ISPU Jambi Tembus 266, BPBD Minta Warga Kurangi Aktivitas di Luar

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kualitas udara di Kota Jambi yang mencapai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 266 membuat pemerintah daerah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

Angka tersebut berada dalam kategori sangat tidak sehat di tengah kondisi kabut asap yang berkaitan dengan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi mengatakan, kondisi kualitas udara tersebut menjadi perhatian pemerintah karena paparan polusi dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Doni meminta warga tidak menganggap kondisi kabut asap sebagai situasi biasa.

Selama kualitas udara belum membaik, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus keluar rumah.

“Kabut asap di Jambi berkaitan dengan meningkatnya dampak kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan selama kualitas udara belum kembali membaik,” ujar Doni.

Selain membatasi aktivitas di luar ruangan, masyarakat diminta terus memantau informasi mengenai kualitas udara.

Langkah tersebut penting untuk menentukan apakah aktivitas di luar rumah perlu dibatasi, terutama ketika kondisi udara mengalami perubahan.

BPBD juga mengingatkan agar kondisi kesehatan tidak diabaikan selama kabut asap masih terjadi.

Perhatian lebih perlu diberikan kepada masyarakat yang rentan terhadap dampak polusi udara.

Dengan ISPU mencapai 266, penggunaan masker saat berada di luar rumah menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan.

Warga juga diminta mengurangi durasi paparan udara luar selama kondisi kualitas udara masih berada pada kategori sangat tidak sehat.

Namun, perlindungan warga bukan satu-satunya persoalan. Kondisi udara yang memburuk juga berkaitan dengan sumber asap yang harus ditangani.

Pemerintah menyebut kabut asap tersebut berkaitan dengan meningkatnya dampak kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.

Artinya, pembatasan aktivitas dan penggunaan masker menjadi langkah perlindungan jangka pendek bagi masyarakat, sementara pengendalian sumber karhutla menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi persoalan kabut asap secara lebih menyeluruh.

Masyarakat Kota Jambi pun diminta mengikuti perkembangan informasi resmi mengenai kualitas udara dan arahan pemerintah selama kondisi kabut asap masih berlangsung.(*)




Kualitas Udara Memburuk, Pemkot Jambi Distribusikan 25 Ribu Masker

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kualitas udara di Kota Jambi kembali berada pada level yang mengkhawatirkan.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai 266, yang masuk kategori sangat tidak sehat, saat kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi mengambil langkah antisipasi. Sebanyak 25 ribu masker disiapkan untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Pembagian masker mulai dilakukan di sejumlah titik, salah satunya kawasan Simpang Bank Indonesia, Kota Jambi, Rabu 30 September 2026.

Langkah tersebut dilakukan ketika kualitas udara berada pada level yang membuat aktivitas masyarakat di luar ruangan perlu mendapat perhatian.

Pemkot Jambi mengimbau warga menggunakan masker, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, mengatakan pembagian masker merupakan salah satu respons awal pemerintah terhadap memburuknya kondisi udara.

“Masyarakat diimbau menggunakan masker, terutama saat harus beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker diharapkan dapat membantu mengurangi paparan langsung terhadap asap dan partikulat di udara,” kata Diza.

Pemkot Jambi juga meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di luar ruangan secara berlebihan selama kualitas udara masih berada pada kondisi tidak sehat.

Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada warga yang harus berada di luar ruangan dalam durasi panjang.

Masyarakat juga diminta memperhatikan perkembangan kualitas udara sebelum menentukan aktivitas di luar rumah.

Angka ISPU 266 menjadi perhatian karena menunjukkan kondisi pencemaran udara yang cukup tinggi di Kota Jambi.

Di tengah kabut asap yang dikaitkan dengan karhutla, pemerintah tidak hanya mengandalkan pembagian masker, tetapi juga mendorong masyarakat mengurangi paparan terhadap udara luar.

Pembagian 25 ribu masker menjadi langkah perlindungan langsung yang dilakukan Pemkot Jambi kepada masyarakat.

Namun, efektivitas penanganan kabut asap dalam jangka lebih panjang tetap berkaitan dengan pengendalian sumber pencemar, termasuk penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Untuk sementara, warga diminta lebih selektif dalam melakukan aktivitas luar ruangan dan terus mengikuti informasi terbaru mengenai kualitas udara di Kota Jambi.(*)




Update Penerbangan Jambi: Visibility Naik-Turun, Penerbangan Jakarta-Jambi Masih Tertahan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kabut asap masih menjadi kendala bagi penerbangan yang hendak mendarat di Bandara Sultan Thaha Jambi, Rabu 30 September 2026.

Fluktuasi jarak pandang atau visibility membuat sejumlah penerbangan dari Jakarta harus menunggu kepastian kondisi di bandara tujuan.

Salah satu penerbangan yang terdampak adalah Batik Air ID6804 rute Jakarta-Jambi.

