3 Jam Sehari di Medsos, Mengapa Dumb Scrolling Berbahaya? Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

SEPUCUKJAMBI.ID – Di era digital saat ini, hampir semua orang pernah mengatakan, “Buka medsos sebentar saja,” lalu tanpa sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam menggeser layar tanpa tujuan jelas.

Kebiasaan ini dikenal sebagai dumb scrolling, atau aktivitas scroll pasif yang dilakukan tanpa fokus, dan belakangan menjadi fenomena yang banyak dibahas di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Data terbaru mencatat ada 191,4 juta pengguna media sosial aktif, atau sekitar 68,9 persen dari total populasi

Rata-rata waktu yang dihabiskan untuk mengakses media sosial mencapai 3 jam 17 menit per hari, sementara sebagian besar pengguna mengaku menghabiskan 1–3 jam per hari hanya untuk scroll konten.

Angka tersebut menunjukkan bahwa konsumsi media digital telah menjadi rutinitas harian yang sulit dipisahkan dari kehidupan modern.

Walaupun tampak sebagai aktivitas santai, dumb scrolling memiliki dampak signifikan pada kesejahteraan psikologis.

Berbagai penelitian mengungkap bahwa konsumsi media sosial secara pasif dapat memicu:

  • Stres dan kecemasan meningkat

  • Rasa kurang percaya diri, akibat perbandingan sosial yang berlebihan

  • FOMO (fear of missing out)

  • Perasaan tidak puas terhadap diri sendiri

Scroll tanpa tujuan membuat otak terus menerima informasi secara berlebihan.

Ketika dilakukan menjelang waktu tidur, paparan cahaya layar dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh beristirahat, sehingga tidur terganggu dan pikiran tetap aktif meski tubuh sedang lelah.

Dumb scrolling sering disebut sebagai pencuri waktu paling halus.

Aktivitas ringan yang sekilas hanya memakan beberapa menit ternyata mudah berubah menjadi satu jam atau lebih tanpa disadari.

Waktu tersebut sebenarnya bisa dialokasikan untuk:

  • belajar atau membaca,

  • mengerjakan pekerjaan pribadi,

  • menulis atau berlatih skill,

  • melakukan kegiatan fisik, atau

  • beristirahat.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mengurangi fokus dan kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas penting, sehingga produktivitas harian menurun.

Meski memiliki dampak negatif, media sosial tetap menawarkan banyak manfaat: memperkuat hubungan sosial, memperoleh informasi terbaru, hiburan, hingga inspirasi untuk berkarya.

Kuncinya adalah cara penggunaan.

Beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi dumb scrolling:

  • membuka media sosial dengan tujuan yang jelas,

  • mengatur durasi pemakaian harian,

  • menjadwalkan jeda digital,

  • menggunakan fitur screen time atau pengingat waktu,

  • mematikan notifikasi yang tidak penting,

  • mencoba digital detox berkala.

Upaya sederhana ini terbukti mampu meningkatkan fokus, kualitas tidur, dan kesehatan mental secara keseluruhan.

Media sosial bukan musuh. Dumb scrolling pun tidak selalu buruk bila dilakukan sesekali sebagai hiburan.

Namun, saat kebiasaan ini mengganggu emosi, tidur, produktivitas, atau relasi sosial, saat itulah kontrol harus diperketat.

Dengan kesadaran diri dan pengelolaan waktu yang tepat, kita tetap bisa menikmati media sosial tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kualitas hidup. Dumb scrolling boleh, asal tetap terkendali.(*)




Pesona Mistis Borobudur Saat Pagi, Ini Fakta dan Keunikannya

MAGELANG, SEPUCUKJAMBI.ID — Bayangkan kamu bangun pagi, melangkah di antara kabut tipis yang menyelimuti lembah Magelang, lalu perlahan melihat matahari terbit tepat di balik ratusan stupa dan arca Buddha.

