29,7 Juta Kasus Jantung Ditanggung JKN, BPJS Dorong Layanan Berbasis Outcome

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID — Besarnya pembiayaan pelayanan kesehatan mendorong BPJS Kesehatan mengubah pendekatan dalam pengelolaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Salah satu fokusnya adalah layanan penyakit jantung yang menyerap pembiayaan cukup besar.

BPJS Kesehatan kini mendorong penerapan Value-Based Health Care (VBHC), yakni pendekatan yang menempatkan hasil kesehatan pasien (health outcomes) dan total biaya sepanjang siklus pelayanan sebagai dasar untuk menciptakan nilai bagi peserta JKN.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengatakan perubahan pendekatan tersebut diperlukan di tengah peningkatan biaya pelayanan kesehatan.

Data BPJS Kesehatan menunjukkan, total biaya pelayanan kesehatan Program JKN pada 2025 mencapai Rp191,3 triliun.

Sekitar 87,1 persen dari realisasi pembiayaan tersebut berasal dari pelayanan di rumah sakit.

“Keberlanjutan Program JKN tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dalam membiayai pelayanan kesehatan, tetapi oleh kemampuan untuk memastikan menghasilkan outcome kesehatan yang lebih baik bagi rakyat Indonesia,” kata Pujo, Rabu 16 September 2026.

Penyakit jantung menjadi salah satu layanan yang mendapat perhatian BPJS Kesehatan karena tingginya pemanfaatan layanan sekaligus besarnya biaya yang diperlukan.

Sepanjang 2025, penyakit jantung yang dijamin Program JKN tercatat lebih dari 29,7 juta kasus, dengan pembiayaan sekitar Rp17,35 triliun.

Besarnya angka tersebut membuat pengendalian penyakit jantung tidak hanya dipandang sebagai persoalan pelayanan di rumah sakit.

BPJS Kesehatan justru mendorong penguatan intervensi sejak tingkat Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Menurut Pujo, pengendalian faktor risiko sejak hulu diperlukan karena sebagian kasus penyakit jantung berkaitan dengan faktor risiko yang tidak terkendali.

“Tingginya kebutuhan pelayanan jantung dalam ekosistem JKN perlu diantisipasi sejak dari FKTP dengan mengendalikan faktor risiko,” jelasnya.

Dalam konsep VBHC, FKTP ditempatkan sebagaiekatan tersebut menggeser fokus pelayanan dari sekadar menangani penyakit ketika sudah terjadi menjadi upaya salah satu fondasi untuk mencegah kasus berkembang menjadi kondisi yang membutuhkan pelayanan lebih kompleks.

Upaya tersebut antara lain mencakup pengendalian tekanan darah dan gula darah, pemeriksaan HbA1C secara berkala, kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, hingga pemantauan peserta dengan risiko tinggi.

Pendekatan tersebut menggeser fokus pelayanan dari sekadar menangani penyakit ketika sudah terjadi menjadi upaya mengurangi risiko sejak awal.

Sementara di rumah sakit, BPJS Kesehatan mendorong pelayanan yang lebih berorientasi pada mutu dan hasil klinis.

Sejumlah pendekatan yang dikembangkan mencakup pengambilan keputusan melalui Heart Team, tata laksana klinis berdasarkan pedoman, pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR), serta staged revascularization.

Perubahan pendekatan juga menyasar cara mengukur kualitas layanan.

BPJS Kesehatan mendorong agar monitoring mutu penjaminan pelayanan intervensi jantung tidak hanya berfokus pada indikator proses, tetapi semakin mengarah pada indikator outcome.

Indikator yang dipantau mencakup waktu tanggap dalam kondisi kritis, keselamatan setelah tindakan, akurasi intervensi, kualitas pemulihan, kepatuhan terhadap protokol, hingga efisiensi sistem rujukan.

“Kita ingin mengubah paradigma dari paying for services menjadi purchasing better outcomes, dari treating events menjadi preventing events, serta dari mengukur utilisasi menjadi mengukur outcome,” kata Pujo.

Implementasi pelayanan jantung berbasis mutu juga menjadi perhatian Rumah Sakit Tingkat II Dustira.

Kepala Rumah Sakit Tingkat II Dustira Muchlas Fahmi mengatakan rumah sakit berkomitmen meningkatkan kualitas layanan penyakit jantung, termasuk bagi peserta JKN.

Tingginya kebutuhan layanan terlihat dari jumlah pasien yang mendapatkan pelayanan catheterization laboratory atau cathlab.

“Pemanfaatan layanan jantung oleh peserta JKN di RS Dustira bisa dikatakan tinggi. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, RS Dustira telah melayani 975 pasien cathlab yang semuanya merupakan peserta JKN,” ungkap Muchlasampaikan Pamen Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Lingkungan Hidup, Tri Adrijanto Santoso, yang mewakili Panglima Komando Daerah Militer III Sili.

Menurut dia, pelayanan kesehatan merupakan proses berkelanjutan sehingga peningkatan kualitas tidak dapat dilakukan hanya sesekali.

Selain kecepatan dan ketepatan, aspek keselamatan, mutu, serta orientasi pada kebutuhan pasien juga menjadi bagian dari pelayanan yang perlu terus diperkuat.

Dukungan terhadap penguatan pelayanan kesehatan juga disampaikan Pamen Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Lingkungan Hidup, Tri Adrijanto Santoso, yang mewakili Panglima Komando Daerah Militer III Siliwangi.

