Beras Premium Kemasan 5 Kg Hilang dari Sejumlah Pasar Jambi, Ini Penyebabnya

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Konsumen di Kota Jambi mulai kesulitan menemukan beras premium kemasan 5 kilogram di sejumlah pasar.

Kelangkaan tersebut terpantau di pasar tradisional hingga jaringan ritel modern.

Kondisi itu terungkap dalam pemantauan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi bersama Tim Satgas Pangan dan Bulog di sejumlah titik penjualan pada Sabtu lalu.

Salah satu lokasi yang mengalami kekosongan adalah Pasar Angso Duo.

Beberapa merek beras premium kemasan 5 kilogram yang selama ini beredar, di antaranya Belido dan Topi Koki, disebut tidak lagi ditemukan saat pemantauan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi, Johansyah, membenarkan kondisi tersebut.

“Memang khususnya di Pasar Angso Duo, beras kemasan 5 kilo yang premium dari beberapa jenis beras premium itu tidak dapat kita jumpai lagi,” ujar Johansyah.

Gangguan pasokan tersebut ternyata bukan semata-mata disebabkan tingginya permintaan di Jambi.

Johansyah menyebut distributor beras dari Palembang untuk sementara menghentikan produksi beras premium kemasan 5 kilogram.

Keputusan tersebut dipengaruhi meningkatnya biaya produksi, terutama harga bahan kemasan dan ongkos distribusi.

Di sisi lain, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi persoalan yang ikut membebani proses distribusi.

Akibat tekanan biaya tersebut, produksi beras kemasan 5 kilogram diperkirakan berhenti selama sekitar dua bulan.

“Ini dikarenakan biaya kemasannya sudah naik. Kemudian ongkos angkutnya juga meningkat. Belum lagi ditambah susahnya mendapat BBM,” jelas Johansyah.

Kondisi ini berpotensi membuat pilihan beras premium kemasan di tingkat konsumen semakin terbatas jika pasokan alternatif belum segera masuk ke pasar.

Meski beras premium kemasan 5 kilogram dari sejumlah merek mengalami kekosongan, pemerintah memastikan masyarakat masih memiliki pilihan pasokan lain.

Bulog menyiapkan beras SPHP jenis medium serta beras premium Befood untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Konsumen dapat memperoleh beras tersebut melalui gudang Bulog maupun toko TPID yang berada di Pasar Angso Duo dan Pasar Talang Banjar.

Johansyah memastikan beras yang disediakan Bulog dijual mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

Pemerintah pun mengarahkan masyarakat yang kesulitan mendapatkan beras premium kemasan 5 kilogram di pasar untuk sementara beralih ke produk yang disediakan Bulog.

“Bagi masyarakat yang ingin mencari beras medium seperti jenis Belido dan sebagainya, kami arahkan membeli beras Bulog, baik medium SPHP maupun premium Befood,” katanya.

Selain mengandalkan stok Bulog, upaya menambah pasokan juga dilakukan melalui sektor swasta.

Bulog pusat telah meminta perusahaan swasta, termasuk Wilmar, untuk membantu memasok beras ke pasar tradisional maupun ritel modern.

Namun, waktu masuknya pasokan tambahan tersebut ke Jambi belum dapat dipastikan.

Artinya, dalam waktu dekat konsumen masih berpotensi menghadapi keterbatasan pilihan beras premium kemasan 5 kilogram, terutama untuk merek tertentu yang pasokannya bergantung pada distributor dari Palembang.

Pemerintah kini mengandalkan pasokan Bulog sebagai salah satu penyangga untuk menjaga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama distribusi beras premium kembali normal.(*)




Peserta JKN Tembus 284,3 Juta, BPJS Kesehatan Kini Kejar Mutu Layanan

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID — Cakupan kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini telah mencapai sekitar 284,3 juta penduduk, atau lebih dari 98,6 persen populasi Indonesia.

Setelah mengejar perluasan kepesertaan, BPJS Kesehatan kini menggeser perhatian pada tantangan berikutnya: memastikan masyarakat benar-benar mendapatkan layanan kesehatan yang bermutu.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengatakan tingginya cakupan JKN harus diikuti peningkatan kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan.

Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang terdaftar.

“Tugas kita bukan hanya memastikan masyarakat terdaftar sebagai peserta, tetapi juga menjamin bahwa ketika membutuhkan pelayanan kesehatan, mereka memperoleh layanan yang bermutu serta perlindungan dari risiko finansial,” ujar Pujo dalam Pertemuan Nasional Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan Tahun 2026, Selasa 15 September 2026.

Per 1 September 2026, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 23.816 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 3.221 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), serta 7.180 sarana penunjang.

Pertumbuhan jaringan fasilitas kesehatan tersebut menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan JKN.

Namun, BPJS Kesehatan menilai kuantitas fasilitas dan pelayanan perlu berjalan beriringan dengan kualitas serta hasil kesehatan yang diterima peserta.

Besarnya skala Program JKN juga tercermin dari pembiayaan pelayanan kesehatan.

Sepanjang 2014 hingga 2025, BPJS Kesehatan telah membayarkan lebih dari Rp1.279,8 triliun kepada fasilitas kesehatan untuk pelayanan peserta JKN.

Pujo menilai angka tersebut menunjukkan besarnya sumber daya yang dikelola dalam sistem jaminan kesehatan nasional.

Karena itu, penggunaan sumber daya harus semakin diarahkan pada pelayanan yang benar-benar dibutuhkan peserta dan memberikan hasil kesehatan optimal.

“Transformasi yang perlu kita bangun bersama adalah dari volume menuju value,” katanya.

Konsep yang didorong BPJS Kesehatan adalah value-based care, yakni pendekatan yang tidak sekadar melihat seberapa banyak pelayanan diberikan, tetapi juga mempertimbangkan ketepatan tindakan medis dan hasil kesehatan yang diperoleh pasien.

“Value-based care bukan tentang mengurangi pelayanan, tetapi memastikan peserta memperoleh pelayanan yang tepat, pada waktu yang tepat, sesuai kebutuhan medis, dengan hasil kesehatan yang terbaik,” ujar Pujo.

Untuk mendorong perubahan tersebut, BPJS Kesehatan memberikan Seva Paramahita Award 2026 kepada fasilitas kesehatan yang dinilai memiliki komitmen dan kinerja terbaik dalam memberikan pelayanan kepada peserta JKN.

Pujo berharap fasilitas kesehatan penerima penghargaan tidak hanya menjadi penerima apresiasi, tetapi juga menjadi rujukan bagi fasilitas lain dalam menerapkan praktik pelayanan yang lebih baik.

