Seberapa Sering Idealnya Berolahraga? Ini Panduan Frekuensi yang Dianjurkan Ahli

SEPUCUKJAMBI.ID – Pertanyaan tentang berapa kali sebaiknya berolahraga dalam seminggu kerap muncul, terutama bagi mereka yang ingin hidup lebih sehat.

Frekuensi latihan menjadi faktor penting karena berpengaruh langsung pada efektivitas olahraga dalam meningkatkan kebugaran, menjaga kesehatan tubuh, hingga mencapai tujuan tertentu seperti menurunkan berat badan atau memperkuat otot.

Pada dasarnya, tidak ada satu jawaban yang sama untuk semua orang.

Frekuensi olahraga ideal sangat bergantung pada usia, kondisi fisik, tingkat kebugaran, serta tujuan kesehatan masing-masing individu.

Meski demikian, para ahli kesehatan memiliki pedoman umum yang dapat dijadikan acuan untuk memperoleh manfaat olahraga secara optimal.

Secara umum, olahraga 3 hingga 5 kali per minggu dengan durasi minimal 30 menit per sesi dinilai ideal bagi kebanyakan orang dewasa.

Aktivitas fisik ini dapat berupa olahraga aerobik ringan hingga sedang seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, atau senam.

Pola tersebut membantu mencapai target sekitar 150 menit aktivitas aerobik per minggu yang direkomendasikan untuk menjaga kesehatan jantung dan metabolisme tubuh.

Selain latihan aerobik, latihan penguatan otot sebanyak dua kali seminggu juga dianjurkan.

Jenis latihan ini meliputi angkat beban ringan, latihan menggunakan resistance band, yoga, atau pilates.

Latihan kekuatan berperan penting dalam menjaga massa otot, kekuatan tulang, serta keseimbangan dan mobilitas tubuh, terutama seiring bertambahnya usia.

Bagi pemula atau orang yang baru kembali berolahraga setelah lama tidak aktif, disarankan memulai dengan frekuensi 2–3 kali per minggu.

Pendekatan ini memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dan mengurangi risiko cedera atau kelelahan.

Seiring meningkatnya kebugaran, frekuensi dan intensitas olahraga dapat ditambah secara bertahap sesuai kemampuan.

Frekuensi olahraga juga perlu diimbangi dengan variasi jenis aktivitas.

Mengombinasikan latihan aerobik, latihan kekuatan, dan peregangan akan memberikan manfaat yang lebih menyeluruh.

Bahkan aktivitas ringan atau istirahat aktif tetap lebih baik dibandingkan tidak bergerak sama sekali dalam waktu lama.

Tak kalah penting, tubuh membutuhkan waktu istirahat untuk pemulihan.

Jeda antar sesi latihan serta tidur yang cukup membantu tubuh memperbaiki jaringan otot dan menyesuaikan diri dengan beban latihan.

Dengan demikian, olahraga dapat memberikan manfaat maksimal tanpa meningkatkan risiko cedera.

Singkatnya, olahraga secara rutin 3–5 kali per minggu dengan kombinasi latihan aerobik dan penguatan otot merupakan pola yang direkomendasikan untuk menjaga kesehatan tubuh.

Bagi pemula, memulai dari frekuensi yang lebih rendah lalu meningkatkannya secara bertahap adalah langkah yang aman dan efektif.(*)




Cengkeh dan Manfaatnya bagi Kesehatan Wanita, dari Nyeri Haid hingga Relaksasi

SEPUCUKJAMBI.ID – Cengkeh selama ini dikenal sebagai rempah dapur yang digunakan untuk memperkaya rasa dan aroma masakan.

Namun, di balik perannya sebagai bumbu, cengkeh juga telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional.

Sebab, kandungan senyawa alaminya yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh, termasuk kesehatan wanita.

Salah satu manfaat cengkeh yang sering dikaitkan dengan kesehatan wanita adalah kemampuannya membantu meredakan nyeri menstruasi.