Itulah pengalaman ikonik yang menanti setiap wisatawan di Candi Borobudur, mahakarya warisan dunia yang telah diakui UNESCO sejak 1991 dan menjadi salah satu destinasi spiritual sekaligus wisata sejarah paling populer di Indonesia.

Candi Borobudur merupakan situs Buddha terbesar di dunia yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 pada masa Dinasti Syailendra, candi ini diperkirakan selesai sekitar tahun 825 M.

Dengan alas berukuran 121 × 121 meter dan tinggi mencapai 35,4 meter, Borobudur mengesankan bukan hanya secara visual, tetapi juga dari segi arsitektur dan filosofi.

Struktur candi berbentuk piramida bertingkat mulai dari dasar persegi, teras bertingkat menurun, hingga bagian puncak berbentuk lingkaran.

Bentuk ini menggambarkan konsep kosmologi Buddha, perjalanan manusia dari dunia fana menuju pencerahan.

Di dalamnya terdapat sekitar 2.672 panel relief yang memuat kisah kehidupan, ajaran moral, hingga perjalanan spiritual.

Tak hanya itu, sekitar 504 arca Buddha tersebar di berbagai tingkat, memperkuat nuansa sakral dan mendalam yang dimiliki situs ini.

Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang, berjalan di Borobudur terasa seperti memasuki museum terbuka terbesar di Indonesia.

Setiap relief menyimpan pesan dan kisah peradaban masa lampau. Banyak pengunjung merasa seolah sedang menyusuri jejak spiritual para leluhur Nusantara.

Momen paling magis terjadi pada waktu subuh, ketika kabut lembah perlahan menipis dan sinar matahari pertama menyentuh stupa-stupa.

Atmosfer yang hening dan damai ini menjadikan Borobudur destinasi favorit bagi pemburu sunrise, fotografer, hingga wisatawan spiritual.

Warisan Dunia yang Harus Dijaga

Sejak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO (1991), Borobudur bukan lagi sekadar destinasi wisata  ia adalah simbol warisan budaya yang harus dijaga kelestariannya.

Wisatawan diimbau menjaga perilaku selama berada di area candi:

– tidak memanjat atau menyentuh relief sembarangan,
– tidak merusak arca,
– mengikuti jalur kunjungan yang telah ditentukan,
– menghormati suasana situs.

Dengan kedatangan ratusan ribu wisatawan setiap tahun, kesadaran menjaga Borobudur sangat penting agar monumen ini tetap lestari untuk generasi mendatang.

Borobudur menawarkan pengalaman lengkap edukasi sejarah, keindahan arsitektur, nilai spiritual, serta suasana alam yang menenangkan.

Pelajar, wisatawan lokal hingga mancanegara, pecinta fotografi, hingga pencari ketenangan, semuanya menemukan alasan untuk kembali ke sini.

Jika berencana berkunjung, datanglah pagi-pagi. Siapkan kamera, rasa hormat, dan hati yang terbuka.

Karena di Borobudur, kamu bukan sekadar melihat candi, tetapi menyentuh warisan peradaban Nusantara yang telah hidup ribuan tahun.(*)




Film Animasi ‘JUMBO’ Rilis di Netflix Akhir Tahun, Ini Sinopsis dan Prestasinya

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID — Kabar gembira datang bagi para pecinta film animasi Indonesia. Film animasi fenomenal “JUMBO” resmi diumumkan akan tayang di platform streaming Netflix mulai 25 Desember 2025.

Informasi ini dipublikasikan melalui akun resmi Netflix Indonesia serta akun resmi film, dan langsung disambut antusias oleh penggemar yang menantikan perilisan digitalnya.

Keputusan menghadirkan “JUMBO” di Netflix menjadi kabar baik bagi penonton yang belum sempat menyaksikannya di layar lebar, maupun bagi keluarga yang ingin menikmati ulang petualangan penuh makna ini selama masa liburan akhir tahun.

Film Animasi Lokal yang Mencuri Perhatian

“JUMBO” merupakan karya dari Visinema Studios, yang pertama kali dirilis di bioskop Indonesia pada 31 Maret 2025.

