Wawako Diza Tegaskan Jambi Kota Berbudaya, Lewat Festival Harmoni Budayo

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Kota Jambi kembali menghadirkan ruang perayaan budaya melalui Festival Harmoni Budayo yang digelar di Taman Banjuran Budayo.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya menjaga keberagaman etnis, tradisi, dan seni yang hidup di tengah masyarakat.
Festival yang berlangsung selama tiga hari, 16–18 April 2026, ini secara resmi dibuka pada Kamis malam (17/4/2026) dengan mengusung tema “Chinese Night”.
Beragam pertunjukan seni khas etnis Tionghoa menjadi daya tarik utama, mulai dari barongsai, wushu, tari naga, hingga atraksi topeng tradisional Bian Lian.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi dengan memadati area acara sejak awal pembukaan.
Pembukaan festival dilakukan oleh Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, yang menegaskan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan kota.
Ia menyebut bahwa kegiatan ini sejalan dengan program “Bahagia Berbudaya” yang menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kota Jambi.
Menurutnya, pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga harus memperkuat identitas budaya serta nilai sosial masyarakat.
“Budaya harus terus dihidupkan dan diwariskan. Festival ini menjadi bukti bahwa pembangunan kota berjalan seiring dengan penguatan nilai kebersamaan dan kreativitas,” ujarnya.
Diza juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan serta menjadikan keberagaman budaya sebagai kekuatan utama Kota Jambi sebagai kota perdagangan dan jasa.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jambi, Mariani Yanti, menjelaskan bahwa konsep Chinese Night merupakan hasil kolaborasi dengan komunitas Tionghoa di Kota Jambi.
Ia menegaskan bahwa keberagaman budaya menjadi dasar utama penyelenggaraan Festival Harmoni Budayo.
Selain pertunjukan seni, festival ini juga menghadirkan agenda lain seperti Nusantara Night serta pemilihan Putra-Putri Banjuran Budayo yang akan digelar pada hari berikutnya.
Sekitar 500 peserta terlibat dalam kegiatan ini, termasuk pelaku UMKM lokal yang turut meramaikan festival melalui produk berbasis budaya.
Pemerintah berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor kreatif dan UMKM.
Sebelumnya, konsep festival lintas etnis serupa juga pernah digelar di kawasan eks Terminal Rawasari yang kini dikenal sebagai Ruang Milenial, sebagai bagian dari upaya menghidupkan ruang publik sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.(*)