Senyawa aktif dalam cengkeh memiliki sifat antiradang dan pereda nyeri, sehingga dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman akibat kram haid.

Meski demikian, pemanfaatan cengkeh tetap bersifat pendukung dan tidak menggantikan penanganan medis jika keluhan terasa berat.

Cengkeh juga dinilai dapat membantu menjaga keseimbangan hormon.

Kandungan antioksidan di dalamnya berperan melindungi sel-sel tubuh dari stres oksidatif yang dapat memengaruhi sistem hormonal

Keseimbangan hormon sangat penting bagi wanita karena berpengaruh pada siklus menstruasi, suasana hati, hingga kesehatan reproduksi secara menyeluruh.

Selain itu, cengkeh dikenal memiliki manfaat untuk mendukung kesehatan pencernaan.

Konsumsi cengkeh dalam jumlah wajar dapat membantu merangsang produksi enzim pencernaan, sehingga proses cerna makanan menjadi lebih optimal.

Bagi wanita yang sering mengalami keluhan ringan seperti perut kembung atau rasa penuh, cengkeh dapat dijadikan pelengkap pola makan sehat.

Dalam aspek kesehatan mulut, cengkeh memiliki sifat antibakteri yang membantu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut dan gangguan gusi.

Perubahan hormon yang dialami wanita pada fase tertentu dapat memengaruhi kondisi rongga mulut, sehingga menjaga kesehatan gigi dan gusi menjadi hal penting.

Manfaat cengkeh juga sering dikaitkan dengan perawatan kulit.

Kandungan antimikroba dan antiradang di dalamnya berpotensi membantu mengurangi peradangan ringan, termasuk jerawat.

Meski demikian, penggunaan cengkeh untuk kulit perlu dilakukan dengan hati-hati dan sebaiknya tidak diaplikasikan langsung tanpa pengenceran yang sesuai.

Tak hanya untuk kesehatan fisik, aroma cengkeh diketahui memiliki efek menenangkan.

Beberapa orang memanfaatkan seduhan atau aromaterapi cengkeh untuk membantu tubuh lebih rileks dan meningkatkan kualitas tidur.

Istirahat yang cukup berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental wanita.

Meski memiliki beragam potensi manfaat, cengkeh tetap perlu dikonsumsi secara bijak.

Penggunaan berlebihan dapat menimbulkan efek samping, seperti gangguan lambung atau iritasi.

Wanita yang sedang hamil, menyusui, atau menjalani pengobatan tertentu disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi cengkeh secara rutin.(*)




Kesehatan Mental di Era Sibuk, Glimmers dan Joy List Jadi Solusi

SEPUCUKJAMBI.ID – Di tengah ritme hidup yang semakin cepat dan penuh tuntutan, menjaga kesehatan mental menjadi perhatian banyak orang.

Tekanan pekerjaan, ekspektasi sosial, hingga paparan informasi digital tanpa henti kerap membuat pikiran terasa lelah dan sulit beristirahat.

Dalam kondisi tersebut, muncul pendekatan sederhana yang dinilai efektif membantu menjaga keseimbangan emosi, yakni melalui konsep glimmers dan joy list.

Glimmers merujuk pada momen-momen kecil yang mampu memberikan rasa nyaman, aman, dan menenangkan.

Bentuknya sering kali sederhana dan hadir dalam keseharian, seperti menghirup udara pagi, mendengar suara hujan, mencium aroma kopi, atau merasakan hangatnya sinar matahari.

Meski singkat, glimmers memberikan sinyal positif pada sistem saraf bahwa tubuh berada dalam kondisi yang relatif aman.

Tanpa disadari, manusia cenderung lebih mudah mengingat pengalaman yang memicu stres dibandingkan momen menyenangkan.

Oleh karena itu, melatih diri untuk mengenali glimmers dapat membantu menggeser fokus pikiran.

