Stres, Kurang Tidur, atau Dehidrasi? Ini Penyebab Kepala Cenat-Cenut

SEPUCUKJAMBI.ID – Pernah merasakan kepala cenat-cenut tiba-tiba? Rasa nyeri yang muncul mendadak di pelipis, belakang kepala, atau bagian atas kepala ini memang sering membuat tidak nyaman.

Namun, gejala ini belum tentu menandakan gangguan serius.

Menurut dr. Rina Septiani, SpKK, dokter spesialis kesehatan umum, kepala cenat-cenut biasanya terkait dengan ketegangan otot akibat stres, kurang tidur, atau dehidrasi.

“Meski terasa mengganggu, kebanyakan kasus bisa diatasi dengan perubahan pola hidup sederhana,” kata dia.

Penyebab Kepala Cenat-Cenut

  1. Stres dan Tekanan Emosional
    Ketika tubuh tertekan, otot kepala dan leher menegang, menimbulkan rasa nyeri tumpul atau berdenyut. Kondisi ini kerap disebut sakit kepala tegang.

  2. Kurang Tidur dan Pola Hidup Tidak Sehat
    Kekurangan istirahat membuat sistem saraf lebih sensitif, sehingga rasa nyeri lebih mudah muncul.

  3. Dehidrasi
    Kurangnya cairan dapat mengganggu aliran darah ke otak, memicu sensasi cenat-cenut.

  4. Pengaruh Makanan dan Minuman
    Kafein berlebih, alkohol, atau makanan dengan bahan tambahan tertentu bisa memperburuk nyeri. Beberapa orang juga sensitif terhadap alergi atau intoleransi makanan tertentu.

  5. Ketegangan Mata
    Menatap layar komputer atau ponsel terlalu lama tanpa istirahat dapat membuat otot mata tegang, sehingga kepala terasa cenat-cenut. Penglihatan yang tidak optimal juga berpengaruh.

Cara Meredakan Kepala Cenat-Cenut

  • Istirahat dan tidur cukup untuk mengembalikan keseimbangan sistem saraf.

  • Minum air putih secara rutin untuk mencegah dehidrasi.

  • Lakukan peregangan leher dan bahu, atau praktik pernapasan dalam untuk meredakan ketegangan otot.

  • Jika nyeri akibat mata, sesekali alihkan pandangan jauh-dekat saat bekerja di depan layar.

  • Obat pereda nyeri ringan seperti parasetamol bisa digunakan sesuai dosis, namun tidak dianjurkan sebagai solusi jangka panjang.

dr. Rina Septiani menambahkan, “Jika nyeri kepala muncul terus-menerus, disertai gangguan penglihatan, kelemahan tubuh, atau muntah mendadak, segera periksakan ke dokter.

Hal ini penting untuk mengevaluasi kondisi lebih lanjut.”

Kesimpulan

Kepala cenat-cenut umumnya bukan tanda penyakit serius. Dengan pola hidup sehat, cukup tidur, hidrasi cukup, dan manajemen stres, gejala ini bisa dikurangi.

Mengenal penyebab dan langkah sederhana untuk meredakannya akan membantu seseorang lebih sigap menghadapi rasa nyeri kepala tanpa panik.(*)




Waspada! Paparan Polusi Udara Bisa Merusak Mata Secara Perlahan

SEPUCUKJAMBI.ID – Polusi udara selama ini identik dengan gangguan pernapasan dan penyakit jantung. Namun, dampaknya tidak berhenti di sana.

Mata sebagai organ yang terus terbuka dan terpapar langsung lingkungan menjadi salah satu bagian tubuh yang paling rentan terhadap kualitas udara yang buruk.

Berbagai polutan di udara seperti partikel halus PM2.5 dan PM10, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), ozon (O₃), asap kendaraan bermotor, hingga emisi industri dapat langsung memicu iritasi pada permukaan mata.