“Fasilitas kesehatan yang memperoleh penghargaan hari ini diharapkan bisa menjadi role model, menjadi tempat bertukar ilmu, serta ikut menyebarluaskan praktik-praktik baik dalam peningkatan mutu, inovasi, dan akuntabilitas pelayanan JKN,” katanya.

Penguatan mutu juga diarahkan pada pengalaman peserta ketika berhadapan langsung dengan sistem pelayanan.

BPJS Kesehatan memperkenalkan wajah baru Petugas BPJS SATU atau BPJS Siap Membantu, yang ditujukan untuk memperkuat fungsi informasi dan pendampingan bagi peserta saat mengakses layanan kesehatan.

Selain kualitas layanan, BPJS Kesehatan juga memperkuat sisi pembiayaan melalui koordinasi dengan Asuransi Kesehatan Tambahan (AKT).

Koordinasi tersebut dilakukan melalui skema Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan (KAPJ).

Melalui mekanisme tersebut, peserta JKN yang memiliki asuransi kesehatan tambahan dapat memperoleh manfaat kenaikan kelas perawatan dengan pembagian pembiayaan antara BPJS Kesehatan dan perusahaan asuransi tambahan sesuai ketentuan.

Skema tersebut juga mencakup koordinasi kepesertaan, sistem tagihan satu pintu serta pembagian selisih biaya pelayanan.

Menurut Pujo, integrasi tersebut diharapkan membuat ekosistem pembiayaan kesehatan lebih efektif sekaligus memperkuat pengalaman peserta.

“Peluncuran wajah baru BPJS SATU serta penandatanganan kerja sama dengan Asuransi Kesehatan Tambahan menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk semakin memperkuat pengalaman peserta serta membangun koordinasi pembiayaan kesehatan yang lebih terintegrasi, efektif, dan berorientasi pada kualitas,” tuturnya.

Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Stevanus Adrianto Passat, mengatakan perluasan akses JKN harus berjalan seimbang dengan peningkatan mutu dan keberlanjutan program.

Menurutnya, fasilitas kesehatan berada di garis depan karena menjadi titik pertemuan langsung antara peserta dan sistem JKN.

Karena itu, pelayanan dituntut tidak hanya mudah diakses, tetapi juga berkualitas, aman, cepat dan berkeadilan.

Dari sisi tata kelola, Dewan Pengawas juga mendorong penguatan transparansi, akuntabilitas, kepatuhan regulasi, pengelolaan risiko serta perlindungan hak peserta.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menambahkan bahwa kekuatan sistem jaminan kesehatan sangat bergantung pada kapasitas fasilitas kesehatan.

“Tidak ada sistem jaminan kesehatan yang kuat tanpa didukung fasilitas kesehatan yang kuat,” tegas Maria.

Ia menilai transformasi kesehatan harus berjalan bersama transformasi mutu layanan, termasuk dengan memperkuat sumber daya manusia, sarana dan prasarana, ketersediaan obat serta pemeriksaan penunjang.

Penguatan tersebut menjadi semakin penting di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Republik Indonesia, Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, menegaskan pemerintah akan terus memperkuat JKN agar mampu memberikan perlindungan kesehatan yang berkualitas, inklusif dan berkelanjutan.

Menurutnya, JKN merupakan bentuk gotong royong nasional yang membutuhkan kontribusi seluruh pihak.

Pemerintah memiliki peran melalui kebijakan, regulasi dan pembiayaan.

Peserta perlu menjaga kepesertaan tetap aktif, sedangkan fasilitas kesehatan bertanggung jawab memberikan pelayanan sesuai standar dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Program JKN adalah gotong royong raksasa bangsa ini yang harus kita jaga bersama,” kata Cak Imin.

Ia menekankan tujuan akhir sistem tersebut bukan sekadar memperbesar angka kepesertaan, melainkan memastikan masyarakat memperoleh perlindungan ketika menghadapi persoalan kesehatan.

“Kita ingin memastikan tidak ada lagi masyarakat yang merasa harus takut jatuh miskin karena sakit,” tegasnya.

Dengan cakupan yang telah mendekati seluruh penduduk Indonesia, pekerjaan rumah JKN kini semakin bergeser.

Tantangannya bukan hanya bagaimana memperluas akses, tetapi memastikan setiap rupiah pembiayaan menghasilkan pelayanan yang tepat, aman dan berdampak terhadap kesehatan peserta.

Perubahan orientasi dari volume menuju value pun menjadi salah satu agenda penting BPJS Kesehatan dalam menjaga kualitas sekaligus keberlanjutan Program JKN.(*)




Bukan Sekadar Ganti Warna, Ini Fitur Honda Rebel 1100 yang Dibanderol Rp445 Juta

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID — PT Astra Honda Motor (AHM) menyegarkan lini big bike mereka dengan menghadirkan warna baru Matte Beta Silver Metallic untuk Honda Rebel 1100.

Warna silver dengan sentuhan metalik tersebut menjadi pilihan baru untuk motor bergaya urban cruiser ini.

Sementara warna Matte Ballistic Black Metallic tetap tersedia bagi konsumen yang menginginkan tampilan lebih gelap dan tegas.

Penyegaran tersebut tidak mengubah karakter utama Rebel 1100.

Motor ini tetap mengandalkan mesin berkapasitas 1.084 cc serta sejumlah fitur yang ditujukan untuk menunjang penggunaan harian hingga perjalanan jarak jauh.

Honda Rebel 1100 dengan kedua pilihan warna tersebut dipasarkan dengan harga Rp445.250.000 dan tersedia secara eksklusif melalui jaringan 11 Big Wing di sembilan kota di Indonesia.

Direktur Marketing AHM Octavianus Dwi mengatakan penambahan warna baru ditujukan untuk memberikan pilihan personalisasi yang lebih luas bagi konsumen big bike Honda.

“New Rebel 1100 hadir sebagai partner berkendara yang merepresentasikan karakter dan gaya hidup penggunanya. Melalui pilihan warna baru Matte Beta Silver Metallic, kami ingin menghadirkan tampilan yang semakin premium dan ekspresif,” ujar Octavianus.

Mesin 1.084 cc dengan Torsi 98 Nm

Di balik tampilan bergaya bobber, Rebel 1100 membawa mesin 1.084 cc, 4-stroke SOHC parallel twin dengan sistem pendingin cairan.

Mesin tersebut menghasilkan tenaga maksimum 65 kW pada 7.250 rpm dan torsi puncak 98 Nm pada 4.750 rpm.

Dengan bore 92 mm dan stroke 81,5 mm serta rasio kompresi 10,5:1, karakter mesin dirancang memberikan respons kuat terutama pada putaran bawah hingga menengah.

Konfigurasi tersebut menjadi salah satu modal Rebel 1100 untuk menghadapi perjalanan jarak jauh, selain penggunaan sejumlah perangkat elektronik untuk membantu pengendalian.