Menurut Tri, kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada teknologi yang tersedia di fasilitas kesehatan.

Akses masyarakat, kecepatan memperoleh pelayanan, dan kualitas layanan juga menjadi faktor penting.

“Kodam III Siliwangi mendukung program pemerintah dalam upaya promotif dan preventif, termasuk melalui edukasi kepada masyarakat. Dengan kolabor beban pembiayaan penyakit jantung yang mencapai Rp17,35 triliun pada 2025, tantangan JKN bukan hanya bagaimana membasi lintas sektor diharapkan dapat menjadi kontribusi positif dalam peningkatan kualitas kesehatan,” ujarnya.

Koordinator BPJS Watch, Timbul Siregar, menilai penyakit jantung perlu mendapat perhatian karena termasuk penyakit dengan biaya tinggi yang dijamin Program JKN.

Menurut dia, upaya menekan kasus tidak cukup hanya dilakukan ketika peserta sudah membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Promosi kesehatan dan pencegahan, termasuk mendorong pola hidup sehat, perlu diperkuat.

“Penyakit jantung perlu menjadi perhatian pemerintah karena salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penyakit tersebut berkaitan dengan gaya hidup. Untuk menekan tingginya angka penyakit tersebut, diperlukan upaya promotif dan preventif, termasuk menerapkan pola hidup sehat,” kata Timbul.

Ia juga menilai pendekatan berbasis Value-Based Health Care dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi Program JKN dengan menjadikan outcome sebagai salah satu fokus utama.

Dengan beban pembiayaan penyakit jantung yang mencapai Rp17,35 triliun pada 2025, tantangan JKN bukan hanya bagaimana membiayai semakin banyak layanan, tetapi juga bagaimana mendorong sistem agar kasus dapat dicegah, pelayanan lebih tepat, dan hasil kesehatan pasien menjadi ukuran penting keberhasilan layanan.(*)




Peserta JKN Tembus 284,3 Juta, BPJS Kesehatan Kini Kejar Mutu Layanan

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID — Cakupan kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini telah mencapai sekitar 284,3 juta penduduk, atau lebih dari 98,6 persen populasi Indonesia.

Setelah mengejar perluasan kepesertaan, BPJS Kesehatan kini menggeser perhatian pada tantangan berikutnya: memastikan masyarakat benar-benar mendapatkan layanan kesehatan yang bermutu.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengatakan tingginya cakupan JKN harus diikuti peningkatan kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan.

Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang terdaftar.

“Tugas kita bukan hanya memastikan masyarakat terdaftar sebagai peserta, tetapi juga menjamin bahwa ketika membutuhkan pelayanan kesehatan, mereka memperoleh layanan yang bermutu serta perlindungan dari risiko finansial,” ujar Pujo dalam Pertemuan Nasional Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan Tahun 2026, Selasa 15 September 2026.

Per 1 September 2026, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 23.816 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 3.221 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), serta 7.180 sarana penunjang.

Pertumbuhan jaringan fasilitas kesehatan tersebut menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan JKN.

Namun, BPJS Kesehatan menilai kuantitas fasilitas dan pelayanan perlu berjalan beriringan dengan kualitas serta hasil kesehatan yang diterima peserta.

Besarnya skala Program JKN juga tercermin dari pembiayaan pelayanan kesehatan.

Sepanjang 2014 hingga 2025, BPJS Kesehatan telah membayarkan lebih dari Rp1.279,8 triliun kepada fasilitas kesehatan untuk pelayanan peserta JKN.

Pujo menilai angka tersebut menunjukkan besarnya sumber daya yang dikelola dalam sistem jaminan kesehatan nasional.

Karena itu, penggunaan sumber daya harus semakin diarahkan pada pelayanan yang benar-benar dibutuhkan peserta dan memberikan hasil kesehatan optimal.

“Transformasi yang perlu kita bangun bersama adalah dari volume menuju value,” katanya.

Konsep yang didorong BPJS Kesehatan adalah value-based care, yakni pendekatan yang tidak sekadar melihat seberapa banyak pelayanan diberikan, tetapi juga mempertimbangkan ketepatan tindakan medis dan hasil kesehatan yang diperoleh pasien.

“Value-based care bukan tentang mengurangi pelayanan, tetapi memastikan peserta memperoleh pelayanan yang tepat, pada waktu yang tepat, sesuai kebutuhan medis, dengan hasil kesehatan yang terbaik,” ujar Pujo.

Untuk mendorong perubahan tersebut, BPJS Kesehatan memberikan Seva Paramahita Award 2026 kepada fasilitas kesehatan yang dinilai memiliki komitmen dan kinerja terbaik dalam memberikan pelayanan kepada peserta JKN.

Pujo berharap fasilitas kesehatan penerima penghargaan tidak hanya menjadi penerima apresiasi, tetapi juga menjadi rujukan bagi fasilitas lain dalam menerapkan praktik pelayanan yang lebih baik.

“Fasilitas kesehatan yang memperoleh penghargaan hari ini diharapkan bisa menjadi role model, menjadi tempat bertukar ilmu, serta ikut menyebarluaskan praktik-praktik baik dalam peningkatan mutu, inovasi, dan akuntabilitas pelayanan JKN,” katanya.

Penguatan mutu juga diarahkan pada pengalaman peserta ketika berhadapan langsung dengan sistem pelayanan.