Film ini mengisahkan Don, seorang anak bertubuh besar yang kerap menjadi sasaran perundungan.

Hidup Don berubah ketika buku dongeng peninggalan orang tuanya dicuri, memaksanya memulai petualangan ajaib bersama teman-temannya dan seorang gadis misterius dari dunia lain bernama Meri.

Melalui kisah yang menyentuh tentang keberanian, persahabatan, penerimaan diri, dan arti keluarga, film ini berhasil menyedot perhatian penonton dari berbagai generasi.

Visual animasi yang memukau dan storytelling yang hangat membuat “JUMBO” dipuji sebagai salah satu film animasi lokal terbaik dalam satu dekade terakhir.

Sebelum tayang di Netflix, “JUMBO” mencatatkan prestasi mengesankan sebagai salah satu film animasi terlaris sepanjang masa di Indonesia.

Film ini berhasil menarik lebih dari 10 juta penonton, menjadikannya bukti bahwa karya animasi lokal memiliki kualitas tinggi dan mampu bersaing di pasar nasional.

Tak hanya sukses secara komersial, Visinema juga menargetkan “JUMBO” sebagai evergreen IP sebuah intelektual properti jangka panjang yang dapat berkembang menjadi serial animasi, proyek film lanjutan, hingga lini merchandise.

Kesuksesan ini memperkuat posisi industri animasi Indonesia dalam persaingan global.

Kehadiran “JUMBO” di Netflix memberikan akses lebih luas bagi penonton di seluruh Indonesia, memungkinkan mereka menikmati film ini kapan pun tanpa perlu ke bioskop.

Liburan Natal dan Tahun Baru menjadi momentum ideal bagi keluarga untuk menikmati tontonan berkualitas yang menghibur sekaligus sarat pesan positif.

Selain memperkuat distribusi, tayangnya film ini di platform digital global juga menunjukkan bahwa animasi Indonesia telah diakui dan diminati di era streaming.

Meski demikian, ketersediaan film di wilayah internasional masih bergantung pada lisensi distribusi masing-masing negara.

Dengan kehadirannya di Netflix, “JUMBO” kini memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau penonton lintas generasi dan lintas wilayah, sekaligus membuka babak baru bagi perkembangan industri animasi lokal.(*)




Malioboro, Ikon Wisata Yogyakarta yang Semakin Nyaman Setelah Jadi Kawasan Pedestrian

YOGYAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Bayangkan sebuah jalan yang selalu hidup sepanjang hari: warna-warni lampu, aroma kuliner khas Yogyakarta, hingga alunan musik jalanan di malam hari.

Itulah Malioboro, ikon wisata yang menjadi pusat belanja, budaya, dan kuliner di jantung Kota Yogyakarta.

Nama “Malioboro” berakar dari kata malyabhara yang berarti “karangan bunga”.

Pada masa lalu, jalan ini dihias bunga saat upacara kerajaan.

Kini, nuansa tradisional itu tetap terasa lewat bangunan tua kolonial dan aktivitas budaya yang tetap terjaga.

Memasuki tahun 2025, Malioboro mengalami perubahan besar melalui uji coba kawasan khusus pejalan kaki.

Kendaraan bermotor dilarang melintas sehingga wisatawan dapat berjalan lebih santai tanpa kebisingan.

“Lebih enak, lebih sejuk… kayak tenang gitu,” ujar salah satu pengunjung yang merasakan perubahan ini.

Di sepanjang Malioboro, pengunjung bisa berbelanja batik, kerajinan tangan, dan oleh-oleh khas Jogja.

Kuliner seperti Gudeg, bakpia, sate kere, kopi angkringan, hingga jajanan kaki lima menjadi daya tarik yang selalu diburu wisatawan.

Tak jauh dari kawasan ini terdapat Benteng Vredeburg dan Keraton Yogyakarta dua destinasi sejarah yang semakin melengkapi pengalaman wisata.

Meski tetap ramai, kawasan ini kini jauh lebih tertata.

