik, serta keterampilan teknis dalam melakukan peliputan dan menyusun karya jurnalistik.

Aspek-aspek ini menjadi penting karena kesalahan dalam pemberitaan tidak hanya berdampak pada reputasi media, tetapi juga dapat merugikan masyarakat luas.

Dewan Pers sendiri telah mengatur standar kompetensi wartawan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas dan akuntabilitas profesi jurnalistik.

Ketentuan tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menjadi landasan kebebasan pers di Indonesia.

Meski demikian, perlu dipahami bahwa UKW bukan satu-satunya ukuran profesionalisme. Sertifikat kompetensi tidak otomatis menjadikan seseorang wartawan yang baik.

Sebaliknya, tidak sedikit wartawan yang telah lulus UKW tetapi masih melakukan pelanggaran etik dalam praktik kerjanya.

Profesionalisme sejatinya lahir dari perpaduan antara kompetensi, integritas, dan tanggung jawab moral.

Seorang wartawan profesional bukan hanya mampu menulis berita dengan baik, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menguji informasi, menjaga keberimbangan, serta menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

Tantangan yang lebih besar justru hadir ketika teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai digunakan secara luas dalam produksi konten. Saat ini, AI mampu membuat berita, artikel, bahkan analisis dalam hitungan detik.

Teknologi tersebut tentu dapat membantu kerja jurnalistik, terutama dalam mengolah data dan mempercepat proses produksi.

Namun AI tidak memiliki nurani, tidak memiliki pertimbangan etik, dan tidak memiliki tanggung jawab sosial sebagaimana manusia.

AI hanya bekerja berdasarkan data dan instruksi yang diberikan. Jika data yang digunakan keliru atau bias, maka hasil yang dihasilkan pun berpotensi menyesatkan.

Di sinilah peran wartawan profesional menjadi semakin penting. Kehadiran teknologi seharusnya tidak menggantikan fungsi jurnalistik, melainkan memperkuatnya.

Verifikasi fakta, konfirmasi kepada narasumber, pemahaman konteks, serta pertimbangan etik tetap menjadi tugas yang tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mesin.

Karena itu, pertanyaan apakah wartawan perlu mengikuti UKW sebenarnya tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan.

UKW penting sebagai standar kompetensi dan bentuk pengakuan profesi. Namun yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai yang diuji dalam UKW benar-benar diterapkan dalam praktik jurnalistik sehari-hari.

Di era ketika semua orang bisa membuat konten dan menyebut dirinya sebagai penyampai informasi, masyarakat membutuhkan pembeda yang jelas antara karya jurnalistik dan sekadar opini yang beredar di ruang digital. Pembeda itu adalah profesionalisme.

Dan profesionalisme tidak lahir hanya dari sertifikat, tetapi juga tidak bisa dilepaskan dari kompetensi.

Keduanya harus berjalan beriringan agar pers tetap menjadi pilar demokrasi yang dipercaya publik, bukan sekadar bagian dari kebisingan informasi yang memenuhi ruang digital setiap hari.(*)

Penulis adalah wartawan aktif di Provinsi Jambi.




2029 Masih Jauh, Mengapa Mesin Politik Sudah Dipanaskan?

Oleh: Rizal Zebua

Kontestasi politik menuju tahun 2029 sejatinya masih cukup jauh. Namun di Jambi, sejumlah partai politik tampaknya sudah mulai memanaskan mesin sejak sekarang.

Sejak belakangan pun, kosolidasi sudah terlihat. Mulai dilakukan. Baik dari strategi yang perlahan disusun, hingga arahan perekrutan relawan TPS digalakkan.

Seperti halnya beberapa waktu lalu, Partai Amanat Nasional (PAN) sudah mulai mengumpulkan kader-kader mereka. Arahan pun diberikan “segera rekrut relawan TPS.”

Tak hanya PAN. Partai lain juga begitu. Golkar misalnya, hingga partai dan kekuatan politik lainnya. Melihat ini tentu, suasana politik di Provinsi Jambi mulait terasa.

Padahal Masyarakat sebenarnya masih sibuk memikirkan urusan yang jauh lebih mendasar.

Tentu yang menjadi pertanyaannya, apa memang langkah ini adalah bentuk kesiapan politik yang sehat untuk masa depan demokrasi? Atau jangan-jangan hanya sebatas euforia kekuasaan yang kebelet datang ?.