BPJS Kesehatan memperkenalkan wajah baru Petugas BPJS SATU atau BPJS Siap Membantu, yang ditujukan untuk memperkuat fungsi informasi dan pendampingan bagi peserta saat mengakses layanan kesehatan.

Selain kualitas layanan, BPJS Kesehatan juga memperkuat sisi pembiayaan melalui koordinasi dengan Asuransi Kesehatan Tambahan (AKT).

Koordinasi tersebut dilakukan melalui skema Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan (KAPJ).

Melalui mekanisme tersebut, peserta JKN yang memiliki asuransi kesehatan tambahan dapat memperoleh manfaat kenaikan kelas perawatan dengan pembagian pembiayaan antara BPJS Kesehatan dan perusahaan asuransi tambahan sesuai ketentuan.

Skema tersebut juga mencakup koordinasi kepesertaan, sistem tagihan satu pintu serta pembagian selisih biaya pelayanan.

Menurut Pujo, integrasi tersebut diharapkan membuat ekosistem pembiayaan kesehatan lebih efektif sekaligus memperkuat pengalaman peserta.

“Peluncuran wajah baru BPJS SATU serta penandatanganan kerja sama dengan Asuransi Kesehatan Tambahan menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk semakin memperkuat pengalaman peserta serta membangun koordinasi pembiayaan kesehatan yang lebih terintegrasi, efektif, dan berorientasi pada kualitas,” tuturnya.

Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Stevanus Adrianto Passat, mengatakan perluasan akses JKN harus berjalan seimbang dengan peningkatan mutu dan keberlanjutan program.

Menurutnya, fasilitas kesehatan berada di garis depan karena menjadi titik pertemuan langsung antara peserta dan sistem JKN.

Karena itu, pelayanan dituntut tidak hanya mudah diakses, tetapi juga berkualitas, aman, cepat dan berkeadilan.

Dari sisi tata kelola, Dewan Pengawas juga mendorong penguatan transparansi, akuntabilitas, kepatuhan regulasi, pengelolaan risiko serta perlindungan hak peserta.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menambahkan bahwa kekuatan sistem jaminan kesehatan sangat bergantung pada kapasitas fasilitas kesehatan.

“Tidak ada sistem jaminan kesehatan yang kuat tanpa didukung fasilitas kesehatan yang kuat,” tegas Maria.

Ia menilai transformasi kesehatan harus berjalan bersama transformasi mutu layanan, termasuk dengan memperkuat sumber daya manusia, sarana dan prasarana, ketersediaan obat serta pemeriksaan penunjang.

Penguatan tersebut menjadi semakin penting di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Republik Indonesia, Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, menegaskan pemerintah akan terus memperkuat JKN agar mampu memberikan perlindungan kesehatan yang berkualitas, inklusif dan berkelanjutan.

Menurutnya, JKN merupakan bentuk gotong royong nasional yang membutuhkan kontribusi seluruh pihak.

Pemerintah memiliki peran melalui kebijakan, regulasi dan pembiayaan.

Peserta perlu menjaga kepesertaan tetap aktif, sedangkan fasilitas kesehatan bertanggung jawab memberikan pelayanan sesuai standar dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Program JKN adalah gotong royong raksasa bangsa ini yang harus kita jaga bersama,” kata Cak Imin.

Ia menekankan tujuan akhir sistem tersebut bukan sekadar memperbesar angka kepesertaan, melainkan memastikan masyarakat memperoleh perlindungan ketika menghadapi persoalan kesehatan.

“Kita ingin memastikan tidak ada lagi masyarakat yang merasa harus takut jatuh miskin karena sakit,” tegasnya.

Dengan cakupan yang telah mendekati seluruh penduduk Indonesia, pekerjaan rumah JKN kini semakin bergeser.

Tantangannya bukan hanya bagaimana memperluas akses, tetapi memastikan setiap rupiah pembiayaan menghasilkan pelayanan yang tepat, aman dan berdampak terhadap kesehatan peserta.

Perubahan orientasi dari volume menuju value pun menjadi salah satu agenda penting BPJS Kesehatan dalam menjaga kualitas sekaligus keberlanjutan Program JKN.(*)




BPJS Kesehatan Ubah Standar Layanan JKN, CX126 Jadi Ujian 126 Kantor Cabang

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kualitas pelayanan bukan lagi sebatas seberapa cepat urusan selesai di loket.

Kepastian informasi, kemudahan akses, konsistensi pelayanan hingga kemampuan petugas memberikan solusi kini menjadi bagian penting yang ikut menentukan tingkat kepercayaan masyarakat.

Kondisi itu mendorong BPJS Kesehatan memperkuat evaluasi pelayanan melalui Customer eXcellence 126 (CX126).

Program tersebut dirancang untuk mengukur penerapan customer excellence di 126 Kantor Cabang BPJS Kesehatan sekaligus mencari praktik pelayanan terbaik yang bisa diterapkan di cabang lainnya.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujo Waskito mengatakan perubahan ekspektasi masyarakat terhadap layanan publik membuat pengalaman peserta memiliki posisi semakin penting.

Menurutnya, keterbukaan informasi membuat masyarakat semakin mudah membandingkan kualitas pelayanan.

Karena itu, BPJS Kesehatan dituntut tidak hanya menyediakan layanan yang tersedia, tetapi memastikan pengalaman peserta tetap baik di berbagai titik layanan.