Pesawat tersebut bahkan sempat melakukan empat kali percobaan pendaratan sebelum akhirnya kembali ke Bandara Soekarno-Hatta atau return to base (RTB).

Pesawat sebelumnya telah terbang dari Jakarta menuju Jambi.

Namun, kondisi jarak pandang di sekitar Bandara Sultan Thaha tidak memungkinkan proses pendaratan dilanjutkan.

Hingga pukul 13.00 WIB, belum ada kepastian kapan penerbangan tersebut kembali diberangkatkan dari Jakarta menuju Jambi.

Keputusan operasional masih menunggu perkembangan kondisi di Bandara Sultan Thaha.

Data pemantauan menunjukkan jarak pandang di bandara mengalami perubahan sepanjang Rabu siang.

Pada pukul 11.00 WIB, visibility tercatat 1.500 meter. Angka tersebut turun menjadi 1.100 meter pada pukul 12.00 WIB, kemudian kembali meningkat menjadi 1.400 meter pada pukul 13.00 WIB.

Perubahan tersebut menunjukkan kondisi udara di sekitar bandara belum sepenuhnya stabil untuk mendukung kelancaran penerbangan yang akan mendarat.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, mengatakan aspek visual menjadi salah satu perhatian utama dalam proses pendaratan pesawat.

“Untuk kondisi saat ini, yang menjadi tantangan adalah visual pilot untuk pendaratan. Kondisi visibility terus kami pantau karena keselamatan penerbangan menjadi prioritas,” ujar Ikhsan.

Kondisi kabut asap sebenarnya telah terpantau sejak pagi. Pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang di Bandara Sultan Thaha berada di kisaran 800 meter.

Visibility kemudian meningkat menjadi 1.000 meter pada pukul 07.00 WIB dan 1.500 meter pada pukul 08.00 WIB.

Meski sempat membaik, peningkatan jarak pandang tersebut belum otomatis membuat penerbangan menuju Jambi kembali normal.

Kondisi aktual di lapangan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan apakah pesawat dapat melakukan pendaratan.

Menurut Ikhsan, kondisi visual saat ini masih memungkinkan untuk proses lepas landas.

Namun, fase kedatangan menghadapi tantangan berbeda karena pilot membutuhkan jarak pandang yang memadai untuk melakukan pendaratan.

“Kalau untuk lepas landas, kondisi visualnya untuk naik atau take off masih bisa. Yang menjadi tantangan dengan kondisi saat ini adalah visual pilot untuk pendaratan,” katanya.

Selain Batik Air ID6804, penerbangan Citilink QG960 dan Garuda Indonesia GA126 dari Jakarta menuju Jambi juga masih menunggu perkembangan kondisi visibility di Bandara Sultan Thaha.

Pihak bandara terus berkoordinasi dengan maskapai sembari memantau perubahan jarak pandang.

Keputusan penerbangan yang akan datang tetap disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan, terutama aspek keselamatan saat pesawat memasuki fase pendaratan.

“Untuk penerbangan yang akan datang, keputusan operasional tetap mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan, khususnya jarak pandang untuk pendaratan,” kata Ikhsan.

Dengan kondisi visibility yang masih berubah-ubah, calon penumpang diminta memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing.

Perubahan jarak pandang dapat berdampak pada jadwal keberangkatan maupun kedatangan di Bandara Sultan Thaha Jambi.

Hingga pukul 13.00 WIB, jarak pandang tercatat 1.400 meter.

Sementara itu, penerbangan dari Jakarta menuju Jambi masih menunggu perkembangan kondisi di bandara tujuan.(*)




Di Tengah Kabut Asap, PWI Kota Jambi Salurkan 500 Masker untuk Siswa dan Guru

JAMBI , SEPUCUKJAMBI.ID — Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi mendorong Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Jambi mengambil langkah pencegahan dengan membagikan sekitar 500 masker kepada pelajar dan guru SMA YPWI Kota Jambi.

Masker tersebut diserahkan Ketua PWI Kota Jambi, Irwansyah bersama Sekretaris PWI Kota Jambi, Andri Briliant Avolda dan jajaran pengurus kepada Kepala SMA YPWI Kota Jambi, Bonarti Lubis, S.Pd., M.Pd., Rabu 30 September 2026.

Langkah tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran terhadap dampak paparan asap dan kualitas udara terhadap kesehatan, terutama gangguan pada sistem pernapasan.

Paparan asap dapat berkaitan dengan keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan dan gangguan pernapasan, serta berpotensi memperburuk kondisi penderita asma.

“Bersama sekretaris, kami menyerahkan secara simbolis kurang lebih 500 masker untuk adik-adik pelajar dan guru-guru sebagai upaya pencegahan dampak kabut asap,” kata Irwansyah.

Menurut Irwansyah, pembagian masker merupakan bagian dari kepedulian PWI Kota Jambi terhadap masyarakat yang terdampak kondisi udara akibat kabut asap.