Memang, di satu sisi taka da yang salah dengan partai polisik mempersiapkan diri lebih dini. Sebab, mereka membutuhkan strategi, konsolidsai hingga penguatan akar partai.

Bahkan, partai yang bekerja dari jauh hari, justru menjadi keseriusan mereka membangun organisasi.

Tapi perlu diketahui juga. Di sisi lain, Masyarakat juga punya hak untuk bertanya; energi besar ini sebenarnya diarahkan untuk apa?.

Mengingat, kondisi hari ini sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, ekonomi pun belum benar-benar pulih. Ditambah lagi lapangan kerja masih sulit.

Tak hanya itu, harga kebutuhan pokok tanpa disadari naik perlahan. Di sisi lain, anak muda banyak yang bingung mencari pekerjaan.

Tanpa disadarai, pelaku UMKM pun bertahan dengan kondisi serba pas-pasan. Bahkan di kalangan menengah ke bawah, hidup terasa semakin berat dari waktu ke waktu.

Wajar saja, di tengah situasi seperti itu, masyarakat tentu berharap para elite politik tidak hanya sibuk menghitung suara dan menyusun peta kekuatan.

Sebab, Politik seharusnya tidak sekadar soal memenangkan pemilu lima tahunan. Tetapi juga tentang menghadirkan solusi nyata bagi persoalan rakyat hari ini.

Ingat, jangan sampai konsolidasi politik hanya berhenti pada urusan membangun pengaruh dan memperkuat kuasa.

Karena publik sudah terlalu sering melihat semangat politik yang begitu tinggi menjelang pemilu, namun perlahan menghilang setelah kursi kekuasaan berhasil didapatkan.

Padahal, jika partai-partai benar-benar serius bergerak dari sekarang, ada banyak hal yang sebenarnya bisa mulai dikerjakan.

Membantu masyarakat kecil. Mengawal persoalan lapangan kerja. Mendorong pendidikan politik yang sehat.

Membuka ruang diskusi publik. Atau minimal menghadirkan gagasan-gagasan baru yang memang dibutuhkan masyarakat.

Politik tidak boleh hanya hidup saat musim pemilu tiba.

Apa yang dilakukan partai-partai hari ini tentu sah-sah saja. Bahkan mungkin memang diperlukan.

Namun, masyarakat juga berharap adanya keseimbangan antara ambisi politik dan kepedulian sosial.

Sebab pada akhirnya, kekuasaan yang terlalu sibuk mengejar suara tanpa memahami keresahan rakyat, hanya akan melahirkan jarak yang semakin jauh antara elite dan masyarakat.

Dan mungkin, sudah saatnya lah politik di daerah ini bergerak ke arah yang lebih besar.

Bukan hanya tentang siapa yang menang pada 2029 nanti, tetapi siapa yang benar-benar mampu membawa perubahan yang terasa dampaknya bagi masyarakat luas.(*)

Penulis adalah wartawan aktif di Provinsi Jambi.




Catat! Sa.Jiwa Fest 2026 Resmi Diumumkan, Promo Tiket dan Line Up Segera Dirilis

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kabar gembira bagi pecinta musik di Provinsi Jambi. Setelah mencatat kesuksesan pada penyelenggaraan perdananya, Sa.Jiwa Fest dipastikan kembali hadir pada tahun 2026 dengan konsep yang lebih besar, meriah, dan penuh kejutan.

Pengumuman resmi penyelenggaraan Sa.Jiwa Fest 2026 disampaikan pada Jumat (30/5/2026). F

estival musik yang sukses menarik ribuan penonton pada tahun sebelumnya ini akan kembali menjadi salah satu agenda hiburan yang paling dinantikan masyarakat Jambi.

Penyelenggara memastikan berbagai pembaruan tengah dipersiapkan untuk menghadirkan pengalaman festival yang lebih berkesan.

Tidak hanya menampilkan konser musik, Sa.Jiwa Fest 2026 juga akan dikemas sebagai ruang kolaborasi seni, kreativitas, dan hiburan yang dapat dinikmati berbagai kalangan.

Kesuksesan edisi sebelumnya menjadi fondasi kuat bagi penyelenggara untuk meningkatkan kualitas acara.