DCT dan Cruise Control untuk Touring

Salah satu fitur yang menjadi perhatian pada Rebel 1100 adalah Dual Clutch Transmission (DCT).

Teknologi tersebut membantu proses perpindahan gigi berlangsung lebih halus dan memberikan alternatif pengalaman berkendara dibandingkan transmisi manual konvensional.

Motor ini juga dibekali cruise control, fitur yang berguna ketika pengendara melaju dalam perjalanan panjang dengan kecepatan relatif konstan.

Sementara sistem throttle by wire memungkinkan pengaturan respons mesin dilakukan secara elektronik dan mendukung keberadaan beberapa pilihan riding mode.

Kombinasi fitur tersebut membuat Rebel 1100 tidak hanya mengandalkan desain sebagai daya tarik, tetapi juga menawarkan perangkat elektronik yang menunjang karakter berkendara modern.

Desain Bobber Tetap Dipertahankan

Secara tampilan, Rebel 1100 mempertahankan siluet khas bobber dengan posisi motor yang rendah serta penggunaan ban berukuran lebar.

Setang kemudi dibuat lebar untuk menunjang posisi berkendara, sementara desain keseluruhan tetap memberikan ruang bagi pemilik untuk melakukan personalisasi sesuai selera.

Sistem pencahayaan sudah menggunakan All LED Lighting System. Pada bagian depan, suspensi juga mendapatkan sentuhan warna dark navy titanium oxide.

Perpaduan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan karakter visual Rebel 1100 sekaligus memberikan pembaruan pada detail tampilannya.

Panel TFT 5 Inci Terintegrasi Honda RoadSync

Untuk sektor informasi dan konektivitas, Rebel 1100 menggunakan panel instrumen TFT berukuran 5 inci yang terintegrasi dengan Honda RoadSync.

Panel tersebut dapat menampilkan berbagai informasi, termasuk riding mode, posisi transmisi, kecepatan, putaran mesin, temperatur, hingga informasi terkait cruise control dan karakteristik DCT.

Konektivitas dengan perangkat pengendara juga tersedia melalui sistem tersebut.

Honda turut menyediakan USB charger di bawah jok, sehingga pengendara dapat mengisi daya perangkat selama perjalanan.

Harga Rp445,25 Juta

Dengan seluruh pembaruan tersebut, Honda Rebel 1100 kini tersedia dalam dua pilihan warna, yakni Matte Beta Silver Metallic dan Matte Ballistic Black Metallic.

Keduanya dipasarkan dengan harga Rp445.250.000.

AHM mendistribusikan motor tersebut secara eksklusif melalui jaringan 11 Big Wing yang tersebar di sembilan kota di Indonesia.

Dengan mesin 1.084 cc, torsi 98 Nm, DCT, cruise control dan karakter desain bobber, Rebel 1100 menyasar konsumen big bike yang tidak hanya mencari performa, tetapi juga mengutamakan karakter desain serta kenyamanan untuk perjalanan jarak jauh.(*)




Limbah Elektronik Makin Jadi Sorotan, XLSMART Targetkan 600 Kg E-Waste dari Kampus

BANDUNG, SEPUCUKJAMBI.ID — Perangkat elektronik yang sudah tidak terpakai kini menjadi perhatian baru di tengah pesatnya penggunaan teknologi digital.

Menjawab persoalan tersebut, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) bersama REMIND membawa mesin pengumpulan limbah elektronik #ByeByeBox ke Institut Teknologi Bandung (ITB).

Program bertajuk #ByeByeBox Campus Roadshow to ITB tersebut berlangsung pada 14-28 September 2026.

Peluncurannya dilakukan di Aula Timur ITB pada 14 September dan dilanjutkan dengan aktivasi mesin pengumpulan e-waste di lingkungan kampus hingga 28 September.

Dalam tahap awal kampanye yang berlangsung hingga November 2026, XLSMART dan REMIND menargetkan pengumpulan 600 kilogram limbah elektronik.

Target tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak membuang perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan melalui jalur sampah biasa.

#ByeByeBox dikembangkan sebagai E-Waste Reverse Vending Machine, yang memungkinkan masyarakat menyerahkan perangkat elektronik berukuran kecil yang sudah tidak digunakan.

Prosesnya dibuat relatif sederhana. Pengguna memasukkan perangkat ke mesin dan mengikuti petunjuk pada layar.

Perangkat kemudian dipindai dan divalidasi menggunakan kamera serta teknologi kecerdasan buatan (AI). Setelah itu, berat e-waste ditimbang secara otomatis dan datanya dicatat dalam sistem REMIND.

Limbah elektronik yang terkumpul selanjutnya diarahkan ke proses pemulihan material.

Dengan mekanisme tersebut, pengumpulan tidak hanya berorientasi pada memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mencatat volume limbah sekaligus mengidentifikasi material yang masih memiliki nilai untuk dimanfaatkan kembali.

Founder & CEO REMIND, Muhammad Dzikri Ahira Soefihara, mengatakan teknologi menjadi bagian penting untuk membuat pengelolaan e-waste lebih mudah sekaligus terukur.

“#ByeByeBox kami kembangkan untuk membuat pengelolaan e-waste menjadi lebih mudah diakses dan terukur,” ujarnya.

ITB dipilih sebagai lokasi awal Campus Roadshow karena dinilai memiliki ekosistem yang mempertemukan teknologi, pendidikan, riset dan isu keberlanjutan.

Program tersebut juga memiliki keterkaitan dengan ekosistem kampus karena REMIND berkembang dari lingkungan ITB.

Kehadiran #ByeByeBox di kampus diharapkan tidak berhenti pada pengumpulan limbah.

Mahasiswa juga didorong memahami bagaimana perangkat elektronik yang telah memasuki akhir masa pakai masih dapat memiliki nilai ekonomi melalui pemulihan material.

Dekan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Prof. Dr.Eng. Ir. Syafrizal, S.T., M.T., menilai kampus memiliki posisi penting dalam membangun kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan.

“Kampus memiliki peran penting dalam mendorong lahirnya solusi dan kebiasaan baru yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Selama periode aktivasi di ITB, program ini juga menawarkan insentif bagi peserta.

Pengguna XL, AXIS dan Smartfren bisa mendapatkan bonus kuota utama berdasarkan berat e-waste yang diserahkan melalui #ByeByeBox.

Rinciannya, e-waste dengan berat di bawah 1 kilogram mendapat bonus 500 MB, berat 1-2 kilogram memperoleh 1 GB, sedangkan lebih dari 2 kilogram mendapatkan 1,5 GB.

Bonus tersebut berlaku selama satu hari.