“Customer experience adalah pilar utama pembentuk reputasi dan kepercayaan publik,” ujar Pujo, Jumat (4/9).

Ia menegaskan, kebutuhan peserta JKN terus berkembang. Peserta membutuhkan akses yang mudah sekaligus informasi yang jelas dan pelayanan yang konsisten, baik ketika datang langsung ke Kantor Cabang maupun menggunakan kanal digital.

Kanal tersebut antara lain Care Center 165, Mobile JKN, PANDAWA dan berbagai layanan digital BPJS Kesehatan lainnya.

CX126 tidak dirancang hanya untuk menentukan kantor cabang mana yang memiliki nilai penilaian paling tinggi.

BPJS Kesehatan ingin membedah faktor yang membuat sebuah kantor cabang mampu menghadirkan pelayanan unggul.

Penilaian dilakukan melalui delapan pilar, yakni Customer Experience, Operational Performance, Digital Maturity, Governance, Risk Management, Stakeholder Engagement, People Excellence, dan Organizational Culture.

Suara peserta juga masuk dalam penilaian melalui pendekatan Voice of Customer.

Dengan mekanisme tersebut, pengalaman peserta tidak hanya diposisikan sebagai masukan setelah pelayanan selesai, tetapi menjadi bagian dari ukuran kualitas pelayanan itu sendiri.

Pujo mengatakan praktik yang terbukti efektif di satu kantor cabang seharusnya tidak berhenti sebagai prestasi lokal.

“Best practice yang telah teruji harus kita replikasi, sehingga pelayanan terbaik menjadi standar kolektif kita bersama,” katanya.

Artinya, keberhasilan sebuah kantor cabang tidak cukup hanya diapresiasi. Pola kerja, inovasi, teknologi maupun budaya pelayanan yang menjadi faktor keberhasilan perlu dipelajari dan diterapkan di wilayah lain.

Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Stevanus Adrianto Passat menilai kualitas pelayanan merupakan bentuk paling nyata dari kehadiran Program JKN yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia menyebut sejumlah aspek seperti kemudahan akses, kejelasan informasi, keamanan proses dan kepastian solusi memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman peserta.

Stevanus mengingatkan agar CX126 tidak berhenti sebagai ajang penilaian atau pemberian penghargaan. Hasil asesmen harus diterjemahkan menjadi perbaikan yang jelas dan dapat diukur.

“CX126 perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan perbaikan organisasi yang berkelanjutan,” tegas Stevanus.

Ia berharap praktik pelayanan terbaik dapat direplikasi hingga terbentuk standar yang relatif konsisten di seluruh Kantor Cabang BPJS Kesehatan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan semata-mata berapa banyak cabang yang mendapatkan predikat terbaik.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah peserta JKN di berbagai daerah benar-benar merasakan perubahan kualitas pelayanan.

Stevanus menekankan, peserta di mana pun berada harus mendapatkan pengalaman layanan yang semakin mudah, cepat, setara dan dapat diandalkan.

Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan Akmal Budi Yulianto menambahkan bahwa kualitas pelayanan tidak otomatis ditentukan oleh ukuran sebuah kantor cabang.

Lokasi maupun tingkat kesulitan wilayah juga bukan satu-satunya faktor penentu.

Menurut Akmal, keunggulan pelayanan terbentuk ketika kepemimpinan, proses kerja, teknologi, sumber daya manusia dan budaya pelayanan mampu bergerak dalam arah yang sama.

Dengan pendekatan tersebut, CX126 bukan hanya menjadi instrumen untuk mencari kantor cabang terbaik.

Program ini diarahkan menjadi mekanisme untuk menyebarkan cara kerja yang efektif ke seluruh jaringan pelayanan BPJS Kesehatan.

Tantangannya kemudian bukan hanya menemukan inovasi pelayanan, tetapi memastikan inovasi tersebut dapat diterapkan secara konsisten sehingga peserta JKN memperoleh standar pengalaman yang tidak jauh berbeda, di mana pun mereka mengakses layanan.

Bagi peserta, perubahan itu pada akhirnya akan diuji pada hal yang sederhana: apakah layanan mudah diakses, informasi yang diterima jelas, proses berjalan cepat dan ketika muncul persoalan, ada solusi yang benar-benar diberikan.(*)




Sinsen Rayakan HUT ke-59 dengan Aksi Donor Darah, Libatkan Karyawan hingga Warga

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Perayaan ulang tahun perusahaan tak selalu identik dengan seremoni.

PT Sinar Sentosa Primatama (Sinsen), Main Dealer sepeda motor Honda di Provinsi Jambi, memilih merayakan usia ke-59 dengan menggelar aksi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat: donor darah.

Mengusung tema “Menggerakkan Mobilitas, Menyelamatkan Kehidupan”, kegiatan tersebut berlangsung di Main Dealer Sinsen Paal VI, Jambi, Kamis 6 AGusuts 2026.

Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jambi, kegiatan ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari karyawan Sinsen, relasi perusahaan hingga masyarakat umum.

Tidak hanya donor darah, peserta juga memperoleh pemeriksaan kesehatan secara gratis.

Yang menarik, aksi sosial tersebut bukan kegiatan insidental. Donor darah telah menjadi bagian dari agenda sosial Sinsen dan tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-23.