Selain bantuan perlindungan dasar, ia menilai edukasi mengenai upaya menjaga kesehatan juga penting dilakukan, khususnya kepada kelompok yang masih menjalani aktivitas belajar di sekolah.

PWI Kota Jambi juga mengimbau para pelajar membatasi aktivitas di luar ruangan setelah jam sekolah dan menjaga asupan cairan dengan cukup minum air putih.

“Kegiatan ini bukan hanya sekadar pembagian masker, tetapi juga menjadi bentuk nyata kepedulian PWI Kota Jambi untuk hadir di tengah masyarakat,” ujar Irwansyah.

Ia menambahkan, perhatian terhadap dampak kabut asap tidak cukup berhenti pada pembagian masker.

Kesadaran masyarakat untuk melindungi kesehatan dan mengurangi paparan asap juga menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi udara yang kurang baik.

Dari pihak sekolah, Kepala SMA YPWI Kota Jambi Bonarti Lubis menyampaikan apresiasi atas bantuan tersebut.

Menurutnya, masker yang diberikan dapat dimanfaatkan pelajar dan guru sebagai perlindungan ketika harus beraktivitas di tengah kondisi kabut asap.

“Pemberian masker ini sangat bermanfaat untuk menjadi pelindung dan mencegah dampak kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan, terutama pernapasan,” kata Bonarti.

Penyaluran masker ini menjadi salah satu bentuk respons masyarakat sipil terhadap dampak kabut asap di Kota Jambi.

Di sisi lain, kondisi kualitas udara dan sumber munculnya kabut asap tetap menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan lebih luas, termasuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta perlindungan kesehatan masyarakat.(*)




Vikram Sinha Kembali Pimpin Indosat, Transformasi AI Masuk Babak Baru

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – PT Indosat Tbk (ISAT) memastikan Vikram Sinha tetap menjabat sebagai Presiden Direktur dan CEO setelah perpanjangan masa kepemimpinannya mendapat persetujuan pemegang saham.

Keputusan tersebut ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Indosat pada 29 September 2026.

Keputusan RUPSLB ini sekaligus menjadi pijakan Indosat untuk melanjutkan sejumlah agenda strategis perusahaan, terutama transformasi digital dan pengembangan ekosistem artificial intelligence (AI).

Perpanjangan masa jabatan Vikram sebelumnya telah diumumkan Indosat pada Juli 2026.

Dengan persetujuan RUPSLB, keberlanjutan kepemimpinan tersebut kini memperoleh legitimasi formal dari pemegang saham.

Dalam rapat yang sama, pemegang saham juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris. Seppalga Ahmad resmi mengundurkan diri dari posisi Komisaris Perseroan.

Indosat menyampaikan apresiasi atas kontribusi dan dedikasi Seppalga Ahmad selama menjalankan tugasnya sebagai bagian dari Dewan Komisaris.

Indosat Perluas Strategi AI

Di bawah fase kepemimpinan berikutnya, Indosat menempatkan pengembangan AI sebagai salah satu agenda penting perusahaan.

Indosat tidak hanya menargetkan pembangunan infrastruktur komputasi AI, tetapi juga ingin membentuk ekosistem yang mencakup infrastruktur, cloud, platform hingga solusi berbasis AI.

Strategi tersebut diarahkan untuk memperluas akses teknologi AI bagi dunia usaha dan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Corporate Secretary, Director dan Chief Legal and Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Reski Damayanti, mengatakan perusahaan memasuki fase baru dengan fondasi bisnis dan teknologi yang telah dibangun sebelumnya.

“Kami menyambut babak baru bagi Indosat, dengan momentum yang kuat dan peluang pertumbuhan yang semakin besar,” ujar Reski.

Menurut dia, perusahaan akan memperluas implementasi strategi AI North Star, memperkuat Customer Love, sekaligus mengembangkan kapabilitas digital yang dinilai dapat mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Siapkan Infrastruktur AI

Untuk mendukung ambisi tersebut, Indosat menyebut telah membangun sejumlah fondasi infrastruktur yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas komputasi dan konektivitas.

Salah satunya melalui Zankore yang diperkuat dengan kontrak jangka panjang berkapasitas 200 MW.

Infrastruktur tersebut disebut menjadi bagian dari penguatan kemampuan komputasi perusahaan.

Di sisi konektivitas, RAIA Grid didukung jaringan fiber sepanjang 86.000 kilometer.

Infrastruktur ini diarahkan untuk mendekatkan akses kapabilitas AI kepada pelaku usaha, pengembang, peneliti, hingga masyarakat.

Indosat menyebut kedua infrastruktur tersebut menjadi bagian dari fondasi AI Factory dan pengembangan ekosistem AI perusahaan.

Fokus perusahaan kemudian diarahkan bukan hanya pada seberapa besar kapasitas AI yang dapat dibangun, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan manfaat dan nilai ekonomi yang lebih luas.