Zat-zat ini mengganggu lapisan air mata yang berfungsi sebagai pelindung alami, membuat mata lebih cepat kering dan mudah teriritasi.

Paparan polusi yang terjadi secara terus-menerus tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi menyebabkan stres oksidatif pada jaringan mata.

Partikel berukuran sangat kecil dapat menembus lapisan pelindung mata dan merusak sel-sel sehat, terutama jika diketahui paparan berlangsung dalam jangka panjang.

Sejumlah kelompok diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mata akibat polusi udara.

Masyarakat perkotaan dengan kualitas udara buruk, pekerja luar ruangan seperti petugas lalu lintas dan pekerja konstruksi, anak-anak, serta lansia termasuk kelompok yang paling rentan.

Risiko juga meningkat pada individu dengan kondisi mata tertentu, seperti dry eye syndrome, alergi mata, atau pengguna lensa kontak.

Gejala gangguan mata akibat polusi sering kali dianggap sepele.

Mata kering, perih, gatal, kemerahan, berair berlebihan, sensitif terhadap cahaya, atau sensasi seperti ada pasir di mata merupakan tanda awal yang patut diwaspadai.

Pada kondisi tertentu, polusi udara bahkan dapat memperparah peradangan mata seperti konjungtivitis atau meningkatkan risiko infeksi.

Apabila keluhan mata tidak membaik meski sudah menggunakan tetes mata pelumas atau mengistirahatkan mata, pemeriksaan ke dokter spesialis mata sangat dianjurkan.

Evaluasi profesional diperlukan untuk menilai produksi air mata, kondisi permukaan mata, serta mendeteksi kemungkinan peradangan atau kerusakan yang lebih serius.

Untuk mengurangi risiko, terdapat sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.

Menggunakan kacamata pelindung atau sunglasses saat beraktivitas di luar ruangan membantu mengurangi kontak langsung polutan dengan mata.

Selain itu, membatasi penggunaan lensa kontak saat kualitas udara buruk dan menjaga kebersihan tangan juga penting untuk mencegah iritasi maupun infeksi.

Penggunaan air mata buatan tanpa pengawet dapat membantu menjaga kelembapan mata, terutama bagi mereka yang sering terpapar polusi.

Memantau Indeks Kualitas Udara (AQI) melalui aplikasi atau situs resmi juga menjadi langkah cerdas agar aktivitas luar ruangan bisa disesuaikan dengan kondisi udara.

Di dalam ruangan, air purifier dapat membantu menyaring partikel berbahaya yang masuk dari luar, sehingga kualitas udara dalam rumah lebih terjaga.

Langkah ini tidak hanya melindungi mata, tetapi juga sistem pernapasan secara keseluruhan.

Polusi udara merupakan ancaman yang sering kali tidak disadari dampaknya terhadap kesehatan mata.

Kesadaran akan gejala, pemahaman faktor risiko, dan penerapan perlindungan sederhana dapat membantu menjaga kenyamanan mata dan mempertahankan kualitas penglihatan di tengah tantangan lingkungan perkotaan yang semakin kompleks.(*)




Bukan Sekadar Pendek, Ini Dampak Serius Stunting bagi Masa Depan Anak

SEPUCUKJAMBI.ID – Stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

Masalah ini tidak hanya menyangkut tinggi badan anak yang berada di bawah standar usianya, tetapi juga berkaitan dengan kualitas tumbuh kembang anak secara menyeluruh, mulai dari kesehatan fisik, kecerdasan, hingga kesiapan menghadapi masa depan.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama.

Periode paling krusial terjadinya stunting adalah 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Pada fase ini, otak dan organ tubuh berkembang sangat cepat dan menentukan kualitas hidup anak di kemudian hari.

Sayangnya, masih banyak anggapan di masyarakat bahwa stunting disebabkan faktor keturunan.