Pada gelaran tahun 2025, Sa.Jiwa Fest berhasil menghadirkan sejumlah musisi nasional yang tengah digandrungi anak muda, seperti Naykilla, Feast, Nadin Amizah, dan Hindia.

Kehadiran para musisi tersebut sukses menyedot perhatian publik dan menjadikan Sa.Jiwa Fest sebagai salah satu festival musik paling ramai diperbincangkan di Jambi.

Perwakilan manajemen Sa.Jiwa Fest menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat yang telah berpartisipasi dalam kesuksesan festival tahun lalu.

Menurutnya, antusiasme yang tinggi dari masyarakat menjadi motivasi utama untuk menghadirkan gelaran yang lebih berkualitas pada tahun ini.

“Kami sangat mengapresiasi dukungan masyarakat Jambi. Kesuksesan tahun lalu menjadi semangat bagi kami untuk menghadirkan Sa.Jiwa Fest 2026 dengan konsep yang lebih matang, lebih besar, dan lebih berkesan bagi seluruh pengunjung,” ujarnya.

Selain menghadirkan hiburan musik, penyelenggara juga menyiapkan sejumlah inovasi baru yang diklaim akan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

Festival ini diharapkan mampu menjadi wadah berkumpulnya para penikmat musik sekaligus memperkuat citra Jambi sebagai daerah yang aktif menyelenggarakan event hiburan berskala nasional.

Meski telah resmi diumumkan, sejumlah informasi penting masih dirahasiakan.

Hingga saat ini, pihak penyelenggara belum mengungkap lokasi pelaksanaan, daftar musisi yang akan tampil, maupun jadwal penjualan tiket.

Informasi tersebut akan diumumkan secara bertahap melalui kanal resmi Sa.Jiwa Fest dalam waktu mendatang.

Bagi masyarakat yang tidak ingin ketinggalan informasi terbaru, penyelenggara mengimbau untuk mengikuti akun media sosial resmi Sa.Jiwa Fest.

Selain pengumuman line up dan lokasi acara, pengunjung juga berpeluang mendapatkan berbagai penawaran menarik, termasuk promo tiket early bird yang akan dibuka dalam waktu dekat.

Dengan berbagai persiapan yang tengah dilakukan, Sa.Jiwa Fest 2026 diprediksi kembali menjadi salah satu festival musik terbesar dan paling ditunggu di Provinsi Jambi tahun ini.(*)




Makna Berkurban Idul Adha di Tengah Kesenjangan Sosial Jambi

Oleh: Mukhtadi Putranusa

Hari Raya Idul Adha selalu hadir membawa pesan tentang keikhlasan, kepedulian, dan pengorbanan.

Namun di tengah suasana perayaan itu, masyarakat juga diingatkan pada realitas sosial yang masih terjadi, termasuk di Provinsi Jambi.

Di balik geliat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, masih banyak masyarakat yang hidup dalam kesulitan, menghadapi pengangguran, kemiskinan, hingga ketimpangan sosial yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Makna berkurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban setiap tahun.

Lebih dari itu, Idul Adha mengajarkan pentingnya berbagi dan menghadirkan kepedulian nyata kepada sesama.

Nilai ini menjadi sangat relevan ketika masih ada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sementara di sisi lain sebagian kelompok hidup dalam kelimpahan.

Di berbagai daerah di Jambi, persoalan pengangguran masih menjadi tantangan serius.

Banyak anak muda yang belum mendapatkan pekerjaan layak setelah menyelesaikan pendidikan.

Sebagian masyarakat di desa-desa juga masih menggantungkan hidup dari pekerjaan serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu.

Kondisi ini diperparah dengan naiknya harga kebutuhan pokok yang semakin membebani masyarakat kecil.

Dalam situasi seperti ini, semangat berkurban seharusnya dimaknai lebih luas sebagai kesediaan membantu meringankan beban sesama.

Bukan hanya melalui pembagian daging kurban, tetapi juga melalui kepedulian sosial yang berkelanjutan.

Mereka yang memiliki kelebihan rezeki dapat membuka peluang kerja, membantu pendidikan anak-anak kurang mampu, mendukung usaha kecil masyarakat, hingga aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar.

Idul Adha juga menjadi pengingat bagi para pemimpin dan pemangku kebijakan agar lebih peka terhadap kondisi masyarakat.