Target Berdayakan 2 Juta Talenta Digital

Pengembangan AI Indosat juga mencakup aspek sumber daya manusia. Perusahaan menargetkan pemberdayaan hingga 2 juta talenta digital pada 2030.

Untuk mencapai target tersebut, Indosat mengembangkan kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, mitra teknologi serta berbagai pemangku kepentingan.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat riset AI, mendorong inovasi serta meningkatkan keterampilan digital yang relevan dengan kebutuhan industri.

Di saat yang sama, Indosat menyatakan akan memperluas akses terhadap peluang ekonomi digital bagi masyarakat dan pelaku usaha di berbagai daerah.

Uji Coba AI-RAN

Pengembangan teknologi juga menyasar efisiensi infrastruktur jaringan. Indosat tengah melakukan uji coba AI-RAN yang dirancang untuk menekan konsumsi energi hingga 20 persen dibandingkan jaringan konvensional.

Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengembangkan infrastruktur digital yang lebih efisien dan bertanggung jawab.

Dengan berbagai agenda tersebut, Indosat menempatkan AI bukan hanya sebagai teknologi baru, tetapi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.

Perpanjangan masa jabatan Vikram Sinha menjadi salah satu keputusan penting RUPSLB yang memberikan keberlanjutan terhadap agenda tersebut, bersamaan dengan perubahan susunan Dewan Komisaris Perseroan.(*)




Gagal Mendarat di Jambi, Batik Air Kembali ke Soetta Setelah 4 Kali Percobaan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi kembali berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi, Rabu 30 September 2026.

Pesawat Batik Air ID6804 rute Jakarta-Jambi harus kembali ke Bandara Soekarno-Hatta atau return to base (RTB) setelah empat kali mencoba melakukan pendaratan.

Pesawat tersebut sebelumnya telah bertolak dari Jakarta menuju Jambi.

Namun, kondisi jarak pandang di sekitar Bandara Sultan Thaha yang terdampak kabut asap membuat proses pendaratan tidak dapat dilakukan.

Berdasarkan informasi dari pihak Bandara Sultan Thaha Jambi, pesawat Batik Air ID6804 sempat melakukan beberapa kali percobaan pendaratan.

Setelah empat kali upaya, pesawat akhirnya mengambil keputusan untuk kembali ke Jakarta.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak langsung kabut asap terhadap penerbangan, terutama pada fase kedatangan.

Jarak pandang menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum pesawat dapat melakukan pendaratan.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, mengatakan kondisi visibility terus dipantau karena berkaitan dengan keselamatan penerbangan.

“Untuk kondisi saat ini, yang menjadi tantangan adalah visual pilot untuk pendaratan. Kondisi visibility terus kami pantau karena keselamatan penerbangan menjadi prioritas,” ujar Ikhsan.

Visibility Sempat Turun hingga 800 Meter

Kabut asap mulai menyelimuti kawasan Bandara Sultan Thaha sejak pagi.

Data pemantauan menunjukkan jarak pandang pada pukul 06.00 WIB hanya mencapai sekitar 800 meter.

Visibility kemudian membaik menjadi 1.000 meter pada pukul 07.00 WIB dan meningkat lagi menjadi 1.500 meter pada pukul 08.00 WIB.

Namun, membaiknya jarak pandang tidak serta-merta membuat seluruh penerbangan dapat mendarat.

Kondisi aktual di lapangan tetap menjadi pertimbangan maskapai dan pilot dalam menentukan keputusan operasional.

Sebelumnya, pihak Bandara Sultan Thaha menjelaskan bahwa kondisi visual untuk proses lepas landas masih memungkinkan.

Tantangan lebih besar berada pada fase pendaratan karena pilot membutuhkan kondisi visual yang memadai.

“Kalau untuk lepas landas, kondisi visualnya untuk naik atau take off masih bisa. Yang menjadi tantangan dengan kondisi saat ini adalah visual pilot untuk pendaratan,” jelas Ikhsan.

Dua Penerbangan Jakarta-Jambi Masih Tertahan

Selain Batik Air ID6804 yang akhirnya kembali ke Jakarta, dua penerbangan lain dari Jakarta menuju Jambi juga masih menunggu perkembangan kondisi cuaca.

Citilink QG960 dijadwalkan berangkat dari Jakarta menuju Jambi pada pukul 10.25 WIB. Sementara Garuda Indonesia GA126 dijadwalkan berangkat pukul 10.35 WIB.

Kedua penerbangan tersebut mengalami penundaan karena maskapai masih menunggu perkembangan visibility di Bandara Sultan Thaha Jambi.

Pihak bandara terus berkoordinasi dengan maskapai dan memantau perubahan kondisi jarak pandang sebelum penerbangan menuju Jambi dapat melanjutkan operasionalnya.

“Untuk penerbangan yang akan datang, keputusan operasional tetap mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan, khususnya jarak pandang untuk pendaratan,” kata Ikhsan.