Sementara peserta yang belum menggunakan ketiga layanan tersebut dapat memperoleh kartu perdana selama persediaan masih tersedia.

Skema insentif tersebut menjadi cara untuk mendorong partisipasi sekaligus memperkenalkan kebiasaan baru dalam menyerahkan perangkat elektronik bekas ke jalur pengelolaan yang lebih bertanggung jawab.

XLSMART dan REMIND menyatakan keberhasilan program tidak hanya akan diukur dari total berat e-waste yang berhasil dikumpulkan.

Jumlah peserta, tingkat keterlibatan, perubahan perilaku serta dampak pengelolaan limbah juga menjadi indikator yang diperhatikan.

Direktur & Chief Regulatory Officer XLSMART, Merza Fachys, mengatakan pertumbuhan penggunaan teknologi perlu dibarengi dengan tanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkannya.

“Pertumbuhan konektivitas dan teknologi digital perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab dalam mengelola dampak lingkungannya,” kata Merza.

Pendekatan tersebut menempatkan #ByeByeBox bukan hanya sebagai tempat membuang perangkat elektronik, tetapi sebagai bagian dari upaya memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular kepada masyarakat.

Material dari perangkat yang masih memiliki nilai dapat dipulihkan dan dikembalikan ke siklus pemanfaatan berikutnya.

Program ini melibatkan sejumlah pihak, mulai dari XLSMART, REMIND, Ikatan Mahasiswa Metalurgi ITB, ITB, GSMA hingga BAPPENAS.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/BAPPENAS, Nizhar Marizi, mengatakan penerapan ekonomi sirkular membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat.

“Ekonomi sirkular membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, inisiatif seperti #ByeByeBox dapat membawa konsep ekonomi sirkular lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama melalui keterlibatan anak muda dan pemanfaatan teknologi.

Di luar kampanye kepada masyarakat, XLSMART juga memiliki pengelolaan e-waste dari kegiatan operasional perusahaan.

Limbah tersebut antara lain berasal dari pembongkaran atau dismantling tower, perangkat jaringan, perangkat teknologi informasi, baterai serta aset elektronik yang telah mencapai akhir masa pakai.

Pengelolaan dilakukan melalui pihak ketiga yang memiliki kompetensi dan mengikuti ketentuan serta regulasi yang berlaku.

Dengan demikian, pendekatan XLSMART terhadap limbah elektronik berjalan melalui dua jalur: membenahi pengelolaan e-waste dari kegiatan internal sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Melalui #ByeByeBox, perusahaan kini membawa isu tersebut lebih dekat ke lingkungan kampus.

ITB menjadi titik awal untuk menguji bagaimana teknologi, insentif dan edukasi dapat digunakan untuk meningkatkan partisipasi generasi muda dalam pengelolaan limbah elektronik.

Program Campus Roadshow tersebut dijadwalkan berlangsung hingga November 2026, dengan pengumpulan 600 kilogram e-waste sebagai target tahap awal.(*)




Kota Jambi Raih Penghargaan WWF, Dinilai Paling Meningkat dalam Aksi Iklim

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID — Upaya Kota Jambi memperkuat kebijakan lingkungan dan menghadapi perubahan iklim mendapat pengakuan dari World Wide Fund for Nature (WWF).

Kota Jambi dinobatkan sebagai “The Most Improved City in WWF’s One Planet City Challenge 2019–2026”, penghargaan untuk kota dengan peningkatan terbaik dalam komitmen dan aksi menghadapi perubahan iklim.

Penghargaan tersebut diterima Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., dalam Forum Dialog Kebijakan Tingkat Tinggi bertema “Akselerasi Transisi Energi Berkeadilan dan Inklusif di Tingkat Kota dan Kabupaten” di The Westin Gama Tower, Jakarta Selatan, Selasa 15 September 2026.

Pengakuan tersebut diberikan setelah Kota Jambi mengikuti program WWF One Planet City Challenge (OPCC) 2019–2026 bersama 29 kabupaten/kota lainnya di Indonesia.

Bagi Pemkot Jambi, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas program lingkungan yang telah berjalan.

Maulana menyebut capaian tersebut menjadi dorongan untuk mempercepat kebijakan pembangunan yang lebih hemat energi, rendah emisi dan berkelanjutan.

“Alhamdulillah, kita mendapat penghargaan dari WWF sebagai The Most Improved City. Ini tentu menjadi motivasi bagi Pemerintah Kota Jambi untuk terus meningkatkan dan mengembangkan program-program yang berkaitan dengan transisi energi dan aksi iklim,” ujar Maulana.

Dalam forum tersebut, Maulana memaparkan sejumlah program Kota Jambi yang diarahkan untuk mengurangi konsumsi energi dan emisi.

Salah satu yang tengah dikembangkan adalah kerja sama dengan WWF untuk meningkatkan efisiensi energi di RSUD Haji Abdul Manap.

Pemetaan awal menunjukkan konsumsi energi rumah sakit banyak berasal dari sistem pendingin ruangan serta berbagai peralatan kesehatan.

Pemkot Jambi bersama mitra kemudian mendorong penggunaan perangkat yang lebih efisien untuk menekan konsumsi energi.

“Yang pertama, program yang berkolaborasi dengan WWF untuk pengurangan energi di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Abdul Manap. Saat ini sudah mulai proses pendampingan dan penyusunan program,” kata Maulana.

Menurutnya, efisiensi energi di sektor pelayanan publik menjadi salah satu langkah yang dapat memberikan dua manfaat sekaligus, yakni menekan penggunaan energi dan mengurangi biaya operasional.

Pemkot Jambi juga mulai mengarahkan sektor transportasi publik menuju penggunaan kendaraan yang lebih hemat energi melalui pengembangan transportasi berbasis kendaraan listrik.

Program tersebut dinilai tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga berpotensi menekan biaya operasional transportasi dalam jangka panjang.

“Di sini kami sampaikan bahwa program tersebut berdampak terhadap pengurangan emisi sekaligus penghematan biaya,” ujarnya.

Aksi iklim Kota Jambi juga tidak hanya menyentuh sektor energi.

Pemkot memaparkan program LAgro Koja yang diarahkan untuk memanfaatkan lahan tidur sebagai lahan produktif.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di kawasan perkotaan.

“Program LAgro Koja dalam rangka pemanfaatan lahan tidur untuk meningkatkan ketahanan pangan,” kata Maulana.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa agenda lingkungan tidak hanya ditempatkan dalam konteks pengurangan emisi, tetapi juga dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat dan pemanfaatan ruang perkotaan secara lebih produktif.

Persoalan sampah juga menjadi bagian penting dari strategi lingkungan Kota Jambi.