Dengan memberi perhatian pada hal-hal kecil yang menyenangkan, otak secara perlahan terbiasa menangkap sisi positif dalam keseharian, bukan hanya tekanan dan masalah.

Selain glimmers, terdapat pula konsep joy list atau daftar kebahagiaan.

Joy list berisi hal-hal yang dapat memicu rasa senang dan membantu memperbaiki suasana hati.

Isinya bisa berupa aktivitas favorit, lagu tertentu, makanan kesukaan, berjalan santai, atau rencana kecil yang mudah dilakukan.

Justru hal-hal sederhana dan realistis sering kali paling efektif dalam meningkatkan emosi positif.

Joy list berbeda dengan daftar rasa syukur. Jika daftar rasa syukur berfokus pada apa yang dimiliki dalam hidup.

Joy list lebih menekankan pada pengalaman konkret yang mampu menghadirkan kebahagiaan saat ini.

Ketika emosi sedang tidak stabil atau pikiran terasa penuh, membaca kembali joy list dapat membantu mengalihkan perhatian dari beban mental ke hal-hal yang lebih ringan.

Pendekatan glimmers dan joy list sejalan dengan praktik perawatan diri yang menekankan kesadaran terhadap kondisi tubuh dan pikiran.

Metode ini tidak bertujuan menghilangkan masalah besar secara instan, melainkan membantu membangun ketahanan mental melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Di era digital yang serba cepat, pendekatan ini terasa relevan karena mudah diterapkan oleh siapa saja.

Tidak memerlukan alat khusus maupun biaya tambahan, cukup meluangkan waktu untuk lebih peka terhadap momen positif di sekitar.

Dengan membiasakan diri mengenali glimmers dan mencatat joy list, masyarakat diharapkan dapat menjaga kesehatan mental secara lebih ringan, realistis, dan berkelanjutan.

Langkah sederhana ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan, selalu ada ruang untuk merasa lebih tenang dan bahagia.(*)




Dinkes Kota Jambi Catat 2.178 Kasus TBC, 163 Orang Meninggal

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jambi mencatat sebanyak 163 jiwa meninggal dunia akibat penyakit tuberkulosis (TBC).

Angka tersebut setara dengan 8,6 persen dari total kasus TBC yang ditemukan di Kota Jambi hingga 15 Desember 2025.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Jambi, Rini Kartika, mengatakan bahwa TBC merupakan penyakit menular yang sebenarnya dapat disembuhkan, asalkan penderita menjalani pengobatan secara teratur sesuai standar pelayanan kesehatan.

“Pengobatan TBC minimal dilakukan selama enam bulan dan harus dijalani secara konsisten agar pasien dapat sembuh dan mencegah penularan,” ujar Rini di Jambi, Senin.

Berdasarkan data Dinkes, hingga pertengahan Desember 2025 ditemukan 2.178 penderita tuberkulosis, termasuk 253 kasus TBC pada anak.

Jumlah ini menunjukkan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan serius di Kota Jambi.

Rini mengungkapkan, upaya pengendalian TBC masih menghadapi sejumlah hambatan, salah satunya stigma negatif masyarakat terhadap penderita tuberkulosis.

“Masih kuatnya stigma negatif di masyarakat menjadi tantangan dalam menekan laju penularan TBC, karena banyak penderita yang enggan memeriksakan diri atau melanjutkan pengobatan,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, Pemkot Jambi telah mengimplementasikan Peraturan Wali Kota Jambi Nomor 32 Tahun 2025 tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan Tuberkulosis Kota Jambi Tahun 2025–2030.

Peraturan tersebut menjadi pedoman strategis dalam upaya pencegahan dan penanggulangan TBC, sekaligus mendukung target eliminasi Tuberkulosis Nasional tahun 2030.

Menurut Rini, penanganan TBC tidak dapat hanya mengandalkan layanan medis semata.