Penumpang Diminta Pantau Jadwal

Kondisi kabut asap dan jarak pandang di wilayah Jambi masih dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan cuaca.

Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi jadwal kedatangan maupun keberangkatan pesawat.

Calon penumpang yang memiliki penerbangan dari atau menuju Bandara Sultan Thaha Jambi diminta memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum menuju bandara.

Hingga informasi terakhir, Batik Air ID6804 telah kembali ke Jakarta setelah empat kali percobaan pendaratan di Jambi.

Sementara Citilink QG960 dan Garuda Indonesia GA126 masih menunggu perkembangan kondisi visibility di Bandara Sultan Thaha.(*)




Kabut Asap Jambi Kian Parah! Ganggu Penerbangan, Citilink dan Garuda Tertahan dari Jakarta

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi mulai mengganggu konektivitas udara.

Dua penerbangan dari Jakarta menuju Bandara Sultan Thaha Jambi, yakni Citilink QG960 dan Garuda Indonesia GA126, mengalami penundaan keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta, Rabu 30 September 2026.

Kedua pesawat masih menunggu perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang di Bandara Sultan Thaha sebelum diberangkatkan menuju Jambi.

Informasi dari pihak Bandara Sultan Thaha menyebutkan, Citilink QG960 yang dijadwalkan berangkat dari Jakarta pukul 10.25 WIB mengalami delay.

Kondisi serupa terjadi pada Garuda Indonesia GA126 yang memiliki jadwal keberangkatan pukul 10.35 WIB.

Penundaan tersebut berkaitan dengan kondisi minimum visibility di Jambi akibat asap.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, mengatakan kondisi kabut asap masih menjadi faktor yang dipantau dalam operasional penerbangan.

“Kalau untuk penerbangan dari Jakarta menuju Jambi, saat ini ada informasi delay karena masih menunggu update cuaca di Jambi akibat minimum visibility atau asap,” ujar Ikhsan, Rabu 30 September 2026.

Jarak Pandang Sempat Hanya 800 Meter

Kabut asap mulai terlihat cukup tebal di kawasan Bandara Sultan Thaha sejak pagi.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap jarak pandang atau visibility di sekitar bandara.

Pada pukul 06.00 WIB, visibility tercatat hanya sekitar 800 meter. Satu jam kemudian kondisi membaik menjadi 1.000 meter dan kembali meningkat menjadi 1.500 meter pada pukul 08.00 WIB.

Meski menunjukkan tren perbaikan, perubahan visibility tetap menjadi perhatian dalam operasional penerbangan, terutama untuk proses pendaratan.

Menurut Ikhsan, kondisi visual untuk pesawat melakukan lepas landas masih memungkinkan. Namun, jarak pandang menjadi tantangan tersendiri ketika pesawat akan melakukan pendaratan.

“Kalau untuk lepas landas, kondisi visualnya untuk naik atau take off masih bisa. Yang menjadi tantangan dengan kondisi saat ini adalah visual pilot untuk pendaratan,” jelasnya.

Batik Air Tetap Berangkat dari Jambi

Di tengah terbatasnya jarak pandang, aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha tidak sepenuhnya terhenti.

Batik Air ID6807 dengan rute Jambi-Jakarta berhasil melakukan lepas landas pada pukul 06.00 WIB.

Pesawat tersebut merupakan armada yang sebelumnya bermalam di Bandara Sultan Thaha atau dikenal sebagai remain overnight (RON).

Sementara itu, penerbangan Batik Air ID6804 dari Jakarta yang dijadwalkan tiba di Jambi juga menjadi bagian dari penerbangan yang dipantau berdasarkan perkembangan kondisi cuaca dan visibility.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa operasional penerbangan tetap berjalan dengan mempertimbangkan situasi aktual di lapangan.

Citilink dan Garuda Masih Menunggu Kondisi Jambi

Untuk Citilink QG960 dan Garuda Indonesia GA126, keputusan keberangkatan dari Jakarta masih menunggu perkembangan kondisi di Bandara Sultan Thaha.

Kondisi visibility menjadi salah satu pertimbangan penting karena pesawat yang diberangkatkan dari Jakarta pada akhirnya harus melakukan pendaratan di Jambi.

Pihak bandara terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan maskapai terkait perkembangan cuaca serta jarak pandang.

“Kami terus memantau perkembangan kondisi visibility dan berkoordinasi terkait operasional penerbangan,” kata Ikhsan.

Penumpang Diminta Cek Jadwal Sebelum ke Bandara

Kondisi kabut asap dapat berubah mengikuti dinamika cuaca dan atmosfer.

Perubahan visibility juga berpotensi memengaruhi jadwal keberangkatan maupun kedatangan pesawat.

Karena itu, penumpang yang memiliki penerbangan dari maupun menuju Jambi diminta memantau informasi terbaru dari maskapai dan pihak Bandara Sultan Thaha sebelum berangkat ke bandara.