Pemkot mendorong perubahan tata kelola persampahan dari sistem terbuka menuju pengelolaan yang lebih tertutup dan terintegrasi melalui Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM).

Sampah dipilah sejak dari depo untuk memisahkan material yang masih memiliki nilai guna. Sementara residu yang tersisa diarahkan untuk dikelola lebih lanjut di tempat pemrosesan akhir.

Pemkot juga melihat sampah sebagai sumber daya yang berpotensi dimanfaatkan kembali, termasuk sebagai energi.

“Dari tata kelola sampah ini kita mendorong sampah dapat dimanfaatkan menjadi energi. Sampah telah dipilah di depo, selanjutnya residunya dapat dimanfaatkan kembali di TPA,” jelas Maulana.

Pendekatan tersebut mengarah pada penerapan prinsip ekonomi sirkular, ketika sampah tidak seluruhnya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagian dapat dikembalikan ke dalam rantai pemanfaatan.

Dalam forum yang sama, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mempercepat transisi energi.

Menurut Bima, pemerintah daerah memiliki posisi strategis karena memiliki wilayah, anggaran, program dan kewenangan untuk menerjemahkan agenda transisi energi ke dalam kebijakan yang konkret.

“Dalam hal transisi energi, kuncinya memang pada pemerintah daerah,” ujar Bima.

Ia meminta komitmen pemerintah daerah tidak berhenti pada dokumen maupun pernyataan politik, tetapi diturunkan menjadi program yang memiliki target dan indikator yang dapat dievaluasi.

Bima menyebut terdapat sejumlah langkah yang perlu diperkuat pemerintah daerah, mulai dari penyusunan baseline dan inventarisasi emisi, penyediaan data bagi pemerintah pusat, penyusunan Rencana Umum Energi Daerah (RUED), pengendalian sektor penghasil emisi, hingga penguatan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Pemerintah daerah juga didorong membuka akses pendanaan iklim di luar APBD serta menciptakan iklim investasi yang mampu menarik proyek-proyek energi bersih.

“Kami mengharapkan teman-teman kepala daerah untuk menurunkan melalui aksi-aksi yang terukur. Ada targetnya, ada indikatornya,” tegas Bima.

Penghargaan WWF menempatkan Kota Jambi dalam sorotan terkait upaya memperbaiki kebijakan dan aksi iklim di tingkat lokal.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai program tersebut tidak berhenti sebagai proyek percontohan atau seremoni penghargaan.

Efisiensi energi di fasilitas publik, transportasi rendah emisi, pemanfaatan lahan perkotaan dan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular membutuhkan implementasi yang konsisten sekaligus ukuran keberhasilan yang jelas.

Maulana berharap program yang dikembangkan Kota Jambi dapat terus diperkuat dan, jika memungkinkan, direplikasi di wilayah lain.

“Kita ingin pembangunan di Kota Jambi tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dan sosial, tetapi juga tetap menjaga keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya.(*)




Karhutla Jambi Makin Serius: 2.998 Hektare Terbakar, 14 Orang Jadi Tersangka

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Hingga 14 September 2026, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 2.998,02 hektare, sementara aparat telah menangani 75 perkara karhutla melalui proses penegakan hukum.

Data Posko Induk Satgas Karhutla Provinsi Jambi menunjukkan, dari 75 perkara tersebut, sebanyak 60 kasus masih berada pada tahap penyelidikan.

Sementara 15 perkara lainnya telah naik ke tahap penyidikan.

Dari proses hukum tersebut, aparat telah menetapkan 14 orang sebagai tersangka.

Angka tersebut menunjukkan penanganan karhutla di Jambi tidak hanya berfokus pada pemadaman titik api.

Aparat juga mulai memperkuat penindakan terhadap dugaan pembakaran hutan dan lahan yang berpotensi menimbulkan dampak luas.

Dari 60 perkara yang masih dalam tahap penyelidikan, Kabupaten Sarolangun menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 26 perkara.

Berikutnya Muaro Jambi dengan 10 kasus dan Batanghari 11 kasus. Sementara Tanjung Jabung Timur tercatat enam kasus, Merangin tiga kasus, Bungo tiga kasus dan Tanjung Jabung Barat satu kasus.

Untuk perkara yang sudah memasuki tahap penyidikan, penanganannya tersebar di sejumlah wilayah.

Polda Jambi menangani dua perkara, Polresta Jambi satu perkara, Polres Sarolangun satu perkara, Polres Tebo dua perkara, Polres Tanjung Jabung Barat tiga perkara, Polres Tanjung Jabung Timur satu perkara, Polres Bungo satu perkara, Polres Merangin satu perkara, Polres Batanghari satu perkara, Polres Muaro Jambi satu perkara serta satu perkara ditangani PPNS Dinas Kehutanan.

Dari 15 perkara tersebut, lima kasus telah memasuki Tahap I. Sedangkan 10 perkara lainnya masih dalam proses penyidikan.

Di sisi lain, dampak karhutla terlihat dari luasan lahan yang terbakar.

Satgas Karhutla mencatat total area terbakar di Jambi hingga 14 September 2026 mencapai 2.998,02 hektare. Luasan tersebut terdiri dari 2.289,27 hektare lahan mineral dan 708,75 hektare lahan gambut.

Batanghari menjadi wilayah dengan area terbakar paling luas, mencapai 773,25 hektare.

Muaro Jambi menyusul dengan 556,61 hektare, Sarolangun 508,55 hektare, Tanjung Jabung Barat 488,75 hektare, Tebo 312,46 hektare dan Tanjung Jabung Timur 271,70 hektare.

Sementara area terbakar di Bungo tercatat 69,40 hektare dan Merangin 17,30 hektare.

Dalam data tersebut, Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh dan Kota Jambi belum tercatat memiliki luasan area terbakar.

Ancaman karhutla juga terlihat dari pemantauan titik panas.

Pada 14 September 2026 saja, terdeteksi 236 hotspot di wilayah Jambi. Sebanyak 234 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang, sementara dua titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

Sarolangun menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak pada hari tersebut, yakni 66 titik.

Tebo berada di posisi berikutnya dengan 51 titik, disusul Muaro Jambi 34 titik, Tanjung Jabung Barat 26 titik dan Tanjung Jabung Timur 21 titik.

Hotspot lainnya terpantau di Bungo sebanyak 20 titik, Batanghari delapan titik, Merangin delapan titik, Kota Sungai Penuh satu titik dan Kerinci satu titik.

Jika dihitung secara kumulatif sejak awal tahun hingga 14 September 2026, jumlah hotspot di Provinsi Jambi telah mencapai 7.682 titik berdasarkan pemantauan satelit Terra Aqua dan SNPP.