“Faktor kesehatan hanya berkontribusi sekitar 25 persen. Sementara 75 persen pengendalian TBC ditopang oleh faktor non-kesehatan, seperti perbaikan gizi, kualitas lingkungan dan rumah sehat, serta peningkatan edukasi kesehatan di ruang publik,” jelasnya.

Dengan pendekatan komprehensif tersebut, Dinkes Kota Jambi berharap penularan TBC dapat ditekan dan kualitas kesehatan masyarakat semakin meningkat. (*)




3 kebiasaan yang Bikin Perut Buncit, Bukan karena Nasi

SEPUCUKJAMBI.ID – Perut buncit masih menjadi keluhan banyak orang, selain mengganggu penampilan dan menurunkan rasa percaya diri, kondisi ini juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, mulai dari masalah metabolisme hingga penyakit kronis.

Selama ini, nasi kerap dianggap sebagai penyebab utama. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Faktanya, perut buncit lebih sering dipicu oleh pola hidup dan kebiasaan harian yang kurang sehat, terutama yang dilakukan menjelang malam.

Ahli nutrisi dari The Nutrition Twins, Tammy Lakatos Shames dan Lyssie Lakatos, menyebutkan sejumlah kebiasaan yang dapat mempercepat penumpukan lemak di area perut.

Berikut tiga kebiasaan yang dapat memicu perut buncit.

1. Makan Terlalu Dekat dengan Waktu Tidur

Tubuh idealnya mengonsumsi makanan terakhir setidaknya tiga jam sebelum tidur.

Saat tidur, tubuh membutuhkan waktu untuk pemulihan dan perbaikan sel, bukan untuk mencerna makanan.

Jika pencernaan masih bekerja, tubuh cenderung menyimpan kalori yang tidak terpakai sebagai lemak, terutama di bagian perut.

Sejumlah studi juga menunjukkan bahwa makan larut malam dapat mengganggu ritme sirkadian, memengaruhi kadar gula darah, serta memperlambat metabolisme lemak.

2. Minuman yang Berkalori di Malam Hari, Termasuk Susu

Banyak orang mengonsumsi susu hangat sebelum tidur karena dianggap membantu relaksasi.

Meski mengandung triptofan yang dapat memicu rasa kantuk, susu tetap menyumbang kalori tambahan.

Jika kebiasaan ini dilakukan secara rutin tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup, kalori tersebut berpotensi menumpuk dan meningkatkan lingkar pinggang secara perlahan.

3. Asupan Gula Berlebih

Minuman manis kemasan sangat mudah ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Satu sajian minuman tersebut bahkan bisa mengandung sekitar 25 gram gula.

Asupan gula tinggi dengan nilai gizi yang rendah membuat tubuh menerima kalori berlebih.

Kalori ini kemudian disimpan sebagai lemak, dengan area perut menjadi salah satu lokasi penumpukan utama.

Perut buncit bukan semata-mata disebabkan oleh konsumsi nasi. Kebiasaan makan larut malam, minum minuman berkalori sebelum tidur, serta asupan gula berlebihan justru berperan lebih besar dalam pembentukan lemak perut.

Mengurangi kebiasaan tersebut dan rutin melakukan aktivitas fisik dapat menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan tubuh dan lingkar perut tetap ideal.(*)




Program JKN Menjangkau Pelaku Koperasi, BPJS Kesehatan Teken MoU dengan Kemenkop

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID –  BPJS Kesehatan bersama Kementerian Koperasi Republik Indonesia resmi menandatangani Nota Kesepahaman terkait penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di sektor koperasi.

Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperluas cakupan perlindungan jaminan kesehatan bagi pelaku koperasi serta masyarakat yang berada dalam ekosistem koperasi di seluruh Indonesia.

Penandatanganan Nota Kesepahaman tersebut berlangsung pada Selasa (23/12) dan dihadiri sejumlah pejabat negara, antara lain Menteri Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah Maman Abdurrahman, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti, menegaskan bahwa keberhasilan Program JKN membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat dan berkelanjutan.