Hingga informasi terakhir, Citilink QG960 dan Garuda Indonesia GA126 masih mengalami penundaan keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta sambil menunggu perkembangan kondisi visibility di Jambi.(*)




Karhutla dan Konflik Sosial Mengintai, Al Haris Minta Camat Aktif di Lapangan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu perhatian Gubernur Jambi, Al Haris dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat kecamatan.

Di tengah ancaman bencana tersebut, ia meminta para camat tidak hanya fokus pada rutinitas pembangunan dan administrasi, tetapi juga memastikan kondisi wilayahnya terpantau dan persoalan di lapangan dapat segera ditangani.

Pesan itu disampaikan Al Haris saat membuka Rapat Koordinasi Camat se-Provinsi Jambi Tahun 2026 di Ruang Pola Kantor Gubernur Jambi, Selasa 29 September 2026.

Al Haris mengatakan, camat berada di posisi strategis karena menjadi pejabat pemerintahan yang berhadapan langsung dengan masyarakat.

Ketika terjadi karhutla maupun persoalan sosial, camat dituntut mengetahui kondisi wilayah dan mampu menggerakkan koordinasi dengan pihak terkait.

“Dalam kondisi hari ini kita bekerja di daerah, ditambah lagi ada bencana karhutla, ini harus sejalan. Kita bekerja juga menangani konflik yang ada di masyarakat, kemudian pembangunan tetap berlangsung seperti biasa, semangatnya juga terus mengalir,” ujar Al Haris.

Menurutnya, penanganan karhutla tidak boleh membuat agenda pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat terhenti.

Sebaliknya, pemerintah di tingkat kecamatan harus mampu menjalankan beberapa fungsi sekaligus, mulai dari mengawal pembangunan, menangani persoalan masyarakat hingga merespons kondisi darurat.

Dalam situasi seperti itu, Al Haris menilai penguasaan wilayah menjadi kemampuan mendasar yang harus dimiliki setiap camat.

Ia meminta camat memahami persoalan yang terjadi di wilayah masing-masing, termasuk mengetahui potensi bencana maupun konflik yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

“Camat harus menguasai wilayahnya masing-masing, menguasai persoalan yang ada di daerahnya, lalu dia tampil dan mengelola dengan baik,” tegasnya.

Bagi Al Haris, camat tidak seharusnya hanya menunggu laporan dari bawah.

Posisi sebagai pejabat kewilayahan menuntut adanya pemahaman langsung terhadap dinamika masyarakat dan kemampuan mengoordinasikan perangkat pemerintahan ketika persoalan muncul.

“Camat adalah pejabat yang di lapangan, tentu yang bertemu dengan banyak masyarakat. Mereka juga membina para kepala desa, perangkat desa, BPD. Itu semua di bawah pembinaan camat,” katanya.

Al Haris menempatkan karhutla sebagai bagian dari tantangan pemerintahan daerah yang membutuhkan kesiapsiagaan.

Namun pada saat yang sama, pemerintah tetap harus memastikan pelayanan publik dan pembangunan berjalan.

Selain bencana, camat juga menghadapi persoalan sosial yang membutuhkan respons cepat.

Karena itu, koordinasi antara kecamatan dengan pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi, perangkat daerah, hingga unsur terkait lainnya dinilai penting.

Rakor Camat se-Provinsi Jambi 2026 pun diarahkan untuk memperkuat koordinasi tersebut.

Forum itu diikuti camat dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jambi serta sejumlah organisasi perangkat daerah terkait.

Al Haris juga mengajak para camat menyatukan persepsi dalam menjalankan agenda pemerintahan dan pembangunan.

“Perlu hari ini kita mengajak mereka membangun persepsi untuk menyatukan visi, mewujudkan Asta Cita Bapak Presiden dan juga mewujudkan visi Jambi Mantap serta visi yang ada di daerah masing-masing,” ujarnya.

Selain kesiapsiagaan menghadapi karhutla, rapat koordinasi tersebut membahas penguatan kapasitas camat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Al Haris, tuntutan terhadap pelayanan publik terus berkembang. Pemerintah kecamatan harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat, termasuk dalam penerapan layanan berbasis digital dan koordinasi lintas sektor.

Sejumlah agenda yang dibahas meliputi peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan layanan dasar pendidikan dan kesehatan, perlindungan sosial, digitalisasi pelayanan publik, pengembangan ekonomi lokal, serta sinkronisasi program kecamatan dengan prioritas pemerintah provinsi.

Kecamatan juga diharapkan menjadi titik penting dalam memastikan program pemerintah dapat diterjemahkan sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah.

Gubernur Jambi menegaskan, kekuatan pemerintahan di tingkat kecamatan akan sangat menentukan kualitas pelayanan yang diterima masyarakat.

Karena itu, ia meminta camat membangun pemerintahan yang responsif, mampu membaca persoalan dan bekerja bersama seluruh unsur di wilayah.