HUT perusahaan dirayakan dengan aksi nyata

Corporate Social Responsibility Sinsen, Lydia Syahada, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menerjemahkan semangat “Sinergi Bagi Negeri” dalam bentuk yang memberikan manfaat langsung.

Menurut Lydia, pertumbuhan perusahaan tidak semestinya hanya dilihat dari sisi bisnis. Kontribusi kepada lingkungan sosial juga menjadi bagian dari keberlanjutan perusahaan.

“Pertumbuhan yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari pencapaian perusahaan, tetapi juga dari kontribusi nyata yang dapat kami berikan kepada masyarakat,” kata Lydia.

Ia mengatakan donor darah dipilih karena satu kantong darah yang disumbangkan dapat memiliki arti penting bagi orang lain yang membutuhkan.

Melalui tema “Menggerakkan Mobilitas, Menyelamatkan Kehidupan”, Sinsen ingin mendorong keluarga besar perusahaan sekaligus masyarakat untuk terlibat dalam aksi kemanusiaan.

“Sebab, setiap tetes darah yang didonorkan bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi juga harapan baru bagi mereka yang membutuhkan,” ujarnya.

Konsistensi CSR Sinsen di Jambi

Masuknya kegiatan donor darah tahun ini sebagai agenda ke-23 menunjukkan upaya Sinsen menjaga kesinambungan program sosial perusahaan.

Bagi Sinsen, kegiatan tersebut bukan hanya bagian dari rangkaian HUT ke-59, tetapi juga sarana membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Perusahaan berharap kegiatan serupa dapat mendorong semakin banyak masyarakat untuk terlibat dalam aksi donor darah dan kegiatan sosial lainnya.

Sinsen menyatakan komitmen untuk terus menjalankan berbagai program yang memberi manfaat bagi masyarakat di Provinsi Jambi.

“Semangat Sinergi Bagi Negeri akan terus kami hadirkan melalui berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Lydia.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PMI Kota Jambi serta seluruh karyawan, relasi dan masyarakat yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Terima kasih, selalu Satu HATI,” tutupnya.(*)




Fakta atau Mitos: Tidur Tanpa Pakaian Bisa Bikin Lebih Produktif?

SEPUCUKJAMBI.ID – Kebiasaan tidur tanpa pakaian belakangan kembali menjadi perbincangan di ruang digital setelah sejumlah artikel gaya hidup menyoroti potensi manfaatnya bagi kualitas tidur, kesehatan tubuh, hingga kondisi psikologis seseorang.

Meski bukan hal baru, praktik ini masih tergolong tidak umum.

Survei yang dikutip dari berbagai sumber menunjukkan hanya sebagian kecil orang yang terbiasa tidur tanpa busana, namun jumlahnya diperkirakan meningkat seiring meningkatnya perhatian terhadap kualitas tidur.

Sejumlah penelitian dan pandangan ahli tidur menyebutkan bahwa kualitas tidur yang baik memang berperan penting terhadap fungsi kognitif, stabilitas emosi, hingga produktivitas seseorang di siang hari.

Namun, apakah benar tidur tanpa pakaian menjadi faktor penentu kesuksesan hidup seperti yang sering diklaim di media sosial?

Kualitas Tidur Jadi Kunci Utama, Bukan Sekadar Kebiasaan

Para ahli kesehatan tidur menegaskan bahwa faktor utama yang memengaruhi performa harian adalah kualitas tidur secara keseluruhan, bukan semata pilihan pakaian saat tidur.

Tidur yang nyenyak membantu otak melakukan proses pemulihan, termasuk konsolidasi memori dan pembuangan sisa metabolisme di otak.

Proses ini diyakini berperan penting dalam menjaga fokus, daya ingat, dan kestabilan emosi seseorang keesokan harinya.

Namun, faktor seperti suhu kamar, kenyamanan kasur, dan rutinitas sebelum tidur memiliki pengaruh yang jauh lebih signifikan dibandingkan sekadar mengenakan atau tidak mengenakan pakaian tidur.

Potensi Manfaat Tidur Tanpa Pakaian

Beberapa studi kecil dan laporan kesehatan gaya hidup menyebutkan bahwa tidur tanpa pakaian dapat memberikan sejumlah efek yang dirasakan sebagian orang, di antaranya:

1. Membantu pengaturan suhu tubuh

Tidur tanpa pakaian dapat membantu tubuh lebih mudah menyesuaikan suhu, terutama di lingkungan yang hangat. Suhu tubuh yang lebih stabil dapat membantu sebagian orang lebih cepat tertidur.

2. Meningkatkan rasa nyaman saat tidur

Sebagian individu merasa lebih bebas dan tidak terbatasi oleh pakaian tidur, sehingga kualitas tidur mereka menjadi lebih baik secara subjektif.

3. Berpotensi mendukung relaksasi

Tidur dalam kondisi rileks dapat membantu menurunkan tingkat stres. Namun, efek ini lebih dipengaruhi oleh kualitas tidur secara keseluruhan, bukan semata-mata tanpa pakaian.

4. Mendukung hubungan pasangan (dalam konteks tertentu)

Beberapa penelitian gaya hidup menyebutkan bahwa kontak fisik antar pasangan saat tidur dapat meningkatkan rasa kedekatan emosional, namun hal ini bersifat individual dan tidak berlaku umum.

Klaim “Meningkatkan Kesuksesan” Perlu Dilihat Secara Kritis

Sejumlah narasi di media sosial mengaitkan kebiasaan tidur tanpa pakaian dengan peningkatan produktivitas, bahkan kesuksesan karier dan kondisi finansial.