Padahal, faktor genetik hanya berpengaruh kecil. Penyebab utama stunting justru berasal dari kurangnya asupan gizi seimbang, minimnya protein hewani, serta pola asuh yang belum optimal sejak dini.

Selain faktor gizi, lingkungan dan kondisi sosial turut berperan besar. Akses air bersih yang terbatas, sanitasi yang buruk, serta rendahnya pemahaman tentang kesehatan ibu dan anak meningkatkan risiko infeksi berulang.

Infeksi yang sering terjadi pada anak dapat menghambat penyerapan nutrisi, sehingga pertumbuhan pun terhambat.

Dampak stunting tidak hanya terlihat secara fisik. Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki sistem imun lebih lemah, sehingga lebih mudah sakit.

Selain itu, perkembangan kognitifnya berisiko terganggu, yang berdampak pada kemampuan belajar, konsentrasi, dan prestasi akademik.

Dalam jangka panjang, stunting dapat menurunkan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa.

Upaya pencegahan stunting seharusnya dimulai sejak sebelum kehamilan. Calon ibu perlu memastikan status gizi yang baik, termasuk kecukupan zat besi, asam folat, protein, dan mikronutrien lainnya.

Pemeriksaan kesehatan rutin sebelum dan selama kehamilan menjadi langkah penting untuk memastikan janin tumbuh optimal.

Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan merupakan fondasi utama pencegahan stunting. ASI mengandung nutrisi lengkap dan antibodi yang melindungi bayi dari infeksi.

Setelah itu, MPASI harus diberikan secara bertahap dengan menu yang beragam, bergizi seimbang, dan sesuai usia anak.

Protein hewani seperti telur, ikan, daging, dan susu memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan tinggi badan dan perkembangan otak anak.

Kombinasi protein, karbohidrat, lemak sehat, vitamin, dan mineral harus menjadi bagian dari menu harian anak.

Tak kalah penting, lingkungan yang bersih dan sehat menjadi faktor pendukung utama.

Kebiasaan mencuci tangan, penggunaan air bersih, sanitasi layak, serta imunisasi lengkap membantu mencegah penyakit infeksi yang dapat memperburuk risiko stunting.

Stunting memang bukan masalah yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Namun, dengan edukasi yang tepat, keterlibatan aktif orang tua, serta dukungan dari lingkungan dan layanan kesehatan, angka stunting dapat ditekan secara signifikan.

Menjaga tumbuh kembang anak sejak dini merupakan investasi jangka panjang demi terciptanya generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.(*)




Dampak Menahan Kencing, Risiko Infeksi dan Batu Kandung Kemih

SEPUCUKJAMBI.ID – Menahan kencing sering dianggap sepele. Banyak orang melakukannya karena kesibukan, pekerjaan yang tidak memungkinkan, atau sekadar menunda karena merasa “masih bisa ditahan”.

Padahal, kebiasaan ini berisiko serius bagi kesehatan, terutama jika dilakukan berulang dan dalam jangka panjang.

Kandung kemih berfungsi sebagai tempat penampungan urine sementara sebelum dikeluarkan dari tubuh.

Saat kandung kemih penuh, tubuh mengirimkan sinyal untuk segera buang air kecil.

Jika sinyal ini diabaikan terus-menerus, kandung kemih akan mengalami tekanan berlebih dan fungsi normalnya terganggu.

Dampak paling umum akibat menahan kencing adalah infeksi saluran kemih (ISK). Urine yang tertahan terlalu lama menjadi lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri.

Gejala yang muncul meliputi rasa perih saat kencing, sering ingin buang air kecil tapi sedikit keluar, hingga urine berbau tidak sedap.

Selain itu, menahan kencing juga bisa melemahkan otot kandung kemih. Otot yang terus menahan beban kehilangan elastisitas, sehingga kandung kemih kurang optimal dalam mengosongkan urine.

Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan saluran kemih di kemudian hari.