Pedagang kaki lima ditempatkan lebih rapi, trotoar lebih lebar, dan ruang berjalan kaki lebih nyaman.

Suasana malam hari di Malioboro pun semakin memikat dengan cahaya lampu, aroma makanan, dan kehidupan jalanan yang khas.

Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Yogyakarta, Malioboro adalah tempat terbaik untuk merasakan “jiwa” kota ini.

Perpaduan belanja, kuliner, budaya, dan sejarah membuat Malioboro menjadi destinasi yang tak boleh dilewatkan.(*)




Minat Baca Indonesia Naik, Gen Z Jadi Pendorong Utama Pertumbuhan Literasi

SEPUCUKJAMBI.ID – Minat baca masyarakat Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Terutama berkat dorongan kuat dari generasi muda, khususnya Gen Z.

Para penggiat literasi menilai perkembangan ini sebagai sinyal positif bagi penguatan budaya membaca di Tanah Air.

Data terbaru Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Tingkat Gemar Membaca (TGM) nasional naik dari 66,77 pada 2023 menjadi 72,44 pada 2024.

Kenaikan tersebut tidak hanya berasal dari meningkatnya jumlah buku yang dibaca.

Tetapi juga dari semakin populernya konsumsi bacaan digital, seperti e-book, artikel daring, serta konten literasi di media sosial.

Tren seperti booktok dan bookgram terbukti mendorong anak muda lebih aktif membaca sekaligus membentuk ekosistem literasi yang kreatif.

Salah satu penggiat literasi nasional menyebut bahwa Gen Z menjadi motor utama pertumbuhan literasi.

Mereka dinilai lebih adaptif dengan format digital dan aktif membangun komunitas baca yang dinamis.

Tak hanya dunia digital, literasi dalam bentuk fisik juga tumbuh signifikan.

Berbagai pameran buku seperti Big Bad Wolf Books maupun book fair lokal selalu mendapat sambutan meriah, terutama dari anak-anak, remaja, hingga keluarga.

Program pemerintah seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan layanan perpustakaan digital iPusnas juga dinilai mulai memberikan dampak.

Meski akses buku fisik di beberapa daerah masih menjadi tantangan.

Namun, para ahli literasi mengingatkan bahwa meningkatnya minat baca belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas literasi.

Banyak anak muda masih lebih sering memilih bacaan populer atau konten cepat.

Sehingga kemampuan analisis dan pemahaman bacaan belum turut meningkat secara signifikan.

Survei nasional serta data dari BBW Books menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia rata-rata membaca sekitar enam buku per tahun.

Angka ini menunjukkan bahwa meski tren membaca meningkat, kebiasaan membaca rutin masih relatif rendah dan belum merata di berbagai wilayah.

Meski demikian, para pengamat melihat tren positif ini sebagai peluang besar untuk memperkuat budaya baca nasional.

Pemanfaatan teknologi, pengembangan konten digital, serta komunitas literasi kreatif dinilai mampu memperluas akses terhadap bacaan berkualitas dan menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini.

Generasi muda, khususnya Gen Z, diharapkan menjadi ujung tombak transformasi literasi.

Tidak hanya membaca untuk hiburan, tetapi turut mengembangkan komunitas literasi yang inklusif dan kolaboratif.

Dengan momentum yang dipimpin generasi muda, para penggiat literasi optimistis bahwa peningkatan minat baca masyarakat dapat terus berlanjut.

Sehingga Indonesia mampu membangun budaya membaca yang kuat, berkelanjutan, dan merata di masa depan.(*)




Penggunaan Media Sosial Berlebih Ancam Kesehatan Mental Gen Z

SEPUCUK JAMBI.ID – Kesehatan mental menjadi aspek penting dalam kehidupan setiap individu, termasuk generasi muda atau Gen Z.

Isu ini semakin mendapat perhatian publik, terutama karena kelompok usia tersebut tumbuh dalam era digital dan media sosial yang berkembang cepat.