“Bangun pemerintahan yang hadir, bekerja nyata, melayani dengan hati, dan dipercaya masyarakat,” tegas Al Haris.

Sementara itu, Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setda Provinsi Jambi, Luthpiah, mengatakan kecamatan memiliki peran strategis sebagai koordinator penyelenggaraan pemerintahan di wilayah.

Menurutnya, camat menjadi salah satu garda terdepan dalam pelayanan masyarakat sekaligus penghubung pemerintah dengan masyarakat hingga tingkat desa dan kelurahan.

“Diperlukan kesamaan persepsi, peningkatan kapasitas, dan penguatan sinergi agar pelaksanaan tugas pemerintahan dapat berjalan secara efektif, efisien, dan akuntabel,” ujarnya.

Melalui rakor tersebut, Pemprov Jambi mendorong agar koordinasi pemerintahan di tingkat kecamatan semakin kuat, terutama dalam menghadapi persoalan yang membutuhkan respons cepat seperti karhutla, konflik sosial, pelayanan publik, sekaligus memastikan pembangunan tetap berjalan.(*)




Pesan Tegas Al Haris kepada Seluruh Camat di Jambi: Kuasai Wilayah, Hadapi Persoalan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Gubernur Jambi, Al Haris menegaskan bahwa, camat tidak cukup hanya menjalankan rutinitas administrasi pemerintahan.

Di tengah meningkatnya tuntutan pelayanan publik dan kompleksitas persoalan di masyarakat, camat diminta benar-benar menguasai wilayah kerja, memahami persoalan hingga tingkat bawah, serta mampu mengambil peran dalam penyelesaiannya.

Pesan tersebut disampaikan Al Haris saat membuka Rapat Koordinasi Camat se-Provinsi Jambi Tahun 2026 di Ruang Pola Kantor Gubernur Jambi, Selasa 29 September 2026.

Menurut Al Haris, posisi camat sangat strategis karena berada di antara pemerintah daerah dan masyarakat.

Camat berhadapan langsung dengan berbagai persoalan kewilayahan sekaligus membina kepala desa, perangkat desa, dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

“Camat harus menguasai wilayahnya masing-masing, menguasai persoalan yang ada di daerahnya, lalu dia tampil dan mengelola dengan baik. Harus bisa mewujudkan pemerintahan yang kompeten untuk memajukan daerah,” tegas Al Haris.

Al Haris mengatakan, perubahan kebutuhan masyarakat membuat tugas camat semakin kompleks.

Persoalan yang dihadapi di tingkat kecamatan tidak lagi sebatas urusan administrasi pemerintahan, tetapi juga menyangkut pelayanan publik, persoalan sosial, pembangunan, bencana, hingga potensi konflik di tengah masyarakat.

Karena itu, camat dituntut mampu bergerak cepat dan membangun koordinasi lintas sektor.

“Camat adalah pejabat di lapangan, tentu yang bertemu dengan banyak masyarakat. Mereka juga membina para kepala desa, perangkat desa, BPD. Itu semua di bawah pembinaan camat,” ujarnya.

Ia menilai, penguatan kapasitas camat menjadi penting agar berbagai kebijakan pemerintah tidak berhenti di tingkat perencanaan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program yang dirasakan masyarakat.

Dalam forum tersebut, Al Haris juga mendorong seluruh camat menyatukan persepsi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota.

“Perlu hari ini kita mengajak mereka membangun persepsi untuk menyatukan visi, mewujudkan Asta Cita Bapak Presiden dan juga mewujudkan visi Jambi Mantap serta visi yang ada di daerah masing-masing,” katanya.

Al Haris turut menyoroti tantangan yang harus dihadapi camat di tengah kondisi daerah saat ini.

Selain memastikan pembangunan berjalan, aparatur kewilayahan juga dituntut siap menghadapi bencana dan persoalan sosial.

Salah satunya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membutuhkan respons cepat dari pemerintah di tingkat wilayah.

“Dalam kondisi hari ini kita bekerja di daerah, ditambah lagi ada bencana karhutla, ini harus sejalan. Kita bekerja juga menangani konflik yang ada di masyarakat, kemudian pembangunan tetap berlangsung seperti biasa,” jelasnya.

Menurut Al Haris, kondisi tersebut membutuhkan aparatur yang mampu beradaptasi sekaligus membangun koordinasi secara cepat.

Camat harus mengetahui situasi wilayahnya sehingga persoalan yang muncul dapat segera diidentifikasi dan dikoordinasikan dengan pihak terkait.

Rapat koordinasi camat se-Provinsi Jambi tersebut mengusung tema penguatan sinergi pemerintah daerah dalam meningkatkan kapasitas camat menuju pelayanan publik yang profesional, adaptif, dan berintegritas.

Sejumlah isu yang menjadi perhatian meliputi peningkatan kualitas sumber daya manusia, pelayanan dasar, digitalisasi layanan publik, pertumbuhan ekonomi lokal, pengelolaan lingkungan, hingga harmonisasi tata kelola pemerintahan.