Tekanan berlebih pada kandung kemih juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di perut bawah, seperti nyeri, kram, atau sensasi penuh yang mengganggu aktivitas.

Jika terus terjadi, ketidaknyamanan ini bisa berkembang menjadi masalah kesehatan serius.

Dalam jangka panjang, urine yang tertahan dapat menyebabkan pengendapan mineral di kandung kemih, berpotensi menjadi batu kandung kemih, terutama jika asupan cairan kurang.

Tekanan dari kandung kemih yang terlalu penuh bahkan bisa memengaruhi fungsi ginjal.

Kebiasaan menahan kencing umum terjadi pada pekerja dengan mobilitas tinggi, pengemudi jarak jauh, pelajar, atau orang yang enggan menggunakan toilet umum.

Beberapa orang juga sengaja mengurangi minum untuk mengurangi frekuensi buang air kecil, padahal hal ini justru memperburuk kondisi tubuh.

Untuk menjaga kesehatan saluran kemih, segera ke toilet saat dorongan buang air kecil muncul.

Asupan cairan yang cukup dan tidak menunda kencing adalah langkah sederhana namun penting untuk melindungi kesehatan kandung kemih dan ginjal dalam jangka panjang.(*)




Risiko Mikroplastik dari Kebiasaan Ngopi, Ini Solusinya

SEPUCUKJAMBI.ID – Bagi banyak orang, kopi bukan sekadar minuman, melainkan ritual wajib untuk memulai hari.

Dari kopi instan di rumah hingga kopi takeaway dalam perjalanan, kebiasaan ngopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Namun di balik kenikmatan itu, ada risiko yang jarang disadari: mikroplastik bisa ikut masuk ke tubuh melalui cara kita menikmati kopi.

Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil yang berasal dari penguraian plastik besar atau pelepasan dari produk berbahan plastik.

Partikel ini tidak terlihat mata, tetapi bisa tertelan melalui makanan dan minuman, termasuk kopi.

Salah satu sumber utamanya adalah wadah minuman sekali pakai, seperti gelas plastik atau gelas kertas yang dilapisi plastik tipis.

Saat kopi panas dituangkan ke dalam wadah tersebut, suhu tinggi dapat memicu pelepasan partikel mikroplastik ke minuman. Semakin panas kopi, semakin besar potensi partikel plastik ikut terlepas.

Hal yang sama juga bisa terjadi pada tutup gelas plastik, sedotan, hingga kantong kopi celup atau drip bag yang mengandung plastik.

Paparan mikroplastik sehari-hari memang terlihat sepele, tetapi bisa terakumulasi jika dilakukan terus-menerus.

Sejumlah penelitian bahkan menemukan mikroplastik di darah dan jaringan manusia.

Meski dampak jangka panjangnya masih diteliti, ahli menduga paparan kronis dapat memicu peradangan, stres oksidatif, dan gangguan fungsi sel.

Mengurangi risiko mikroplastik dari kopi tidak sulit. Langkah paling sederhana adalah beralih ke wadah nonplastik, seperti cangkir atau tumbler berbahan kaca, keramik, atau stainless steel.

Membawa tumbler sendiri saat membeli kopi di luar juga membantu menekan paparan sekaligus ramah lingkungan.

Metode seduh kopi juga penting. Alat seduh yang minim kontak dengan plastik, seperti French press kaca atau saringan logam, bisa menjadi pilihan.

Jika tetap menggunakan kopi celup atau drip bag, pilih produk bebas plastik atau berbahan alami.

Dengan kesadaran dan sedikit perubahan, kebiasaan ngopi tetap bisa dinikmati tanpa rasa khawatir berlebihan. Kopi tidak hanya memberi energi, tetapi juga lebih aman bagi kesehatan jangka panjang.(*)




Selalu Terlihat Kuat? Ini Tips Menghadapi Tekanan Emosional

SEPUCUKJAMBI.ID – Sejak kecil, banyak orang terbiasa mendengar larangan sederhana seperti, “Jangan menangis.”