Namun, para ahli menilai klaim tersebut tidak memiliki hubungan langsung yang kuat secara ilmiah.

Peningkatan performa kerja lebih banyak dipengaruhi oleh pola tidur yang konsisten, manajemen stres, pola makan, dan aktivitas fisik.

Dengan kata lain, tidur tanpa pakaian bukanlah “kunci sukses”, melainkan salah satu preferensi gaya hidup yang mungkin membantu sebagian orang merasa lebih nyaman saat beristirahat.

Kesimpulan: Kembali ke Kualitas Tidur yang Sehat

Tidur tanpa pakaian dapat memberikan kenyamanan bagi sebagian orang, terutama terkait suhu tubuh dan relaksasi.

Namun, manfaatnya bersifat individual dan tidak dapat digeneralisasi sebagai faktor penentu kesuksesan hidup.

Fokus utama yang lebih penting adalah menjaga kualitas tidur yang baik, durasi yang cukup, serta kebiasaan hidup sehat secara menyeluruh.

Dengan demikian, setiap orang dapat memilih pola tidur yang paling sesuai dengan kenyamanan tubuh masing-masing tanpa terjebak pada klaim berlebihan yang tidak sepenuhnya didukung bukti ilmiah.(*)




Perut Buncit Bisa Picu Penyakit Serius, Ini Cara Menguranginya

SEPUCUKJAMBI.ID – Perut buncit kerap dianggap sekadar persoalan penampilan.

Namun di balik itu, kondisi ini juga dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan kesehatan yang lebih serius, mulai dari obesitas hingga penyakit jantung.

Kondisi penumpukan lemak di area perut diketahui berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2, sesak napas, hingga gangguan kardiovaskular.

Meski banyak orang mencoba berbagai cara instan seperti konsumsi air lemon dan madu, hasilnya sering kali tidak signifikan jika tidak dibarengi dengan perubahan gaya hidup secara menyeluruh.

Ahli kesehatan menegaskan bahwa kunci utama untuk mengurangi lemak perut bukan hanya pada satu jenis minuman atau diet tertentu, melainkan perubahan pola hidup secara konsisten.

Berdasarkan informasi dari laman Kementerian Kesehatan RI, berikut sejumlah langkah yang dapat membantu mengurangi lemak perut secara bertahap dan sehat.

1. Perbanyak Serat dan Protein

Asupan tinggi serat dan protein membantu memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga nafsu makan lebih terkontrol.

Sumber protein yang disarankan antara lain telur, ikan, dada ayam, kacang-kacangan, susu, dan daging rendah lemak.

2. Batasi Gula dan Karbohidrat Olahan

Gula berlebih menjadi salah satu pemicu utama penumpukan lemak di area perut.

Minuman manis, soda, hingga makanan berbasis tepung olahan seperti roti, kue, dan sereal perlu dibatasi untuk mencegah penimbunan lemak.

3. Kurangi Konsumsi Alkohol

Konsumsi alkohol dalam jangka panjang dapat meningkatkan lemak visceral di perut.

Selain itu, alkohol juga dikaitkan dengan risiko penyakit serius seperti hepatitis, kanker, hingga sirosis hati.

4. Kelola Stres dengan Baik

Stres yang tidak terkontrol dapat memicu peningkatan hormon yang meningkatkan nafsu makan. Kondisi ini berpotensi membuat seseorang makan berlebihan tanpa disadari.

5. Tidur yang Cukup

Kurang tidur dapat mengganggu hormon pengatur rasa lapar sehingga meningkatkan keinginan makan. Tidur ideal sekitar tujuh jam per malam membantu menjaga metabolisme tubuh tetap stabil.

6. Kunyah Makanan Lebih Lambat

Mengunyah secara perlahan memberi waktu bagi otak untuk menerima sinyal kenyang lebih cepat, sehingga membantu mengurangi porsi makan secara alami.

7. Gunakan Piring Berukuran Kecil

Strategi sederhana ini dapat membantu mengontrol porsi makan. Piring kecil membuat makanan terlihat lebih banyak sehingga membantu mengurangi konsumsi berlebihan.

8. Cukupi Kebutuhan Cairan

Minum air putih sebelum makan dapat membantu menekan rasa lapar. Konsumsi sekitar setengah liter air 30 menit sebelum makan dapat membantu mengurangi porsi makan.

9. Jangan Lewatkan Sarapan

Sarapan berperan penting dalam menjaga pola makan sepanjang hari. Kebiasaan ini dapat mencegah makan berlebihan pada siang atau malam hari.

10. Batasi Asupan Natrium

Makanan tinggi garam dapat menyebabkan tubuh menahan cairan sehingga tampak lebih bengkak. Mengurangi konsumsi natrium membantu menjaga bentuk tubuh tetap ideal.

Para ahli menekankan bahwa tidak ada cara instan untuk mengecilkan perut buncit. K

onsistensi dalam pola makan sehat, aktivitas fisik, serta gaya hidup seimbang menjadi faktor utama dalam menjaga berat badan ideal dan kesehatan jangka panjang.(*)




Kenali Ciri-Ciri Menjelang Meninggal Menurut Kondisi Medis

SEPUCUKJAMBI.ID – Menjelang akhir hayat, tubuh manusia umumnya mengalami berbagai perubahan fisik dan perilaku secara bertahap.