Al Haris mengatakan, kecamatan harus menjadi bagian penting dalam memastikan program pemerintah berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.

Beberapa strategi yang didorong antara lain peningkatan kualitas SDM melalui edukasi dan sosialisasi, penguatan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, percepatan digitalisasi pelayanan, pendampingan ekonomi masyarakat, serta pengawasan terhadap pelaksanaan program pembangunan.

“Bangun pemerintahan yang hadir, bekerja nyata, melayani dengan hati, dan dipercaya masyarakat,” tegasnya.

Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setda Provinsi Jambi, Luthpiah, mengatakan kecamatan memiliki posisi strategis sebagai koordinator penyelenggaraan pemerintahan di wilayahnya.

Menurutnya, camat juga menjadi salah satu garda terdepan pelayanan masyarakat sekaligus penghubung antara pemerintah dengan masyarakat hingga tingkat kelurahan dan desa.

“Oleh karena itu, diperlukan kesamaan persepsi, peningkatan kapasitas, dan penguatan sinergi agar pelaksanaan tugas pemerintahan dapat berjalan secara efektif, efisien, dan akuntabel,” ujar Luthpiah.

Rakor tersebut diikuti camat dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi serta perwakilan organisasi perangkat daerah terkait.

Forum ini diarahkan untuk memperkuat koordinasi pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota, menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah, sekaligus memastikan program pembangunan dapat diterjemahkan secara efektif di tingkat kecamatan.

Bagi Al Haris, penguatan pemerintahan di tingkat kecamatan pada akhirnya bermuara pada satu hal: memastikan pemerintah hadir ketika masyarakat membutuhkan pelayanan maupun ketika persoalan muncul di wilayah.(*)




Hadiri Sejit Kun Ce Tua Lang Kong, Diza Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan di Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Pemerintah Kota Jambi menegaskan bahwa keberagaman agama, etnis dan budaya merupakan bagian penting dalam menjaga stabilitas kehidupan masyarakat.

Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha mengajak seluruh elemen masyarakat terus merawat kerukunan agar Kota Jambi tetap menjadi ruang bersama yang aman dan nyaman.

Pernyataan itu disampaikan Diza saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (Sejit) Kun Ce Tua Lang Kong yang digelar Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Lam Po Tong Kota Jambi, Selasa 29 September 2026.

Di hadapan pengurus majelis agama dan masyarakat Tionghoa Kota Jambi, Diza mengapresiasi kontribusi umat Khonghucu dalam menjaga suasana sosial yang kondusif serta membangun semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

Menurutnya, peringatan Sejit memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda keagamaan dan tradisi.

Momentum tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat nilai kebajikan, persaudaraan dan kepedulian sosial.

“Peringatan seperti ini bukan hanya bagian dari kegiatan keagamaan dan tradisi, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kebajikan, persaudaraan, kepedulian, dan kebersamaan di Kota Jambi,” ujar Diza.

Diza mengatakan pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan fisik.

Menurutnya, rasa aman, toleransi dan persatuan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menciptakan kota yang berkembang secara berkelanjutan.

Karena itu, Pemkot Jambi berkomitmen memberikan ruang kehidupan sosial yang setara bagi masyarakat dengan latar belakang agama, etnis dan budaya yang berbeda.

“Pembangunan daerah bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana kita mampu menjaga persatuan, toleransi, dan kepedulian sosial. Ini harus menjadi tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Pesan tersebut disampaikan dalam konteks kehidupan masyarakat Kota Jambi yang terdiri dari berbagai kelompok agama dan latar belakang sosial.

Tak hanya berbicara mengenai kerukunan, Diza juga membuka ruang bagi umat Khonghucu untuk menyampaikan aspirasi yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat maupun rencana pembangunan fasilitas keagamaan.

Ia meminta aspirasi tersebut disampaikan melalui mekanisme koordinasi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Jambi dan perangkat daerah terkait.

Dengan mekanisme tersebut, berbagai usulan dapat dibahas sesuai ketentuan serta kewenangan pemerintah.

“Apabila ada hal penting terkait aspirasi umat maupun pembangunan kelenteng, silakan disampaikan melalui forum kerukunan umat beragama. Mari kita bahas bersama agar Kota Jambi semakin maju, aman, nyaman, dan menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat,” kata Diza.

Kegiatan Sejit Kun Ce Tua Lang Kong tersebut turut dihadiri Bendahara FKUB Kota Jambi yang juga merupakan pengurus MAKIN Lam Po Tong, Rito Halim, jajaran pengurus majelis agama, panitia perayaan, serta tokoh masyarakat Tionghoa Kota Jambi.

Pemkot Jambi berharap komunikasi antara pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan berbagai elemen warga terus terjaga.

Penguatan komunikasi tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama mempertahankan kerukunan dan suasana kondusif di Kota Jambi.(*)