Mengutip Halodoc, penelitian yang dilaporkan dalam jurnal JAMA Psychiatry menunjukkan remaja yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental, terutama terkait internalisasi alias citra diri.

Temuan ini menegaskan kekhawatiran bahwa konsumsi konten digital berlebihan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis.

Di tengah kondisi tersebut, pendekatan proaktif dan bijaksana dinilai penting untuk menjaga kesehatan mental Gen Z.

Sejumlah langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Membuat Batasan Penggunaan Media Sosia

Menetapkan durasi penggunaan dan menghindari akses sebelum tidur dinilai mampu mengurangi paparan konten negatif sekaligus meningkatkan kualitas istirahat.

2. Fokus pada Kegiatan yang Membawa Kebahagiaan

Melakukan aktivitas menyenangkan seperti olahraga, hobi, atau berkumpul dengan keluarga dan teman dapat membantu menurunkan tingkat stres.

3. Cari Dukungan

Apabila merasa kewalahan oleh kecemasan, Gen Z dianjurkan tidak ragu mencari bantuan profesional seperti psikiater, psikolog, atau konselor untuk mendapatkan strategi penanganan kesehatan mental yang tepat.

4. Luangkan Waktu untuk Ibadah

Rutinitas ibadah dalam suasana tenang dapat membantu meredakan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental.

5. Selektif dalam Mengikuti Akun Media Sosial

Mengikuti akun yang memberikan dampak positif dan inspiratif dinilai lebih bermanfaat, sekaligus menghindari konten yang memicu perbandingan sosial.

6. Berbagi dan Mendiskusikan Perasaan

Membicarakan perasaan dengan orang terdekat dapat meredakan kecemasan dan membuka perspektif baru.

7. Edukasi Diri tentang Kesehatan Mental

Pemahaman mengenai kesehatan mental dan dampak media sosial membantu Gen Z membuat keputusan yang lebih bijak dalam menggunakan teknologi.

Kesehatan mental  yang sering kali terabaikan di tengah aktivitas sehari-hari terutama bagi kalangan Gen Z yang dinilai perlu lebih peka terhadap dampak media sosial terhadap kondisi psikologis mereka.

Dengan langkah pencegahan yang tepat serta dukungan lingkungan dan profesional, Gen Z tetap memiliki peluang menjaga kesehatan mental dan membangun masa depan yang lebih sehat dan bahagia.




Mengenal Jalan Braga Bandung! Daya Tarik Wisata Ikonik Kota Kembang Memikat Pengunjung

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, ada satu kawasan yang hampir selalu muncul dalam rekomendasi wisata: Jalan Braga Bandung.

Bagi yang baru pertama kali mengenal Kota Kembang, nama ini mungkin terdengar sederhana.

Namun begitu melangkah ke jalannya, suasana berbeda langsung terasa ramai tapi hangat, modern tapi tetap menyimpan sentuhan lama yang membuat orang ingin berhenti sejenak.

Jalan Braga Bandung adalah salah satu kawasan kota lama yang masih bertahan dengan karakter khasnya.

Bangunan-bangunan berarsitektur kuno berdiri berdampingan dengan kafe dan toko yang tampil lebih modern.

Perpaduan inilah yang sering membuat pengunjung baru merasa seperti masuk ke ruang kecil yang memotong waktu: tak sepenuhnya masa lalu, tapi juga bukan area kota modern yang biasa.

Meski tidak panjang, Braga punya banyak hal yang membuat orang betah berjalan kaki.

Wisatawan kerap berhenti untuk menikmati pameran seni kecil, melihat toko kreatif lokal, atau sekadar mengabadikan momen di sepanjang Jalan Braga.

Banyak yang datang tanpa rencana khusus, namun pulang dengan kesan bahwa kawasan heritage Bandung ini punya daya tarik yang tidak dibuat-buat.

Penataan kawasan oleh pemerintah kota turut membuat Braga semakin ramah untuk dijelajahi.

Area pedestrian diperbaiki, trotoar dirapikan, dan ruang publik dibuat nyaman sehingga pengunjung baru bisa menikmati suasana tanpa harus terburu-buru.