Kondisi tersebut dapat berbeda pada setiap orang tergantung usia, penyakit yang dialami, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Memahami tanda-tanda ini penting agar keluarga dapat memberikan pendampingan dan perawatan yang lebih nyaman bagi pasien di masa-masa terakhir kehidupannya.

Berikut beberapa ciri yang umum muncul sebelum seseorang meninggal dunia.

1. Tubuh Terasa Sangat Lemah

Salah satu tanda yang paling sering terjadi adalah tubuh kehilangan banyak energi.

Seseorang biasanya menjadi lebih sering tidur, sulit bangun, dan tidak lagi mampu melakukan aktivitas normal seperti sebelumnya.

2. Nafsu Makan dan Minum Menurun

Menjelang akhir hayat, tubuh membutuhkan energi lebih sedikit sehingga keinginan makan dan minum menurun drastis.

Kondisi ini umum terjadi pada pasien dengan penyakit kronis atau usia lanjut.

3. Perubahan Pola Napas

Pernapasan dapat menjadi lebih lambat, berat, atau tidak teratur.

Dalam beberapa kondisi, muncul jeda napas beberapa detik sebelum kembali bernapas.

Perubahan ini terjadi karena fungsi tubuh mulai melemah.

4. Penurunan Kesadaran

Pasien biasanya tampak lebih sering mengantuk, linglung, atau sulit merespons percakapan di sekitarnya.

Penurunan kesadaran dapat berlangsung secara bertahap.

5. Tangan dan Kaki Terasa Dingin

Sirkulasi darah mulai melambat sehingga bagian tubuh seperti tangan dan kaki terasa dingin.

Warna kulit juga dapat tampak pucat atau sedikit kebiruan.

6. Detak Jantung dan Tekanan Darah Menurun

Menjelang meninggal, detak jantung umumnya melemah dan tekanan darah menurun akibat fungsi organ tubuh yang semakin berkurang.

7. Perubahan Pola Buang Air Kecil

Produksi urine biasanya berkurang dan warnanya menjadi lebih pekat karena fungsi ginjal mulai menurun.

8. Menarik Diri dari Lingkungan Sekitar

Sebagian orang menjadi lebih pendiam dan tidak tertarik banyak berinteraksi dengan keluarga maupun lingkungan sekitar.

Kondisi ini termasuk hal yang umum terjadi menjelang akhir hayat.

Perubahan-perubahan tersebut merupakan bagian alami dari proses tubuh menjelang kematian.

Meski demikian, dukungan emosional, pendampingan keluarga, dan perawatan yang nyaman tetap sangat penting agar pasien merasa lebih tenang dan tidak mengalami ketidaknyamanan berlebihan.(*)




Jangan Salah Paham, Ini Ciri Paru-Paru Sehat dari Hasil Rontgen Dada

SEPUCUKJAMBI.ID – Rontgen dada atau toraks merupakan salah satu pemeriksaan medis yang paling umum digunakan untuk mendeteksi gangguan pada sistem pernapasan dan jantung.

Melalui hasil pencitraan ini, dokter dapat menilai kondisi rontgen dada untuk melihat struktur paru-paru, saluran pernapasan, hingga tulang rusuk secara menyeluruh.

Pada kondisi paru-paru yang sehat, hasil rontgen biasanya menunjukkan area paru berwarna lebih gelap.

Gambaran ini menandakan bahwa paru-paru terisi udara dengan baik tanpa adanya hambatan seperti cairan atau massa tertentu.

Selain itu, batas organ seperti jantung dan diafragma akan terlihat jelas dan teratur.

Sebaliknya, paru-paru yang mengalami gangguan sering memperlihatkan adanya bercak putih atau bayangan kabur pada hasil rontgen.

Kondisi ini dapat menjadi indikasi adanya infeksi atau peradangan pada sistem pernapasan.

Beberapa penyakit seperti pneumonia, tuberkulosis, atau bronkitis dapat meninggalkan pola tertentu yang terlihat pada hasil radiologi.

Pola tersebut kemudian dianalisis oleh dokter spesialis radiologi untuk membantu menegakkan diagnosis.

Selain munculnya bercak, perubahan bentuk atau ukuran paru juga bisa menjadi tanda adanya gangguan.

Paru-paru yang tampak terlalu mengembang atau justru mengempis dapat mengindikasikan masalah seperti asma kronis atau pneumotoraks yang memengaruhi tekanan udara dalam rongga dada.

Namun penting untuk dipahami bahwa hasil rontgen tidak boleh diinterpretasikan secara mandiri oleh pasien.

Penilaian medis tetap harus dilakukan oleh dokter dengan mempertimbangkan gejala klinis serta hasil pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

Jika hasil rontgen menunjukkan adanya kelainan, langkah terbaik adalah segera melakukan konsultasi medis lanjutan.

Deteksi dini melalui rontgen sangat penting untuk mencegah kondisi paru-paru berkembang menjadi lebih serius dan berisiko tinggi bagi kesehatan.(*)




Wajib Tahu! Cara Menggunakan Alat Cek Gula Darah yang Benar

SEPUCUKJAMBI.ID – Alat tes gula darah menjadi perangkat penting untuk memantau kadar glukosa dalam tubuh, terutama bagi penderita Diabetes.

Dengan alat ini, seseorang dapat mengetahui kondisi gula darah secara cepat dan akurat, bahkan dari rumah.