Ungkapan ini lebih sering diarahkan kepada anak laki-laki, kerap disertai kalimat lanjutan seperti, “Kamu kan laki-laki, harus kuat,” atau “Jangan cengeng.”

Kalimat-kalimat sederhana tersebut kerap dianggap sebagai bentuk pendidikan agar anak menjadi kuat.

Namun tanpa disadari, pesan itu meninggalkan dampak jangka panjang.

Banyak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa menangis adalah tanda kelemahan, bahwa perasaan harus dipendam, dan bahwa laki-laki yang baik adalah yang kuat, diam, serta tidak banyak mengeluh.

Pola pikir ini sering terbawa hingga dewasa.

Akibatnya, tidak sedikit laki-laki dewasa yang jarang atau bahkan tidak pernah menangis bukan karena mereka tidak stres, tidak sedih, atau tidak lelah, melainkan karena tidak terbiasa mengekspresikan perasaan mereka sendiri.

Padahal, tubuh dan pikiran manusia tidak bekerja seperti mesin.

Menahan emosi terus-menerus bukan berarti masalah hilang justru sebaliknya, perasaan yang dipendam bisa menumpuk dan muncul dalam bentuk lain.

Banyak orang terlihat baik-baik saja dari luar, tetap bekerja, tetap menjalankan tanggung jawab, dan tetap tersenyum. Namun di dalam dirinya, ada kelelahan mental yang perlahan menggerogoti.

Di lingkungan sosial, tidak menangis sering dianggap sebagai simbol ketangguhan.

Selama seseorang masih terlihat “normal” dan berfungsi sebagaimana mestinya, ia dianggap aman.

Padahal, di balik itu bisa saja tersimpan tekanan besar, mulai dari masalah pekerjaan, tuntutan keluarga, beban ekonomi, hingga ekspektasi sosial yang seakan tidak pernah berhenti.

Ketika stres mulai terasa berat, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan agar kesehatan mental tetap aman

1. Mengakui bahwa diri sendiri sedang tidak baik-baik saja, ini bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk kesadaran bahwa tubuh dan pikiran sedang lelah.

2. Memberi jeda, tidak semua masalah harus diselesaikan dalam satu hari. Berhenti sejenak dapat membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih tenang.

Melakukan aktivitas atau hobi yang disukai, seperti melukis, memancing, atau berolahraga, bisa menjadi cara sederhana untuk melepas penat.

3. Mencari orang yang bisa dipercaya untuk bercerita. Tidak harus banyak, cukup satu atau dua orang yang mau mendengar tanpa menghakimi, seperti orang tua, pasangan, atau teman dekat.

Jika merasa belum nyaman bercerita kepada orang lain, teknologi juga bisa menjadi alternatif seperti platform ai atau menulis dapat menjadi langkah awal untuk meluapkan perasaan.

4. Memperhatikan sinyal dari tubuh. Gangguan tidur, emosi yang mudah meledak, atau keluhan fisik yang muncul berulang bisa menjadi tanda peringatan. Jika hal ini sering terjadi, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Sudah saatnya kita berhenti mengajarkan bahwa tidak menangis adalah ukuran kekuatan.

Menjadi dewasa bukan soal seberapa lama seseorang mampu menahan beban, melainkan seberapa berani ia menjaga diri agar tetap bertahan.




Panduan Makan Bubur Ayam untuk Penderita Diare

SEPUCUKJAMBI.ID – Saat diare menyerang, banyak orang bingung memilih makanan. Salah makan sedikit saja, perut bisa makin tidak nyaman.

Bubur ayam sering menjadi pilihan karena lembut dan dianggap “aman” untuk pencernaan. Namun, apakah benar bubur ayam cocok dikonsumsi saat diare?

Secara umum, bubur ayam boleh dikonsumsi saat diare jika disajikan dengan cara yang tepat. Tekstur bubur yang lunak tidak membebani lambung dan usus yang sensitif.