Yang membuat wisata Braga Bandung semakin menarik adalah atmosfernya yang hidup tapi tetap santai.

Tidak jarang pengunjung menemukan musisi jalanan, pameran kecil, atau aktivitas komunitas yang terjadi begitu saja.

Kesederhanaan inilah yang membuat banyak orang merasa “klik” dengan tempat ini sejak kunjungan pertama.

Bagi yang ingin mengenal Bandung tanpa harus menelusuri banyak lokasi, Jalan Braga adalah pilihan mudah dan menarik.

Cukup berjalan, melihat sekitar, dan membiarkan suasana kota yang hangat memberi pengalaman pertama yang menyenangkan.

Braga mungkin hanya satu ruas jalan, tetapi bagi banyak orang, di sininlah perjalanan mereka mengenal Bandung benar-benar dimulai.(*)




Generasi Z Hadapi Lonjakan Krisis Kesehatan Mental di Era Digital

SEPUCUKJAMBI.ID – Fenomena krisis kesehatan mental kini menjadi isu global yang terus meningkat, termasuk di kalangan Generasi Z.

Generasi Z merupakan golongan individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an.

Di era modern yang dipenuhi tekanan digital dan dominasi media sosial, kelompok ini menghadapi tantangan mental yang semakin kompleks.

Menurut studi American Psychological Association (APA), Generasi Z tercatat memiliki tingkat stres tertinggi dibanding generasi lainnya. Hanya 45 persen di antara mereka yang menyatakan memiliki kesehatan mental yang baik atau sangat baik. Selain itu, mereka juga lebih rentan mengalami gangguan seperti depresi, kecemasan, bipolar, dan ADHD.

Generasi Z dikenal tumbuh dalam lingkungan serba digital dan terhubung melalui berbagai perangkat.

Tekanan sosial, tuntutan kesempurnaan, serta kehidupan online yang terus berlangsung dinilai turut memengaruhi kondisi mental mereka.

Berikut ini beberapa ciri gangguan kesehatan mental yang sering muncul pada Generasi Z:

1. Perubahan Pola Makan

Gangguan makan seperti anoreksia, bulimia, atau kebiasaan makan yang tidak sehat sering terjadi pada Generasi Z.

Hal ini karena tak jarang dari mereka yang merasa mendapat tekanan untuk memiliki bentuk tubuh yang sempurna, sesuai dengan standar kecantikan yang sering ditampilkan di media sosial.

2. Gangguan Tidur

Kecanduan media sosial dan gadget dapat mengganggu pola tidur Generasi Z. Alhasil, mereka menjadi kurang tidur dan istirahat.

Kekurangan tidur atau istirahat ini pastinya bisa memengaruhi kesehatan mental mereka.

3. Mood Swing

Gangguan kesehatan mental bisa menyebabkan seseorang mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem dan tidak stabil. Hal ini bisa berdampak pada perilaku impulsif, agresif, atau menarik diri dari lingkungan sosial.

4. Penurunan Fungsi Otak

Tekanan yang berlebihan, kurang tidur, dan kecanduan teknologi dapat menyebabkan penurunan fungsi otak. Generasi Z bisa saja menjadi kesulitan berkonsentrasi dan mengambil keputusan.

5. Berkurangnya Interaksi Sosial

Meskipun Generasi Z tumbuh dalam era yang terhubung secara digital, mereka juga rentan mengalami isolasi sosial. Hal ini dapat membuat mereka merasa kesepian dan depresi.

Belum ada satu penyebab pasti yang bisa menjelaskan mengapa Generasi Z mengalami krisis mental.

Namun, ada beberapa faktor yang diduga berkontribusi terhadap kondisi ini, antara lain:

1. Kemajuan Teknologi

Teknologi yang terus berkembang telah menciptakan tekanan tambahan pada mental Generasi Z.

Mereka menjadi sering merasa perlu untuk terus mengikuti perkembangan di sosial media atau yang saat ini akrab disebut dengan istilah “FOMO”.