Menurutnya, koperasi memiliki posisi strategis sebagai sokoguru perekonomian nasional sekaligus sarana pemberdayaan sosial yang menjangkau masyarakat hingga tingkat akar rumput.

“Sinergi antara BPJS Kesehatan dan Kementerian Koperasi diharapkan mampu membangun ekosistem yang saling menguatkan dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Nota Kesepahaman ini menjadi landasan kerja sama kedua pihak dalam penyelenggaraan Program JKN di sektor koperasi,” ujar Ghufron.

Ruang lingkup kerja sama tersebut mencakup pertukaran dan pemanfaatan data serta informasi, peningkatan literasi dan edukasi Program JKN, penguatan kepesertaan aktif pelaku koperasi, hingga mendorong koperasi menjadi mitra strategis dalam pelaksanaan Program JKN.

Seluruh poin kerja sama ini akan ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama yang bersifat teknis dan operasional.

Ghufron juga memaparkan bahwa hingga 1 Desember 2025, cakupan kepesertaan Program JKN telah mencapai lebih dari 284,1 juta jiwa, atau setara dengan lebih dari 98 persen total penduduk Indonesia.

Capaian tersebut menempatkan Program JKN sebagai salah satu sistem jaminan kesehatan terbesar di dunia.

Selain perluasan kepesertaan, BPJS Kesehatan terus melakukan transformasi digital untuk meningkatkan kemudahan dan kualitas layanan.

Inovasi tersebut antara lain melalui pengembangan Aplikasi Mobile JKN, penguatan kanal layanan non tatap muka, integrasi sistem informasi dengan fasilitas kesehatan, serta optimalisasi pemanfaatan data.

“Melalui Aplikasi Mobile JKN, peserta dapat mengakses berbagai layanan seperti pengambilan nomor antrean online, perubahan data kepesertaan, skrining riwayat kesehatan, hingga penyampaian pengaduan. Kami juga menyediakan layanan PANDAWA melalui WhatsApp di 08118165165 serta Care Center 165,” jelas Ghufron.

Sementara itu, Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, menyatakan bahwa Nota Kesepahaman ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat peran koperasi sebagai bagian dari ekosistem Program JKN.

Kerja sama ini diarahkan untuk membangun integrasi berkelanjutan melalui pemanfaatan data, peningkatan literasi JKN, serta penguatan kepesertaan aktif di lingkungan koperasi.

“Kami mendorong agar seluruh pelaku dan anggota koperasi, khususnya dalam ekosistem Koperasi Merah Putih, mendapatkan perlindungan Program JKN secara menyeluruh. Tidak boleh ada anggota koperasi yang belum terlindungi jaminan kesehatan,” tegas Ferry.

Lebih lanjut, Ferry menekankan pentingnya optimalisasi aset dan layanan koperasi, seperti apotek dan klinik koperasi, dalam mendukung penyelenggaraan Program JKN.

Langkah ini dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi koperasi sekaligus memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat.

“Ke depan, koperasi diharapkan tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menghadirkan layanan kesehatan yang mudah dijangkau, berkualitas, dan berkelanjutan,” pungkasnya.(*)




Mitos atau Fakta, Makan Kacang Bikin Jerawatan?

SEPUCUKJAMBI.ID – Banyak orang memilih menghindari kacang karena khawatir wajah menjadi jerawatan. Padahal, kacang dikenal sebagai sumber nutrisi penting seperti protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh.

Tak heran jika hubungan antara konsumsi kacang dan jerawat kerap menimbulkan perdebatan.

Lantas, benarkah makan kacang bisa bikin jerawatan?

Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kacang secara langsung menyebabkan jerawat.

Anggapan bahwa kacang memicu jerawat lebih banyak berkembang sebagai mitos turun-temurun, bukan berdasarkan penelitian medis yang kuat.

kacang mengandung asam lemak omega-6 yang berpotensi meningkatkan peradangan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Namun, dalam jumlah wajar, kandungan tersebut tidak cukup kuat untuk memicu munculnya jerawat.