Pengorbanan dalam konteks kepemimpinan adalah keberanian mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Program pembangunan seharusnya benar-benar diarahkan untuk mengurangi kesenjangan sosial dan menciptakan lapangan pekerjaan yang nyata bagi masyarakat Jambi.

Selain itu, makna berkurban juga harus dimulai dari diri sendiri. Mengorbankan sifat egois, keserakahan, dan sikap tidak peduli terhadap lingkungan sosial merupakan bagian penting dari nilai Idul Adha.

Sebab persoalan sosial tidak akan selesai jika masyarakat hanya memikirkan kepentingan masing-masing.

Momentum Idul Adha hendaknya menjadi refleksi bersama bahwa kesejahteraan sosial tidak bisa dibangun hanya oleh pemerintah semata. Dibutuhkan semangat gotong royong, solidaritas, dan kepedulian antar sesama.

Jika nilai-nilai kurban benar-benar dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, maka harapan untuk melihat Jambi yang lebih adil, sejahtera, dan minim kesenjangan sosial bukanlah sesuatu yang mustahil.(*)




Pesona Obelix Hills Jogja, Spot Foto Estetik dengan Pemandangan Malam Terbaik

SEPUCUKJAMBI.ID – Obelix Hills menjadi salah satu destinasi wisata modern yang sedang populer di kalangan wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta.

Berlokasi di kawasan perbukitan, tempat ini menawarkan panorama alam yang luas dengan pemandangan citylight kota yang memukau saat malam hari.

Daya tarik utama Obelix Hills terletak pada area viewing point yang langsung menghadap ke lanskap perbukitan dan kota Yogyakarta dari ketinggian.

Menjelang matahari terbenam, pengunjung dapat menikmati suasana senja yang berpadu indah dengan lampu-lampu kota yang mulai menyala.

Tempat wisata ini juga dikenal memiliki banyak spot foto estetik dengan konsep modern dan instagramable.

Beragam dekorasi unik, area duduk nyaman, hingga latar panorama alam membuat hampir setiap sudut Obelix Hills menarik untuk diabadikan dalam foto maupun video media sosial.

Selain berburu foto, pengunjung dapat menikmati suasana santai di area makan yang tersedia.

Banyak tempat duduk yang dirancang menghadap langsung ke pemandangan alam sehingga menghadirkan pengalaman bersantai yang nyaman dan menenangkan.

Karena berada di kawasan perbukitan, udara di Obelix Hills terasa lebih sejuk dibandingkan pusat kota Yogyakarta.

Suasana tersebut membuat tempat ini cocok dikunjungi pada sore hingga malam hari untuk menikmati udara segar dan suasana yang lebih tenang.

Obelix Hills juga menjadi pilihan favorit anak muda hingga keluarga yang ingin menikmati wisata malam tanpa harus pergi jauh dari pusat kota.

Akses lokasi yang mudah dijangkau menjadi salah satu faktor tempat ini cepat dikenal wisatawan.

Waktu terbaik untuk datang biasanya menjelang sunset. Pada momen tersebut, pengunjung bisa menyaksikan perubahan suasana dari terang menuju malam dengan panorama citylight yang semakin terlihat indah.

Dengan kombinasi panorama sunset, udara perbukitan yang sejuk, dan banyaknya spot foto menarik, Obelix Hills menjadi salah satu destinasi wisata kekinian favorit di Yogyakarta yang wajib dikunjungi saat liburan.(*)




MENAGIH DAULAT INDUSTRI : REORIENTASI SUBSIDI MENUJU INDONESIA HUB BUS LISTRIK DUNIA

​Oleh: Dr. Benny Nurdin Yusuf, M.H.

​Berhenti Menjadi Bangsa Penikmat

​Sudah saatnya kita menyudahi peran sebagai penonton di tengah gegap gempita revolusi otomotif global.

Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar yang haus konsumsi, melainkan harus hadir sebagai episentrum kekuatan baru.

Mari kita balik logikanya: “Hentikan subsidi kepemilikan kendaraan pribadi, alihkan menjadi modal industri transportasi massal.”

Biarkan dunia sibuk membanjiri pasar dengan kendaraan listrik personal, namun pastikan setiap bus listrik yang melintas di kota-kota besar dunia membawa identitas: Made in Indonesia.

Inilah manifestasi hakiki dari kedaulatan sektor otomotif kita. Negara wajib hadir memenuhi mandat konstitusional untuk mobilitas rakyat yang aman.