2. Minimnya Pengetahuan Terkait Kesehatan Mental

Kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental, baik di kalangan individu Generasi Z maupun di masyarakat umum, dapat menyebabkan keterlambatan dalam diagnosis dan perawatan.

3. Ketidakpastian Ekonomi

Generasi Z menghadapi ketidakpastian ekonomi yang tinggi yang  pada akhirnya menciptakan tekanan tambahan terkait pekerjaan, pendidikan, dan keuangan.

Meski demikian, berbagai upaya dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini. Langkah awal adalah mengenali gejala dan segera mencari bantuan profesional.

Generasi Z juga dianjurkan menjaga keseimbangan hidup melalui olahraga, tidur cukup, pola makan sehat, meditasi, hingga menjalani hobi.

Selain itu, membangun relasi positif dan membatasi penggunaan media sosial dinilai penting untuk menjaga kestabilan mental.

Krisis kesehatan mental tidak hanya berdampak pada psikologis, tetapi juga fisik dan finansial.

Karena itu, kesadaran, dukungan lingkungan, serta perlindungan yang tepat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan kesehatan mental Generasi Z di era modern.




Tahura Djuanda: Destinasi Wisata Alam Favorit di Bandung untuk Trekking, Sejarah, dan Udara Sejuk

SEPUCUKJAMBI.ID – Bagi warga lokal maupun wisatawan Bandung yang mendambakan pelarian ke alam yang menyegarkan, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Tahura Dago) adalah jawabannya.

Berlokasi strategis di kawasan Dago, hutan Djuanda ini menyajikan kombinasi sempurna: udara sejuk pegunungan yang asri, rimbunnya hutan tropis, serta beragam aktivitas rekreasi yang cocok untuk semua kalangan.

Eksplorasi Seru di Tahura Djuanda: Dari Air Terjun hingga Jejak Sejarah

Tahura Dago dikenal sebagai lokasi outdoor terbaik untuk berbagai kegiatan, mulai dari berjalan-jalan santai, trekking, hingga bersepeda di jalur khusus yang menantang.

Beberapa spot ikonik yang wajib Anda kunjungi di Tahura Djuanda meliputi:

  • Curug Omas: Air terjun jernih yang menawarkan suasana hutan yang sangat tenang, ideal untuk relaksasi.

  • Goa Belanda: Situs bersejarah yang merupakan peninggalan era kolonial Belanda, menyajikan pengalaman wisata sejarah yang unik.

  • Goa Jepang: Bekas peninggalan Perang Dunia II, kini menjadi objek wisata edukatif dan menarik untuk dijelajahi.

Selain menawarkan keindahan alam, Taman Hutan Raya Ir H Djuanda juga berkomitmen pada edukasi lingkungan dan konservasi.

Pengelola menekankan pentingnya menjaga hutan Djuanda agar tetap lestari, sekaligus memberikan pengalaman yang mendidik bagi setiap pengunjung.

“Kami ingin semua yang datang ke Tahura tidak hanya menikmati alam, tapi juga memahami pentingnya menjaga kelestariannya,” ujar pihak pengelola, menegaskan fungsi konservasi Tahura Dago.

Bagi keluarga, pelajar, maupun komunitas pecinta alam, wisata Tahura Djuanda menawarkan pengalaman yang lengkap dan nyaman.

Tersedia berbagai fasilitas pendukung, seperti area parkir yang memadai, warung makan, hingga toilet umum.

Udara sejuk dan panorama kota Bandung yang dapat dilihat dari ketinggian menambah nilai jual tersendiri, menjadikannya tempat ideal untuk melepas penat dari kesibukan sehari-hari.

Aktivitas outdoor di Tahura Djuanda sangat beragam, mulai dari berfoto, piknik, hingga mengamati flora dan fauna khas hutan tropis.

Anda bisa memilih eksplorasi mandiri atau menggunakan jasa pemandu lokal.

Terutama untuk jalur trekking yang lebih menantang atau untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang sejarah taman hutan.