Tubuh justru membutuhkan keseimbangan antara omega-3 dan omega-6 dengan rasio ideal sekitar 1:3. Sementara itu, sebagian besar kacang memiliki rasio omega-3 dan omega-6 sekitar 1:17, yang masih tergolong aman jika dikonsumsi secara normal dan tidak berlebihan.

Menariknya, kacang justru dapat memberi manfaat bagi kulit Kandungan antioksidan seperti vitamin E dan selenium berperan melindungi sel kulit dari kerusakan akibat radikal bebas serta membantu mengurangi peradangan.

Selain itu, lemak sehat dalam kacang mampu menurunkan glycaemic load (GL) makanan, sehingga membantu menjaga kestabilan kadar insulin dan mencegah produksi sebum berlebih, salah satu faktor utama penyebab jerawat.

Bagaimana Jerawat bisa muncul?

jerawat terjadi ketika folikel rambut atau pori-pori kulit tersumbat.

Folikel rambut merupakan saluran kecil tempat tumbuhnya rambut yang dikelilingi oleh kelenjar minyak.

Ketika pori-pori tersumbat oleh sebum berlebih, bakteri, dan sel kulit mati, jerawat pun dapat muncul.

Penumpukan ini memicu peradangan yang ditandai dengan nyeri, pembengkakan, serta kemerahan di sekitar area kulit.

Makanan yang Bisa Memicu Jerawat

Selain faktor kebersihan dan hormon, pola makan juga berperan dalam memperparah jerawat.

Beberapa jenis makanan dapat memperparah jerawat karena kandungan lemak, gula, serta indeks glikemiknya yang tinggi.

1. Cokelat

Konsumsi cokelat lebih dari 100 gram per minggu dapat meningkatkan keparahan jerawat.

Kandungan gula dan lemak di dalamnya dapat memicu produksi sitokin proinflamasi serta meningkatkan aktivitas bakteri Cutibacterium acnes, yang berujung pada peradangan dan produksi minyak wajah berlebih.

2. Makanan berminyak dan gorengan

Makanan yang digoreng atau tinggi lemak, terutama jika dikonsumsi lebih dari tiga kali dalam seminggu, berisiko memperburuk jerawat.

Lemak jenuh dan lemak trans dapat merangsang jalur mTORC1 yang berperan dalam peningkatan produksi sebum dan peradangan kulit.

3. Roti dan makanan manis

Karbohidrat sederhana seperti roti putih, kue, dan makanan manis dapat dengan cepat menaikkan kadar gula darah. Lonjakan insulin yang terjadi dapat memicu produksi minyak berlebih dan memperparah kondisi jerawat.

Masyarakat kerap menganggap hal ini sebagai mitos Kacang tetap aman dikonsumsi selama dalam jumlah wajar dan diimbangi dengan pola makan seimbang serta gaya hidup sehat.

Kulit yang sehat bukan hanya ditentukan oleh satu jenis makanan, melainkan oleh keseimbangan nutrisi dan kebiasaan  sehari-hari .(*)




5 Tips Menikmati Me Time Tanpa Merasa Kesepian

SEPUCUKJAMBI.ID – Kesibukan pekerjaan dan rutinitas yang berulang membuat banyak orang membutuhkan jeda untuk diri sendiri.

Me time atau aktivitas solo kerap dipilih sebagai cara menyegarkan pikiran, meredakan stres, sekaligus mencegah kelelahan mental atau burnout.

Dengan meluangkan waktu khusus untuk diri sendiri, seseorang dapat kembali menjalani aktivitas harian dengan energi yang lebih stabil.

Bagi sebagian orang, terutama yang berkepribadian introvert, menghabiskan waktu sendirian terasa menenangkan. Namun, bagi mereka yang terbiasa berada di tengah keramaian, me time sering dianggap membosankan karena minim interaksi sosial.