Tidak semua hotspot otomatis berarti kebakaran di permukaan. Karena itu, Satgas Karhutla melakukan pengecekan langsung melalui patroli udara dan posko darat.

Hasil ground check menemukan 11 firespot yang telah terverifikasi.

Dua titik ditemukan di Muaro Jambi, tiga titik di Tanjung Jabung Timur dan dua titik di Tanjung Jabung Barat.

Sementara masing-masing satu titik terverifikasi di Batanghari, Tebo, Sarolangun dan Merangin.

Temuan tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk melakukan penanganan lebih lanjut di lapangan.

Untuk lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat, Satgas Karhutla mengerahkan operasi pemadaman dari udara.

Water bombing dilakukan di Desa Sungai Aur, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muaro Jambi, serta kawasan Kecamatan Sadu dan Tahura Orang Kayo Hitam di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Operasi tersebut melibatkan sejumlah helikopter untuk patroli dan pemadaman dari udara, termasuk Heli Reg. N274TH, VN-8414, RA-22840 dan Heli TNI AU H-3216.

Di darat, pemadaman dilakukan bersama unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan Regu Pemadam Kebakaran.

Selain pemadaman, patroli serta sosialisasi kepada masyarakat juga terus dilakukan untuk mencegah pembukaan lahan menggunakan api.

Kapolda Jambi Irjen Pol Krisno H. Siregar melalui Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Erlan Munaji menegaskan bahwa penanganan karhutla dilakukan dari sisi pencegahan, pemadaman hingga penegakan hukum.

Menurut Erlan, penanganan 75 perkara dan penetapan tersangka menjadi bagian dari upaya kepolisian memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah pembakaran lahan berulang.

“Polda Jambi bersama seluruh jajaran berkomitmen untuk menangani Karhutla secara maksimal dan terpadu,” ujar Erlan, Senin 14 September 2026.

Ia memastikan setiap temuan di lapangan akan diverifikasi. Jika ditemukan unsur pidana, kasus tersebut akan diproses sesuai ketentuan hukum.

Polda Jambi juga meminta masyarakat tidak menggunakan api untuk membuka maupun membersihkan lahan.

Kondisi cuaca yang masih rawan membuat api kecil berpotensi berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dan berdampak terhadap lingkungan maupun aktivitas masyarakat.

Masyarakat diminta segera melapor apabila menemukan titik api ataupun aktivitas pembakaran lahan.

Di tengah ribuan hotspot yang masih terpantau, kepolisian bersama TNI, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah dan unsur masyarakat kini mengandalkan kombinasi patroli, ground check, pemadaman darat, water bombing dan penegakan hukum.

Bagi aparat, pengendalian karhutla tidak cukup hanya memadamkan api. Pencegahan dan penindakan terhadap pembakaran ilegal menjadi kunci untuk menekan munculnya titik api baru di Jambi.(*)




Menjauh Sejenak dari Rutinitas, Clan of Classy Vol. 3 Eksplorasi Jalur Yogyakarta hingga Ambarawa

YOGYAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID — Menjauh sejenak dari rutinitas tidak selalu harus dilakukan dengan perjalanan jauh.

Bagi puluhan pengendara Yamaha Fazzio Hybrid dan Grand Filano Hybrid, momen tersebut diwujudkan melalui perjalanan penuh eksplorasi dalam Clan of Classy Vol. 3 yang berlangsung di Yogyakarta pada 13-14 September 2026.

Mengusung tema “Get Lost”, kegiatan yang digelar Yamaha Indonesia ini tidak sekadar mengajak peserta melakukan touring.

Mereka justru diberi pengalaman untuk keluar dari rute perjalanan yang monoton melalui permainan petunjuk, eksplorasi destinasi, camping, hingga aktivitas di Rawa Pening.

Konsep tersebut menjadi kelanjutan dari perjalanan Clan of Classy yang sebelumnya digelar di Malang, Jawa Timur.

Kali ini, Yogyakarta dipilih sebagai titik awal perjalanan dengan rute yang membawa peserta menuju kawasan Borobudur, Kopeng, Ambarawa, hingga kembali ke Yogyakarta.

Manager Public Relations, YRA & Community PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Rifki Maulana, mengatakan konsep kegiatan dirancang untuk memberi ruang kepada pengguna Classy Yamaha dalam mengekspresikan diri sekaligus mempererat hubungan antarpengendara.

“Get Lost” menjadi cara Yamaha menerjemahkan karakter Fazzio Hybrid dan Grand Filano Hybrid yang dekat dengan gaya hidup serta kreativitas anak muda.

“Acara Clan of Classy ini juga terus kami hadirkan sebagai ruang untuk para pengendara Classy Yamaha untuk bertemu, berbagi pengalaman, dan mengekspresikan karakternya masing-masing,” ujar Rifki.

Perjalanan dari Yogyakarta menuju Magelang menjadi bagian paling menantang pada hari pertama.

Peserta dibagi ke dalam empat kelompok dan tidak langsung diberikan rute perjalanan secara lengkap.

Masing-masing kelompok mendapatkan sejumlah petunjuk yang harus dipecahkan untuk menemukan destinasi berikutnya di sekitar kawasan Borobudur.

Beberapa lokasi yang menjadi bagian dari tantangan tersebut antara lain Watu Putih View, Candi Pawon, Candi Ngawen, hingga Pasar Kayu di Muntilan yang pernah digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar serial Gadis Kretek.

Tidak berhenti pada pencarian lokasi, peserta juga mendapat tantangan membuat video kreatif di setiap destinasi.

Konsep ini membuat perjalanan terasa berbeda. Peserta tidak hanya mengejar jarak tempuh, tetapi juga dituntut berkomunikasi, membaca petunjuk, menentukan arah, dan menikmati pengalaman “tersesat” bersama.

Setelah menyelesaikan rangkaian tantangan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kopeng.

Kawasan dengan lanskap hijau dan panorama pegunungan tersebut menjadi lokasi peserta beristirahat sekaligus bermalam dalam suasana camping.

Ketika matahari mulai tenggelam, peserta berkumpul menikmati panorama senja. Suasana kemudian berganti dengan aktivitas malam di sekitar api unggun dan makan malam bersama.

Bagi Yamaha, sesi tersebut menjadi bagian penting dari konsep Clan of Classy.

Interaksi yang sebelumnya terbentuk selama perjalanan berkembang menjadi hubungan yang lebih dekat antarpengendara.

Bukan hanya soal kendaraan, perjalanan dua hari tersebut menjadi ruang bagi para pengguna Fazzio Hybrid dan Grand Filano Hybrid untuk bertukar pengalaman serta membangun relasi dalam komunitas.