Dengan tiket masuk yang terjangkau dan akses yang relatif mudah dari pusat kota, Tahura Dago (atau Hutan Djuanda) tetap menjadi destinasi utama bagi siapapun yang mencari kesejukan alam sekaligus petualangan di Bandung.

Pastikan Tahura Djuanda masuk dalam daftar kunjungan Anda selanjutnya saat ber wisata Bandung!.(*)




Cinta Lebih Adiktif dari Narkoba: Penjelasan dr. Ryu Hasan

dr. Ryu Hasan menjelaskan cinta lebih adiktif dari narkoba, membahas pengaruh otak dan emosi saat jatuh cinta dan putus cinta.

SEPUCUKJAMBI.ID – Cinta lebih adiktif dari narkoba, itulah pernyataan dr. Ryu Hasan, pakar bedah saraf, yang mengungkap fakta ilmiah mengejutkan tentang cinta. Menurutnya, jatuh cinta bukan hanya soal perasaan, melainkan reaksi biologis di otak yang bisa menumpulkan logika dan membuat manusia bertindak irasional.

Mengapa Cinta Lebih Adiktif dari Narkoba?

Ketika seseorang jatuh cinta, otak melepaskan dopamin dan oksitosin, hormon yang menciptakan rasa bahagia, euforia, sekaligus keterikatan mendalam. Dr. Ryu menjelaskan, reaksi ini bahkan lebih kuat daripada efek narkoba karena melibatkan banyak area otak sekaligus.

Yang menarik, cinta juga menonaktifkan bagian otak yang biasanya berfungsi mengendalikan logika dan kritik. Itulah sebabnya orang yang jatuh cinta kerap “buta” terhadap kekurangan pasangannya.

Otak Saat Jatuh Cinta: Laki-laki vs Perempuan

Menurut dr. Ryu Hasan, respons cinta antara pria dan wanita memiliki perbedaan:

  • Wanita: amigdala dan anterior cingulate cortex (pusat kontrol logika) menjadi “mati suri”. Akibatnya, wanita lebih mudah mengabaikan hal-hal yang biasanya ia perhatikan secara kritis.

  • Pria: jatuh cinta memicu lonjakan testosteron, dopamin, dan vasopresin, sehingga pikiran bisa terfokus pada pasangan hingga 85% waktu terjaga.

Efeknya sama seperti “mabuk cinta”—alami, namun dampaknya nyata pada otak.

Putus Cinta: Rasa Sakit yang Nyata di Otak

Perasaan patah hati bukan sekadar kiasan. Saat cinta berakhir, kadar dopamin menurun drastis sehingga otak mengalami rasa sakit emosional yang mirip dengan sakit fisik. Itulah mengapa putus cinta bisa menimbulkan gejala seperti depresi, cemas, hingga gangguan tidur.

Namun, menurut dr. Ryu, otak manusia punya “rencana cadangan”. Saat menjalin hubungan baru, otak kembali melepaskan dopamin dan oksitosin yang membantu menyembuhkan luka emosional akibat putus cinta.

Belajar Bijak dari Fakta Ilmiah tentang Cinta

Mengetahui bahwa cinta adalah reaksi biologis di otak membuat kita bisa lebih bijak dalam menjalani hubungan. Cinta memang bisa membuat kita bahagia, tetapi juga bisa menimbulkan sakit yang nyata.

Seperti narkoba, cinta bersifat adiktif. Bedanya, cinta adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Yang terpenting, kita harus mampu menyeimbangkan perasaan dengan kesadaran diri agar tidak terjebak dalam hubungan yang merugikan.

dr. Ryu Hasan menegaskan, cinta memang lebih adiktif dari narkoba karena melibatkan kerja kompleks otak yang memengaruhi emosi, logika, hingga perilaku. Dengan memahami sisi ilmiah cinta, kita bisa melihat hubungan asmara bukan sekadar perasaan, melainkan juga fenomena biologis yang patut disikapi dengan bijak. (*)