Akibatnya, waktu sendiri justru tidak memberikan efek relaksasi yang diharapkan.

Padahal, me time tidak selalu harus dilakukan dalam kesunyian.

Ada banyak cara menikmati waktu sendiri tanpa harus merasa sepi atau terisolasi dari lingkungan sekitar.

Berikut 5 tips menikmati me time tanpa harus merasa sepi.

1. Nongkrong Sendiri di Tempat Ramai

Aktivitas Duduk sendiri di kafe atau perpustakaan bisa menjadi pilihan sederhana untuk menikmati waktu sendiri.

Membaca buku, bekerja dengan laptop, atau mendengarkan musik di tengah aktivitas orang lain justru menciptakan suasana yang nyaman.

Keramaian di sekitar bisa memberi energi positif tanpa menuntut interaksi langsung.

2. Mengikuti Kelas atau Workshop Offline

Me time juga dapat diisi dengan kegiatan produktif.

Workshop singkat seperti melukis, membuat kerajinan tangan, memasak, atau menulis memberi kesempatan untuk fokus pada pengembangan diri.

Di saat yang sama, suasana sosial yang ringan tetap terjaga tanpa tekanan untuk berinteraksi secara langsung.

3. Menjelajahi Kota dengan Transportasi Umum

Berkeliling kota menggunakan bus, kereta, atau transportasi umum lainnya bisa menjadi bentuk me time yang menenangkan.

Perjalanan tanpa tujuan khusus memberi ruang untuk mengamati kehidupan sekitar, menikmati pemandangan, dan memberi jeda dari rutinitas harian.

4. Berolahraga di Ruang Publik

Melakukan aktivitas Jogging, berjalan santai, atau mengikuti senam bersama saat car free day dapat menjadi cara menjaga kesehatan sekaligus menikmati waktu sendiri.

Aktivitas fisik membantu melepas stres, sementara kehadiran orang lain memberi energi tanpa tuntutan interaksi.

5. Berkemah di Area Terbuka

Bagi pencinta alam, berkemah di camping ground umum menjadi pilihan tepat untuk menikmati ketenangan.

Alam memberikan efek relaksasi, dan keberadaan pengunjung lain menciptakan rasa aman dan kebersamaan yang seimbang.

Pada akhirnya, me time bukan tentang menghindari orang lain, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan memulihkan energi.

Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menikmati waktu sendiri. Menemukan bentuk me time yang paling sesuai menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup.




JKN Dorong Indonesia Capai UHC, Fokus Efisiensi dan Perlindungan Masyarakat

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Indonesia berhasil meraih predikat Universal Health Coverage (UHC), tidak hanya karena percepatan kepesertaan.

Tetapi juga kemampuan negara memastikan seluruh masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan kapan pun dan di mana pun tanpa hambatan teknis maupun biaya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyatakan bahwa program JKN merupakan ambisi besar negara untuk menghadirkan layanan kesehatan yang adil dan merata.

Dengan kepesertaan lebih dari 98%, tantangan terbesar kini adalah inflasi alat kesehatan dan meningkatnya penyakit berbiaya tinggi.

“Efisiensi dalam penyelenggaraan JKN penting tanpa menurunkan kualitas layanan di fasilitas kesehatan,” kata Pratikno.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menekankan bahwa UHC adalah investasi bangsa untuk kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Kesehatan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi fondasi negara yang kuat dan sejahtera.

Sementara itu, mantan Ketua Pansus RUU BPJS, Ahmad Nizar Shihab, menekankan bahwa UHC sejatinya memastikan layanan kesehatan mudah diakses dan tidak membuat masyarakat jatuh miskin karena biaya berobat.

Nizar juga menjelaskan bahwa BPJS Kesehatan ditempatkan langsung di bawah Presiden untuk menjaga independensi dan koordinasi lintas kementerian, sehingga tata kelola jaminan sosial tetap stabil.

Inti sistem jaminan sosial Indonesia, menurut Nizar, adalah gotong royong. Negara menanggung iuran warga kurang mampu, sementara masyarakat mampu saling membantu.