Nasi dalam bubur juga membantu menyerap kelebihan cairan di saluran pencernaan.

Yang perlu diperhatikan adalah cara pengolahan bubur ayam. Hindari bubur yang terlalu berminyak, gurih berlebihan, atau dicampur banyak bumbu.

Sambal, kecap, dan topping pedas sebaiknya ditunda sampai kondisi perut membaik.

Pilihan terbaik adalah bubur ayam sederhana: nasi lembut, kaldu ringan, dan potongan ayam tanpa kulit. Makan dalam porsi kecil tetapi sering lebih dianjurkan agar perut tidak kaget.

Selain makanan, penderita diare harus memperbanyak cairan.

Air putih, oralit, atau larutan rehidrasi oral membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Hindari minuman manis, bersoda, atau berkafein karena bisa memperparah diare.

Bubur ayam bisa menjadi solusi sementara saat diare ringan, tetapi bukan satu-satunya cara pemulihan.

Segera konsultasikan ke dokter jika diare berlangsung lebih dari dua hari atau disertai gejala serius seperti demam tinggi, darah dalam tinja, muntah terus-menerus, atau dehidrasi.

Dengan memilih bubur ayam sederhana dan menjaga asupan cairan, tubuh bisa lebih cepat pulih dan aktivitas sehari-hari bisa kembali normal.(*)




Cara Cepat Redakan Batuk Ringan Tanpa Obat

SEPUCUKJAMBI.ID – Batuk memang bukan penyakit, tetapi dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari—mulai dari bekerja, berbincang, hingga tidur.

Batuk adalah mekanisme tubuh untuk membersihkan tenggorokan dan saluran napas dari lendir, debu, atau iritasi.

Jika berlebihan, batuk bisa diatasi dengan cara alami berikut yang mudah dilakukan di rumah:

1. Madu sebagai penenang tenggorokan

Satu sendok madu murni atau dicampur air hangat atau teh bisa membantu meredakan tenggorokan kering dan gatal.

2. Berkumur air garam hangat

Larutan air garam hangat membantu membersihkan lendir dan mengurangi peradangan ringan di tenggorokan.

3. Minum teh jahe hangat

Jahe bersifat antiradang alami yang menenangkan saluran napas dan mengurangi ketidaknyamanan tenggorokan.

4. Pastikan tubuh tetap terhidrasi

Minum cukup air putih menjaga tenggorokan tetap lembap dan membuat lendir lebih encer.

5. Minum teh herbal
Chamomile atau peppermint dapat membantu menenangkan tenggorokan dan mendukung hidrasi.

6. Menghirup uap air hangat

Uap hangat membantu melonggarkan lendir, baik dengan mandi air hangat atau menghirup uap dari mangkuk air panas.

7. Konsumsi buah kaya vitamin C

Jeruk, kiwi, dan stroberi memperkuat sistem imun untuk melawan penyebab batuk.

8. Minuman kunyit hangat

Kunyit bersifat antiradang dan antioksidan, baik dicampur air hangat atau susu hangat untuk meredakan peradangan tenggorokan.

9. Hindari pemicu iritasi

Asap rokok, debu, dan polusi udara dapat memperparah batuk, jadi sebisa mungkin kurangi paparan.

Meski cara alami ini efektif untuk batuk ringan, segera konsultasikan ke dokter jika batuk berlangsung lebih dari dua minggu atau disertai demam tinggi, sesak napas, atau dahak berdarah.

Dengan langkah sederhana dan alami, batuk yang mengganggu bisa diredakan tanpa harus langsung bergantung pada obat-obatan.(*)




Tips Mendapatkan Rujukan Rumah Sakit Cepat untuk Peserta JKN

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Bagi peserta JKN, sistem rujukan berjenjang sering dianggap rumit.