Eksplorasi berlanjut pada hari kedua. Setelah menikmati suasana pagi di kawasan kaki Gunung Merbabu, rombongan bergerak menuju Rawa Pening di Ambarawa.

Kali ini, kendaraan ditinggalkan sejenak. Peserta diajak mengeksplorasi kawasan perairan menggunakan kano.

Aktivitas tersebut memberikan pengalaman berbeda setelah sebelumnya peserta melewati berbagai karakter jalan dengan sepeda motor.

Lanskap pegunungan dan perairan Rawa Pening menjadi latar perjalanan sebelum rombongan kembali menuju Yogyakarta.

Total perjalanan yang ditempuh mencapai sekitar 190 kilometer, melewati berbagai karakter jalan termasuk jalur berkelok, tanjakan, dan turunan di kawasan Kopeng serta Ketep Pass.

Perjalanan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk merasakan kemampuan dua model dalam jajaran Classy Yamaha, yakni Fazzio Hybrid dan Grand Filano Hybrid.

Keduanya menggunakan mesin Blue Core Hybrid 125 cc yang dirancang untuk memadukan performa dan efisiensi dalam penggunaan sehari-hari maupun perjalanan jarak lebih jauh.

Karakter jalur yang beragam menjadi salah satu pengujian alami selama perjalanan.

Tanjakan dan kelokan di kawasan pegunungan menuntut pengendara untuk menyesuaikan gaya berkendara dengan kondisi jalan.

Naomi Anna Silaban, salah satu peserta Clan of Classy Vol. 3 sekaligus pengguna Fazzio Hybrid, menyebut perjalanan tersebut menjadi pengalaman touring jarak jauh pertamanya.

“Selama 2 hari pergi bareng Yamaha Indonesia lewat acara Clan of Classy ini benar-benar seru banget, mulai dari touringnya, camping, dan jadi momen yang tidak terlupakan,” ujar Naomi.

Menurutnya, kenyamanan motor menjadi salah satu hal yang dirasakan selama perjalanan, termasuk ketika melewati jalur menanjak.

Perjalanan Clan of Classy Vol. 3 akhirnya ditutup dengan sunset hangout di salah satu kafe di kawasan Kaliurang, Yogyakarta.

Peserta kembali berkumpul sembari menikmati kopi dan suasana sore di sekitar kaki Gunung Merapi. Momen tersebut menjadi ruang untuk membagikan cerita mengenai perjalanan selama dua hari.

Dari permainan mencari lokasi, perjalanan antarkota, camping, hingga menyusuri Rawa Pening dengan kano, konsep “Get Lost” yang dibawa Clan of Classy Vol. 3 pada akhirnya bukan hanya soal mencari destinasi baru.

Perjalanan tersebut juga menjadi cara bagi komunitas pengguna Classy Yamaha untuk keluar sejenak dari rutinitas, menemukan pengalaman baru, sekaligus memperkuat hubungan antarpengendara.(*)




Bukan dari Jambi? Al Haris Ungkap Asal Asap Tebal dari Taman Nasional Sembilang

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Asap tebal kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Jambi sejak Senin hingga Selasa pagi, 15 September 2026.

Pemerintah Provinsi Jambi menyebut salah satu sumber asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Sembilang, Sumatera Selatan.

Gubernur Jambi, Al Haris mengatakan posisi kawasan yang terbakar cukup dekat dengan wilayah Jambi.

Kondisi angin yang bergerak ke arah Jambi kemudian membawa asap dari lokasi kebakaran masuk ke sejumlah wilayah di provinsi tersebut.

“Dari lokasi Taman Nasional Sembilang. Karena dia dekat Jambi, anginnya arah sini,” kata Al Haris setelah mengikuti rapat perkembangan penanganan karhutla bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan melalui Zoom Meeting di Korem 042/Garuda Putih, Selasa 15 September 2026.

Menurut Al Haris, persoalan karhutla saat ini tidak hanya terjadi di satu titik.

Sejumlah wilayah di Jambi masih menghadapi potensi kebakaran, terutama ketika kondisi cuaca kering dan curah hujan belum mampu menekan kemunculan titik api.

Titik karhutla masih ditangani di Kabupaten Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tebo, serta kawasan Taman Nasional Sembilang.

Pemerintah daerah bersama Polda Jambi, Kejaksaan Tinggi, Korem 042/Garuda Putih, pemerintah kabupaten dan kota, perusahaan, serta Masyarakat Peduli Api terus melakukan penanganan di lapangan.

Namun, kondisi kemarau menjadi salah satu faktor yang membuat potensi kebakaran belum sepenuhnya terkendali.

“Karena memang kondisi kemarau yang masih cukup tinggi, curah hujannya belum juga banyak, sehingga semakin hari masih ada saja yang terbakar,” ujar Al Haris.

Kondisi berbeda terjadi di kawasan Taman Nasional Sembilang. Medan yang sulit membuat petugas tidak mudah menjangkau lokasi kebakaran secara langsung.

Untuk menjangkau titik api, pemadaman sementara dilakukan melalui operasi water bombing.

Pemprov Jambi juga mendorong pembukaan akses menuju kawasan tersebut agar peralatan dan alat berat dapat dikerahkan untuk mempercepat penanganan.

Usulan tersebut disampaikan dalam rapat bersama pemerintah pusat.

Pemprov Jambi meminta agar akses menuju lokasi karhutla di Sembilang dapat dibuka sehingga penanganan tidak hanya mengandalkan pemadaman dari udara.

“Tadi kami pertanyakan dengan Pak Menko dan Menteri Kehutanan agar kami bisa membuka akses ke lokasi itu untuk membawa alat berat,” kata Al Haris.

Bagi Jambi, penanganan di Sembilang menjadi penting karena arah angin berpotensi membawa asap lebih jauh ke wilayah provinsi tersebut.

Bahkan, menurut Al Haris, titik kebakaran sudah berada di kawasan yang mengarah ke perbatasan Jambi.

Pemerintah Provinsi Jambi kini menaruh perhatian khusus terhadap pergerakan api di Sembilang.

Selain persoalan asap, pergerakan kebakaran menuju wilayah yang lebih dekat dengan Jambi menjadi ancaman yang harus diantisipasi.

Al Haris meminta penanganan dilakukan secepat mungkin agar api tidak bergerak semakin dekat dan dampak asap tidak meluas ke Jambi.

“Kalau yang arah Jambi, kita berharap jangan sampai masuk ke Jambi. Ini sudah mulai batas arah ke Jambi, ini yang kita cepat kerjakan,” tegasnya.

Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, pemerintah mengingatkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan respons cepat dan koordinasi lintas wilayah.