Keberpihakan pada transportasi massal bukan sekadar urusan mengurai macet, melainkan tentang harga diri bangsa dan tanggung jawab moral menyelamatkan nyawa.

Ingatlah, di balik dinginnya statistik, ada 3 hingga 4 nyawa anak bangsa yang melayang sia-sia di jalan raya setiap jamnya.

​Paradoks Lumbung Nikel: Antara Hilirisasi dan Ilusi Subsidi

​Indonesia hari ini berdiri di atas tumpukan “emas hijau”. Sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, kita adalah pemegang kunci transisi energi global.

Namun, sebuah ironi besar sedang terjadi: negara lumbung energi ini justru dijebak menjadi pasar konsumsi bagi kendaraan listrik (EV) asing.

Alih-alih membangun sebuah peradaban angkutan massal, Pemerintah tengah merencanakan kucuran subsidi sebesar Rp30 triliun untuk motor listrik pribadi.

Mungkin terdengar seperti angin segar bagi individu.

Namun, dibalik itu ini sebuah alarm kuat bagi ketahanan transportasi nasional, dalam menjaga ekosistem transportasi jalan di Indonesia.

Kebijakan rencana subsidi motor listrik dengan angka fantastis (30 teilliun) berisiko melanggengkan dominasi roda dua yang populasinya telah mencapai ±140 juta unit (85% dari total kendaraan), sementara populasi bus kita masih mengenaskan di angka kurang dari 1%.

Kita sedang terjebak dalam kebijakan yang hanya mengganti polusi dengan “kemacetan yang lebih canggih”, Sudah seharusnya kita keluar dari ketergantungan kendaraan pribadi dan membangun peradaban transportasi publik yang bermartabat dan berkeadilan.

Menggugat Subsidi: Memperlebar Lubang Maut?

Pertanyaan besarnya: apakah kucuran subsidi kendaraan listrik ini benar-benar sebuah manifestasi Etika Lingkungan, atau justru sekadar kedok kapitalisme yang memperdalam jurang kesenjangan antara privilese kendaraan pribadi dan keterpurukan angkutan umum?

Jika kebijakan ini terus dipaksakan, kita bukan sedang menyelamatkan bumi, melainkan sedang mempertaruhkan keselamatan di jalan raya atas nama transisi energi.

Berdasarkan fakta di lapangan yang cukup mengerikan, bahwa sepeda motor menyumbang 75% angka kecelakaan lalu lintas.

Dengan fatalitas mencapai 30.000 jiwa per tahun, mayoritas korban berada pada usia produktif (15–40 tahun).

Subsidi motor listrik tanpa pembenahan sistemik hanya mengubah konsumsi BBM menjadi baterai, tanpa mengubah fakta bahwa nyawa tetap bertaruh di jalanan.

Sementara program menghadirkan layanan angkutan umum massal seperti Buy The Service (BTS) masih tertatih-tatih di koridor utama, belum menyentuh “nadi” pemukiman.

Keterbatasan anggaran daerah selalu menjadi alasan klasik yang mematikan inovasi.

Kondisi inilah yang memaksa masyarakat tetap bergantung pada roda dua sebagai pilihan terakhir yang rasional namun berisiko tinggi.

​Strategi “Balas Budi”: Menjadi Raja di Rumah Sendiri

​Jika pemain global menyerbu pasar kita dengan kendaraan pribadi, strategi paling elegan untuk membalasnya adalah: Ekspor Bus Listrik.

Kita harus menggunakan “Kartu As” nikel untuk menekan pemain global melalui skema alih teknologi yang agresif. Kita tidak boleh lagi puas hanya menjadi “tukang jahit” karoseri.

​Indonesia harus naik kelas: memproduksi sasis dan sel baterai secara mandiri. Inilah esensi kedaulatan industri; menjadikan Indonesia sebagai Hub Produksi Bus Listrik Dunia.

Kita harus membalik status dari negara konsumtif menjadi produsen strategis.

​Langkah Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

​Pemerintah harus berani mereorientasi arah kebijakan, termasuk kebijakan yg kurang populer tapi mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi. Beberpa yg mendasar antara lain ;

1. ​Akselerasi Regulasi Fiskal: Pangkas birokrasi dan mudahkan insentif bagi lahirnya Bus Listrik Nasional karya anak bangsa.