Namun, mekanisme ini justru dirancang untuk memastikan setiap peserta mendapat penanganan medis yang tepat, efektif, dan sesuai kebutuhan.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menjelaskan bahwa peserta biasanya memulai pengobatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas, klinik, atau dokter praktik perorangan.

Jika memerlukan perawatan lanjutan, FKTP akan memberikan rujukan ke rumah sakit sesuai kompetensi medis.

“Mekanisme ini mencegah rumah sakit dipenuhi pasien yang seharusnya ditangani di FKTP, sehingga akses untuk pasien yang membutuhkan layanan lanjutan tetap terjaga,” kata Rizzky.

Rujukan berjenjang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 16 Tahun 2024 dan UU Nomor 17 Tahun 2023.

Sistem ini kini berbasis kompetensi rumah sakit, bukan lagi berdasarkan kelas fasilitas.

Beberapa kondisi memungkinkan peserta JKN langsung dirujuk ke rumah sakit, termasuk perawatan rutin seperti hemodialisis, kemoterapi, radioterapi, layanan kesehatan jiwa, serta penyakit kronis seperti hemofilia, thalasemia, TB-MDR, dan HIV-ODHA.

Peserta usia di atas 65 tahun atau yang memerlukan pengobatan jangka panjang juga bisa mendapat rujukan langsung.

BPJS Kesehatan memudahkan perpanjangan rujukan langsung di rumah sakit bagi pasien yang menjalani perawatan rutin, tanpa harus kembali ke FKTP.

Dalam kondisi gawat darurat, peserta dapat langsung ke rumah sakit terdekat tanpa surat rujukan.

Menurut Direktur RS Cinta Kasih Tzu Chi, Gunawan Susanto, rujukan berjenjang membantu dokter memahami kondisi pasien lebih cepat.

Sehingga layanan menjadi lebih maksimal. Peserta JKN diperlakukan sama dengan pasien umum, sesuai indikasi medis.

Peserta JKN asal Bandar Lampung, Mutiara Vania, merasakan langsung manfaat rujukan berjenjang saat anaknya menderita thalasemia beta mayor.

Sejak pemeriksaan awal di FKTP, ia langsung diarahkan ke rumah sakit yang tepat, dan seluruh perawatan, termasuk transfusi darah, ditanggung BPJS Kesehatan.(*)




Kenali Gejala DBD dan Cara Pencegahan Efektif untuk Keluarga

SEPUCUKJAMBI.ID – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, terutama saat musim hujan.

Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mudah berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, ember, pot bunga, atau talang air tersumbat.

Gejala awal DBD biasanya muncul 4–10 hari setelah digigit nyamuk, berupa demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, pegal-pegal pada otot dan sendi, serta rasa lemas.

Beberapa pasien juga mengalami mual, muntah, dan ruam kemerahan di kulit.

Pada fase kritis, DBD dapat menyebabkan perdarahan dan syok, ditandai mimisan, gusi berdarah, muntah bercampur darah, feses hitam, atau penurunan tekanan darah drastis.

Karena belum ada obat spesifik untuk virus dengue, penanganan fokus pada perawatan suportif, termasuk banyak minum cairan, istirahat cukup, dan pemantauan kondisi tubuh.

Obat penurun panas seperti parasetamol diperbolehkan, tetapi aspirin dan ibuprofen sebaiknya dihindari.

Pencegahan DBD tetap menjadi kunci. Gerakan 3M Plus menguras, menutup, mendaur ulang perlu dilakukan rutin.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan lotion antinyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Fogging dapat dilakukan sebagai tambahan, bukan pengganti pencegahan utama.

Kesadaran bersama sangat penting. Dengan mengenali gejala dini, segera mencari pertolongan medis, dan menjaga lingkungan bebas dari sarang nyamuk, risiko DBD bisa diminimalkan.

Meski kecil seperti nyamuk, dampak DBD terhadap kesehatan masyarakat bisa sangat besar.(*)