Sumber kebakaran yang berada di luar Jambi tetap dapat berdampak langsung terhadap kualitas udara di wilayah Jambi apabila arah angin membawa asap masuk ke provinsi tersebut.(*)




Sidang Korupsi Sucolite PDAM Kota Jambi Memanas, Dua Ahli Beri Keterangan yang Dinilai Menguntungkan Terdakwa

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Persidangan perkara dugaan korupsi pengadaan bahan kimia penjernih air Sucolite di Perumda Tirta Mayang Kota Jambi kembali bergulir, Senin 14 September 2026 sore.

Dalam sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua orang ahli, yakni Slamet Sudaryo sebagai ahli pengadaan barang dan jasa serta Oki sebagai ahli kimia.

Keterangan keduanya menjadi sorotan karena sejumlah poin yang disampaikan di persidangan dinilai penasihat hukum justru memperkuat posisi para terdakwa.

Slamet, dalam keterangannya, menyoroti aspek administrasi dalam proses pengadaan yang menjadi bagian perkara tersebut.

“Sepemahaman saya ini administrasi,” ujar Slamet dalam persidangan.

Keterangan itu langsung mendapat perhatian dari tim penasihat hukum terdakwa.

Kholim Kimsu, kuasa hukum Rusdi Wahab, menilai apabila persoalan yang ditemukan berkaitan dengan proses administrasi pengadaan, penyelesaiannya semestinya ditempuh melalui mekanisme administratif.

“Kalau dari ahli tadi, kalaupun ini ada permasalahan atau kesalahan yang dilakukan oleh pihak-pihak dalam proses pengadaan, seharusnya diselesaikan secara administrasi, bukan secara pidana,” kata Kholim.

Sorotan berikutnya datang dari keterangan ahli kimia Oki mengenai kualitas bahan kimia Sucolite yang digunakan dalam proses pengolahan air.

Oki mengacu pada data hasil uji laboratorium terhadap tiga bahan yang dilakukan oleh pihak PDAM.

“Dari data tiga bahan dari uji lab yang dilakukan PDAM, tampak Sucolite bagus,” ujarnya.

Keterangan tersebut kemudian dinilai memperkuat pembelaan terdakwa oleh penasihat hukum Mustazal Khomidi dan Hery Fitriadi.

Wahyu, kuasa hukum kedua terdakwa, mengatakan keterangan ahli menunjukkan Sucolite memiliki kualitas yang baik untuk mendukung proses pengolahan air PDAM.

Menurutnya, penggunaan bahan tersebut menghasilkan air olahan yang lebih jernih.

“Memang ini yang terbaik untuk air Batanghari yang keruh, bahkan airnya bisa langsung diminum,” kata Wahyu.

Namun, seluruh keterangan ahli tersebut tetap menjadi bagian dari proses pembuktian yang akan dinilai dalam persidangan.

Selain pemeriksaan ahli, tim penasihat hukum Rusdi Wahab juga telah mengajukan permohonan pinjam pakai terhadap dua unit kendaraan roda empat yang sebelumnya disita dalam proses penyidikan.

Permohonan tersebut diajukan agar kendaraan dapat kembali digunakan oleh pihak yang berkepentingan, meskipun kedua kendaraan masih memiliki keterkaitan dengan status barang bukti dalam perkara.

Perkara ini menjerat tiga terdakwa, yakni Hery Fitriadi, selaku Manajer Pengadaan PDAM Tirta Mayang, Mustazal Khomidi, yang saat itu menjabat Direktur Teknik PDAM Tirta Mayang periode 2021-2026; serta Rusdi Wahab, selaku Kepala Cabang PT Definite Hue of Solutions (DHS).

Perkara tersebut berkaitan dengan dugaan korupsi pengadaan bahan kimia penjernih air jenis Sucolite LA24HZ di Perumda Tirta Mayang Kota Jambi untuk periode 2021-2023.

Berdasarkan hasil audit yang menjadi bagian dari perkara, dugaan korupsi tersebut disebut menimbulkan kerugian keuangan negara sekitar Rp4,4 miliar.

Ketiga terdakwa didakwa melanggar ketentuan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Persidangan perkara tersebut kembali digelar pada Rabu 16 September 2026 dengan agenda pemeriksaan saksi dan ahli berikutnya.(*)




Kabut Asap Tebal Selimuti Jambi, Sejumlah Penerbangan di Bandara Sultan Thaha Delay

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kabut asap tebal kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi, Selasa 15 September 2026.

Kondisi jarak pandang atau visibility pada pagi hari tercatat masih berada di bawah 1.000 meter.

Rendahnya jarak pandang tersebut berdampak langsung terhadap jadwal sejumlah penerbangan. Salah satunya penerbangan Citilink QG 960 rute Jakarta (CGK)-Jambi yang hingga pagi hari masih tertahan di Bandara Soekarno-Hatta.

General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Ardon Marbun, mengatakan pesawat Citilink tersebut belum diberangkatkan dari Jakarta karena kondisi visibility di Jambi belum memungkinkan.

“QG 960 dari CGK ke Jambi belum terbang dari Jakarta karena visibility pagi ini masih di bawah 1.000,” kata Ardon saat dikonfirmasi, Selasa 15 September 2026.

Pesawat masih menunggu perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang di Jambi sebelum diterbangkan menuju Bandara Sultan Thaha.

“Masih menunggu di CGK, belum terbang menunggu kondisi Jambi membaik,” ujarnya.

Gangguan akibat kabut asap tidak hanya berdampak pada penerbangan Citilink. Penerbangan Indonesia Air dengan nomor ID 6870 juga mengalami keterlambatan pada Selasa pagi.

Pesawat yang semula dijadwalkan berangkat sekitar pukul 06.00 WIB harus mengalami penyesuaian jadwal selama satu jam.

“ID 6870 penerbangan pagi tadi delay satu jam. Seharusnya terbang jam 06.00, digeser ke jam 07.00,” jelas Ardon.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha masih sangat bergantung pada perkembangan jarak pandang akibat kabut asap.

Pihak Bandara Sultan Thaha terus memantau perubahan visibility sebelum memberikan kepastian terhadap penerbangan yang terdampak.

Kondisi jarak pandang menjadi salah satu faktor penting dalam operasional penerbangan, sehingga penyesuaian jadwal dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan.

Hingga Selasa pagi, operasional penerbangan di Bandara Sultan Thaha masih menyesuaikan kondisi kabut asap.

Sementara itu, Citilink QG 960 masih berada di Bandara Soekarno-Hatta dan menunggu kondisi visibility di Jambi membaik sebelum diberangkatkan.

Bagi calon penumpang yang memiliki jadwal penerbangan melalui Bandara Sultan Thaha Jambi, perubahan jadwal masih mungkin terjadi seiring perkembangan kondisi jarak pandang di wilayah tersebut.(*)