Kita butuh visi besar seperti BYD; yang bermula dari mimpi, namun kini merajai ekosistem dunia.

2. ​Massifikasi Angkutan Listrik Terintegrasi: Dorong layanan transportasi massal berbasis listrik di setiap wilayah perkotaan.

Jadikan mobilitas masyarakat bertumpu pada sistem yang terintegrasi, bukan pada kepemilikan pribadi.

3. ​Subsidi Berbasis Layanan (Service-Based): Alihkan anggaran Rp30 triliun tersebut untuk pengadaan armada bus listrik nasional yang dioperasikan sebagai layanan publik berkualitas.

Jangkau hingga gang-gang kecil melalui angkutan pengumpan (feeder), sehingga rakyat tak lagi punya alasan untuk bergantung pada kendaraan pribadi.

Etika Lingkungan atau Kedok Kapitalisme?

​Menyelamatkan lingkungan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan nyawa.

Memperbaiki angkutan umum adalah etika lingkungan yang paling murni karena ia menyelesaikan emisi, kemacetan, dan keselamatan secara simultan.

Jangan sampai subsidi ini hanya menjadi “karpet merah” bagi kapitalisme global, sementara rakyat kecil tetap bertaruh nyawa di atas roda dua. ​Mari bangkit.

Bangun industri bus listrik kita sendiri, amankan jalan raya kita dengan standar keselamatan yang handal.

Jadikan Indonesia mercusuar produksi bus listrik dunia, bukan sekadar pasar teknologi asing!

​Bantaeng, 3 Mei 2026




Menikmati Sunrise Spektakuler dari Puncak Gunung Batur Bali

SEPUCUKJAMBI.ID – Gunung Batur menjadi salah satu destinasi wisata alam paling populer di Bali yang menawarkan pengalaman pendakian sekaligus panorama matahari terbit yang menakjubkan.

Terletak di kawasan Kintamani, gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.717 meter di atas permukaan laut dan dikenal sebagai gunung berapi aktif yang masih menunjukkan aktivitas vulkanik ringan.

Meski demikian, jalur pendakiannya relatif ramah bagi pemula sehingga banyak wisatawan domestik maupun mancanegara menjadikannya pilihan utama untuk aktivitas trekking.

Gunung Batur menawarkan pengalaman sunrise trekking yang menjadi daya tarik utama. Pendakian biasanya dimulai pada dini hari agar pendaki dapat mencapai puncak sebelum matahari terbit.

Saat fajar tiba, pemandangan langit perlahan berubah warna dan menampilkan panorama matahari terbit yang dramatis dan memukau.

Momen ini menjadi salah satu daya tarik paling ikonik di Bali.

Dari puncak Gunung Batur, pengunjung dapat melihat pemandangan luas Danau Batur serta jajaran pegunungan di sekitarnya.

Kombinasi lanskap alam ini sering menjadi incaran para fotografer karena keindahannya yang khas dan alami.

Selain sunrise, pengalaman unik lainnya adalah melihat aktivitas geotermal di sekitar kawah, seperti uap panas yang keluar dari celah batuan.

Bahkan, pemandu lokal sering memanfaatkan panas alami tersebut untuk memasak telur sebagai atraksi sederhana bagi wisatawan.

Perjalanan menuju puncak biasanya memakan waktu sekitar 2 hingga 3 jam, tergantung kondisi fisik dan kecepatan pendaki.

Jalur yang dilalui berupa tanah berpasir dan bebatuan, sehingga tetap membutuhkan kehati-hatian meskipun tergolong jalur pendakian yang bersahabat.

Setelah menikmati panorama di puncak, wisatawan akan turun kembali pada pagi hari dengan pemandangan yang lebih jelas, memperlihatkan keindahan alam Kintamani secara menyeluruh.

Akses menuju Gunung Batur juga cukup mudah dari berbagai kawasan wisata di Bali seperti Ubud dan Kintamani.

Banyak operator wisata yang menawarkan paket pendakian lengkap dengan pemandu lokal berpengalaman.

Dengan kombinasi trekking yang relatif mudah, panorama sunrise yang spektakuler, serta pemandangan alam yang luas, Gunung Batur terus menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Bali yang menawarkan pengalaman petualangan sekaligus ketenangan alam.(*)