“Dengan UHC, tidak ada orang Indonesia yang dibiarkan menderita karena sakit,” ujarnya.

Pada momentum World UHC Day, Nizar berharap pencapaian UHC mendorong pemerintah pusat dan daerah memperkuat sarana dan prasarana kesehatan.

Sehingga akses layanan bagi seluruh masyarakat semakin mudah.(*)




Benarkah Stres Menyebabkan Rambut Rontok? Ini Faktanya

SEPUCUKJAMBI.ID – Rambut rontok kerap dikaitkan dengan pertambahan usia, faktor genetika, atau kesalahan dalam memilih produk perawatan.

Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres emosional maupun fisik yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut dan memicu kerontokan lebih banyak dari biasanya.

Kondisi ini dikenal sebagai telogen effluvium, yaitu keadaan ketika tubuh mendorong lebih banyak folikel rambut masuk ke fase istirahat akibat tekanan berat pada sistem tubuh.

Akibatnya, rambut tidak tumbuh sebagaimana mestinya dan lebih mudah rontok.

Menurut Mayo Clinic dan Cleveland Clinic, telogen effluvium terjadi saat siklus rambut normal fase tumbuh (anagen), istirahat (telogen), dan rontok (exogen) mengalami gangguan akibat stres tinggi.

Dalam kondisi ini, tubuh meningkatkan hormon tertentu, seperti kartisol, yang dapat mengganggu suplai nutrisi ke folikel rambut, memaksa folikel lebih cepat ke fase telogen, dan memperlambat pertumbuhan rambut baru.

Akibatnya, dalam beberapa minggu hingga bulan kemudian, rambut akan tampak rontok lebih banyak terutama saat keramas atau menyisir.

Sejalan dengan itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan stres sebagai faktor signifikan yang tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga sistem fisiologis tubuh, termasuk rambut, kulit, dan keseimbangan hormon.

Tanda-tanda rambut rontok akibat stres sering dialami oleh individu yang berada dalam tekanan tinggi, seperti pekerja profesional, orang tua, maupun pelajar.

Beberapa gejala yang umum dirasakan antara lain:

  • Rambut rontok lebih banyak dari biasanya saat mandi atau menyisir rambut
  • Penipisan rambut secara menyeluruh, bukan hanya di satu area tertentu
  • Kerontokan mulai terasa beberapa minggu setelah mengalami stres berat

Cara mengelola stres untuk menjaga rambut tetap sehat

1. Tidur yang cukup dan berkualitas

Tidur berperan penting dalam menstabilkan hormon stres dan memulihkan siklus pertumbuhan rambut.

Kurang tidur dapat memicu lonjakan kortisol, yang pada akhirnya memperburuk gangguan pada siklus rambut.

2. Pola makan seimbang

Pertumbuhan rambut yang sehat membutuhkan asupan nutrisi yang memadai, seperti zat besi, vitamin D, protein, dan omega-3 yang berperan dalam menjaga sistem saraf tetap tenang.

3. Aktivitas fisik dan relaksasi

Aktivitas ringan seperti berjalan santai, yoga, atau latihan pernapasan dalam terbukti membantu menurunkan hormon stres dan menjaga keseimbangan tubuh secara keseluruhan.

4. Dukungan sosial dan kesehatan mental

Berbagi cerita dengan orang terdekat, berkonsultasi dengan tenaga profesional, atau bergabung dalam komunitas dukungan dapat membantu mencegah stres kronis yang berdampak pada kesehatan rambut.

Stres bukan hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga dapat mengganggu fase pertumbuhan rambut dan memicu kerontokan yang lebih nyata.

Meski telogen effluvium umumnya bersifat sementara, pengelolaan stres yang tepat tetap menjadi kunci penting untuk menjaga kesehatan rambut sekaligus kesejahteraan fisik dan mental secara menyeluruh.(*)