Apa Itu Alat Tes Gula Darah?

Alat tes gula darah adalah perangkat medis yang digunakan untuk mengukur kadar glukosa dalam darah.

Umumnya, alat ini bekerja dengan mengambil sedikit sampel darah dari ujung jari, lalu menampilkan hasilnya hanya dalam beberapa detik.

Penggunaan alat ini cukup sederhana, sehingga banyak orang dapat menggunakannya secara mandiri tanpa harus ke fasilitas kesehatan.

Jenis Alat Tes Gula Darah

Beberapa jenis alat yang umum digunakan antara lain:

1. Glukometer

Glukometer adalah alat paling populer. Bentuknya kecil, mudah dibawa, dan hasilnya cepat. Pengguna hanya perlu menggunakan strip tes dan sedikit darah.

2. Continuous Glucose Monitoring (CGM)

Continuous Glucose Monitoring memungkinkan pemantauan kadar gula secara terus-menerus tanpa harus sering menusuk jari.

Alat ini biasanya digunakan oleh penderita diabetes yang membutuhkan pemantauan intensif.

Manfaat Menggunakan Alat Tes Gula Darah

Penggunaan alat ini memberikan banyak manfaat, di antaranya:

  • Memantau kadar gula darah secara rutin
  • Mengetahui perubahan gula darah setelah makan atau olahraga
  • Membantu mengontrol kondisi diabetes
  • Mencegah risiko komplikasi kesehatan

Dengan pemantauan yang rutin, pengelolaan kesehatan menjadi lebih terarah.

Cara Menggunakan yang Benar

Agar hasil pengukuran akurat, perhatikan hal berikut:

  • Pastikan tangan dalam kondisi bersih sebelum tes
  • Gunakan strip tes yang sesuai dan belum kedaluwarsa
  • Ikuti petunjuk penggunaan alat dengan benar
  • Simpan alat di tempat yang aman dan kering

Kesalahan kecil dalam penggunaan bisa memengaruhi hasil pengukuran.

Seberapa Sering Harus Cek Gula Darah?

Frekuensi pemeriksaan tergantung kondisi masing-masing.

Penderita diabetes biasanya perlu melakukan pemeriksaan rutin setiap hari, sementara orang sehat dapat melakukannya sesuai kebutuhan atau anjuran dokter.

Tetap Jaga Pola Hidup Sehat

Selain mengandalkan alat tes, menjaga gaya hidup tetap menjadi kunci utama:

  • Konsumsi makanan sehat dan seimbang
  • Rutin berolahraga
  • Kelola stres dengan baik

Langkah ini membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Kesimpulan

Alat tes gula darah adalah solusi praktis untuk memantau kesehatan, khususnya bagi penderita diabetes.

Dengan penggunaan yang tepat dan gaya hidup sehat, risiko komplikasi dapat ditekan dan kualitas hidup tetap terjaga.(*)




Kaki Bengkak Bisa Jadi Tanda Masalah Jantung, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

SEPUCUKJAMBI.ID – Kaki bengkak sering dianggap sepele, padahal kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan serius, termasuk masalah pada jantung.

Dalam dunia medis, pembengkakan ini dikenal sebagai Edema, yaitu kondisi ketika cairan menumpuk di jaringan tubuh.

Hubungan Kaki Bengkak dengan Jantung

Salah satu penyebab utama kaki bengkak adalah gangguan fungsi jantung, seperti Gagal Jantung.

Ketika jantung tidak mampu memompa darah secara maksimal, aliran darah menjadi lambat dan cairan dapat menumpuk, terutama di bagian kaki dan pergelangan.

Kondisi ini biasanya terjadi secara bertahap dan bisa semakin parah jika tidak segera ditangani.

Ciri-Ciri Kaki Bengkak karena Jantung

Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai, antara lain:

  • Pembengkakan terjadi di kedua kaki, terutama di pergelangan
  • Kulit tampak kencang dan mengkilap
  • Muncul bekas lekukan saat ditekan
  • Disertai sesak napas
  • Mudah lelah
  • Berat badan meningkat akibat penumpukan cairan

Berbeda dengan pembengkakan biasa, kondisi akibat gangguan jantung cenderung berlangsung terus-menerus dan tidak cepat hilang.

Kapan Harus Waspada?

Pembengkakan biasanya terasa lebih parah setelah duduk atau berdiri lama.

Namun, jika tidak kunjung membaik atau justru semakin memburuk, hal ini bisa menjadi tanda masalah serius pada jantung.

Segera periksakan diri jika disertai gejala seperti:

  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Kelelahan ekstrem

Cara Mengatasi Kaki Bengkak

Penanganan utama adalah mengatasi penyebabnya. Dokter biasanya akan memberikan obat seperti diuretik untuk membantu mengurangi cairan dalam tubuh.

Selain itu, perubahan gaya hidup juga sangat penting:

  • Mengurangi konsumsi garam
  • Menjaga berat badan ideal
  • Rutin berolahraga
  • Mengangkat kaki saat beristirahat

Langkah-langkah ini dapat membantu memperlancar aliran darah dan mengurangi pembengkakan.

Pentingnya Deteksi Dini

Kaki bengkak bukan hanya masalah ringan. Jika berkaitan dengan gangguan jantung, kondisi ini bisa menjadi tanda awal yang penting untuk dikenali.

Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi yang lebih serius di kemudian hari.(*)